logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Welcome Back Love

Clara tersenyum bahagia melihat wajah Tisa memerah dan salah tingkah di depan Langga. Semoga Langga bisa memperlakukan Tisa dengan baik. Sebuah awal yang bagus, pikir Clara. Senyum simpul tercetak di bibirnya yang tipis.
"Ehm!" Deheman Clara membuat Tisa semakin salah tingkah.
"Gue keluar dulu ya, siapa tahu panitia butuh bantuan gue buat acara nanti malam. Langga gue titip Tisa ya!" pamit Clara menyunggingkan sedikit senyuman ke Tisa.
"Eh.. Gak barengan aja kita?" usul Tisa bersiap berdiri menyusul Clara yang sudah berada di luar tenda.
"Lu nyusul aja tar bareng Langga!" teriak Clara yang semakin menjauh dari tenda.
Bingung mau ngobrol apa sama Langga, Tisa memilih diam. Langga yang terbiasa ngadepin cewek, di depan Tisa entah kenapa tak berkutik. Entah apa yang membuatnya gugup berdekatan dengan Tisa. Cewek bermata kecoklatan dan wajah ketimuran ini mampu membuat jantungnya berdebar-debar. Selama ini semua mantannya tak ada yang spesial di hatinya.
"Mau kopi?" tanya Tisa memecah kesunyian.
"Boleh, udara mulai dingin, secangkir kopi mungkin bisa menghangatkan badan," jawab Langga. Tisa beranjak ke belakang tenda menyiapkan dua cangkir kopi untuknya dan Langga. Langga mengikutinya dan mensejajari langkahnya menemani Tisa membuat kopi.
Segera dikeluarkan kompor portable, meletakkan panci di atasnya kemudian menuangkan sebotol air mineral di atasnya.
"Tisa, sebelumnya lu pernah naik gunung? " tanya Langga.
"Waktu masih awal-awal kuliah sering diajak teman muncak. Suasana alam membuat hati gue nyaman dan tenteram," terang Tisa.
"Kok kita belum pernah ketemu ya? Padahal gue juga sering muncak bareng anak-anak Mapala." Langga sedikit heran mendengar jawaban Tisa.
" Gue gak ikut Mapala, gue muncak sama anak Sastra," jelas Tisa.
"Oh, pantesan... " Langga manggut-manggut.
Meski sudah bisa menetralisir suasana Tisa masih belum bisa menguasai hatinya. Getaran halus semakin kuat ia rasakan, membuatnya salah tingkah di depan Langga.
"Auw!" Tisa menjerit kepanasan, tak sengaja menumpahkan air panas ke tangannya. Dikibas-kibaskan tangannya mengurangi rasa panas. Melihat Tisa kesakitan, Langga meraih tangan Tisa dan mengguyurnya dengan sebotol minuman mineral yang ia bawa.
"Gimana? Sudah berkurang rasa sakitnya? " tanya Langga.
"Iya sudah, makasih ya," jawabnya.
Tisa bermaksud melanjutkan membuat kopi ketika tangan Langga meraih tangannya dengan tiba-tiba.
" Lu tunggu di dalam tenda biar gue yang bikin kopi," cegahnya.
" Biar gue aja Langga, tangan gue udah baikan kok."
Dengan canggung merebut kembali cangkir di genggaman Langga. Langga menghindar membuat Tisa kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Refleks Langga menarik tubuh Tisa yang tinggal beberapa centi saja dari tanah, menarik dan mendekap dalam pelukannya menjaga Tisa agar tidak terjatuh. Kepala Tisa terbenam dalam dada Langga, terdengar irama detak jantung yang membuatnya nyaman berlama-lama dalam pelukan Langga.
Beberapa saat saling diam sebelum akhirnya Langga sadar dan merenggangkan pelukannya. Wajah Tisa merah merona, mungkinkah cinta telah hadir untuknya lewat sosok Langga? Entahlah, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan saat mendengar irama detak jantung Langga. Rasa yang telah lama hilang dan ia rindukan hadir kembali mengisi jiwanya yang kosong.
"Terima kasih." Hanya itu yang keluar dari mulut Tisa.
" Sama-sama," jawab Langga.
Diminumnya seteguk kopi membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
"Tisa, boleh gue nanya yang sifatnya pribadi?" tanya Langga hati-hati setelah lama saling terdiam.
"Ehm, boleh, silahkan," jawab Tisa.
"Laki-laki yang waktu itu bertengkar ama lu di kantin kampus, pacar lu?" tanya Langga sambil matanya tak. lepas memandang wajah cantik Tisa.
Tisa mendengus matanya menerawang ke atas menembus gelapnya malam. Rasanya enggan harus mengingat kembali peristiwa yang membuatnya sakit dan terluka.
Demi melihat perubahan di wajah Tisa, tak seharusnya Langga menanyakan hal itu. Langga pun jadi gak enak hati,
"gak usah dijawab pertanyaan gue gak papa kok, gue minta maaf ya!" Langga merasa bersalah.
"It's oke, bukan itu maksud gue Ga. Gue cuma gak ingin mengingat kejadian itu lagi. Terlalu sakit hati gue dikhianati cowok gue yang tega bermain dengan sahabat gue sendiri Ga! Kenapa harus sahabat gue? Orang yang gue percaya ternyata argh!!!" Tisa menangkupkan kedua tangannya ke muka menutupi pipi putihnya rasanya ingin menangis. Sakit, sedih dan kecewa.
Mengelus perlahan bahu Tisa memberikan rasa aman dan nyaman kemudian merengkuh kepala Tisa ke bahunya. Langga seakan ikut merasakan apa yang dirasakan Tisa. Diusap-usapnya kepala Tisa dengan lembut seraya berbisik di telinganya, "maaf"
Tisa memegangi kepalanya, "Ga, kepala gue tiba-tiba pusing." Dipijitnya kepalanya sambil meringis menahan rasa sakit.
" Lu bawa kotak obat? Biar gue ambilin!" tanya Langga panik. Di rebahkannya tubuh Tisa ke matras.
"Ada di dalam tas gue yang warna merah," jawab Tisa lirih menahan sakit yang semakin menyiksanya.
Dengan cekatan Langga membuka tas mencari kotak obat mengambil beberapa obat yang dibutuhkan.
Minyak kayu putih ia oleskan di dahi Tisa dan memijitnya perlahan.
"Minum obatnya ya?" Diberikannya obat dan segelas air mineral ke Tisa.
"Lu istirahat saja, biar gue jagain lu di sini," lanjutnya.
Tisa mencoba memejamkan mata, bayangan Dion dan Papa berdatangan silih berganti membuatnya menjerit histeris.
"Argh!! " tubuhnya mengejang dengan kedua tangan menjambak rambut panjangnya.
"Tisa, please! Tenangkan diri lu, jangan menyakiti diri sendiri!"
Tak tau harus berbuat apa Langga meraih kepala Tisa, diusap rambut hitamnya dengan lembut.
"Tarik nafas , buang pelan-pelan," Langga memberi instruksi agar Tisa bisa sedikit lega dan tenang.
Sebutir cairan bening membasahi pipi putih Tisa, sesak yang ia rasakan semakin mendesaknya untuk segera dikeluarkan. Sesunggukan dalam pelukan Langga, semuanya masih tergambar dengan jelas dalam ingatannya.

"Menagislah jika itu bisa membuat lu lega." Dibelainya rambut Tisa dengan lembut. Tangisannya mulai reda, Tisa masih enggan melepaskan pelukan Langga. Pelukan yang membuatnya nyaman. Langga pun mempunyai perasaan yang sama. Bahkan Tisa menikmati sentuhan bibir Langga, membalasnya dengan lembut.
Hangatnya menjalar ke seluruh jiwanya. Saat lidah menari diiringi desahan nafas yang berirama membuatnya semakin tak bisa melepasnya. Langga mampu melambungkan rasa dan membawanya terbang dalam dekapan hangatnya cinta yang lama mati. Irama yang keluar dari desahan nafas keduanya semakin menambah kenikmatan dibalut dinginnya malam. Merbabu menjadi saksi percintaan mereka dalam diam.
Langit Merbabu malam ini bertabur banyak bintang, ikut mendukung hadirnya cinta di hati Tisa. Perlahan menyingkap tirai kelabu, menerangi setiap sudut hatinya. Semakin malam semakin syahdu, Langga memperat pelukannya, terbuai ke alam mimpi sampai pagi menjelang.
Selamat tinggal kesedihan, welcome back love.
Clara terpaku di depan tenda melihat pemandangan di depannya dan mengurungkan niatnya masuk ke tenda, tak ingin menganggu dan mengacaukan suasana. Berbalik arah kembali ke tenda panitia, mungkin juga harus menunggu pagi bersama anak-anak Mapala. Sebait doa terucap dari mulut mungilnya, "semoga ini adalah yang terakhir yang membuat nyaman dan bahagia selamanya, gue selalu ada di belakang lu, Tisa, " ucapnya lirih.

Bình Luận Sách (199)

  • avatar
    Nurpadhyla Sajadi Junhed

    mantap

    24/01

      0
  • avatar
    Susi lawati

    bagus

    21/01

      0
  • avatar
    desmaria damanik

    ceritanya bagus sekali

    20/09

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất