logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

03. Kelelahan

Tidak terlalu jauh memang, tetapi Via memang cepat bosanan. Dan sekarang, ia terjebak dalam keheningan ditambah kemacetan membuatnya ingin terbang saja.
Dengan tingkat keisengan dan kegabutan yang memuncak, tanpa Via sadari sedari tadi tangannya bergerak menulis-nulis namanya di punggung Noel.
Jangan tanyakan gimana perasaan Noel, ia sedari tadi berusaha menahan rasanya gemasnya. Apalagi saat ia melihat Via menggembungkan pipinya dar kaca spion.


"Makasih ya," ujar Via sembari menyodorkan helm yang baru saja ia gunakan.
"Iya, sama-sama, eh iya lo kalo berangkat bareng adek lo ya?" Tanya Noel, padahal ia sudah tau jawabannya, ia hanya ingin be lebih lama saja.
"Hm, sama sopir gue juga sih, kenapa emangnya?" Tanya Via balik.
"Liat besok aja dah, udah ya gua pamit keburu malem, munten vi." Pamit Noel yang hanya diangguki Via.
Tetapi ternyata, ada orang yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan raut yang sulit diartikan.
KRETTTEK..
"Harus ada celah," gumamnya sembari meremat kaleng soda.


KRINGGG.. KRINGGG..
"Argh siapa si?!" kesal Via berusaha merogoh ponselnya di saku.
"Gak sekarang ya var, gue takut lo jadi imbas mood." Ujar Via menolak panggilan itu.
TTINGGG..
Tetapi Via mengabaikan bunyi notifikasi ponselnya, dan memilih untuk mengerjakan tugas untuk esok. Malas sebenarnya, tapi mau tidak mau ia harus mengerjakan. Terlebih ini tugas dari sang legendaris bu Wati.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 1 malam, dan ajaibnya tugasnya sudah selesai jauh lebih cepat dari yang dibayangkan.
Sebelum memejamkan matanya, ia sempatkan diri untuk melihat-lihat notifikasi ponselnya. Takut-takut ada hal penting yang terlewat. Tetapi ia merasa ada yang janggal. Bahkan beberapa kali ia mengkucak matanya, tetapi nama yang terpampang tetaplah sama.
"Ini beneran dari dia?" Monolognya.
Noel? Ada apa malam-malam begini? Urusan sekolah? Bukankah kelasnya berbeda? Ia pun menghitung-hitung kancing bajunya untuk menentukan apakah ia harus membuka notifikasi itu atau tidak. Tapi sayangnya pada kancing terakhir berakhir dengan kata buka, dan dengan terpaksa ia pun membuka isi pesan itu.
"Besok berangkat bareng ya." Isi pesan singkat itu.
Belum ada beberapa detik, Via langsung mengetikkan kata "Tidak" dan langsung mengirimnya begitu saja. Ia tidak ingin mood di pagi harinya dirusak untuk kedua kalinya.
Setelah selesai mengecek, Via pun mencharger ponselnya dan mulai memejamkan matanya.


TTINNN.. TTINNN..
Via yang tengah asik memoleskan lip tint pun terkejut karena suara klakson yang berkali-kali dan bising itu, awalnya ia fikir itu Varo, tapi saat menengok jendela..
"Argh.. kenapa lagi sih," gerutu Via, ia pun segera turun dari kamarnya.
"Kak, itu.. kak noel?" Tanya Rey yang tengah menyantap roti.
"Iya, gue duluan ya," pamit Via sembari memakai sepatu.
"Jatah sarapan gue bakal lu aja," ujar Via sebelum keluar dari rumah.
"Pagi princess, yuk berangkat," ujarnya sembari mengkedipkan sebelah matanya, niat menggoda tapi justru membuat Via ingi muntah.
"Euhm.. perasaan.. dah gue tolak deh semalem, soalnya.. anu.. gue gak enak sama pak anton, dia udah manasin mobilnya," jawab Via berusaha mengusir Noel dengan halus.
"Hah? Tapi kok gak ada di gue?" jawab Noel sembari membuka room chatnya.
"Besok berangkat bareng ya." Isi pesan terakhir yang ada diponsel Noel.
"Kok bisa?!" Pikir Via heran dalam hati.
Via terheran, apakah karena wifinya tidak berfungsi semalam? atau memang jawabannya di hapus Noel.
Via menghela nafas pasrah, karena tak enak hati dan tak ingin makin panjang, ia pun akhirnya pasrah dan memilih berangkat saja dengan Noel.
"Toh numpung masih gelap, pasti sekolah masih sepi," ujarnya dalam hati berusaha menenangkan. Ia tak ingin moodnya rusak seperti kemarin.
"Eum.. ya udah yuk berangkat aja," ujarnya. Baru saja ingin meraih helm yang ada di tangan Noel.
Tetapi, belum sempat ia mendapatkan helm itu. Noel sudah terlebih dulu memakaikan helm itu.
"Kalau lu yang make sendiri, entar gak di kancing lagi, heung.." ujar Noel sembari tangannya yang sibuk mengaitkan helm namun matanya yang setia menatap Via.
"Sial, kok gue deg-degkan sih," batin Via.
"Naik sini," perintahnya berhasil membuyarkan Via dari lamunan.


