Semburat jingga keemasan menghiasi langit senja. Api unggun tertata rapi di tengah-tengah tenda warna-warni yang mengelilinginya. Terlihat beberapa peserta dan panitia bersiap diri menyambut malam ini ditemani api unggun. Tisa merenggangkan kedua tangannya ke samping, memutar badannya yang terasa kaku setelah seharian ini hanya berdiam diri di dalam tenda. Sesekali Clara menemaninya ngobrol sambil mengunyah makanan bekal yang ia bawa dari rumah. Di sela-sela kesibukannya sebagai panitia, Langga menyempatkan diri menengoknya berbasa basi sebentar hanya sekedar menanyakan keadaannya. Bahagianya hati Tisa, ternyata masih ada orang-orang yang menyayangi dan memperhatikannya. Mengenakan jaket hijau tosca dan syal warna merah, Tisa melangkahkan kaki menuju tenda panitia yang berjarak 5 tenda darinya. Mencari sahabatnya Clara, barangkali ada di sana. Benar saja, Clara sedang asyik mengobrol dengan beberapa panitia yang satu pun Tisa tidak mengenalnya. Maklum sejak mengenal Dion, Tisa jarang main keluar. Kalau pun terpaksa pasti ada Dion di sampingnya yang selalu jadi bodyguardnya hingga banyak cowok enggan mendekatinya walau hanya sekedar menyapanya. "Hai Sa!" sapa Clara dari kejauhan sambil melambaikan tangannya ke arah Tisa. Dibalasnya lambaian tangan Clara dengan sedikit senyuman di bibirnya yang masih sedikit pucat. "Lu udah baikan?" tanya Clara. "Sudah mendingan sih, bosan gue di dalam tenda terus," jawab Tisa lirih. "Syukurlah kalau begitu, tar malem bisa ikutan acara api unggun. Gue sempet kuatir tadi. " Perasaan Clara sedikit lega mendengar Tisa dah baikan. Trauma akan pengkhianatan cinta membuat Tisa seperti ini, andai aku jadi dia mungkin aku tak sanggup berdiri lagi, batin Clara. Selama ini Clara yang selalu memberi semangat saat Tisa down. Clara selalu ada kapan pun saat Tisa membutuhkannya. Langit senja perlahan memudar, warna keemasan yang menghiasi langit mulai memudar, semakin lama hilang tergantikan langit malam. Api unggun sudah menyala, suasana malam di puncak Merbabu semakin syahdu ditemani bintang yang bertaburan. Tisa dan Clara sudah bergabung dengan peserta lain, duduk mengitari api unggun. Beni selaku ketua panitia camping memberikan sambutan pertanda dimulainya acara malam ini. Tampak Langga duduk diantara panitia berseberangan dengan tempat duduk Tisa dan Clara. Sesekali mencuri pandang ke Tisa, saat tak sengaja bertatap mata sama-sama kikuk dan buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Clara yang duduk di sebelah Tisa tersenyum sendiri melihat tingkah sahabatnya ini. Clara tau Tisa sudah membuka hatinya untuk Langga namun tak mau mengakuinya. Clara diam saja, biarlah waktu yang akan bicara nanti di saat yang tepat. Hanya bisa berdoa semoga Langga tidak seperti Dion, habis manis sepah dibuang. "Lagu ini special kupersembahkan teruntuk seseorang yang memakai syal merah. " Suara Langga menggema dari pengeras suara membuat mata semua peserta tertuju ke arah Tisa, satu-satunya peserta yang memamakai syal merah di lehernya yang menunduk malu menutupi pipinya yang memerah. Dengan lincahnya Langga memainkan jari-jari tangannya ke dawai gitar. Suara merdunya disambut dengan tepuk tangan meriah seluruh peserta. Masih dengan gitar di tangannya, berdiri dan melangkah perlahan mendekati Tisa. Kedua tangan diulurkan mengajak Tisa ke tengah dan bernyanyi bersama. Suara riuh peserta langsung terdengar, membuat Tisa semakin malu dibuatnya. Tanpa sadar bibirnya bergerak melantunkan tembang kemesraan mengikuti irama petikan dawai gitar Langga. Terdengar siulan bersahut-sahutan diantara para peserta. "Terima kasih! " Langga menggandeng tangan Tisa dan membungkukkan badan di akhir lagu. "Cie... Cie... Ada yang lagi jatuh cinta nii! " goda Clara setelah Tisa duduk kembali di sebelahnya. "Apaan siih! " sanggah Tisa malu. "Kalau iya juga gak papa, gue ikut bahagia, " ledek Clara. "Kalian akan jadi pasangan