Hidup serba sulit dan kekurangan, sudah dilalui Gayatri sejak dia masih kecil. Demi memperoleh sesuatu yang diinginkan, dia harus berjuang dulu untuk bisa mendapatkannya. Semua itu sudah biasa bagi Gayatri. Meskipun memiliki pesona kecantikkan luar biasa sebagai seorang anak gadis, tidak membuatnya terpancing untuk melakukan hal-hal di luar norma agama dan asusila. Memiliki paras ayu, tetapi hidup dalam serba kekurangan. Terkadang menjadikan Gayatri sebagai objek, yang mendatangkan orang-orang untuk menawarkan kehidupan yang mereka anggap sebagai surga dunia. Dengan mengiming-imingi kehidupan lebih layak dan bermandikan kemewahan, nyatanya tidak membuat Gayatri bergeming. Dia tetap berada dijalan untuk terus berjuang melalui jalan terjal kehidupan yang serba kekurangan dan keterbatasan. Gayatri telah menolak banyak kemewahan yang dijanjikan. Beberapa orang meremehkan dan menyepelekannya. Mereka memandang sebelah mata, tetapi prinsip Gayatri adalah lebih baik hidup dalam kemiskinan daripada bermandikan kemewahan dengan jalan yang instan dan tidak halal. Dia hanya yakin jika setiap tetes peluh yang dikeluarkan saat berjuang dalam jalan kebaikan, suatu saat akan diganti dengan kenikmatan dan berkah yang akan berbuah kesuksesan. *** Pagi-pagi sekali, Gayatri sudah sampai di butik karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya. "Hallo, Mbak Gayatri, ada yang mau bertemu?" telepon dari resepsionis. "Siapa?" tanya Gayatri "Seorang pria, Mbak. Tadi sudah saya tanyakan namanya, tetapi dia bilang dari temannya," ucap si resepsionis. Siapa pria itu? Gayatri bertanya-tanya dalam hati. Gayatri segera menuju lobi. Terlihat seorang pemuda sedang duduk di kursi lobi butik. Untuk sesaat, dia berhenti melangkah dan memperhatikan siapakah pria yang menemuinya. Ardi, kenapa dia ke sini sepagi ini? batin Gayatri. Dia memperhatikan Ardi dari jauh. Gayatri masih diam. Tanpa disadari, Ardi menoleh ke arahnya. Sebenarnya, dia ingin membalikkan badan. Namun, Gayatri sudah tertangkap basah oleh pandangan Ardi. "Gayatri," panggil Ardi. "E ... e ... a-aku. Ka-kamu apa kabar?" tanya Gayatri gugup. "Baik. Duduk sebentar. Aku mau bicara denganmu sebentar saja," pinta Ardi. "Ta-tapi ...." Gayatri masih berdiri di tempatnya. "Sebentar saja, Yat," pinta Ardi sekali lagi. "I-iya ada apa? Maaf, aku sedang bekerja, tidak enak jika harus menerima tamu di jam bekerja," ucap Gayatri beralasan. "Nanti sore, aku mau kita bertemu di Bening Cafe and Resto. Sepulang kerja, ya," pinta Ardi. "E ... ta-tapi ...." Gayatri masih mencoba mencari alasan. "Untuk kali ini, tolong jangan menolak, Yat!" pinta Ardi dengan penuh harap. "Ba-baiklah. Nanti pulang kerja, aku langsung ke situ," ucap Gayatri sedikit gugup. Akhirnya, dia mau menerima ajakan Ardi. "Ya, sudah. Nanti, aku tunggu di sana. Terima kasih, Yatri." Terlihat binar bahagia di wajah Ardi. "Untuk apa?" tanya Gayatri bingung dengan ucapan terima kasih Ardi. "Karena kamu sudah bersedia menemuiku, nanti. Please, datang, ya," pinta Ardi sedikit memohon. Gayatri hanya mengangguk, tanda menyetujui untuk datang menemui Ardi. Ardi pun pamit. Sementara Gayatri hanya memperhatikan bayangan pemuda itu pergi meninggalkan Butik Mawar. Ada apa, ya? Kenapa Ardi mendadak ingin mengajakku bertemu? pertanyaan itu terus berputar-putar di benak Gayatri. *** Sesuai dengan janjinya, Gayatri bersiap-siap pergi menemui Ardi di Bening Cafe and Resto. Membelah keramaian kota Nganjuk di sore hari dengan berjuta pertanyaan yang terlintas di benaknya, membuat Gayatri sedikit menambah kecepatan motor. Rasa penasaran itu benar-benar telah menelusup di benak dan pikiran Gayatri. Seolah-olah, dia ingin cepat sampai di tempat itu dan mengetahui ada apa sebenarnya. Kenapa Ardi begitu ingin menemuinya? Dia rela datang pagi-pagi sekali ke Butik, hanya untuk menyampaikan keinginannya bertemu di kafe. Dengan menaiki kuda besi perjalanan pun bisa dilalui dengan cepat. Lima belas menit, dia sudah sampai di Bening Cafe and Resto. Setelah memarkirkan kendaraan, Gayatri segera masuk ke dalam kafe. Saat bertanya kepada resepsionis, ternyata Ardi sudah meninggalkan pesan untuknya. Gayatri menuju ke meja nomor sepuluh, setelah sebelumnya diarahkan oleh resepsionis. Meja itu terletak di pojok dekat jendela. Terlihat seorang pemuda duduk sendiri. Dia terlihat sangat gelisah. Beberapa kali membolak-balikkan penunjuk waktu yang menempel di lengan tangannya. Pemuda itu adalah Ardi. Sepertinya menunggu membuatnya sangat frustasi, padahal Gayatri hanya telat lima menit. "Ardi, Maaf aku telat. Cuma lima menit 'kan," ucap Gayatri sudah berdiri di hadapan Ardi. Ardi yang sedang menunduk langsung mendongak, melihat ke arah Gayatri. "Ga-Gayatri, ini kamu atau halusinasiku, ya?" Ardi justru bengong. "Apaan sih, Ardi. Ini aku, Gayatri. Aneh sekali! Memangnya, aku hantu yang bergentayangan dan kelayapan sore hari, hanya untuk menemuimu di tempat ini?" ucap Gayatri sedikit sewot dengan memonyongkan bibirnya. Melihat tingkah Gayatri, Ardi pun melebarkan senyumnya. Binar-binar bahagia pun menghapus gelisah dengan seketika. "Ayo, duduk dulu, Yat!" perintah Ardi. Tanpa menyahut, Gayatri pun duduk. Kini, mereka sudah duduk berhadapan. "Katakan, ada apa sampai mengajakku bertemu di tempat ini?" tanya Gayatri mencoba mempersingkat waktu. "Sabar, dong, Yat. Kamu mau minum apa dulu?" tanya Ardi mencoba menenangkan Gayatri. "Maaf, Ar. Aku harus cepat pulang karena banyak pekerjaan yang menunggu di rumah," pinta Gayatri. "Iya, aku cuma butuh waktumu sebentar saja. Aku janji sebentar saja. Minum dulu, aku pesankan, ya. Kamu mau minum apa?" tanya Ardi. Dia terus mencoba menenangkan Gayatri. "Jus tomat," jawab Gayatri singkat. Ardi pun melambai kepada pelayan dan meminta daftar menu. Kemudian, dia memesan jus tomat dan bebek kremes kriuk-kriuk—menu andalan Bening Cafe and Resto. Ardi sengaja belum mau bicara dulu sampai pesanannya tiba. Gayatri sudah mulai gelisah dengan sikap Ardi. Hingga pesanan makanan pun tiba. Gayatri dan Ardi menyantap makanan, menu favorit Bening Cafe and Resto. Bagi Gayatri, menyantap makanan itu, seketika membuat lidahnya terasa asing karena rasanya sungguh enak. Maklum, selama ini dia tidak pernah memakan makanan di tempat seperti itu, apalagi di warteg, jarang sekali. Bagi Ardi yang sudah terbiasa dengan makanan itu membuatnya dengan cepat kembali disergap rasa gugup. "Ada apa, Ar. Sepertinya, kamu tidak tenang. Kita sudah selesai makan, kamu mau bicara apa?" tanya Gayatri. Dia menangkap kegelisahan Ardi. Ardi yang diperhatikan Gayatri, terlihat makin bertambah gugup. Kembali dia memanggil pelayan untuk meminta segelas air putih. Berharap air putih bisa menolong menghilangkan kegugupannya. Gayatri yang melihat tingkah Ardi menjadi makin penasaran. Ardi meminum air putih yang sudah diantarkan oleh pelayan. Sekali tenggak langsung habis, bahkan tidak tersisa setetes pun. Perutnya terasa penuh dan sesak, tetapi harapannya setelah meminum air putih, dia bisa lancar mengucapkan kata-kata. Kemudian, mencoba menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan berharap kegugupannya bisa berkurang. "Gayatri," ucap Ardi mencoba memberanikan diri. "Iya, ada apa?" tanya Gayatri. Dia terus melihat ke arah Ardi. "Ga-Gayatri," ucapnya sekali lagi. Laki-laki itu terlihat makin gugup. "Iya! Ada apa?" tanya Gayatri penasaran. Ardi kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. "Ga-Gayatri. A-aku su-suka ka-kamu, sejak kita masih SMA dulu. Aku begitu menyukaimu. Awalnya, aku kira biasa saja, tetapi setelah kelulusan dan lama kita tidak bertemu membuatku selalu merindukanmu. Ketika aku sudah berada jauh darimu dan tinggal di Jakarta untuk menempuh studi, membuatku semakin merindukanmu. Rasa suka dan rasa rindu, kini melebur menjadi satu berubah menjadi rasa cinta. Aku benar-benar mencintaimu, Yatri. Apakah kamu bersedia menerima cintaku?" tanya Ardi kepada Gayatri. Dia sangat lega telah berhasil mengungkapkan perasaannya selama ini. "Hah!" Gayatri kaget. Dia asih belum percaya dengan pernyataan cinta Ardi. Bersambung ...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 25 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Tingnan Lahat