Untung saja dugaannya benar, sekolahnya masih sepi. Bahkan sejauh matanya memandang, ia hanya melihat pak satpam dan beberapa petugas kebersihan.
"Gue duluan ya, makasih, paipai noel." pamit Via sembari menyangkutkan helm yang baru saja ia gunakan di spion dengan terburu-buru.
"Paipai? Haish.. hahaha, gemesnya."


Aneh, sepanjang hari ini Varo lebih banyak diamnya. Tiap di panggil hanya menoleh, menggeleng dan mengangguk sebagai jawaban. Tak hanya Via tapi Nanda pun juga merasakan keanehan itu.
"Nan, varo kenapa ya kira-kira?"
"Nah iya vi, gue juga kaga tau dah tuh."
Tapi dalam hatinya, Nanda seperti mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap Varo, "Kayaknya gue tau var." Ujarnya dalam hati.
Bahkan, selama dikantin pun suasana ikut menegang. Tak ada yang berani berbicara, hanya adu pandang sembari menerka apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Padahal hari ini, Via memiliki niat untuk mengajak sahabat-sahabarnya datang merayakan hari bahagia Rey. Hanya sederhana memang, tapi ia harap dapat membuat bekas bagi adiknya itu entah sekecil apapun itu. Namun sepertinya, lebih baik kali ini ia urungkan sampai suasana membaik.
KRINGGG.. TINGGG.. NONGGG.. NINGGG..
"Dikarenakan akan diadakannya rapat besar pembahasan kelas 12, maka waktu pelajaran untuk kelas 10, 11, dan 12 kami usaikan, dimohon untuk yang tidak berkepentingan, untuk segera meninggalkan lingkungan sekolah. Istirahatlah yang cukup, dan sampai jumpa diesok hari. Terimakasih."
Seketika satu sekolah penuh dengan sorakan bahagia para beban keluarga:)
Via pun menghubungi Pak Anton yaitu supir pribadi kesayangannya untuk segera menjemput adiknya, sedangkan ia pulang dengan Pak Sadi. Sahabat karib Pak Anton.
"Gak meriah asal berkesan," pikirnya.
Karena Ia ingin mampir ke toko kue terlebih dulu. Iya, karena hari inilah hari bahagia adiknya, paling tidak ia ingin membuat tahun ini sedikit berkesan bagi adik satu-satunya itu.
"Nan."
"Hm?
"Gak jadi deh."
"Yeuu, elu, ya udah gue balik duluan ya say, baybay ayank."
"I-iyaa bay."
Baru saja melangkahkan kaki keluar dari kelasnya, tiba-tiba ada yang menarik tasnya membuatnya hampir saja terjengkang.
"Bareng?"
"Gak bisa, sopir gue udah di parkiran, gue duluan ya." Ujar Via terburu-buru.
"Hai, rival?" Ujar Noel kepada seseorang yang ternyata sedari tadi ada dibelakangnya, ia pun menyunggingkan senyum tipisnya meremehkan dan dengan sengaja menabrak bahu orang itu.


