Tổng quan
|Mục lục
- (các) Thẻ:
- Kecantikan
- Detail
- Drama
Mengandung adegan 18+ Harap bijak saat membacanya. Bagaimana jika berbakti malah menjadi senjata oleh orang tua agar anak tunduk? Bagi Leon, menjadi durhaka dan pembangkang jauh lebih baik asalkan dia bisa mendapat kebebasan. Dunia tak pernah memiliki tempat untuk orang baik.
Bản cập nhật mới nhất
Lựa chọn của biên tập viên
Đề xuất cho bạn
Bình Luận Sách (206)
- Tổng cộng: 127
Bab 01
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... La ilaha illallah." Furqan mengakhiri lantunan azan di telinga kaBab 02
"Kita mau ke mana, Yah?" tanya Leon.
"Jalan-jalan ke Bendungan Karang Intan," jawab Furqan.
Leon bersoBab 03
Angin yang bersahabat menjadi momen tepat bagi anak-anak bermain layangan. Seperti Leon, meski sendiBab 04
Hening malam seakan mengantarkan kembali kereta waktu yang menjemput ingatan.
Flashback....
Sosok lakBab 05
Kembali ke masa sekarang ....
Husni tersenyum samar ketika kembali teringat semua hal itu, meski menyBab 06
“Husni mana?” Seorang pria bertubuh besar dengan umur yang jauh lebih tua itu datang mengetuk rumahBab 07
Leon mengikuti langkah sang ibu memasuki kamar Husni, tapi ketika tepat di depan pintu wanita itu maBab 08
Memasuki tahun ajaran baru sesuai keputusan Wanda, Leon akan masuk di Ibtidaiyah Islami tak jauh darBab 09
“Leon, cuci pakaianmu sendiri! Kamu ‘kan sudah besar,” teriak Wanda tatkala Leon sedang beristirahatBab 10
Leon membawakan segelas teh hangat ke kamar ibunya. Sejak tadi malam wanita yang biasanya cerewet itBab 11
Berlalu memasuki empat bulan sejak sang ibu diketahui hamil, Leon lebih sering diajak ke luar oleh aBab 12
Kedua mata Leon berbinar memandang rapor hasil belajarnya di semester kedua ini. Angka sembilan danBab 13
Husni memasuki rumah dengan napas yang tersengal, wajahnya penuh memar dengan darah kering di sudutBab 14
“Terkadang, seorang ibu lupa bahwa anak yang mereka lahirkan adalah manusia. Tak jarang anak hanya dBab 15
Seperti yang telah direncanakan, Leon salat Magrib dan Isya dilakukan berjamaah di langgar. Usai IsyBab 16
Sejak kejadian kemarin, Leon hanya menitipkan bekal lewat penjaga. Dia masih ketakutan andai langsunBab 17
Daging masak bistik juga rendang, nasi samin, selada, ayam panggang bahkan ikan goreng. Nasi tumpengBab 18
“Mau ke mana?” tanya Husni ketika melihat Leon telah rapi dengan sarung dan pecinya.
“Salat ke langgaBab 19
“Ibu, ini apa? Kok rasanya beda?” Haya menyodorkan botol kratingdaeng yang didapat dari kamar Husni.Bab 20
Memasuki tahun ajaran kedua, sesuai keputusan rapat, maka seluruh siswa-siswi diwajibkan mengikuti eBab 21
“Leon, lo lihat gak adik kelas itu sedari tadi terus saja memperhatikan lo?” tanya Yusri.
“Gak. Napa?Bab 22
Leon meluruskan kaki usai latihan silat pertamanya, senyum terus mengambang, di kepala dia terpikirBab 23
Leon menghitung sisa uang tabungan yang kemarin sempat direbut sang ibu, kemudian menambahkannya denBab 24
“Leon! Barter dong!” Salah satu siswa aliyah datang mendekati Leon yang tengah merapikan uang hasilBab 25
Leon duduk di atas sajadahnya, menghadap kiblat lengkap sarung dan juga peci di kepala. Tangan kananBab 26
[Bagus juga lo nyanyi.] Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tak dikenal. Leon membuka profilBab 27
Waktu kenaikan sabuk tiba, setelah selesai menerima sabuk baru lagi-lagi Leon dipertemukan dengan waBab 28
Benih-benih rindu yang kian memupuk kasih sayang terus tumbuh dan menyebar cepat di bilik-bilik hatiBab 29
Remaja berjaket merah duduk menunggu dengan raut wajah yang ditekuk di sudut taman. Gerak kakinya diBab 30
[Thanks udah nganterin gue.] Pesan dari Weny muncul begitu saja ketika Leon menyalakan ponselnya diBab 31
Berlalu seminggu, pada pembukaan acara Haplah yang dimulai dengan upacara seluruh siswa-siswi madrasBab 32
"Kamu bilang kemaren ibu gak pernah peduli sama kapan kamu bagi rapor? Kamu lupa kalau ibu sibuk? NaBab 33
Leon menyandang tas ranselnya menyusuri jalan, teringat akan yang tersisa di dalamnya hanya kepinganBab 34 (18+)
"Dek?" Pria paruh baya berpeci menepuk-nepuk bahu remaja yang berbaring di pelatar musala.
Leon yangBab 35
Leon bersandar pada rolling door sebuah pelataran toko yang menjadi tempat menjemput lelapnya tadi mBab 36
Leon berpaling dan melangkah menjauh tanpa kata, menyembunyikan sesak yang kembali mengundang air maBab 37
Leon merapikan tas sekolahnya, tahun ajaran di kelas tiga tsanawiyah sudah dimulai. Namun, hubunganBab 38
Sejak pulang dengan Yusri, masih ada suara apa pun yang ke luar dari mulut sang ibu. Lamat-lamat kecBab 39
Jam pulang akhirnya membebaskan banyak murid-murid yang telah suntuk belajar seharian. Mereka berhamBab 40
"Hari ini Kak Welly datang, pokoknya kamu jangan terlalu manja sama mereka. Jangan merepotkan. IngatBab 41
Makan malam telah disediakan oleh Mak Jah. Ruang makan yang besar membuat satu keluarga itu selalu mBab 42
Sejak kemarin, satu malam penuh hingga acara pernikahan Viny berlangsung musik dangdut tak henti menBab 43
Tentang keluarga yang hangat, saudara seerti teman sebaya, keindahan pantai yang didatanginya, jugaBab 44 (18+)
"Woy, Leon. Maen ke Athena, yuk!" ajak Dennis.
"Athena Discotique?" gumam Leon di dalam hati.
SejenakBab 45
[Kalo kangen temuin di Taman Mawar. Lagi gabung sama Mr. Simple.].
Centang dua berwarna biru tampak pBab 46
"Lo seriusan ikut?" tanya Leon menatap tak percaya pada Yusri yang sudah menantinya di depan gang.
"IBab 47
"Hah! Cape gue. Seru banget!" celetuk Yusri sambil duduk di sepeda motornya.
"Lo gila banget, lupa teBab 48 (18+)
Berbekal alamat yang dikirimkan Yusri, Nisa menanti di depan gang kemudian menghubungi Leon. Sudah hBab 49
"Dari mana aja baru pulang?" Suara yang sudah sangat khas teriakannya menyambut ketika Leon membukaBab 50
Berkurangnya interaksi dengan sang ibu membuat Leon leluasa melakukan apa yang diinginkan. SemingguBab 51
"Lo kenapa?" Sambut Yusri ketika Leon baru saja datang, terlihat mata yang sembab itu tengah kosong.Bab 52
"Lo hutang cerita ama gue!" Yusri segera menodong Leon dengan pertanyaan ketika langkah kaki remajaBab 53
Leon menghentikan sepeda motornya tepat di depan rumah. Hatinya sudah cukup tenang setelah menghabisBab 54
Ragu melanda, khawatir adiknya akan kecewa. Namun, hal yang diterimanya malah jauh berbeda.
Haya tersBab 55
Leon mengendap-endap ke luar setelah memastikan ayah dan ibunya telah benar-benar tidur. Dennis di dBab 56
Seminggu berlalu ....
"Bu, aku diterima kerja!" sorak Husni girang memeluk sang ibu yang tengah menonBab 57
Akhir-akhir ini Husni selalu merengek pada sang ibu, membuat wanita itu kesal. Leon yang tak tahu apBab 58
Leon yang awalnya tengah menikmati nasi goreng hasil masakan sendiri di depan televisi mendadak terkBab 59
Sejak kemarin suasana panas di rumah tak juga mencair. Berkali-kali Wanda ingin mengajak suami bicarBab 60
"Kamu pikir uang dua puluh juta itu sedikit? Di mana ibu nyari uang sebanyak itu?" teriak Wanda takBab 61
Acara perpisahan kelulusan di Tsanawiyah dilangsungkan, hasil nilai sudah dibagikan. Leon bersujud sBab 62
Husni mendecak geram, turut melangkah menuju kamar.
