logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Hari Pertama Bekerja

"Dek, ayo bangun," Bayu  berusaha membangunkan Sekar yang masih tidur nyenyak.
"Sebentar lagi Mas."
"Ini sudah pagi Dek, kamu juga belum sholat subuh kan?"
"Aku lagi halangan Mas," jawab Sekar.
"Kalau begitu bangunlah dan cepat masak."
"Ngapain masak, kan sudah ada Bik Yem."
"Mas tahu kalau sudah ada Bik Yem, tapi kan tidak ada salahnya kalau kamu ikut bantu-bantu. Kita ini numpang lho Dek, tidak enak kalau bangun kesiangan," ucap Bayu berusaha memberi pengertian kepada istrinya.
"Iya, iya, bawel."
Dengan malas Sekar beranjak dari tempat tidur dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Loh, tidak mandi Dek?" tanya Bayu.
"Nanti saja Mas, masih malas aku ini.Mas mau kemana?"
"Hari ini Mas mau ikut Mbak Sri ke restoran."
"Benarkah? Aku ikut ya Mas?"
"Lain kali saja Dek, hari ini baru perkenalan kan? Kalau Mas sudah benar-benar bekerja di sana, Mas pasti akan mengajak Adek."
"Iya deh Mas, aku keluar dulu mau bantuin masak."
"Iya Dek."
Sekar keluar kamar dan langsung menuju dapur. Terlihat di sana Bik Yem dan Sri sedang memasak.
"Selamat pagi Sekar, apakah tidurmu nyenyak?" tanya Sri ramah.
"Pagi Mbak, nyenyak sekali. Aku bisa bermimpi indah karena tidur di kasur yang empuk, hahaha."
"Kamu bisa saja Sekar."
"Mbak masak apa?"
"Ini masak nasi goreng untuk sarapan."
"Kenapa Mbak masak sendiri? Kan sudah ada Bibik?" 
"Dari dulu memang Mbak suka masak kok. Lagipula anak-anak dan Mas Dirga sering protes kalau  Mbak tidak mau membuatkan mereka sarapan. Katanya masakan Mbak harus dinikmati di pagi hari agar lebih menambah semangat untuk menjalani hari, hahaha."
"Hehehe…." Sekar tersenyum kecut mendengar perkataan Sri.
"Mau aku bantu Mbak?"
"Tolong goreng telur ceploknya ya."
"Iya Mbak."
Sekar mulai mengoreng telur. 'Sebentar lagi kamu akan tergila-gila dengan masakanku, Mas Dirga'
Sarapan sudah siap, anak-anak sudah menunggu di meja makan. Mereka semua makan dalam diam, tidak ada percakapan sama sekali. Setelah selesai makan mereka semua pergi ke tempat tujuan masing-masing, tinggallah sekar sendirian di rumah bersama para pembantu.
"Bik, saya mau mencuci, ada sabun cuci baju tidak Bik?"
"Ada Neng, di tempat laundry, mari saya antar."
Mereka berdua sampai di tempat laundry, di sana terdapat lima buah mesin cuci dan banyak baju di yang baru saja dicuci.
"Wah, tempat apa ini, Bik?" tanya Sekar.
"Tempat cuci baju, Neng."
"Ini apa Bik?" 
"Itu namanya mesin cuci, Neng. Kalau mau nyuci pakai ini saja."
"Oh, ya Bik."
"Neng, bisakan pakai mesin cucinya?"
"Bisa dong Bik," jawab Sekar berbohong, sebenarnya baru sekali ini dia melihat mesin cuci. Malu kalau harus mengakui kepada Bibik takutnya nanti dibilang katrok, meskipun sebenarnya dia memang ndeso.
"Yasudah, kalau begitu Bibik tinggal dulu ya."
"Iya Bik."
Sepeninggalan Bibik, Sekar merasa kebingungan tentang bagaimana cara mengoperasikan mesin cucinya.
"Ini bagaimana cara makenya sih? Coba aku lihat dulu. Oh, ini ada cara pengoperasiannya."
Sekar membaca petunjuk penggunaan dengan seksama.
"Ah, gampang ini mah."
Sekar mulai memasukkan baju ke dalam mesin cuci.
"Detergen nya seberapa ya? Dikasih banyak sajalah biar bersih."
Sekar mulai menuangkan deterjen hampir setengah botol dan mulai menyalakan mesin sesuai petunjuk yang ada.
"Satu jam baru selesai, aku tinggal bobok di kamar dulu saja."

