Karung yang disandang dibahu dengan kail pengait di tangan menjadi saksi ketika hati menaruh harapan dan bermimpi mencapai langit. Namun, ke alpaan diri terhadap kenyataan hidup yang pahit dan mengingat kaki yang hanya mampu berpijak di bumi. Manalah mungkin mampu mencapai langit? Harapan demi harapan yang terus dibina menjadi penyemangat dalam perjuangan menggapai impian dan berusaha menguatkan bathin, meski cibiran datang silih berganti. “Dasar nggak tahu diri ya, pemulung kok pengen kuliah, Apa nggak malu?” Tak seharusnya kalimat itu keluar dari bibir mereka, ketika akan berangkat menuju kampus dan menunggu angkutan umum yang lewat di depan gang. Cibiran itu datang dari pemuda setempat. Namun, tak akan mampu menggoyahkan tekad yang sudah tertanam bulat, walaupun hati teriris-iris. Sorotan mata yang menyipit tak akan membuatku gentar dan lemah. Justru, api itu semakin berkobar dan tak akan pernah padam oleh cibiran yang mereka lontarkan. ***
Suara desar desur kendaraan yang berlalu-lalang memadati jalan raya menjadi perhatian utama bagi semua pengendara dan pengguna jalan. Tak ada kata selain waspada dan Fokus menjadi perhatian utama. Satu kehilafan kecil dapat berakibat fatal, dan menyebabkan kehilangan nyawa. Jeritan dan kerasnya suara klakson mobil menjadi pemandanagan sehari-hari. Ketika itu semua orang berlomba-lomba untuk segara sampai pada tujuan. Dijalanan ini, aku berharap dapat mengumpulkan setiap sen dari barang bekas yang dapat ditemukan. Ditengah cuaca menyengat dan dari dahi tetesan keringat yang telah mengucur deras membasahi pelipis mata, dan jatuh ke tanah. Sinarnya yang begitu ganas tanpa mengenal kawan atau lawan, terus memancarkan keseluruh penjuru bumi. Kulit yang semula putih dalam sekejap mata berubah warna menjadi hitam legam akibat terbakar sinar matahari yang mengandung ultraviolet. Sedangkan pada tingkat tertentu dapat menyebabkan kanker. Di sepanjang perjalananku, gelas-gelas minuman yang terbuat dari plastic bertebaran, lalu satu persatu memasukkannya kedalam goni dan berharap dapat mengumpulkannya menjadi pundi-pundi rupiah. Semua itu kulakukan agar dapat melanjutkan pendidikan kejenjang Perguruan Tinggi. Entah darimana datangnya seorang wanita paruh baya itu, ketika Ia menghampiriku dan bertanya. "Dek... kau enggak sekolah?" "Enggak...!" "Kenapa enggak sekolah?" "Saya udah tamat Bu?" "Kamu mau nyambung sekolah dimana?" "Saya pengenya kuliah Bu!" Wanita paruh baya pun terkejut, ketika melihat tubuhku yang kerdil dan kurus. Tatapannya terasa seperti meragukan perkataanku, terlihat dengan jelas dari sorot mata beliau seakan berbicara “Masa sih, anak ini udah tamat SMA?" Semula Ia menduga usiaku masih 14 tahun. Di sebabkan oleh Wajah yang terlihat unyu-unyu dan menggemaskan, sehingga membuatnya terperanjat setelah mengetahui usiaku yang sebenarnya. Kemudian beliau menyampaikan beberapa pesan. "Hari senin, kamu kesekolah Ibu ya!" "Sekolah yang mana Bu?" "Ituloh yang dekat Simpang gudang, disitu ada sekolah dempet! nanti kamu tanya aja sama guru-guru di sana". "Nama Ibu, Siapa?" "Ibu Diana" Kemunculan wanita paruh baya itu seperti malaikat yang turun dari langit dan ditugaskan sebagai Malaikat penolong. Kemudian Ia pun berlalu pergi dengan menggunakan sepeda motor maticnya. Sedangkan aku masih terperangah atas kejadian yang baru saja terjadi.