"Leon trus!" Dengan kesal ditendangnya pintu kamaBab 63
Nyamuk-nyamuk yang menyerang tanpa ampun membuat Leon terbangun. Padahal, langit masih gelap.
Leon meBab 64
"Anak itu ... benar-benar sudah kelewatan!" Furqan meremas kertas yang baru saja selesai dibacanya.
WBab 65
Subuh menjelang, Leon sudah terjaga dari tidurnya dan membersihkan diri sebelum pengurus musala dataBab 66
"Jawab ayah! Uang sebanyak itu kamu pakai untuk apa! Hidup numpang orang tua bukannya ngurangin bebaBab 67
"Mbak, rumah bedakan punya kamu ada yang kosong?" Wanda menelepon Mbak Dian, keponakannya yang tinggBab 68
"Kak Husni mau ke mana, Bu?" tanya Haya heran ketika melihat pria itu sejak tadi tampak bolak-balikBab 69
"Lo serius gak mau lanjutin sekolah lo?" Yusri membuka tutup botol anggur merah di genggamannya.
"MauBab 70
Leon mulai bekerja di kafe Bara Steak yang terletak persis di samping KFC. Pakaian kemeja terbaik peBab 71
"Rese lo! Mentang-mentang kerja jadi seenaknya jarang ngumpul ninggalin kita!" protes Erik ketika LeBab 72
Leon melangkah kasar membawa ayam ke dapur. Yusri yang tengah baru datang membawa tikar dari kamar uBab 73
"Gue gak yakin lo anak baik-baik. Zaman sekarang banyak yang mukanya polos tapi kelakuan minus." MikBab 74
Ruang percakapan Whatsapp grup Mr. Simple.
Wahyu: [Gimana? Siapa aja nih yang bisa berangkat?]
Dennis:Bab 75
Leon datang lebih awal, dia duduk di bangku sudut taman Mawar. Duduk menyandarkan punggung dengan keBab 76
"Yok, mancing, siapa yang mau ikut?" tanya Yusri sambil membawa joran.
"Emangnya nggak takut ke sungaBab 77
Raungan tangis terdengar dari ibu dan kakak Erik dari dalam rumah. Bendera hijau pertanda salah satuBab 078
Leon mengepalkan genggaman tangannya. “Ini gara-gara Ibu,” ucapnya ragu-ragu.
Pria yang menunggu jawaBab 079
Leon berduduk dengan menjuntaikan kakinya di pinggiran irigasi Karang Intan. Air mengalir dengan der(Season 2) Bab 080
Leon menatap langit sore yang mulai memudar, mengunyah udara kering yang makin menusuk dada. DinginBab 081
Pagi itu datang tanpa suara. Langit masih diselimuti awan tipis keabuan, dan embun membasahi rerumpuBab 082
Leon terbangun dengan dengan napas berat dan tubuh yang pegal seperti dipukuli malam. Juga sedikit mBab 083
Leon berjalan melewati taman kota dengan langkah lesu. Matahari belum terlalu tinggi, tapi panasnyaBab 084
Leon mulai terbiasa dengan kehidupan di warnet. Suara keyboard yang dipukul cepat, derit mouse, tawaBab 085
Malam itu, lampu-lampu kecil di plafon warnet menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantaiBab 086
Malam itu hujan turun rintik-rintik di atas atap ruko-ruko tua sekitar pasar Martapura. Di dalam bilBab 087
Warnet W.A Nett masih penuh seperti biasa. Bunyi keyboard beradu cepat, suara bocah-bocah yang berteBab 088
Setelah malam makin larut dan anak-anak warnet mulai pulang satu per satu, suasana W.A Nett berubahBab 089 (21+)
Setelah sukses menjual cheat di deep web, Leon merasa seperti penjelajah yang baru saja menemukan peBab 090
Langit senja menabur jingga yang kelam di atap-atap ruko pasar Martapura. Udara pengap dari mesin peBab 091
Leon duduk di bangku beton pinggir trotoar, tak jauh dari jembatan gantung yang menghubungkan dua siBab 092
Pagi itu, sinar matahari mulai menampakkan diri di luar, menyusup melalui celah ventilasi yang ada dBab 093
Malam merayap pelan di Martapura, menyelimuti kota dengan kegelapan yang akrab bagi Leon. Di dalam bBab 094
[PESAN TERENKRIPSI DARI: TheDoctor0]
Subject: CONFIDENTIAL – Opportunity Beyond the SurfaceBab 095
Siang harinya di sekolah, segalanya tetap seolah normal.
