Langit malam dipenuhi bintang, jalanan Aspal masuk perumahan tampak sepi tidak terlihat orang berjalan. Portal masih belum tertutup, Mobil putih meluncur masuk kedalam. Suara klakson berbunyi. Hiyun membuka kaca mobil, dia menyapa dua orang satpam perumahan yang sedang duduk santai mengobrol didalam Pos keamanan. Kaca mobil ditutup kembali, Hiyun tidak henti hentinya menyembunyikan senyuman geli. Ia melirik sejenak kearah Ouya yang terlihat kesal melalui wajahnya. Wanita itu, saat ini tidak memiliki uang sepeserpun didalam dompetnya. Dari awal, memang hiyun sengaja merencanakan agar ouya kehabisan uang. Malam itu, dia bahkan tidak membawa wanita yang baru saja ia nikahi untuk makan malam. Rasa lapar dengan Perut berkali kali berbunyi, ouya memandang kedepan, saat itu, ia tengah memikirkan cara mendapatkan uang mengingat uang bulanannya telah habis terpakai. 2 minggu yang lalu, ouya baru saja tamat kuliah. Uang hasil dari beasiswa ia gunakan untuk persiapan wisuda, sementara uang yang dikirim ibu dan saudara saudaranya, telah habis terpakai untuk membeli perlengkapan kerja. Alhasil, uangnya semakin menipis. kadang kadang, dia memang mengeluarkan uang untuk top up game dan lainnya. Hal itu dia lakukan untuk mengurangi masalah yang tengah dia alami. Saudaranya akhir akhir ini jarang mengirimi uang, dilihat bagaimanapun, mereka sebenarnya hidup berkecukupan bahkan lebih karena hasil gaji dari perusahaan besar tempat mereka bekerja. Karena mengingat ouya telah tamat kuliah, dan berharap wanita itu mau keluar rumah untuk hidup bersosialisi, mereka sengaja mengurangi kiriman bulanan untuk ouya. Mobil berhenti tepat didepan rumah Hiyun tidak jauh beberapa langkah dari rumah kontrakan ouya. Sejenak ouya menghela nafas, lalu berusaha untuk mulai membuka suara karena sedari tadi mereka hanya diam saja. “Boos, aku boleh minjam uang? Laper banget belum makan” “Hm, “ hiyun tersenyum tipis, senyumannya hampir saja kentara “selesain dulu hutangmu, baru hutang lagi” Ouya menggerutu, ia bahkan memejamkan mata menahan marah. Ouya memang sudah terbiasa bersikap sabar, meskipun kadang ucapan orang menyakitinya. “Tadi aku mau minta uang ibuku, tapi kamu ngelarang boss, katanya mau tanggung jawab, yang benerlah” “kalau laper, dikulkasku ada banyak makanan. Kalau mau makan nasi, ada beras juga, kamu bisa masak sendiri” “Yang bener? Kalau gitu, bagi dikit aja buat aku bos” “Ya uda ayo masuk kerumah, sekalian masakin buat aku” “Iya deh, aku masakin,” Hiyun alhirnya mengeluarkan senyuman geli yang ia tahan sejak tadi setelah Ouya turun dari mobil. Dia merasa senang karena rencananya selangkah lagi akan berhasil. ***** Ruangan luas dan rapi terkadang aroma Parfum lembut tercium menenangkan. Meskipun rumah tersebut kecil dan biasa. Tetapi isi ruangannya sangat mewah. Dengan warna dinding biru mewah, serta beberapa peralatan rumah tangga mahal. Sofa yang empuk dan lemari kaca hias mengisi ruang tamu. Belum lagi disana juga terdapat aquarium dengan ikan berwarna warni. Setelah selesai memasak dan menyantap semangkuk mie rebus dengan ceplokan telur, akhirnya rasa lapar ouya terselesaikan. Wanita itu bergegas ingin kembali kekontrakannya, namun saat ia memutar gagang pintu. Pintu tidak juga terbuka. “Kamu mau kemana?” Hiyun keluar dari kamar mandi yang terletak didalam dapur. “Pulang lah bos, kan udah selesai makan, mangkoknya juga udah kucuci. Mie rebus punya bos udah kututup pake piring diatas meja tuh” “Kamu mau ketahuan buat mesum lagi ya sama warga” “Loh kan kita udah nikah, ngapain takut sama warga” “Buku nikahnya mana? Mana mungkin mereka mau percaya” “Ah iya bener, tapi kan kita udah sah nikah” “ya udah, berarti gak masalah kalau kamu tidur disini” “Bukan gitu, maksudnya ...” “Kan udah dibilang kita gak punya buku nikah, kamu mau dibotakin ya” “Ah iya benar, ya udah bos, aku tidur disofa aja” Ouya melangkah kaki menuju sofa sesaat setelah Hiyun masuk kedalam kamar. Jam dinding berdetik, waktu telah menunjukan angka 10 Malam. Ouya tiba tiba merasa sangat lelah dan mengantuk karena perjalanan kembali yang ia tempuh. Tidak seperti ia yang biasanya tidur sekitar pukul 11 malam keatas, ouya tidak sanggup lagi menyelesaikan bacaan seri novel kesayangan. Mata nya yang mengantuk tiba tiba dikejutkan sesuatu, “Boss, ngapain?” Ouya kebingungan saat Hiyun tiba tiba datang duduk disofa yang sama, lalu berbaring diatas paha ouya. “Hah, “ pria itu mendesah “ karena liat tikus tadi pagi, jadi keinget sampai sekarang” “Terus?” “masih takut, mengerti enggak?” “Ya kan tikus mainan bos” “Tetep aja kepikiran” “Jadi mau gimana? tikus got jalanan juga banyak masa iya bos gak pernah ketemu sebelumnya” “Aku fobia, karena tikus tadi kan masuk kekamar. Tikus got kan dijalan” “Aduh pusing kepalaku, bos jadi harus gimana?” “Aku harus tidur, besok ada meeting di Hotel ibis” “jadi?” “Ayo temeni aku tidur, kalau enggak, aku gak bisa tidur ni” “Bos,....” “Temenin enggak, ?” “Ya udah deh ya udah, ayo kekamar” Hiyun tersenyum geli, dia masih tidak menyangka bahwa Sifat Ouya masih belum berubah. Hiyun sangat mengenal ouya yang pengalah, maka dari itu, ia selalu memaksa kehendaknya. Tidak banyak orang yang mengenal Ouya karena wanita tersebut cenderung menutup diri. Karenanya, hiyun tidak lagi menyia nyiakan kesempatan memaksa ouya untuk terus bersamanya. ***** Ouya perlahan lahan membuka mata, Ac kamar masih menyala, tubuh ouya merasa kedinginan karena udara pagi masuk kedalam Ac tersebut. Dia mendesah, menarik selimut menggunakan kakinya. setelah memenuhi bagian pinggang, Ia laalu menarik selimut dengan tangan yang lengannya terkunci dipelukan hiyun. Untuk kedua kalinya ia tidur dipelukan pria, ia merasa sangat aneh dan tidak nyaman karena selama ini tidur sendirian. Terlebih lagi, setiap bangun, ia harus menerima pelukan erat yang sangat susah untuk dilepas. “Bos” “Bos” “Bos” panggilan ouya tidak mampu membangunkan hiyun yang sebenarnya sedang berpura pura tidur. Dengan masih memejamkan mata, hiyun semakin mempererat pelukannya terhadap ouya. OUya tidak berani berteriak, mengingat banyak rumah digang tersebut dan ruangan rumah hiyun juga juga tidak kedap suara. Hanya kepasrahanlah yang saat ini menjadi pilihan baginya. Sejam, dua jam bahkan sampai ouya tertidur dan terbangun lagi, ia masih belum mendapati hiyun melepaskan pelukannya. “Bos, kamu baik baik saja, katanya mau meeting kok belum bangun juga” “Hmm kapan aku bilang mau meeting?” hiyun mengelus elus rambut ouya dengan pipinya. Ouya merasa kesal melihat tingkah hiyun. “tapi tadi malam bos bilang sendiri” “Gak ingat pernah bilang” “Astaga, Bos. lepasin dulu! udah jam berapa ini, gak masuk kantor ya” “Hari ini aku libur, kan baru siap nikah” Ouya kesal tak terhingga, ia bahkan ingin sekali memukul hiyun yang terus menerus menipunya. Kekesalannya semakin memuncak namun ia tetap sabar sembari terus menerus menghela nafas. “Bos, aku bukan ouya yang kamu cari, jangan main peluk peluk gini, gak nyaman” “tetap saja namamu ouya, aku Cuma ingin melepaskan kerinduanku kepada ouya, jadi sabar aja dulu” Ouya menggigit bibis bawah, ingin sekali marah. Apalagi harus mengingat bahwa saat ini dia telah menikah. Pikirannya kalut karena tiba tiba teringat orang yang dia suka. Orang yang mampu membuat hatinya bahagia. “Otaku gamer, kapan aku bisa ketemu sama mu lagi, ya? ” gumamnya dalam hati masih terbaring miring menghadap dada bidang hiyun.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (111)
RosmawatiDewi
baca novel ini, kaya lagi baca komik aja aq tuh.. seruuu, lucu, .unik beda sama yg lain...
baca novel ini, kaya lagi baca komik aja aq tuh.. seruuu, lucu, .unik beda sama yg lain...
24/07/2022
0mantap ceritanya
01/05
0terima kasih atas bantuin aku
05/02
0Tingnan Lahat