Awan biru tampak memudar seiring bergeraknya Matahari menuju puncaknya, lalu secara perlahan akan bergerak ke arah barat. Menjelang siang hari, cuacanya sangat cerah. Sehingga banyak diantara warga yang memutuskan untuk beraktivitas di luar rumah. Seperti yang telah dijanjikan, tepat dihari senin seperti yang diucapkan. Batin sesungguhnya meragukan. Akhirnya mencoba memberanikan diri berkunjung untuk membuktikan. Kemudian melangkah dengan dada yang berdegub kencang ketika memasuki pekarangan tempat wanita itu berkerja, lalu mengucapkan salam pada mereka yang berada diruangan. Ada perasaan aneh muncul ketika semua guru yang ada disana melihat kedatanganku. Sikap yang mereka tunjukkan merupakan sikap alami dan wajar ketika orang asing datang berkunjung. "Assalamu 'alaikum, Bu!" "Wa 'alaikum salam!" Jawab salah seorang guru yang ada disana. "Cari siapa, dek?" "Ibu Diana, ada Bu?" "Oh... Ibu Diana lagi mengajar, tunggu bentar ya!" Diruangan itu terdapat beberapa lemari yang menyimpan berkas dan piagam beserta pialanya. Di depan lemari piala terdapat sebuah meja panjang berukuran kurang dari dua meter disertai dengan bangku panjang berwarna coklat. Sebagai tempat duduk ketika melewati pergantian jam mengajar. Bersama-sama dengan beberapa orang guru yang ada diruangan itu, aku menunggu kedatangan Ibu Diana yang sedang mengajar dikelas. Beberapa menit kemudian, diruangan itu menjadi sepi. Hanya tinggal aku dan seorang penjaga sekolah yang usianya hampir setengah abad. "Adek ini siapa?" "Saya Mail, Pak!" "Mau cari siapa di sini?" "Ibu Diana, Pak! Tempo hari, disuruh datang kemari" "Emangnya mau ngapain?" "Enggak tahu, cuma disuruh datang kesini!" "Ibu Diana itu orangnya baik, banyak anak-anak kurang mampu di bantunya. Seandainya kamu nanti dapat bantuan dari ibu itu, pinta aja dua ekor kambing. Bilang saya pengen kambing Bu! biar saya rawat" ujar beliau. Mendengar perkataan beliau yang demikian, bathinku pun terperanjat atas apa yang beliau ucapkan. Entah mengapa hati ini tidak menerima“apa yang beliau sampaikan?” seakan norma kesopanan itu telah dilanggar. Namun, kesopanan dalam berbicara terhadap yang lebih tua harus tetap dijaga. "Maaf pak, saya aja baru kenal!" "Enggak apa-apa pinta aja?" "Enggaklah... pak!" ungkapku, dan mengakhiri pembicaraan yang menyesatkan. Aku tidak pernah menyangka didunia ini ternyata masih tersisa orang seperti beliau yang tulus membantu orang lain, lalu uang sebesar Rp 800.000 yang beliau berikan dapat menambah jumlah tabunganku. Ketulusan yang di miliki Ibu Diana lebih berharga daripada sebongkah emas atau berlian sekalipun. Berkat beliau jugalah di masa yang akan datang menjadi tali penyambung lidah agar mengabdi di sekolah PADI. Disanalah, babak baru dalam kehidupanku bermula dan berakhir dengan tragis. *** Sepertinya pagi ini awan dengan sengaja menutupi sinar Matahari yang akan menyentuh bumi. Sehingga Susananya menjadi gelap disertai suara petir yang mengelegar dilangit. Beberapa saat kemudian, rintik-rintik hujan turun membasahi bumi, pada saat itu juga perbincangan antara ibu dan anak terus berlanjut. Banyak peristiwa yang terjadi dimasa lalu, akhirnya semakin menguatkan tekad untuk mencapai tujuan. Walaupun hambatan dan jurang telah menanti. Selintas tekenang dengan ibu yang dahulu ketika berada dirumah sakit. Lagi-lagi hati ikut meronta melihat petugas yang semberono menyuntikkan jarum pada lengan ibu. Kemudian tersemat di dalam hati sebuah keinginan menjadi seorang Dokter. Mungkinkah kesalahan itu terletak pada kami yang tak mampu, dengan menggunakan jasa gratisan dan obat yang diberikan pemerintah? "Mak, duit mail udah ada ni buat daftar?" "Ah... yang betul kau!" "Betullah, Mak!" "Emang berapa duitmu?" "Dua juta, tapi Mail ingin daftar jadi dokter Mak!" "Yang tinggi kali mimpimu itu! Sadar kau, kita ini siapa rupanya? Bapak kau aja penghasilannya senin kamis, kau pula pengen kuliah dokter". "Tapi ya... udahlah! Biar kita tanya sama Ibu Eka, mantri yang ada didepan gang sana. Biar kau dengar sendiri!" Mimpi untuk menjadi seorang Dokter pun kandas setelah mendengar ucapan Sang Mantri tentang biaya kuliah yang harus diemban mencapai ratusan juta rupiah. Kemudian beralih mencari alternative yang mampu menopang kehidupan dimasa mendatang, tentunya dengan biaya kuliah yang lebih terjangkau dan sesuai dengan keadaan ekonomi keluarga. Meskipun itu juga terasa mustahil akan terwujud. Gembar-gembor yang beredar di masyarakat tentang kehidupan guru yang mulai diperhatikan pemerintah seakan menjadi daya tarik tentang kehidupan yang nyaman. Selain itu, banyak juga diantara mereka telah menjadi Pegawai Negeri Sipil hingga memunculkan harapan yang besar bagi semua guru saat ini, dan pilihan itu pun jatuh pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dibalik itu, ada satu permintaan khusus dari ibu yang tidak bisa aku kabulkan agar mengambil Fakultas Dakwah, dan berharap kelak dapat menjadi penerang keluarga. Sehingga kebutaan ilmu agama dapat menyingkir, dan apabila suatu saat nanti akan kembali kepada Sang Khalik. Harapan terbesarnya agar aku dapat membimbing ketika sakratul maut berada di urat nadi, lalu Ia akan tersenyum manis dari surga dan berkata “Sungguh ia adalah anak soleh yang selama ini aku tunggu dan rindukan” Kalimat itu selalu menjadi pamungkas dan dinanti oleh setiap orangtua. Ingin memiliki anak yang soleh dunia dan akhirat. Namun, bagiku memasuki Fakultas Dakwah. Bukan sekedar untuk mendapatkan ilmu agama dengan menghapal ratusan hadist dan khatam Al- Quran. Ada banyak makna yang tersimpan ketika seseorang telah memiliki ilmu agama yang mumpuni, tetapi tidak mampu melakoni perintah dan larangan yang seharusnya diterapkan pada diri sendiri. Tak hanya itu, beban sebagai penerang jalan kepada ummat bukan sekedar cuap-cuap belaka yang habis “dilempar, dibiarkan saja”. Ketidakmampuan menjaga tingkah laku menjadi penyebab ke enggananku mengambil Ilmu Dakwah.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Gooddd story
10/05/2025
0bagus sekali cerita nya
18/11/2024
0ceritanya baguss
01/11/2024
0Xem tất cả