Terdengar suara tidak asing yang berasal dari Sekar, sesaat kemudian muncul bau yang tidak sedap. Dirga yang mencium bau busuk itu reflek melepaskan pegangan tangannya untuk menutup hidung. Alhasil Sekar jatuh ke lantai dengan cukup keras. "Aduuhh…." "Maaf Sekar, kamu tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?" ucap Dirga merasa bersalah. "T-tidak, aku tidak apa-apa Mas." Sekar terpaksa berbohong, sebenarnya badannya sakit semua dan ingin mengumpat dengan kata-kata kasar, tetapi dia menutupinya dari Dirga. "Ayo sekar, kita masuk ke kamar dan gantilah bajumu. Mau aku gendong?" tawar Bayu. "Tidak terimakasih," jawab Sekar ketus. Sekar masuk ke dalam kamar diikuti Bayu dari belakang. " Kamu kenapa bisa kejebur sih?" tanya Bayu setelah mereka sampai di kamar. "Dahannya patah Mas." "Tadi kan sudah aku bilang jangan naik pohon malam-malam tapi kamunya ngeyel sih, jadinya seperti ini kan…." "Sudah, aku lagi tidak mood dengar ceramahnya Mas. Aku mau mandi terus tidur." Sekar langsung menyambar handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sudah cukup lama Sekar berada di dalam kamar mandi tetapi dia tidak kunjung keluar. Bayu yang merasa khawatir memanggil-manggil Sekar sembari menggedor pintu. "Sekar, kamu lagi apa? Kok lama sekali?" "Perutku mules Mas, dari tadi pengen buang air terus." "Oh, aku kira kamu ketiduran. Makanya jangan makan banyak-banyak, itulah ganjaran untuk orang yang serakah…." "Sudah, jangan ceramah lagi, tolong mintakan obat ke Mbak Sri." "Iya Sekar." Bayu bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan Sri. Dia menemukan semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga. Semua anak-anak Sri sudah berada di rumah. "Bayu, kemarilah, perkenalkan, mereka semua keponakanmu." Sri memanggil Bayu yang terlihat ragu untuk mendekat kearah mereka. "Halo Om, nama saya Ali. Dan ini adik-adik saya, Ani, Arif, Aisyah, Galang, Cinta dan yang paling kecil masih berumur dua tahun itu namanya Kila." Ali Memperkenalkan adiknya satu-persatu. Mereka menghampiri Bayu untuk mencium punggung tangannya. "Wah, keponakan Om sudah besar semua ya." Bayu terlihat langsung akrab dengan semua keponakannya, mereka mengobrol dengan asyiknya sampai-sampai lupa dengan tujuannyan keluar kamar. Sementara itu di kamarnya, Sekar sedang mematut dirinya di cermin, mindai setiap inci wajahnya. 'Kalau dilihat-lihat wajahku lebih cantik daripada Mbak Sri, tapi kenapa nasibnya jauh lebih beruntung daripada aku? Mas Dirga yang ganteng itu lebih cocok bersanding denganku, aku sudah bosan hidup miskin dengan Mas Bayu, lihat saja Mas Dirga, aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku.' Sekar bergegas keluar kamar karena merasakan perutnya yang masih tidak nyaman. Dia mencari Bayu untuk menagih obatnya tetapi yang dilihatnya Bayu sedang bersenda gurau di ruang keluarga bersama semua keponakannya. "Mas, kamu apa-apaan sih, katanya nyari obat sakit perut kok malah disini!" tegur Sekar sambil berkacak pinggang di depan Bayu. Semua mata tertuju kepadanya tak terkecuali Dirga. "Eh, iya, maaf Dek, Mas lupa." "Perut aku mules ini Mas, cepat carikan obat, sekarang!" ucap Sekar dengan marah. "Iya, iya Dek, aku ke dapur dulu nyari Mbak Sri." "Kamu sakit apa Sekar?" tanya Dirga. Mendengar suara Dirga dia baru sadar kalau sedari tadi sikapnya menjadi tontonan keponakan dan kakak iparnya. "Eh, anu, mules Mas, iya mules," jawab Sekar grogi. "Makanya lain kali jangan makan banyak-banyak Tante, jadi sakit perutkan. Memangnya di desa tidak ada makanan seperti di sini ya sampai-sampai Tante