"Bayu, ini restoran Mbak."
"Wah, besar sekali ya Mbak?" ucap Bayu kagum, Sri hanya tersenyum menanggapi ucapan Bayu.
"Ayo kita masuk. Teman-teman, perkenalkan ini Bayu, adik saya. Dia akan membantu kalian di sini."
"Halo Pak, saya Erna, kasir di sini," ucap Erna Centil.
"S-saya Bayu." Bayu merasa risih melihat tingkah Erna.
"Perkenalannya dilanjutkan nanti saja ya. Ayo kita masuk Bay."
"Iya Mbak, aku mau ke belakang dulu, toiletnya dimana ya?" 
"Di samping ruangan ini, nanti ada tulisannya kok."
"Iya Mbak."
Bayu segera menuju toilet, setelah menuntaskan hajatnya, dia segera kembali ke ruangan Sri. Saat melewati dapur tidak sengaja dia mendengar percakapan karyawan Sri.
"Eh, adiknya Bu bos itu kira-kira bisa apa ya?"
"Dilihat dari tampangnya sih sepertinya dia tidak punya pengalaman dalam menjalankan restoran."
"Kamu benar, misalkan dia diangkat jadi manajer, aku akan mengajukan protes. Bagaimanapun juga aku yang paling lama bekerja di sini, aku tidak terima jika anak baru itu langsung diangkat jadi manajer. Bisa bangkrut restoran ini kalau berada di tangan orang yang tidak berpengalaman."
"Kamu benar, aku juga tidak setuju jika memang demikian. Jangan karena adik bos langsung menduduki jabatan yang tinggi."
Bayu segera berlalu, pembicaraan kedua orang tersebut cukup membuka pikirannya. Bagaimanapun juga dia paham betul akan kemampuannya sendiri. Bayu tidak akan mampu jika harus memikul tanggung jawab untuk menjadi manajer di restoran ini. Setidaknya untuk saat ini, dia butuh banyak belajar dalam hal mengelola restoran.
"Mbak, memangnya aku bakal menjabat sebagai apa di restoran ini?" tanya Bayu setelah sampai di ruangan Sri.
"Jadi manajer...."
"Tidak Mbak, aku tidak mau."
Sebenarnya Sri sudah menebak kalau Bayu akan menolak tawarannya. Dia paham betul bagaimana sifat adiknya tersebut.
"Memangnya kenapa? Bukankah enak, kamu tinggal duduk manis di kursimu sambil melihat para bawahanmu bekerja?"
"Dengan kemampuanku yang sekarang, aku tidak akan mampu Mbak. Berikan aku jabatan yang paling ringan Mbak."
"Tidak ada jabatan yang ringan, semua pekerjaan jika tidak dikerjakan dengan sepenuh hati akan menjadi beban yang berat."
"Kalau begitu ijinkan aku menjadi cleaning servis."
"Cleaning servis? Kamu yakin?"
"Iya Mbak, aku akan menduduki dari jabatan yang paling bawah. Dan dengan kemampuanku sendiri aku akan merangkak ke atas menduduki jabatan tertinggi. Tanpa bantuan dari Mbak Sri."
"Kamu memang benar-benar adikku, Bay," ucap Sri sambil mengacak rambut Bayu.
"Aduh, Mbak, jangan lakukan itu. Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah dewasa Mbak." Bayu keberatan dengan sikap Mbaknya.
"Hahaha ... maaf, bagi Mbak kamu akan selalu menjadi adik kecil Mbak."
"Ah, Mbak Sri...."
Hari itu juga Bayu mulai bekerja sebagai cleaning servis. Para pekerja merasa heran dengannya,  bisa-bisanya adik dari bos cuma menjabat sebagai cleaning servis. Bayu tidak mau ambil pusing untuk menanggapi mereka. Dia hanya ingin bekerja dengan tekun agar bisa menghasilkan uang yang banyak untuk anak istrinya.
...
Sekar masih sibuk berselancar di dunia maya sambil bersantai di kamarnya.
"Enak banget di sini, aku tidak perlu mikir masalah kuota habis. Wi-Fi bisa aku manfaatkan sepuasnya."
Saat sedang asyik dengan gawainya, dia teringat sesuatu.
"Aduh, aku lupa kalau sedang mencuci baju." Sekar bergegas beranjak dari tempat tidur karena baru ingat dengan cuciannya. Dia segera menuju ke ruang laundry dan kaget melihat apa yang terjadi di sana.
"Astaga...."

Komento sa Aklat (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    11/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    03/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata