Dua ratus juta adalah nilai nominal yang begitu banyak bagi Gayatri dan keluarganya. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Memikirkan semua itu membuatnya semakin terduduk lemas di bangku panjang depan ruangan ibunya di rawat. "Yatri, sabar. Berdoa memohon kepada Allah supaya ada jalan keluar terbaik untuk kesembuhan Bu Marni," hibur Ningsih. "Iya, Ning. Semoga Ayah berhasil mendapatkan pinjaman uang, supaya Ibu bisa tertolong." Gayatri terus berharap ada jalan keluar terbaik buat ibunya. *** Pak Harjo sudah sampai di kediaman, Juragan Prawiryo. Rumah yang begitu besar dan luas.Terlihat beberapa mobil menghiasi garasi dan halaman rumahnya. Dia memarkir kendaraannya di sebelah kiri pintu pagar. Kemudian, turun dan menuju pos satpam. "Maaf, Juragan Prawiryo ada?" tanya Pak Harjo kepada Satpam rumah Juragan Prawiryo. "Ada keperluan apa, ya, Pak?" tanya Satpam. "Saya ingin bertemu dengan beliau sebentar saja. Saya, Pak Harjo, salah satu pekerja ladang milik beliau." Pak Harjo menjelaskan siapa dirinya. "Apakah sebelumnya sudah ada janji?" tanya satpam itu lagi. "Maaf, belum ada, tetapi saya mau meminta tolong. Ini menyangkut nyawa seseorang, Pak! Tolong bilang ke beliau, Pak Harjo dari salah satu pekerja ladang ingin bertemu," pinta Pak Harjo kepada satpam untuk memberitahukan kedatangannya. "Baik tunggu sebentar, ya, Pak," ucap Satpam. Di dalam kediaman Juragan Prawiryo, terlihat, pria setengah baya sedang duduk dengan istrinya. Perempuan cantik dan bersahaja itu sangat menawan meskipun gurat keriput telah menggelayut. "Kita harus bisa menemukan solusinya, Pa," ucap istrinya. "Ya. Bermain cantik, itu yang harus kita lakukan jika kita ingin menyelamatkan putra kita!" jawab Juragan Prawiryo. "Secepatnya! Mama akan cari cara supaya kita bisa menyelamatkan putra kita dari wanita ular itu." Terdengar suara bunyi telepon dari pos satpam. Untuk sesaat bunyi telepon itu membuat mereka diam dari diskusi panjang tentang putra semata wayangnya. "Hallo, ada apa?" tanya Juragan Prawiryo, lalu mendengarkan satpam berbicara melalui sambungan telepon. "Masuk dan antarkan ke ruang tamu!" perintah Juragan Prawiryo. Sesaat Juragan Prawiryo terdiam, lalu menaruh gagang telepon. Nyonya Irene, istrnya tampak memperhatikan dengan seksama. Sikap suaminya barusan menimbulkan tanya wanita bersahaja itu. "Ada apa, Pa?" tanya Nyonya Irene kepada Juragan Prawiryo. "Ada salah satu pekerja ladang. Kata Satpam, dia memohon untuk bertemu denganku," jawab Juragan Prawiryo. "Memang ada masalah apa? Bukankah semua masalah yang menangani Bejo, asistenmu. Hati-hati, Pa! Jangan-jangan orang yang ingin berbuat jahat terhadap Papa. Kita 'kan harus selalu waspada, Pa!" ucap Nyonya Irene meyakinkan suaminya untuk tetap berhati-hati. "Tenang, Ma. Kalau Papa tidak kenal pasti tidak kuizinkan masuk, tetapi Papa mengenalnya sekali. Pria ini yang waktu itu telah menolong Papa. Dia tidak mau kuberi imbalan apa pun. Pria ini sangat jujur! Waktu itu, aku katakan jika membutuhkan bantuan jangan pernah sungkan datang ke tempatku." Juragan Prawiryo kembali mengingat masa di mana dia ditolong Pak Harjo. "Ya sudah, Pa. Mama tunggu di sini, ya!" Nyonya Irene menyuruh suaminya menemui orang itu. Juragan Prawiryo pun menuju ruang tamu. Terlihat Pak Harjo sangat gelisah. Dia duduk berdiri, lalu duduk lagi. Dari kejauhan, Juragan Prawiryo memperhatikan tingkah Pak Harjo. "Pak Harjo," sapa Juragan Prawiryo. "Ju-Juragan," ucap Pak Harjo, lalu tangannya dikatupkan sebagai simbol permohonan, "Ju-Juragan to-tolong saya. Tolong pinjami saya uang, du-dua ratus juta," ucap Pak Harjo terbata. "Dua ratus juta! Sebanyak itu untuk apa, Pak?" tanya Juragan Prawiryo. "Saat ini, istri saya sedang tidak sadarkan diri. Kemarin sore, dia menjadi korban tabrak lari dan harus segera dioperasi karena mengalami perdarahan di otak. Tolong Juragan, besok putri saya akan mengantarkan surat jaminannya. Saya tadi tidak sempat pulang ke rumah karena harus cepat memberi kepastian kepada pihak rumah sakit. Malam ini, juga saya harus menemani istri saya ke Surabaya. Kondisi dan peralatan yang kurang memadai di rumah sakit sini membuat istri saya dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya." Pak Harjo memberikan penjelasan tentang keadaan istrinya dengan wajah yang diliputi kecemasan. "Baiklah, Pak Harjo. Saya akan bantu. Sekarang Bapak kembali ke rumah sakit, dulu. Besok pagi uangnya akan saya antarkan sendiri dengan putrimu." Juragan Prawiryo menyuruh Pak Harjo kembali ke rumah sakit karena dia tahu pasti saat ini istrinya sedang membutuhkannya. "Te-terima kasih, Juragan." Pak Harjo pun berlalu pergi. Dia berjalan tergopoh-gopoh meninggalkan kediaman Juragan Prawiryo. "Ada apa, Pa?" tanya Nyonya Irene. Menyusul ke ruang tamu. "Istrinya kecelakaan dan menjadi korban tabrak lari, harus segera dioperasi karena mengalami perdarahan di otak dan biayanya cukup besar, dua ratus juta," ucap Juragan Prawiryo menjelaskan tentang alasan Pak Harjo meminjam uang. "Dua ratus juta! Itu nilai yang lumayan besar, Pa!" Nyonya Irene sangat kaget mendengar nilai nominal yang akan dipinjamkan kepada Pak Harjo. "Iya, Papa tahu. Namun, Papa berhutang nyawa dengan Pak Harjo. Semua itu tidak bisa tergantikan dengan berapa pun nilainya. Dia bilang putrinya besok akan mengantarkan surat jaminan. Pria ini sangat jujur, Ma, padahal jika dia meminta pun akan papa kasih secara cuma-cuma. Namun, tidak sedikit pun dia menagih janjiku kepadanya tetapi dia rela berhutang dengan jaminan daripada meminta." Juragan Prawiryo mencoba memberikan pengertian kepada Nyonya Irene. *** Pak Harjo sudah sampai di rumah sakit. Pria itu berjalan tergopoh-gopoh ke ruangan istrinya dirawat. "Yatri, kamu sudah datang," ucap Pak Harjo. Gayatri yang melihat kedatangan ayahnya segera menghambur ke pelukan pria itu. "Ayah, bagaimana ini. Ibu bagaimana? Di mana kita bisa mendapatkan uang sebesar itu?" tanya Gayatri. Isak tangisnya pun pecah, deraian air mata membanjiri dada ayahnya. "Tenanglah, kita sudah mendapatkan pinjaman dari Juragan Prawiryo," ucap Pak Harjo mencoba menenangkan Gayatri. "Benarkah, Yah?" tanya Gayatri seperti tidak percaya. Ayahnya hanya mengangguk, sebagai tanda jawaban, iya atas pertanyaan Gayatri. "Alhamdulillah, Yah," ucap syukur Gayatri. "Kamu dan Ningsih sebaiknya pulang dulu. Besok kamu ambil sertifikat rumah yang ada di dalam lemari, rak paling bawah. Serahkan kepada Juragan Prawiryo!" perintah Pak Harjo kepada Gayatri. "Gayatri tidak tahu rumahnya, Yah," ucap Gayatri. "Ningsih, tolong besok antarkan Gayatri ke rumah Juragan Prawiryo!" Pak Harjo meminta tolong Ningsih. "Iya, Om," jawab Ningsih mengiyakan. Seorang Dokter wanita berjalan menuju ke ruangan Bu Marni. Kemudian, masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Bu Marni lagi. Tidak berapa lama, Dokter itu pun keluar. "Keluarga, Bu Marni?" panggil Dokter wanita itu. "Saya suaminya, Bu Dokter," jawab Pak Harjo, lalu mendekat ke arah Dokter Dina, nama Dokter wanita itu. Tampak jelas terlihat dari tanda pengenal yang menempel di dada sebelah kanan. "Bu Marni harus segera ditangani. Sepertinya tindakan kraniotomi harus segera dilakukan!" jelas Dokter Dina. "Kra-kraniotomi, Dok?" tanya Pak Harjo yang bingung. "Iya, Bapak. Kraniotomi merupakan proses pembedahan otak yang dilakukan dengan membuka tulang tengkorak untuk memperbaiki gangguan yang terjadi dan ini bukan operasi kecil karena kondisi Bu Marni yang cedera kepala. Ada beberapa tahapan termasuk menjalani pemeriksaan CT Scan, kebetulan di Surabaya, alat-alatnya lebih lengkap dan banyak ahli Dokter Bedah Syaraf. Nanti untuk proses dan kelanjutan tindakan akan dijelaskan oleh dokter ahli bedah Syaraf di sana." Dokter Dina memberikan penjelasan tentang kondisi Bu Marni yang harus segera mendapatkan penanganan. Penjelasan panjang Dokter Dina didengarkan dengan seksama oleh Pak Harjo. "Saya ikuti saja, Bu Dokter, yang terpenting nyawa istri saya terselamatkan. Bagaimana pun baiknya, saya ikuti," ucap Pak Harjo pasrah. "Baiklah, Bu Marni harus segera ditangani. Bapak sudah menyiapkan semua, termasuk biayanya, Pak?" tanya Dokter Dina. "Saya sudah siap, Bu!" jawab Pak Harjo sangat yakin tentang kesiapan biayanya. "Baiklah. Malam ini, Bu Marni kita berangkatkan ke Surabaya, supaya lekas ditangani. Tolong segera menyelesaikan administrasi di sini dulu, supaya kita bisa memberangkatkan Bu Marni. Saya permisi dulu untuk mempersiapkan semua kelengkapannya." Dokter Dina berlalu pergi, kini tinggallah Pak Harjo, Gayatri dan Ningsih. "Ayah, biar Gayatri dan Ningsih yang menyelesaikan administrinya," ucap Gayatri. "Ya. Setelah itu, kamu langsung pulang. Besok pagi, baru menyusul Ayah ke Surabaya. Jangan lupa, antarkan sertifikat rumah ke Juragan Prawiryo, dulu!" perintah Pak Harjo kepada Gayatri untuk mengantarkan sertifikat ke rumah juragan Prawiryo. "Baik, Yah!" jawab Gayatri. Gayatri pun berlalu pergi untuk menyelesaikan proses administrasi. Bersambung ...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 28 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Tingnan Lahat