logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Jatuh Cinta?

Cahaya mentari pagi menerobos celah-celah tenda membuat Tisa terpaksa membuka matanya yang masih enggan meninggalkan buaian sang mimpi dan melihat dunia nyata. Pandangannya menyapu setiap sudut tenda dan berhenti pada sosok yang duduk bersandarkan tiang tenda dengan mata masih tertutup rapat.
"Langga? Kenapa dia ada di sini? What happened with me?" Tisa mengingat-ingat kembali ke peristiwa semalam saat bersama Langga. Badannya terasa lemas, menggerakkan badan mencoba bangkit dan duduk, dunia seolah terbalik, semuanya berputar-putar diluar kendalinya. Refleks tangannya mearaih benda apapun di dekatnya agar ia tak jatuh tanpa sengaja mencengkeram erat bahu Langga, membuat cowok itu kaget dan terbangun.
"Tisa! Lu kenapa?" tanyanya sedikit kuatir dengan keadaan Tisa. Direngkuhnya badan Tisa lalu menyandarkan ke bahunya.
"Lang__Langga, kenapa lu ada di sini? Apa yang terjadi sama gue semalem? Terus Clara mana?" Banyak lagi pertanyaan yang ingin ia tanyakan namun kepalanya terasa berat dan matanya seolah lengket tak bisa dibuka.
"Minum dulu dan tenangkan pikiran lu? " jawab Langga sabar sambil menyodorkan sebotol air mineral ke Tisa.
"Makasih," jawabnya. Setengah botol air mineral mampu membasahi kerongkongannya yang mulai kering entah sedari kapan.
"Jadi gini, semalem lu tiba-tiba mengeluh pusing. Gue kasih obat yang ada di tas lu terus lu tertidur. Gue semalaman di sini nungguin lu, takut kenapa-kenapa kalau gue tinggal. Clara tidur di tenda panitia, dia nitipin lu ke gue. Gimana, sekarang sudah baikan?" terang Langga, tangannya tak henti-hentinya mengusap-usap kepala Tisa dengan lembut.
Tisa menganggukan kepalanya, " makasih ya Ga udah jagain gue semaleman, gue dah baikan cuman tadi pas bangun kepala rasanya berputar-putar," jawab Tisa dengan suara lemah.
"Iya sama-sama. Gue juga minta maaf gara-gara pertanyaan gue semalem kepala lu jadi pusing. Sekali lagi gue minta maaf Sa," jawab Langga penuh penyesalan.
Dari kejauhan tampak Clara setengah berlari menuju tenda tempat Tisa dan Langga berada. Melemparkan senyum dan melambaikan tangannya ke arah Tisa.
"Hai Sa, are you oke? Ni gue buatin bubur kesukaan lu, special buat sahabat terbaik gue," sapa Clara dengan membawa semangkok bubur buat Tisa.
"Thanks Clara, lu baik banget sih," balas Tisa sembari meraih semangkok bubur di tangan Clara. Entah kenapa seperti tak punya tenaga tangan Tisa gemetaran memegang semangkok bubur dan hampir saja terjatuh. Reflek tangan kekar Langga memegang mangkok yang hampir terlepas dari tangan Tisa.
"Badan lu masih lemes mungkin karena semalem belum sempat makan, gue suapin ya?" Langga bersiap-siap memasukkan sesendok bubur ke mulut Tisa, " Langga, please biar gue aja, beneran gue gak apa-apa kok," tolak Tisa.
Langga pun menurut, diturunkan tangannya lalu meletakkan sendok ke atas mangkok kembali.
"Biar gue aja yang suapin lu ya? Muka lu masih pucat gitu, badan juga keliatan masih lemas. " Clara berinisaitif melihat kondisi Tisa yang tak memungkinkan makan sendiri. Tisa mengangguk lemah.
"Langga bisa tolongin gue gak? " perintahnya ke Langga yang masih bengong di depannya.
"Eh, iya. Siaaap!" jawabnya gelagapan.
"Tolong buatkan teh manis hangat buat Tisa ya? Biar tenaganya pulih kembali," pinta Clara.
Setelah Langga berlalu, Clara menggeser tempat duduknya lebih dekat lagi ke Tisa.
"Lu kenapa sih gak mau disuapin sama Langga? Jelas-jelas badan lu masih lemes gini!" tanya Clara sedikit jengkel dengan kelakuan sahabatnya di depan Langga tadi.
"Bukan gitu maksud gue Ra? Gue cuma gak ingin hutang budi sama dia. Semalem dia udah ngejagain gue sampai pagi, gue gak tega Ra? Kesannya kok gue manfaatin dia banget," jelas Tisa menatap bola mata hitam Clara.
"Yang gue tahu dari Leo, sahabat Langga, dia tuh orangnya baik banget, gak hitungan kalau sama temen. Buktinya kemarin pas Leo sakit dia anterin pulang duluan dan rela ditinggal rombongan dia gak marah kan? Tetep nyusul ke sini!" jelas Clara dengan nada sedikit meninggi.
"Gue gak enak aja Ra!" sanggah Tisa memberi alasan.
"Ini bukan hanya alasan lu aja kan?" selidik Clara memojokkan Tisa. Clara tau Tisa belum bisa move on dari Dion yang telah menghancurkan hati sahabatnya ini.
"Clara, meski gue merasa nyaman sama Langga tapi gue takut rasa nyaman ini berubah jadi kekecewaan dan gue belum sanggup kalau ini terjadi lagi, rasanya sakit banget Ra!" jelas Tisa, tangannya mengepal di atas dadanya. Sebutir cairan bening jatuh dari sudut mata coklatnya.
"It's ok, i'm so sorry," sesalnya, tangannya mengelus punggung Tisa.
Diusapnya air mata Tisa demi melihat Langga dari kejauhan menuju ke arahnya, " don't cry again baby," bisiknya di telinga Tisa.
"Kalau kurang manis bilang ya?" Langga duduk di samping Tisa menyodorkan secangkir teh hangat buatannya.
"Makasih Ga," jawab Tisa tersenyum manis membuat Langga salah tingkah.
"Eh.. Iya, sama-sama," jawab Langga tak bisa menyembunyikan perasaan hatinya.
"Buat gue mana Ga?" tanya Clara.
"Maaf Ra, gue cuma bikin secangkir buat Tisa. Lu mau? Gue buatin bentar ya!" Bersiap-siap berdiri.
"Gak usah Ga, makasih. Lu temenin Tisa di sini, gue ke tenda panitia minta obat buat Tisa." Clara berlalu meninggalkan Tisa dan Langga memberikan kesempatan kepada mereka untuk saling mengenal lebih dekat lagi. Tisa tak bisa mencegah niat baiknya hanya bisa memandang punggung Clara yang semakin menghilang.
"Maaf ya Ga, gue jadi ngrepotin lu," kata Tisa memecah keheningan di antara mereka.
"Udah kewajiban gue sebagai panitia memastikan semua peserta dalam keadaan baik, termasuk lu juga tanggung-jawab gue. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan lu biar tar malam bisa ikut api unggun bersama peserta yang lain," jawab Langga.
"Habiskan tehnya keburu dingin! " lanjutnya demi melihat Tisa hanya memegang cangkir tehnya sedari tadi. Tisa pun langsung menyeruput tehnya, hangatnya menjalar ke seluruh tubuh membuatnya sedikit baikan. Ternyata Langga perhatian banget, batin Tisa.
Namun ia tak mau terlena, masih menjaga jarak dan menutup pintu hatinya rapat-rapat.
"Karena lu udah agak baikan, gue balik dulu ke tenda panitia gak apa-apa kan Sa? Kalau butuh sesuatu hubungi gue, ok? " pamit Langga.
"Oh iya kita belum tukeran nomer kontak, boleh pinjam ponselmu?" lanjutnya. Tisa mengulurkan ponselnya ke Langga, dengan cekatan Langga memindai barcodenya.
"Dah beres, nama kontak gue Langga. Istirahatlah biar cepet pulih, jangan lupa hubungi gue kalau lu butuh bantuin, ok? " Langga pun berlalu meninggalkan Tisa sendirian di tenda. Menatap punggung kekarnya hingga hilang dari pandangan mata.
Tisa merasakan suatu getaran saat menatap bola mata Langga, jatuh cintakah ia? Buru-buru ia buang pikiran itu, tidak! Gue tidak mau jatuh cinta pada siapapun. Sakit hati ini karena dikhianati cinta belum sepenuhnya sembuh. Mungkin itu hanya perasaan gue saja. Dipejamkannya mata mencoba berdamai dengan hatinya, tersentak kaget saat sebuah tangan menepuk pelan bahunya. Membuka mata perlahan, " bikin gue kaget aja! Udah lama lu di sini? " Tanpa di sadarinya ternyata Clara sudah berada di sampingnya.
"Baru aja sampai, lu lagi mikirin Langga ya? Seriusan gitu mukanya, " godanya membuat pipi putih Tisa merah merona.

Bình Luận Sách (199)

  • avatar
    Nurpadhyla Sajadi Junhed

    mantap

    24/01

      0
  • avatar
    Susi lawati

    bagus

    21/01

      0
  • avatar
    desmaria damanik

    ceritanya bagus sekali

    20/09

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất