Tổng quan
|Mục lục
- (các) Thẻ:
- Tidak setia
- Keluarga
- Heteroseksual
- Pornografi
Percayalah, seharmonis apapun sebuah rumah tangga bakalan berantakan bila dimasuki orang ketiga. Apalagi, orang ketiga itu memiliki kisah masa lalu kelam bersama sang pria. Bahagia sirna, asa rumah tangga bersama sampai tua dipaksa kandas tanpa sisa.
Bản cập nhật mới nhất
Lựa chọn của biên tập viên
Đề xuất cho bạn
Bình Luận Sách (127)
- Tổng cộng: 97
Chương 1 Mimpi Calon Madu.
TAK MAU DIMADU
BAB. 1
***
"Dek, Mas mau nikah lagi!" Aku yang tengah duduk di sofa ruang tamu seketikaChương 2 Istriku.
TAK MAU DIMADU
BAB. 2
***
"Mas, bangun. Mas Ilham." Badanku berguncang hebat, apa ada gempa? Dan, kenaChương 3 Dinas Mas Ilham.
TAK MAU DIMADU
BAB. 3
***
"Maksud, Bu Retno apa?" Aku menarik tangan dari genggamannya. Ini sungguh meChương 4 Kepulangan Yang Dinanti.
Tak Mau Dimadu
Bab. 4
***
Aku menyibak sedikit gorden jendela, mengedarkan pandangan ke arah luar rumahChương 5 Romantisme.
TAK MAU DIMADU
BAB. 5
***
"Ketemu Bu Minto nggak, Mas?" Pertanyaan ulang dari Ina membuatku kesusahan mChương 6 Aku Juga Merasa Berat.
TAK MAU DIMADU
BAB. 6A
***
"Mas ...."
Mataku yang baru terpejam seketika terbuka saat panggilan terdengChương 7 Siapa Dia, Mas?
TAK MAU DIMADU
BAB. 7
***
Sekarang sudah pukul sebelas siang, aku memutuskan untuk datang ke kantor MaChương 8 Terbiasa.
TAK MAU DIMADU
BAB. 8
***
Sejak menikah, ini kali pertama kulihat istriku menangis. Entah memang dia taChương 9 Penjelasan.
TAK MAU DIMADU
BAB. 9
***
Seusai makan istriku bertugas membereskan meja, dan aku mencuci piring bekasChương 10 Firasat.
TAK MAU DIMADU
BAB. 10
***
"Dek, mas berangkat kerja dulu, ya," ucap suamiku sambil menenteng tas kerjChương 11 Mas Ilham Suamiku.
TAK MAU DIMADU
BAB. 11
***
Orang tua kami adalah sahabat baik di waktu SMA. Dan persahabatan itu berjalChương 12 Mas Ilham Suamiku (2)
TAK MAU DIMADU
BAB. 12
***
Flashback,2
"Aku adalah pecandu miras dan narkoba," ucap Mas Ilham sambil meChương 13 Curiga.
TAK MAU DIMADU
BAB. 13
***
"Dek. Bangun, Dek." Mataku terbuka saat panggilan terdengar. Meskipun berat,Chương 14 Merasa Bersalah.
TAK MAU DIMADU
BAB. 14A
***
"Dek …," panggilan terdengar setelah pintu kamar terbuka, tapi
tidak kuhiraChương 15 Lakukan Sesukamu.
TAK MAU DIMADU
BAB. 15
***
Pagi ini masih seperti biasa. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Bangun pagi lanChương 16 Siapa Aldo?
TAK MAU DIMADU
BAB. 16
***
Sudah beberapa hari ini, Ina --istriku-- terlihat aneh, sering murung, lebihChương 17 Semakin Runyam.
TAK MAU DIMADU
BAB. 17
***
"Ayah." Suara Aldo menyambutku setelah membuka pintu apartemen. Anak laki-laChương 18 Keluarga Bahagia.
TAK MAU DIMADU
BAB. 18
***
Sejak pagi tadi perutku terasa aneh. Rasa mual terus mengaduk perut yang taChương 19 Malam Terberat.
TAK MAU DIMADU
BAB. 19
***
"Yang sabar ya, Neng," ucap Bang Rojak setelah aku turun dari motornya.
"Ma-Chương 20 Garis dua?
TAK MAU DIMADU
BAB. 20
***
"Apa kau yakin dia anakmu, Mas?" ucapku menatapnya dalam.
"Aku sudah tes DNAChương 21 Maaf.
TAK MAU DIMADU
BAB. 21
***
Pagi ini, Ina bangun pagi seperti biasa. Namun, dia menghabiskan waktu lebihChương 22 Kembali mual.
TAK MAU DIMADU
BAB. 22
***
"Tunggu mas, Dek, kita salat bareng. Tapi, mas mandi dulu ya." Tanpa menunggChương 23 Actual garis dua.
TAK MAU DIMADU
BAB. 23
***
"Aku harus mengeceknya lagi, jika kali ini masih garis dua, aku harus segerChương 24 Ngidam.
TAK MAU DIMADU
BAB. 24
***
"Alhamdulillah, Ibu Raina tensinya sudah normal, ya. Sudah stabil dari tadiChương 25 Bukan nasab.
TAK MAU DIMADU
BAB. 25
***
"Monita? Sedang apa kamu di sini?" Seketika mataku membeliak tak percaya, unChương 26 Pengganggu.
TAK MAU DIMADU
BAB. 26
***
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, ponsel dalam saku celanaku terus sChương 27 Pengganggu (2)
TAK MAU DIMADU
BAB. 27
***
Sekarang giliranku ke kamar Aldo. Remaja itu berbaring di ranjang dengan matChương 28 Cemburu.
TAK MAU DIMADU
BAB. 28
***
"Mas ...." Aku memanggil sambil membelai rambut sang suami yang tengah tertiChương 29 Seperti pengantin baru.
TAK MAU DIMADU
BAB. 29
***
Sore ini aku sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit, dengan syarat haChương 30 Kabar bahagia.
TAK MAU DIMADU
BAB. 30
***
Ponsel lelakiku di nakas tiba-tiba berpendar, nada deringnya mengalun panjanChương 31 Jangan sampai ramai.
"Kamu nggak berangkat kerja, Mas? Bukanya cutinya sudah habis?" tanyaku saat melihat jam sudah menunChương 32 Gelagat aneh Monita.
"Terima kasih, Bu," seruku sambil mengulum senyum. Bu minto pun menoleh sekilas, ada senyuman penuhChương 33 Gelagat aneh Monita (2)
"Terima kasih, Bu," seruku sambil mengulum senyum. Bu minto pun menoleh sekilas, ada senyuman penuhChương 34 Gelagat aneh Monita (3)
"Aku aneh ya, Mba?" Tatapannya sedih seraya memilin-milin ujung khimar yang dikenakannya. Warna meraChương 35 Gelagat aneh Monita (4)
"Anak kita, Mas! Anak kita!" Aku tergugu, terduduk dengan tangan menutup wajah rapat-rapat.
"Apa yanChương 36 Murka Bunda.
"Bunda!" Tubuhku beku, kaku, tak bisa digerakkan. Bahkan, seluruh bulu halus dalam diriku meremang mChương 37 Tak habis pikir.
"Jangan gila kamu, Dek!" Aku menggebrak meja, menatap nyalang istriku yang terduduk di lantai. NiatChương 38 Kehilangan.
Ya Allah, kenapa rumah tanggaku selalu Engkau uji dengan begitu beratnya? Dulu, Engkau menguji kamiChương 39 POV Monita.
POV Monita
"I'am sorry, Dad. Karena aku, ayah jadi di sini." Aku mengurungkan niat memasuki kamar putChương 40 Monita pemenangnya.
Sesampainya di rumah, tanpa terduga aku melihat Aldo. Remaja itu berdiri depan lemari pendingin yangChương 41 Ketidakberdayaan Ilham.
"Dek …," panggilku seraya memandangi wajah pulas istriku yang sedang terlelap. Wajah manis yang hanyChương 42 Ketidakberdayaan Ilham (2)
"Mas, kamu mau dekor seperti apa?" tanyanya saat kami dihadapkan pada beberapa potret pelaminan yangChương 43 Sulit menahan marah.
"Maaf …." Lirihku saat Anton membuka pintu rumahnya.
"Nanti aja ngomongnya," katanya membimbingku unChương 44 Curiga.
Sudah satu jam aku menunggu Anton beserta istri di bangku panjang bawah pohon tidak jauh dari mobilChương 45 Kesepakatan.
"Mas Ilham." Aku menoleh ke sumber suara, tapi segera berpaling lagi. Wanita yang berdiri di ambangChương 46 Dokter Adi.
"Bunda?" gumamku, lalu berlari menyusuri koridor saat melihat wanita paruh baya itu terlihat duduk dChương 47 Ternyata ....
"Sejak kapan?" Tanganku sudah mengepal kuat di samping badan.
"Beberapa bulan lalu, saat dia datangChương 48 Dokter Adi (2)
"Mas, jadi kapan aku boleh pulang dari sini?" tanya istriku membuat aku yang sedang fokus mengupas aChương 49 Kakak madu?
"Sudah semua, Dek?" seruan dari arah belakang membuatku seketika menoleh. Lelaki dengan kaos oblongChương 50 Keceplosan.
"Maksudnya apa?" Suaraku lebih keras sekarang, melihat suamiku dan wanita itu bergantian.
"Ups … kecChương 51 Hati tidak sekuat baja
Aku memejamkan mata seraya memijat pelipis, saat kepala ini mendadak pusing, dunia seakan berputar,Chương 52 Akulah pemenangnya!
"Mas Ilham itu milikku. Baik dulu maupun sekarang!" ucapnya sinis. Dengan anggun melangkahkan kakinyChương 53 Perselisihan dia istri
"Mana ini makanan! Kenapa belum ada sarapan di meja makan!" teriakku sambil melempar tudung saji semChương 54 Hati belum bisa
Pintu kamar yang tidak aku kunci terbuka, segera aku menoleh ke sana. Seorang lelaki dengan kaos hitChương 55 Berkemas
"Iya, Bunda, Ina paham. Titip ibu ya, Bun," ucapku dengan mertua di seberang telepon. "AssalamualaikChương 56 Harus selalu lapor
"Ah, masa!" Kini aku bersedekap. Haruskah aku percaya? Tadi pagi saja dia bisa berbohong padaku, apaChương 57 Tidak tidur bersama
"Mas, sudah malam kok Aldo belum diantar pulang ya?" tanyaku pada lelaki yang duduk di sebelahku. SeChương 58 Perselisihan dua istri (2)
Aku yang sedang membalik bakwan di wajan terperanjat kaget, bahkan spatula yang aku pegang jatuh keChương 59 Belum bisa memaafkan
[Mas, aku ke rumah ibu ya. Kunci rumah aku bawa. Kamu bawa kunci cadangan kan, Mas?] Tulisku pada saChương 60 Ojan, pria di masa lalu
Aku bangkit dari duduk saat mobil BMW warna hitam mengkilap berhenti di depan rumah. Detik berikutnyChương 61 Pria di masa lalu (2)
"Disuruh panggilin Mba Ina malahan bengong aja kamu, Jan!" pekikan dari arah rumah membuat kami langChương 62 Pria di masa lalu (3)
"Maaf ya, Raina, ibu terlalu memaksamu." Laki-laki depanku memekik. Tanpa berteriak pun sebenarnya aChương 63 Salah paham
"Raina, ambil kotak obat di kamar ibu. Di atas meja kecil di pojokan, lurusnya pintu," ucap ibu enggChương 64 Menunaikan kewajiban
Tanganku menyeka paksa air mata di pipi. Aku harus kuat, tidak boleh kalah dengan keadaan. Aku yangChương 65 Aksi nekat Monita
"Diam! Nanti jatuh!" Pria itu menyeringai, dan itu membuatku takut saat dia sudah seperti itu.
PerlChương 66 Jerit Ilham
Wanita ayu yang aku panggil adek itu tengah menengadahkan tangannya. Sepasang netra yang sering kaliChương 67 Jerit Ilham (2)
"Aku mau hari ini juga kamu tanda tangani berkas ini! Selanjutnya, biar orangku saja yang urus sisanChương 68 Akhir perjalanan
"Mas Ilham," panggilku pada laki-laki yang terduduk di bangku taman rumah sakit sambil menundukkan kChương 69 Akhir perjalanan (2)
"Nduk, ayo masuk. Sudah sore," seruan ibu dari arah belakang.
Aku menghela napas panjang. "Iya, Bu.Chương 70 Extra part
"Belum mau tidur, Nduk? Sudah malam ini," ucap ibu seraya duduk di kursi seberangku di meja makan. TChương 71 Extra part (2)
Lama aku terduduk sambil bersandar pada kepala ranjang dengan bantal sebagai alas untuk punggung. WaChương 72 Extra part (3)
"Maksud kedatangan kami ke sini, hendak meminta jawaban atas lamaran Ojan beberapa bulan lalu, RatihChương 73 Extra part (4)
"Kamu hebat." Kedua jempol tanganku terangkat.
"Apanya yang hebat, Bu?" tanyanya wanita sebelahku deChương 74 Rani (S2)
"Bu, lusa Mas Adi sama Aldo mau datang," ucapku seraya keluar dari kamar setelah berpakaian rapi henChương 75 Rani 2 (S2)
"Bu, aku mohon …." Bagaimana aku bisa menolaknya jika dia memintanya dengan wajah mengiba. TerpaksaChương 76 Pesona Mas Adi (S2)
"Tengah malam laki-laki itu pulang dalam keadaan mabuk, Bu." Selepas kepergian Wisnu, Rani memutuskaChương 77 Pesona Mas Adi 2 (S2)
"Nduk!" Ibu memanggil seraya menepuk pundakku.
"I-iya, Bu." Aku tergagap, melihatnya sekilas. KeterkChương 78 Kopi susu (S2)
"Mau kopi, Mas?" tawarku pada Mas Adi yang sedang duduk di ruang tamu, selepas pulang salat isya berChương 79 Ada apa denganku? (S2)
"Tetap di sini, aku mau cerita," pintanya masih menatapku lekat. Kepalaku mengangguk tipis.
"Jadi, diChương 80 Pria belum move on (S2)
"Mau buka toko?" Aku yang sedang sibuk mengutak-atik kunci hendak membuka gembok toko langsung berjiChương 81 Pria belum move on 2 (S2)
"Ojan, pergilah!" pekauku, tak ingin Mas Adi terluka karena diriku.
"Raina, dia siapa?" Ojan bertanyaChương 82 Pria belum move on 3 (S2)
"Ak-aku … maaf …." Ojan berkata lirih, tapi aku masih sanggup mendengarnya.
"Pergilah, Raina calon isChương 83 Nggak sudi!
TMD
BAB. 83
***
"Minggir!" Dengan mata tertutup rapat aku mengayunkan teflon ke arah Ojan sekuat tenagaChương 84 Minggu depan
"Sialan!" Aku terkesiap, Mas Adi tiba-tiba menggebrak meja. Dadanya naik turun, wajahnya semakin merChương 85 Cerita 3 tahun silam
Kamar rawat, tiga tahun lalu.
"Kau yang bernama, Raina Sasmita?" Teriakan dari arah pintu membuatku tChương 86 Cerita 3 tahun silam (2)
Tak berselang lama setelah menghubungi Paman Sarji, ponsel dalam genggamanku kembali berdering.
"BundChương 87 Sepasang pengantin baru
"Jaga dirimu baik-baik ya, Nduk!" ucap ibu seraya mengusap bahuku. Ada linangan bening di pelupuk maChương 88 Rumah baru
"Mau mampir hotel dulu nggak?" Mataku mengerjap dengan mulut sedikit membuka. Hotel? Ngapain?
"Mau ngChương 89 Malam pertama, tapi bukan yang pertama
"Bagaimana?" tanya suamiku setelah kami memasuki rumah.
Aku manggut-manggut, mata memindai sekelilingChương 90 Bertemu lagi
Bandara.
"Bentar lagi mereka sampai, Dek" Mas Adi memutar jam stainless warna gold dengan merek ternaChương 91 Sentuhan penuh cinta
"Ma-Mas Adi!" pekikku terbata, Mas Adi diam, tatapannya tajam menghunus menembus jantung.
"Ada apa, DChương 92 Dari hati ke hati
"Mau makan apa, Dek?" tanya suamiku di bawah kendali stir.
"Apa ya, Mas?"
"Plisss, jangan terserah!" MChương 93 Pov Ilham
POV ILHAM
Raina Sasmita, wanita aku cinta dengan sepenuh jiwa dan raga. Penyemangat hidupku, meski suChương 94 Tamu yang berisik
Enam bulan kemudian.
"Iya sebentar!" teriakku dari dapur, setelah mendengan bel pintu depan berbunyi.Chương 95 Pesan mengejutkan
Setelah kejadian sore tadi, suamiku membisu. Lebih banyak menghabiskan waktunya menyendiri di ruangChương 96 Rahasianya Adi
"Maaf ya, Dek! Kamu pasti kepikiran dengan ini," ungkap suamiku tepat sebelahku di atas ranjang. TanChương 97 Akhir yang bahagia
"Pulang sekarang, Mas?" tanyaku setelah Riska dan suaminya pamit pergi terlebih dahulu.
"Bentar, Dek!










![CÔ VỢ NGỐC CỦA TỔNG TÀI [1]](https://image.finovel.net/upload/image/null/2022041418/20220414182505_636.jpg)






Ceritanya bagus
22/02
0bagus ini
21/01
0Bagus sekali
07/08
0bagus banget cerita nya
04/08
0seruu ceritanya
29/05
0mantap kaa
08/04/2025
0Keren banget
19/03/2025
0mantapp
18/03/2025
0sangat lah
12/03/2025
0oke
19/02/2025
0