Leon datang dengan rambut agak acak,Bab 096
Leon duduk di bangku paling pojok kelas, tempat favoritnya karena menghadap langsung ke jendela. AngBab 097
Malam itu, di dalam bilik sempit warnet yang remang-remang, Leon menatap layar monitor dengan tatapaBab 098
Malam turun perlahan di Martapura.
Lampu-lampu jalan menyala satu demi satu, seperti bintang buatan yBab 099
Malam merayap pelan di Martapura. Di balik box yang sempit, Leon duduk di depan layar komputer yangBab 100
From: “TheDoctor0”
Subject: INITIATION PHASE 03
"Apakah kamu siap menyatu lebih dalam? Tidak akBab 101
Alina duduk di bangku taman sekolah, matanya menatap kosong ke arah lapangan basket yang ramai olehBab 102
Sementara itu, di ruang kesehatan, Gani mulai sadar dari pingsannya. Begitu matanya terbuka, rasa saBab 103
Sore itu, warnet yang biasa Leon datangi lebih sepi dari biasanya. Dia duduk di box favoritnya, headBab 104
Sejak insiden di lapangan itu, atmosfir sekolah berubah.
Bukan hanya karena Gani yang sempat tumbangBab 105
Langit di atas bukit Riam Kanan mulai berubah kelam, dihiasi guratan awan kelabu yang menebal. KabutBab 106
“TheDoctor0”: "Untuk latihan, kita akan membuat lingkungan virtual dengan dua mesin: satu sebBab 107
Pagi datang perlahan, menyelinap di balik tirai jendela kelas yang sebagian besar sudah dibuka. CahaBab 108
Malam merayap pelan di kota Martapura. Di kamar sempit yang hanya diterangi cahaya layar laptop, LeoBab 109
Leon berdiri di ambang pintu, menatap dua pria berjas hitam yang berdiri tegap di hadapannya. SalahBab 110
Hujan belum berhenti sejak malam sebelumnya. Rintiknya terus menari di atas genteng sekolah, mengisiBab 111
Leon tidak tidur malam itu. Mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar, memutar ulang tiap barisBab 112
Hujan turun rintik-rintik malam itu, menari di atas atap seng tempat Leon menyembunyikan diri. UdaraBab 113
Leon menutup laptopnya perlahan. Malam telah berubah. Tidak hanya bagi dirinya, tapi bagi ribuan, muBab 114
Pagi itu berjalan dengan langkah pelan. Langit samar, biru pudar yang ditutupi lapisan tipis awan, sBab 115
Udara dingin menusuk tulang. Fajar baru saja pecah, namun langit masih menggantungkan kabut yang engBab 116
Leon duduk di pojok ruangan kecil milik seorang kawan lama “TheDoctor0”. Tempat persembunyian baru.Bab 117
Malam menyelubungi kota seperti tinta yang meresap ke celah-celah kehidupan. Di loteng kecil tempatBab 118
Leon terbangun sebelum matahari sempat menyeberang garis cakrawala. Suara alarm tak pernah dia gunakBab 119
Suara deru mesin mobil pengangkut yang membawa Leon mengisi kabin seperti dengungan dari mesin beratBab 120
Langit pagi berlapis awan kelabu saat Leon menuruni angkutan umum terakhir di dekat sekolah barunya.Bab 122
Leon melangkah keluar dari gedung laboratorium dengan bahu yang sengaja dilemaskan. Dia mengatur napBab 122
Leon terdiam menatap layar laptopnya yang menghitam. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udarBab 123
Raungan sirine simulasi kebakaran membelah udara SMA unggulan itu dengan nada yang melengking tinggiBab 124
Kegelapan di dalam warung kopi Mas Arman terasa lebih pekat setelah pengakuan Sarah di layar ponsel.Bab 125
Mobil tua Mas Arman menderu, membelah jalanan pinggiran kota yang masih basah oleh sisa hujan. Di beBab 126
Gedung Kementerian Teknologi dan Informasi di Ibu Kota berdiri serupa tugu keangkuhan—monolit kaca dBab 127
DEKONTAMINASI DARAH
Lampu neon di area parkir bawah tanah kementerian itu berkedip ritm


















cerita ny bagus
09/01
0Baguss
06/11
0bagus
22/10
0bagus
24/09
0Cerita ini sangat bagus sekali
01/07
0bagus cerita nya
03/06
0bagus ceritanya
28/05
0bagus banget kak cerita nya
21/04/2025
0bagus novelnya seru, kalian wajib baca
20/04/2025
0Bagus banget ini novelnya
16/04/2025
0