makan dengan serakus itu?" cibir Ani yang tadi sempat mengintip saat Sekar dan Bayu sedang makan. "Itu, anu...." Sekar bingung mau menjawab apa, dia merasa sangat dipermalukan oleh perkataan keponakannya itu. "Ani...." Dirga paham apa maksud Ani. "Hehehe ... bercanda Tante, jangan diambil hati ya?" "I-iya." Bayu terlihat datang dari arah dapur dengan membawa obat sakit perut. "Ini Dek, cepat makan dan istirahatlah," ucap Bayu sambil menyerahkan obat. "Sini, lama!" Sekar merebut obat tersebut dan langsung masuk ke kamar. Dia segera meminumnya dan sekarang rebahan di kasur. 'Sial tuh keponakan, sepertinya aku harus memberinya pelajaran' Sekar mengambil gawainya dan menghubungi seseorang. "Mbah, saya mau yang lebih manjur dari yang kemarin." "Bisa diatur, kamu tahukan kalau harganya juga lebih mahal?" jawab seseorang yang dipanggilnya Mbah. "Iya Mbah, tidak masalah." "Kalau begitu bisa diambil besok malam jumat kliwon." "Baik Mbah." "Dan jangan lupa transfer." "Huh, dasar kakek tua, urusan duit saja tidak pernah lupa," gumam Sekar. "Kamu bilang apa tadi?" "Eh, tidak Mbah, segera saya transfer Mbah." "Bagus." 'Satu masalah teratasi, lalu bagaimana caranya membawa barang tersebut kemari? Tidak mungkin aku pulang lagi ke desa. Aku suruh saja Rida dan Rido untuk mengambilkannya dan membawanya kemari.' Pintu kamar dibuka, Bayu masuk ke kamar karena khawatir dengan keadaan Sekar. "Bagaimana dengan sakit perutmu Dek, apakah sudah baikan?" "Sudah, Mas. Aku mau ngomong sesuatu, Mas." "Apa itu Dek? Katakan saja." "Sejak sampai di sini aku terus kepikiran sama anak-anak. Bagaimana kalau kita suruh mereka kesini juga." "Dek, bukannya Mas nolak keinginanmu, tapi kan disini kita numpang, masak kita langsung memboyong mereka semua? Kalau Mas sudah dapat penghasilan dan bisa menyewa rumah sendiri, Mas akan membawa mereka ke kota." "Kita kan numpang di rumah Mbakmu Mas, bukan di tempat orang lain. Lagipula rumah ini besar dan punya banyak kamar, tambah penghuni dua orang saja tidak masalahkan?" "Justru karena ini rumah kakakku sendiri makanya Mas sungkan Dek...." "Kenapa sungkan segala sih?" "Ya karena...." "Sudahlah, kalau Mas tidak mau, biar aku ijin sama Mbak Sri." Sekar bergegas keluar kamar berniat menemui Sri. "Dek, tunggu, kita bicarakan dulu masalah ini...." Sekar terus berjalan tanpa mempedulikan perkataan Bayu. "Mbak, aku mau bicara." "Dek...." "Bicaralah Sekar." "Bolehkah aku mengajak anak-anakku untuk tinggal di sini Mbak, semenjak sampai di sini hatiku tidak tenang, terus kepikiran mereka." "Maaf atas kelancangan Sekar ya Mbak," ucap Bayu sungkan. "Tidak apa-apa Bay, silakan kamu ajak anak-anak kemari Sekar. Mbak tidak keberatan." "Terimakasih, Mbak memang baik hati. Aku ke kamar dulu, mau mengabari anak-anak," ucap Sekar sambil berlalu meninggalkan Bayu dan Sri. "Maaf ya Mbak, jadi ngerepotin Mbak." Bayu merasa sungkan dengan sikap istrinya. "Tidak apa-apa Bay, Mbak paham betul bagaimana perasaan seorang ibu jika harus berpisah dengan anaknya." "Aku tidak enak Mbak harus ngerepotin Mbak, kami cuma numpang tapi seakan tidak punya malu." "Hush, jangan bicara begitu, kamu itu adik Mbak satu-satunya, kalau bukan sama saudara sendiri, pada siapa lagi kamu akan meminta pertolongan? Mbak justru senang kamu kemari, waktu kecil Mbak belum sempat membahagiakanmu, sekaranglah waktunya." "Iya Mbak, terimakasih banyak." ... 'Mas Dirga, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku'
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 22 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Tingnan Lahat