"Eeeh…." Sekar kelabaan dan berusaha mengulurkan tangan kotornya ke arah Dirga. "Sekaaar…." "Eh, maaf Mas, tanganku kotor, tidak jadi salaman saja ya." "Iya, silakan kalian lanjutkan makannya, saya ke dalam dulu ya." "Iya Mas," jawab Bayu. Sekar dan Bayu pun melanjutkan makan malam mereka. "Wah, ternyata Mas Dirga itu ganteng banget ya Mas," ucap Sekar. "Iya, aku juga baru ketemu sekali ini kok." "Sudah ganteng, mapan, kaya raya pula, benar-benar suami idaman deh," ucap Sekar tanpa sadar. "Maksud kamu apa ngomong begitu?" Bayu merasa tidak senang dengan perkataan Sekar. "Eh, maksud aku, Mbak Sri beruntung banget gitu dapat suami seperti Mas Dirga," ralat Sekar. "Iya, kamu benar, Dek." Sekar dan Bayu sudah selesai makan dan berniat mencuci piring di wastafel. "Eh, mau kemana, Neng?" tanya Bik Yem. "Mau cuci piring Bik." "Tidak usah Neng, biar Bibik saja yang cuci. Neng sekar bisa istirahat, mau dibuatkan sesuatu untuk pencuci mulut tidak?" "Sebenarnya Sekar pengen banget makan pisang goreng keju, Bik." "Oh, beres Neng, gampang itu mah, Neng tunggu aja nanti Bibik antar." "Ok Bik, Terima kasih ya," ucap Sekar sembari meninggalkan dapur. "Kok cepat sekali cuci piringnya Dek?" "Sudah ada Bibik yang nyuci Mas." "Kamu tidak bantu?" "Ngapain? Dia disini dibayar memang untuk bekerja kan?" "Iya, tapi kan tidak ada salahnya kalau kamu bantu Bibik." "Tadi aku sudah menawarinya Mas, tetapi si Bibik malah nolak." "Ya sudah, tidak apa-apa kalau begitu." "Kita ke kamar yuk Mas, pengen rebahan nih, begah perutku." "Habis makan jangan rebahan Dek, gimana kalau kita jalan-jalan di kebun belakang saja? Di sana banyak tanaman buah dan bunga, ada juga kolam renangnya." "Ok Mas, ayo ke sana." … "Mas, aku mau bicara," ucap Sri setelah Dirga selesai mandi. "Bicara apa sayang?" tanya Dirga sembari duduk di ranjang. "Sebenarnya Bayu datang kesini mau minta pekerjaan, Mas. Bagaimana kalau dia kita suruh pegang restauran yang ada dekat kampus Ali?" "Hmm … boleh saja kalau kamu mau membantu Adikmu, tetapi apakah dia mampu mengelola restoran itu? Dia kan belum berpengalaman, Dek. Bisa-bisa nanti malah bangkrut restorannya kalau di pegang oleh orang yang salah." "Tentu saja aku akan mendampinginya Mas, tidak mungkin aku langsung menyerahkan semua tanggung jawab kepengurusan restoran kepadanya." "Kalau begitu terserah kamu saja, Dek." "Terimakasih ya, Mas." "Sama-sama, aku keluar dulu mau ambil minum." "Iya Mas." … Bayu dan Sekar menikmati suasana malam di kebun belakang. "Wah, banyak sekali buah-buahannya Mas. Ada Mangga, jambu, apel, anggur, jeruk dan masih banyak lagi yang berbuat ranum. Aku bakal betah tinggal disini Mas, apalagi di sebelah sana tuh, bunganya banyak banget, beraneka ragam pula," ucap Sekar takjub. "Iya Dek, aku juga kaget waktu tadi kesini." "Aku mau petik buah dulu, Mas." "Bukannya perutmu sudah begah Dek?" "Iya, tapi masih ingin makan." "Dasar rakus." "Mumpung ada Mas." "Hmm…." Bayu membiarkan istrinya makan sepuasnya. Dia sadar selama ini tidak pernah memberikan makanan yang layak untuk Sekar. Mungkin itulah alasan Sekar kalap saat melihat makanan yang sangat banyak dan mewah di rumah Sri. "Den, ini pisang goreng kejunya," ucap Bik Yem sembari menyerahkan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap pertanda baru saja diangkat dari penggorengan. "Loh, tapi saya tidak minta pisang goreng Bik," jawab Bayu. "Neng Sekar yang minta, Den." "Astaga Sekar, seberapa besar sih lambungmu sehingga kamu paksa untuk menampung makanan sebanyak ini. Yasudah, terimakasih ya Bik," ucap Bayu sambil menerima piring yang diberikan Bik Yem. "Sama-sama Den, apakah Aden mau dibuatkan sesuatu?" tanya Bik Yem. "Tidak Bik, Bibik istirahat saja, pasti Bibik sudah capek." "Iya Den, terimakasih. Bibik permisi dulu ya." Bibik kembali ke dapur meninggalkan Bayu sendirian. Bayu mencari keberadaan istrinya tetapi tidak ketemu. "Sekar, kamu dimana?" "Aku disini Mas." "Dimana sih?" "Mas, aku diatas," jawab Sekar sambil bertengger di pohon mangga. "Ya ampun, Sekar, apa yang kamu lakukan, ayo cepat turun!" "Sebentar lagi Mas, aku masih mau mencari buah yang matang dulu." "Jangan lama-lama, tidak baik malam-malam naik pohon, apalagi kamu ini seorang wanita." "Mas ini seperti tidak kenal aku saja, sudah biasakan aku naik pohon saat di kampung?" "Itu kalau di kampung, ini di rumah orang loh Dek, tolong jaga tata krama dalam bertamu." "Mbak Sri bukan orang lain Mas. Dia saudaramu." "Memang susah ngomong sama kamu. Dek, aku kebelet nih, Mas masuk ke dalam dulu ya," ucap Bayu. "Iya Mas." "Kamu cepat turun, pokoknya waktu Mas balik kesini, kamu sudah harus ada di bawah." "Iya, iya, Masku sayang." Bayu bergegas masuk ke dalam rumah karena sudah tidak tahan ingin menuntaskan hajatnya. Sekar masih asyik dengan buah mangganya. Dia memakan mangga langsung di atas pohon tanpa dikupas terlebih dahulu. 'Wah, ada lagi tuh yang sudah matang, tapi jauh tempatnya. Tidak apa-apalah, demi mangga yang nikmat ini aku rela manjat lebih tinggi lagi' gumam Sekar. Sekar mulai naik ke dahan pohon yang lebih tinggi, tanpa dia sadari kakinya berpijak pada kayu yang sudah lapuk. Ceklek ... byuuurrr.... Kayu tersebut patah dan menyebabkan Sekar langsung jatuh ke kolam yang ada di samping pohon. "Tolong...." Sekar berteriak minta tolong. Dia tidak dapat berenang dengan baik karena kakinya sempat menghantam batang kayu saat jatuh tadi "Tolong...." Sekar terus berteriak minta tolong tapi tidak ada orang yang datang menyelamatkannya. Sekar mulai kehabisan tenaga, nafasnya tersenggal-senggal, dia sudah pasrah dengan apa yang bakalan terjadi dengannya. Sampai akhirnya Dirga yang berniat ke dapur untuk mengambil air curiga dengan suara yang berasal dari kolam renang. Dirga menunju ke kolam renang dan melihat Sekar yang hampir tenggelam. Dirga segera menceburkan diri ke kolam untuk menolong Sekar. Sekar berhasil di tariknya dari kolam renang. Dia terbatuk-batuk karena menelan banyak air. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Dirga khawatir dan hanya di balas anggukan oleh Sekar. "Apakah kamu sanggup berjalan?" "Tidak." "Kalau begitu mari saya gendong ke dalam." Dirga mulai menggendong Sekar, Sekar bisa merasakan degup jantungnya yang cepat saat tubuhnya bersentuhan dengan dada bidang Dirga. Tanpa rasa malu Sekar melingkarkan tangannya pada leher Dirga dan menyandarkan kepala di pundak Dirga. 'Mimpi apa aku semalam bisa digendong cogan dengan roti sobek seperti ini, kalau begitu aku akan berpura-pura pingsan lebih lama lagi, hihihi.' Dirga masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Bayu di ruang tamu. "Sekar kenapa Mas?" tanya Bayu khawatir. "Kecebur kolam." 'Sial, Mas Bayu datang disaat yang tidak tepat.' Gumam sekar masih dengan mata terpejam. Bruoot.... 'Alamak, kenapa harus dimoment seperti ini sih?' rutuk Sekar dalam hati. Terdengar suara tidak asing yang berasal dari Sekar, sesaat kemudian muncul bau yang tidak sedap. Dirga yang mencium bau busuk itu reflek melepaskan pegangan tangannya untuk menutup hidung. Alhasil Sekar jatuh ke lantai dengan cukup keras. "Aduuhh...."
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Tingnan Lahat