serasi di kampus sepanjang sejarah, " ledeknya lagi. Sebuah timpukan mendarat di bahu Clara, Tisa sedikit kesal dengan sahabatnya ini. "Auw, sakit! " rintihnya. Malam semakin larut, Beni menutup acara api unggun malam ini. Selanjutnya acara bebas, barbeque yang sudah disiapkan panitia. Menikmati malam di puncak Merbabu hingga pagi menjelang. "Sa, gabung sama Langga yuk! " ajak Clara. Sebenarnya Tisa enggan namun tak sampai hati melihat kekecewaan Clara akhirnya mengangguk setuju. "Malam semua! Kita boleh gabung di sini gak?" tanya Clara ke gerombolan panitia yang sedang asyik menikmati barbeque. "Boleh!" jawab mereka serempak. Tisa celingukan mencari sosok Langga di antara gerombolan panitia. Ada rasa kecewa saat matanya tak bisa menemukan sosok yang dicarinya. "Hei!" Suara Langga dari arah belakang membuatnya terkejut dan hampir saja menjatuhkan makanan di tangannya. Refleks Tisa membalikkan tubuh ke arah datang suara, " hei, bikin kaget aja! " jawab Tisa sedikit gugup. Ada rasa bahagia akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. "Gimana, lu sudah baikan?" tanya Langga masih mencemaskan keadaan Tisa. "Sudah kok, makasih ya! " balasnya. "Ngomong-ngomong maaf ya tadi gue spontan narik lu," kata Langga meminta maaf atas kejadian api unggun yang di luar rencananya. "Eh iya, its ok! Gue cuman kaget aja tadi gak persiapan," jawabnya memberi alasan. "Ternyata lu jago juga main gitarnya," tanya Tisa menutupi rasa gugupnya di depan Langga. Entah apa namanya sejak kenal lebih dekat dengan Langga ada semacam getaran halus yang selalu hadir dan Tisa rasakan saat ngobrol berdua dengannya. Cinta? Tisa tak yakin, tak semudah itu cinta datang lagi menghampiri hatinya yang sudah beku. Mungkin hanya perasaannya saja, Tisa tak mau berandai-andai yang melambungkan hatinya kemudian terhempas kan jatuh begitu saja. Sakit itu masih terasa hingga kini, meski ia sudah bisa move on dari Dion, kekasihnya. Mungkin saja sikap Langga yang humble dan mudah bergaul yang membuatnya nyaman berada di dekatnya. "Susu jahe mau?" Langga menyodorkan secangkir susu jahe ke Tisa. Diambilnya cangkir dari genggaman Langga dan menyeruputnya selagi masih hangat. Lumayan hangatnya jahe sedikit mampu menghangatkan tubuhnya yang mulai kedinginan diterpa angin malam Merbabu. Malam semakin larut, bintang masih bersinar terang seolah menjadi saksi dua insan yang asyik bercengkerama hingga pagi menjelang. Saat sinar bintang mulai redup, langit pun mulai terang. Semua peserta bersiap-siap menyambut mentari muncul dari peraduannya semalam. Duduk berjejer rapi menantikan sunrise dari puncak Merbabu. Momen langka yang harus diabadikan. Tisa dan Langga duduk berdampingan diantara para peserta camping. Entah dengan Clara, sejak tadi malam Tisa belum melihat batang hidungnya. Mungkinkah dia sengaja meninggalkan gue bersama Langga? Ah, biarlah. Barangkali dia butuh teman baru selain gue, batin Tisa. Saat mentari mulai menampakkan sebagian dirinya, lukisan alam terhampar di langit dengan indahnya. Langga menggenggam erat tangan Tisa, tak ada penolakan Langga pun semakin mempererat genggamannya. "Moment ini yang selalu gue tunggu pas muncak, keeksotisan alam membuat gue selalu pengin dan pengin lagi menikmatinya," kata Langga memecah keheningan. "Iya sama, gue hobi muncak karena ingin menikmati sunrise dari puncak gunung. Keindahannya membuat hati gue bahagia, " jawab Tisa, matanya menatap lekat ke Langga. "Tisa! Mungkin gue terlalu cepat dan gak sopan di mata lu, tapi gue gak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Mentari Merbabu jadi saksi ketulusanku, a-aku telah jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku? " Susana hening seketika, Tisa hanya diam tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir merahnya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
mantap
24/01
0bagus
21/01
0ceritanya bagus sekali
20/09
0Xem tất cả