Deg Adam dan Ririn terkejut mendengar apa yang dikatakan Sasa, gadis itu perlahan mendekati anak asuhnya itu. Kini keduanya sudah berada dekat mobil Adam. "Sasa, kapan Mama Fani marahnya?" tanya Ririn sambil mengusap kepala Sasa. "Tadi, waktu di kamar, katanya kalau Sasa tidak mau menurut Mama akan marah, Bunda," kata Sasa dengan polos. "Kenapa Sasa enggak mau menurut sama Mama Fani, Nak?" tanya Adam ikut berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan balita umur enam tahun itu. "Sasa harus bilang, kalau Ayah dan Mama bersatu lagi," jawab Sasa. Adam mengepalkan kedua tangannya, wajahnya terlihat memerah menahan marah. Ririn yang menyadari itu langsung berdiri dan berbisik, "Kalau mau marah jangan depan saya dan Sasa, Tuan," bisik Ririn sambil berjinjit untuk sampai ke telinga Adam. Adam yang mendapatkan sentuhan lembut itu langsung tersadar, bibirnya terangkat ke atas. Pria itu begitu senang saat sedang emosi Ririn bisa membuatnya tersadar hingga anaknya tidak takut dengannya. "Bunda hebat," puji Adam tersenyum. Ririn mendengar pujian itu hanya mencibir saja, kini keduanya masuk dalam mobil. Sasa sudah kembali lagi tertidur di kursi belakang. "Rin, apa kamu tidak penasaran apa yang dikatakan Raka tadi kepadaku," kata Adam. "Penasaran sedikit, tapi itu tadi siapa, Pak?" tanya Ririn. "Dia pria itu, yang membuat Fani meninggalkan Aku, Rin," jawab Bram. "Hah, jadi itu tadi suami Ibu!" seru Ririn. "Iya, tapi sekarang sudah menjadi mantannya, Rin," ujar Adam. Ririn terdiam, gadis itu mencerna apa yang dikatakan Adam padanya, bukankah Fani rela korbankan anak dan suaminya demi pria itu. "Apa bapak yakin, jika keduanya sudah bercerai?" tanya Ririn. "Entahlah yang penting aku dan Sasa bahagia sekarang apalagi ada kamu, Rin," jelas Adam sambil tersenyum menatap wanita yang duduk di sebelahnya. "Pak Adam apa sih, saya 'kan hanya kerja," kata Ririn tersipu malu. "Rin, kalau aku datang ke kedua orang tuamu untuk meminta restu menjadikanmu sebagai ibu sambung Sasa apa kamu mau?" tanya Adam dengan raut wajah serius menatap Ririn. "Pak, fokus saja mengemudinya," tandas Ririn Adam menepikan mobilnya, kemudian dia melepaskan seatbeltnya, pria itu kini menghadap ke arah Ririn membuat gadis itu menjadi salah tingkah. "Rin, aku serius. Jika kamu mau aku akan pulang kampung dan meminta kepada kedua orang tuamu," kata Adam. "Tapi Pak, saya hanya gadis kampung," ujar Ririn menatap netra Adam. "Saya tidak peduli kamu dari mana, yang penting kamu sayang sama Sasa dan saya Rin. Apa kamu malu karena aku duda?" tanya Adam. "Bukan itu, saya takut kedua orang tua saya tidak memberikan restu, Pak," jawab Ririn sambil menunduk. "Sekarang yang penting kamu mau terima saya dan Sasa, Rin," kata Adam. Ririn hanya terdiam, ia juga bingung harus jawab apa, sedangkan bulan depan Rini akan datang ke Jakarta untuk melanjutkan ke SMK di kota. "Pak," panggil Ririn agak Ragu. "Hem," sahut Adam. "Kapan Bapak ke Palembang?" tanya Ririn sambil menunduk malu. "Apa kamu mau, Rin. menjadi istri dan ibu sambung untuk Sasa?" tanya Adam menatap lekat mata gadis itu. Ririn mengangguk, walau dia sendiri belum yakin apa kedua orang tuanya merestuinya atau tidak. "Kamu serius, Rin," kata Adam begitu senang dan langsung meraih kedua tangan gadis di depannya. "Iya, tapi bagaimana kalau orang tua saya tak merestuinya, Pak?" tanya Ririn. "Itu urusan nanti, yang penting kamu mau sudah cukup buat saya," ujar Adam sambil memeluk Ririn dengan erat. "Pak saya engap," kata Ririn meronta dari tubuh Adam. "Eh, maaf. Saya terlalu senang, Rin," kata Adam salah tingkah dibuat gadis kecil di depannya. Ririn segera merapikan bajunya yang agak kusut, Adam terlihat begitu ceria saat ini, rasa bahagia dan senang, ia bulan depan akan berkunjung ke rumah Orang tua gadis yang akan menjadi ibu untuk adik-adik Sasa nantinya. Senyum tak pernah luntur dari bibirnya, sampai mobil berhenti di depan rumah. Adam menggendong Sasa yang masih tertidur nyenyak, pria itu melihat masih ada mobil Devan dan Fani ada di rumahnya. "Assalamualaikum," kata Adam dan Ririn bersamaan. "Waalaikumsalam," sahut dari ruang keluarga bersamaan. Fani melihat Adam baru pulang langsung berdiri untuk menghampirinya," Mas, dari mana kok enggak ajak aku?" Ririn melihat itu segera pamit untuk menuju ke belakang membantu bik Imah dan Bik Ida di belakang. "Rin, kamu dari mana?" tanya Bik Imah yang sedang memotong-motong sayur. "Dari taman, Bik," jawab Ririn sambil tersenyum. "Tadi dicari Ibu Fani," sahut Bik Ida dari pintu belakang. Kini ketiganya sama-sama menyiapkan makan malam, sedangkan Devan dan Adam menuju ke taman belakang, saat melewati Ririn di dapur Devan menghentikan langkahnya. "Rin, buatkan aku kopi dan kawan-kawannya ya!" perintahnya. Ririn hanya mengangguk, sedangkan Adam menatap tidak suka saat Devan menyuruh kekasihnya. Kini kedua pria itu pergi. "Rin, biar bibik saja yang bikin, kamu lihat Sasa sana sudah bangun apa belum!" seru bik Ida lirih. Ririn yang mengerti segera ke kamar Sasa, tapi saat mau masuk langkahnya terhenti karena mendengar Fani sedang menelpon seseorang. "Kamu, yang sabar kalau sudah membuat Mas Adam kembali padaku, semua hutangku akan ku bayar beserta bunganya," kata Fani kepada seseorang seberang sana. "Kalau Adam menolakku aku akan menculik harta yang paling berharga, walaupun dia anakku sendiri. Kamu tenang saja kalau rencana A tak berhasil kita gunakan rencana B," kata Fani tanpa rasa bersalah saat mengatakan itu. Ririn mendengar itu berdiri terpaku, ia buru-buru masuk kamarnya saat Fani keluar dari kamar Sasa. Gadis itu menatap Adam dan Devan dari jendela kamarnya. "Ibu Fani jahat sekali, jadi benar apa yang dikatakan mantan suaminya ke pak Adam tadi," katanya lirih. Tak lama Ririn keluar dari kamar untuk melihat Sasa, karena hari sudah mau magrib gadis itu membangunkan Anak asuhnya untuk mandi sore. Sasa yang masih mengantuk menatap Bundanya sambil mengulurkan tangannya minta digendong, Ririn terkekeh saat anak asuhnya itu masih memejamkan matanya. "Sayang, ayo mandi sore dulu," kata Ririn. Sasa menurut saat Ririn mengajaknya ke kamar mandi, gadis itu membantu anak asuhnya untuk membuka bajunya, mata Ririn melebar saat melihat warna kebiruan di punggung serta di paha Sasa. "Sayang ini kenapa?" tanya Ririn sambil menatap wajah Sasa. Anak kecil itu hanya diam, tapi air matanya mengalir deras dan tubuhnya bergetar, melihat itu Ririn langsung memeluknya untuk menenangkan putrinya itu. "Jangan takut sayang, ada Bunda di sini. Bunda tidak akan pernah meninggalkan Sasa dengan siapapun sekarang, Nak. Maafkan Bunda," kata Ririn sambil mengusap air matanya. Sasa memeluk Ririn dengan erat, rasa takut atas apa yang dilakukan oleh wanita yang ia panggil Mama Fani itu seakan membuatnya menjadi trauma yang begitu dalam. Setelah selesai mandi Ririn menatap sendu anak umur enam tahun itu, dia bingung apa harus mengatakan kepada Adam yang sekarang statusnya sudah menjadi kekasihnya itu. Bersambung ya ....
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Bagus banget kakkk
06/05/2025
0seruuu bangetttt
22/04/2025
0bagusss bgtt
18/04/2025
0Tingnan Lahat