"Aneh, kok mobilnya gak kek yang dirumah ya? Mami pulang?" Pikirnya bingung sedari tadi.
"Pak, kok itu beda ya mobilnya? Ada yang nitip parkir kah?"
"Waduh neng, saya kurang tau."
Ia pun mencoba mengabaikan, mungkin saja memang benar ada yang menitip parkir. Tetapi, kok ada motor.. Varo? Ia pun bergegas masuk dengan rasa penasaran.
KRETTT...
"Gue pul-"
Tapi, kenapa ia mendengar riuh seperti ada pesta didalam rumahnya. Apakah maminya kemarin hanya menjaihilinya. Ia pun membuka lebar pintu rumahnya, dan..
"Happy Birthday Rey mbayang kw-ku," seru Eliya.
"Azeg traktiran," ujar Nanda tak kalah seru.
"Kadonya gue top up-in gimana rey?" Ucap Varo dengan senyum lepasnya, seperti tak terjadi apa-apa seharian ini.
"Rey buruan potong kuenya, gue mau comot cerrynya," seru Eliya yang tak sabar ingin memakan cerry kue favoritnya.
"Yeuh, gue juga mau," Nanda pun ikut berseru.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Via berdiri memperhatikan mereka. "Ternyata gue yang dibuat bodoh." Pikirnya.
"Et... sabar elah, ntar jug... eh... kakak?!" Kaget Rey yang melihat kakaknya sedang terpaku menatapnya.
Via pun tersenyum kikuk karena kehadirannya ternyata justru yang membuat suasana seketika menegang. Ia pun berjalan menuju dapur tanpa menghiraukan sekitar yang sedang memperhatikannya.
BRUKKK..
Setelah menaruh kue yang tadi ia beli, ia pun memilih menggunakan lift menuju kamarnya. Namun suara bantingan pintunya masih saja terdengar sampai lantai bawah
BRAKKK..
Tak ada yang berani berkutik disana, diam mematung dan saling tatap. Tapi tiba-tiba, mereka justru saling menyunggingkan senyum tipis.


TTOKKK.. TTOKKK.. TTOKKK..
"Via, maaf ganggu neng, tapi via dari pulang sekolah belum makan loh, kira-kira mau turun atau ibuk anterin ya?"
panggil bi Inah khawatir, karena tak biasanya Via meninggalkan makan malam. Tapi sayangnya usahanya sedari tadi nihil, tidak ada respon sama sekali dari Via. Rey yang sedari tadi di samping bi Inah pun ikut frustasi.
"buk, ibuk istirahat aja ya, biar rey yang bujuk gantian, mungkin kakak juga lagi badmood dan gak mau ibuk kena imbasnya." Ujar Rey sembari mengusap lembut tangan bi Inah, tangan yang sudah menjaganya sejak bayi.
Bi Inah tersenyum tipis merasa sedikit tenang setelah mendengar ucapan Rey, bi Inah pun menurut dan turun menuju kamarnya.
TTOKKK.. TTOKKK..
"Kak... kakak sakit? Kakak kenapa? Karena tadi? Atau kakak lagi pms? Tapi kalo karena tadi, rey minta maaf ya kak, rey gak masalah kakak gak maafin, tapi sekarang kakak makan ya, jangan bikin bi inah sedih, okey."
Via dengar, Via sebenarnya mendengarkan bi Inah dan Rey sedari tadi. Tetapi perutnya sangat sakit, bahkan untuk mengambil ponselnya diatas nakas saja ia tak sanggup.


Entah setan mana yang merasuki Via hari ini, tapi sedari tadi ia benar-benar diam seribu bahasa, tatapannya yang berubah menjadi tajam hingga senyumnya yang memudar membuat tak ada yang berani mendekatinya. Bahkan adiknya saja tak berani bertanya.
Andaikan Via menabrak pintu saja, pasti pintunya yang sujud memohon ampunan.
"Via, ibu minta tolong carikan buku di perpustakaan nak."
Dengan terpaksa, Via berdiri dan menghampiri Bu Indah. Mungkin karena hanya ada ia seorang didalam kelas.
"Iya ibu silahkan."
"Jadi ada satu buku besar, itu isinya kumpulan cv kakak kelas kamu, nah tolong kamu ambil dan taruh dimeja ini ya, nanti jam kedua kita bahas."
"Baik bu."
"Carinya setelah kamu selesai makan juga gak papa, yang penting jangan lupa dan jangan telat ya."
"Baik bu."
"Eh tunggu nak." Panggil bu Indah saat Via sudah sampai didepan kelasnya.
"Iya bu?" Tanya Via sembari menghampiri Bu Indah.
"Kamu nanti pasti butuh ini," ujar Bu Indah memberikan kartu pinjam perpustakaan khusus guru.
"Terimakasih bu." Ujar Via menundukkan kepalanya dan bergegas menuju perpustakaan.
Sekarang tatapannya memang sudah tidak tajam, tapi wajahnya justru makin pucat. Belum makan semalaman, membuatnya tak bisa membedakan rasa sakit diperutnya ini efek karena memang belum makan atau karena ini adalah hari kedua bulannya berkunjung.
Tetapi bagi Via, lebih baik menyelesaikan suatu pekerjaan dan setelahnya dapat bebas tanpa beban.
Karena itulah kini ia berada di perpustakaan. Sibuk mondar mandir, tiap lorong ia lalui tapi selalu nihil. Kepalanya yang pening bahkan di hiraukan.
Hingga tibalah ia di rak terakhir. Sekarang ia benar-benar tak sanggup jika harus mencari lagi. Kepalanya terasa semakin berat dan pandangan perlahan kabur.
"Kumpulan.. cv angkatan.. 20, nah ketemu akhirnya ya Tuhan." Bacanya dengan pandangan yang kabur.
Akhirnya ia menemukan buku yang dicari-cari. Mungkin ini cara Tuhan membantunya, dan ini artinya ia masih memiliki waktu 15 menit untuk istirahat.
"Ternyata kamu disini," ujar Via bermonolog sangking senangnya. Bahkan untuk sesaat ia melupakan apa yang sedang dirasakannya.
Tiba-tiba ia merasakan usapan lembut dikepalanya, dan anehnya itu membuat rasa peningnya mereda.
"Senengnya ngeliat lu senyum lagi, dari pagi cemberut aja sih." Ujarnya lembut. Membuat para hawa pasti meleleh luber-luber.
Dari suaranya saja Via sudah dapat menebak, mungkin karena belakangan ini ia banyak berinteraksi dengan tuan pemilik suara.
"Gue buru-buru," ucap Via tegas.
Tapi bukan Noel namanya jika menyerah begitu saja, Noel pun menggenggam tangan Via menahan. Tetapi begitu ia melihat wajah Via...
"Lo kenapa vi?" Tanyanya khawatir melihat wajah Via terutama bibirnya yang tampak jelas pucatnya. Bukannya menjawab, Via justru memalingkan wajahnya.
"Aish.. akhh.." desis Via sembari memegangi kepalanya dan...
BRUKKK..
"VIA!" Teriak Noel panik.


BUGHH..
"Lo apain Via anjing?!"
"Gue gak apa-apain bangsat."
BUGHH..
"Hahaha, bego juga ya gue, ya jelas lah, kalo gampang ngaku mah penjara sepi."
BUGHH..
"Maksud lo apa anjing!"
BUGHH..
"Sopan ama majikan!"
BUGHH..
"Jawab anjing, lo apain Via?!"
"Dia pingsan sendiri anjing!"
BUGHH.. BUGHH..
Pukulan demi pukulan Varo layangkan begitu saja, bahkan ia terlihat tak peduli bahwa dirinya telah menjadi tontonan satu sekolah.
Noel yang terkenal sebagai tukang onar saja babak belur ditangan Varo. Dan untungny Pak Budi tiba sebelum salah satu nyawa melayang.
CETRAKKK..
"Kalian berdua bisa berhenti tidak!"
Rotan legendarisnya menyabit kuat pilar sekolah. Seketika ketegangan pun makin menjadi.
"Maaf var," ucap Nanda yang berada tepat dibelakang Pak Budi.
"Varo dan noel keruangan saya sekarang!" Perintah Pak Budi dengan suaranya yang menggelegar membuat semua ikut terjengkat kaget.


Akhirnya Via mulai menggerakkan jarinya, "Mmhh.. akhh.." desisnya sembari memegangi kepalanya.
"Via lo kenapa?" Tanya Nanda khawatir.
"Kakak?"
Via mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling, "Dek? Gue... dimana? Rs?" Tanyanya.
"Lo cuman di uks kok vi, tapi lo pingsannya kurleb 15 menit."
"Pingsan? Akhh.." ringis Via lagi, tapi kali ini ia memegangi perutnya yang perih.
"Kakak? Yang mana yang sakit kak? Sebelah mana?" Tanya Rey khawatir, bahkan ia sampai menitikkan air matanya.
"Engga dek, nan.. gue bisa sampe sini..?" Tanya Via lagi, mengingat lokasi terakhirnya itu perpustakaan bukan uks.
"Lo digotong noel."
"Dia sendiri?"
"Iya."
Begitu mendengarnya, Via langsung berusaha bangun dari kasur empuk tempat langganan beban keluarga cabut :)
"Sekarang dia kemana? Gue harus.."
KEDEBUK
Baru saja selangkah, ia hampir terjatuh jika saja tak buru-buru ditangkap Nanda dan adiknya.
"Akh.. Ya Tuhan, ampun ini sakit banget," ringisnya. Saat ini ia merasa kepalanya seperti ingin meledak.
Tetapi karena sama-sama sakitnya, Via jadi bingung mana yang harus ia pegang. Apakah kepalanya atau perutnya.
"Itu nanti aja ya vi, lo coba minum dulu nih," ujar Nanda memberikan jus alpukat.
Via benar-benar berterimakasih ia dipertemukan dengan sahabat seperti Nanda.
TINGGG.. NONGGG.. NINGGG..
"Perhatian-perhatian, karena akan diadakannya rapat lanjutan pembahasan kelas 12, maka jam pelajaran untuk kelas 10, 11, dan 12 kami usaikan sekarang, dimohon untuk yang tidak berkepentingan, agar segera meninggalkan lingkungan sekolah. Istirahatlah yang cukup, dan sampai jumpa diesok hari. Terimakasih."
TINGGG.. NONGGG.. NINGGG..
SLURPPP...
"Sini," ucap Nanda mengambil gelas yang telah kosong itu.
"Rey beliin kakak lu bubur gidah."
"I..iya kak," ujar Rey. Tetapi baru saja ingin melangkahkan kakinya, tangannya ditahan oleh Via.
"Gapapa dek, mending sekarang pulang aja ya, biar gue makan dirumah."
"Ta..tap..tapi kak,"
"Ta..tapi.. vi,"
Ujar mereka berdua kompak.
"Pulang aja yuk," ujar Via tersenyum lembut.
Sejujurnya ia sangat menahan rasa sakitnya. Karena baginya, apapun itu lebih baik dirumah sendiri.
Mereka pun akhirnya pasrah, dan menurut sesuai keinginan Via.
"Kalau gitu, kakak diem disini ya, biar rey ambilin tas kakak, kak nanda juga biar rey yang ambilin, okey, paipai."


Rey dan Nanda bersama-sama memapah Via, sedang Eliya bertugas membawakan tas Via. Benar-benar kerja tim yang baik, right?
"Pelan-pelan napah kak jalannya, ngapa jadi cepetan lu yang jalan." Ujar Rey kesal.
Pasalnya Via kini justru berjalan lebih dulu daripada yang memapahnya.
"Ishh iya napah, bawel banget sih cangkemmu."
Baru saja Rey selesai ngomong..
BRUKKK..
Via hampir saja tersungkur, namun anehnya, ia seperti jatuh dalam pelukan seseorang. Hangat, dan ia kenal sekali badan siapa ini. Via pun justru makin mengeratkan pelukannya.
"Mangkanya kalo disuruh makan tuh makan, disuruh istirahat tuh ya istirahat, udah diingetin ama sekolah juga masih batu." Cecer Varo dingin.
Tapi Via justru tak mengindahkan ucapan Varo, ia justru menggesekkan wajahnya di dada Varo untuk menciumi aroma tubuh Varo yang fresh citrus. Karena Via tau, Varo tidak pernah bisa marah dengannya mau sebagaimanapun itu.
"Rey pulang ama siapa?" Tanya Varo tiba-tiba membuat Rey terlonjak kaget.
"Barusan udah nelpon pak anton kak, kenapa kak?"
"Bilang ke pak anton gak usah, ayo pulang sama gue, nih orang modelan gini kalo kagak diawasin, bisa-bisa gak makan lagi."
"Au tuh var, emang batu bener kan orangnya, omelin aja tuh."
"Nah ntuh." Setuju Varo.
CRINGGG..
Varo melemparkan kunci mobilnya, "Nyalain mobil gue duluan sono," titahnya.
Rey pun bergegas menuju tempat parkir, diikuti oleh Eliya dibelakangnya.
"Kalo gitu gue pulang duluan ya, mak gue dah di depan," ujar Nanda diangguki Varo.
Tiba-tiba Varo memundurkan badan Via perlahan dan mengikatkan almameternya di pinggang Via, dan..
SRETTT..
Siapa sangka Varo berani menggendong Via dilingkungan sekolah, terlebih... ala bridal? Varo benar-benar tidak mempedulikan tatapan dan bisik-bisik beberapa siswa yang masih berkeliaran.
Via juga hanya bisa pasrah, karena kepala dan perutnya benar-benar membuatnya kembali tak bisa berkutik.
BRAKKK..
"Kasian pintu mobilnya:")" -nthor
Sepertinya Varo masih kalut dengan emosinya, bahkan Eliya saja sedari tadi diam begitupun dengan Rey.
Tapi tiba-tiba Varo mengusap kepala Via lembut "Tidur," ujarnya lembut.
Membuat Rey dan Eliya membelalakan matanya, mereka berdua kebingungan dengan perubahan sikap Varo yang  tiba-tiba.


"Loh neng via kenapa kok digendong?"
"Sakit dia buk, omelin deh."
"Astaga, aduh, pasti karena semalam gak makan ya?"
Varo langsung melemparkan tatapan tajamnya. Tapi yang ditatap justru cengngengesan.
"Duduk sini dulu," ujar Varo kembali dingin, tapi tetap mendudukan badan Via perlahan diatas sofa.
Jangan tanyakan dimana duo krucil, karena mereka berdua memilih mengungsi di rumah Bunda daripada harus melihat perdebatan.
BRAKKK..
Tidak hanya Via, bahkan bi Inah yang berada di dapur pun ikut terjengkat.
"Pelan-pelan napah!" Sentak Via.
"Apa?!"
Via langsung mengatupkan kembali bibirnya.
"Mangap," ujar Varo penuh penekanan, membuat suasana seketika menegang.
"Tapi mulut gue pait varo," ujar Via mengerucutkan bibirnya.
"Gue cipok sini biar manis," ucap Varo asal membuat Via seketika mematung dan membelalakan matanya.
Seketika suasana berubah menjadi canggung, dan Varo justru baru sadar setelanya tentang apa yang baru saja ia ucapkan. Ia pun langsung memalingkan wajahnya. Menyembunyikan pipinya yang tiba-tiba memanas.
"Ekhem," dehemnya memecah kecanggungan. "Dah a dulu," ujarnya menodongkan sendok berisi bubur itu.
Untung saja duo krucil itu tidak ada, karena pasti suasa makin terasa canggung.


Setelah selesai makan, Varo kembali menggendong Via menuju kamar.
CEKLEKK..
Varo menaruh badan Via perlahan diatas kasur.
"Makasih ya," ujar Via lembut.
Varo pun mengangguk, ia mengusap rambut Via "Tidur," ujarnya.
Via mengangguk pelan karena memang matanya sudah terasa berat, mungkin karena efek dari obatnya.
"Selamat tidur cantik," ujar Varo sebelum meninggalkan Via yang perlahan mulai terlelap.
GREKK..
"Sabar, jangan gegabah." Ujarnya bermonolog didepan kamar Via.

Komento sa Aklat (70)

  • avatar
    Sela Solihawati

    seruuu

    06/08

      0
  • avatar
    FredrinnUmar

    bagus lahh

    06/12/2024

      0
  • avatar
    FitriaAnnisa

    bagus banget ceritanya

    29/11/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata