Untuk sesaat, Gayatri hanya bisa diam mendengar pernyataan cinta Ardi. Dia belum bisa berkata apa-apa. Namun, tatapannya masih lekat melihat ke arah Ardi. Dia sempat kaget dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Ardi. Ardi mencintaiku? Harusnya aku bahagia mendengar semua pernyataan cintanya, tetapi kenapa perasaanku biasa saja? batin Gayatri. Ardi terlihat lebih santai karena merasa telah berhasil mengeluarkan kata-kata keramat. Baginya, kata-kata itu terasa mencekik leher dan membuatnya gugup. Harusnya hal memalukan itu tidak diperlihatkan di depan gadis pujaan hatinya. Ah, yang penting sudah kukeluarkan semua. Lega sekali rasanya, batin Ardi. Namun, beberapa saat kegugupan itu kembali menyergapnya. Dia berharap perasaan cintanya disambut dengan bahagia oleh Gayatri. "Ma-maaf, Ar. A-aku belum bisa menjawabnya sekarang. Kuharap kamu mengerti." Saat ini, Gayatri bukan tidak mau memberikan jawaban, tetapi dia tidak ingin menghancurkan perasaan Ardi yang sedang berbunga-bunga. "Ba-baik. Ti-tidak apa-apa. Aku akan selalu menunggu jawaban itu," ucap Ardi gugup mencoba tidak egois dan memaksa Gayatri untuk menjawab saat itu juga. "Sekali lagi, maafkan aku, Ar. Apakah kamu sudah yakin benar-benar mencintaiku? Bagiku, ketika kamu bisa mencintai dan ingin menempatkanku di hati dan sisimu, kamu juga harus bisa menerima kehidupanku beserta keluargaku?" tanya Gayatri mencoba meyakinkan tentang perasaan Ardi. "Aku akan penuhi semua permintaanmu, Yat!" jawab Ardi yakin. "Sebaiknya, kamu fokus studimu dulu untuk meraih impian dan cita-cita. Saat ini, aku pun lebih memikirkan kehidupan keluargaku, bukan kehidupan pribadi seperti harus memiliki seorang kekasih. Aku ingin fokus dengan tujuanku!" ucap Gayatri. "Apa maksud kamu, Yat?" tanya Ardi tidak mengerti. "Maksudku, kamu fokus meraih cita-citamu. Suatu saat, jika kita berjodoh, pasti kita akan bisa menjadi pasangan. Menjalin sebuah hubungan bukan hanya tentang kita berdua, tetapi ada dua keluarga yang harus disatukan. Apakah kamu sudah berpikir ke situ?" Gayatri mencoba memberikan gambaran tentang keinginan menjalin hubungan dengannya. "Ee ... dua keluarga?" tanya Ardi masih sedikit bingung. "Iya dua keluarga. Kamu belum pernah mengetahui bagaimana keadaan keluargaku sebenarnya. Aku juga belum paham keluargamu. Sebaiknya, pikirkan itu dulu!" "Se-sejauh itu?" tanya Ardi masih bingung dengan semua penjelasan Gayatri. "Iya! Maaf, Ar. Aku harus cepat-cepat sampai di rumah karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu. Bukan aku menolakmu, tetapi akan lebih baik jika kita fokus dulu untuk meraih mimpi dan cita-cita kita. Kuharap kamu mengerti, Ar." Gayatri mencoba memberikan pengertian kepada Ardi. Terlihat Ardi masih diam memikirkan perkataan Gayatri, barusan. "Ta-tapi ... bagaimana dengan perasaan cintaku kepadamu. Kamu tidak akan pergi menjauh dariku 'kan?" Ardi ketakutannya saat Gayatri tidak menerima cintanya, maka dia akan menjauh darinya. "Semua perasaan cintamu kepadaku simpan dulu! Suatu saat, jika kita berjodoh berikan semua rasa cinta itu kepadaku. Aku berteman dan bersahabat dengan siapa pun selama dia bersikap baik terhadapku. Namun, kamu tahu sendiri keadaan dan kehidupanku yang miskin ini membuatku tidak memiliki sahabat ataupun sekadar teman yang benar-benar mau dan tulus. Hanya Leni yang mau bersahabat denganku. Maaf, aku pulang dulu. Untuk makanan i---" Belum sempat Gayatri menyelesaikan kalimatnya, Ardi sudah memotong. "O, tidak usah. Aku yang bayar. Hari ini, aku yang mentraktirmu." Seolah-olah Ardi sudah paham akan maksud Gayatri. "Baiklah, terima kasih, Ar," ucap Gayatri. Dia pun berdiri dari tempat duduknya. Gayatri meninggalkan Bening Cafe and Resto dengan perasaan yang serba tidak enak. Bukannya Gayatri tidak ingin dicintai oleh seorang pria, apalagi pemuda baik dan cerdas seperti Ardi. Namun, dia cukup tahu dan sadar diri, hanya seorang gadis desa biasa dan miskin. Lebih baik membiarkan semuanya seperti itu. Gayatri tidak pernah berpikir tentang cinta sedikit pun karena di dalam hidupnya hanya bagaiman bisa meraih impian dan cita-cita serta membahagiakan kedua orang tuanya. Sesuatu yang mungkin dalam mimpi pun terasa akan sulit untuk diraih, karena kehidupannya yang serba susah. *** "Assalamualaikum, Bu. Ibu!" Terlihat rumah sepi dan gelap. Ayah dan Ibu kemana, ya? Tumben, kenapa rumah sepi sekali, batin Gayatri. "Yatri!" panggilan suara seorang wanita setengah baya, membuatnya menoleh seketika. "Iya, Mak Aci. Ibu dan Ayah ke mana, ya? Kenapa rumahnya sepi dan gelap?" tanya Gayatri mencoba mencari tahu lewat wanita setengah baya itu. "Tadi, ayahmu berpesan supaya memberitahu bahwa ibumu sekarang di rumah sakit," ucap wanita setengah baya itu. "Rumah sakit?" tanya Gayatri. Gayatri terlihat begitu panik, lalu berlari menuju ke rumah Mak Aci, tetangga sebelah rumahnya. "Ibumu tadi kecelakaan. Cerita detailnya, mak kurang tahu. Menurut cerita, kecelakaannya di pasar, tabrak lari. Tadi, ayahmu pulang kerja langsung menyusul ke rumah sakit. Kebetulan Ningsih, ikut ke rumah sakit." Wanita setengah baya bernama Mak Aci itu pun menjelaskan. "Rumah sakit mana, Mak?" tanya Gayatri. Wajahnya terlihat sangat cemas. "Waduh, emak kurang tahu. Coba telepon Ningsih, dia, 'kan membawa handphone. Sebentar mak minta tolong Joni untuk menelepon Ningsih dulu, ya!" Mak Aci meminta Gayatri untuk menunggunya. "Ya, Mak." Gayatri terlihat gemetaran, begitu panik dan terduduk lemas di depan teras rumah Mak Aci. Mak Aci meninggalkan Gayatri sendiri. Sementara dia mencari Joni. Tidak berapa lama, Mak Aci tergopoh-gopoh menghampiri Gayatri. "Buruan susul ibumu di RSUD, ya!" Mak Aci memberitahu rumah sakit tempat di mana ibunya dirawat. "I-iya, Mak, makasih," ucap Gayatri berterima kasih kepada Mak Aci. Gayatri segera menghidupkan kendaraannya dan meluncur membelah jalanan desa yang sudah terlihat agak sepi. Pikirannya begitu kalut dan campur aduk. *** Tiga puluh menit, dilalui Gayatri untuk sampai di Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk. Setelah memarkir kendaraannya, dia pun berlari menuju ke bagian informasi untuk menanyakan keberadaan ibunya. Setelah menunggu beberapa saat, bagian informasi memberitahukan ruangan ibunya. Ruang Teratai nomor dua. Gayatri segera berlari menuju ruangan ibunya dirawat. Terlihat, Ningsih sedang menunggu di depan pintu kamar. Ningsih adalah putri Mak Aci dan masih memiliki hubungan kekerabatan walaupun saudara jauh. "Ning, bagaimana keadaan Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja?" tanya Gayatri. Terlihat kecemasan menyelimutinya. "A-ayah ... ayah, ke mana?" Berondongan pertanyaan Gayatri membuat Ningsih kebingungan, harus menjawab yang mana dulu. "Yatri. Satu-satu dong pertanyaannya. Aku bingung harus menjawab yang mana dulu," ucap Ningsih. Gayatri terduduk di bangku panjang depan kamar ibunya dirawat. Air matanya terus berderai membasahi pipi. "Mulai yang bisa kamu jawab, Ning," ucap Gayatri pelan sambil menahan isak tangis. "Ibumu masih belum sadar. Menurut dokter dia harus segera dioperasi. Sedangkan, peralatan di sini kurang memadai. Jadi, dia akan dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya. Kemungkinan, biayanya cukup besar dan harus segera dipersiapkan. Ayahmu bingung harus pergi kemana mencari pinjaman uang sebesar itu," ucap Ningsih menjelaskan kepada Gayatri tentang informasi yang didengarnya dari dokter. "Sekarang, ayah pergi kemana?" tanya Gayatri. Air matanya terus berderai membasahi pipi. "Berusaha mencari pinjaman uang. Katanya, mencoba ke tempat Juragan Prawiryo." Ningsih memberitahukan tentang tujuan kepergian ayah Gayatri. "Siapa Juragan Prawiryo, itu?" tanya Gayatri. "Pemilik berhektar-hektar sawah dan banyak sekali usaha yang dimilikinya." Ningsih menjawab. "Sudah lama Ayah perginya, Ning?" tanya Gayatri menanyakan kepergian ayahnya yang mencari pinjaman uang. "Sudah dua jam yang lalu. Tadi, aku menyuruhnya merngendarai motor." Seorang dokter wanita sedang berjalan menuju ke ruangan Bu Marni. Kemudian, masuk dan memeriksa keadaannya. Beberapa saat, dokter itu pun keluar dan berhenti sebentar di depan pintu kamar. "Keluarga, Bu Marni?" tanya dokter wanita itu. "Sa-saya putrinya, Dok," ucap Gayatri gugup. "Bu Marni harus segera dilakukan tindakan. Malam ini juga kita akan membawanya ke Surabaya. Tolong siapkan biayanya supaya lekas ditangani!" Dokter wanita itu pun memberitahu kesiapan keluarga pasien. "Ba-baik, Dok. Maaf, berapa kira-kira biayanya?" tanya Gayatri gugup setelah mendengar penjelasan dokter. "Kurang lebih dua ratus juta," jawab dokter memberikan kisaran biayanya. "Du-dua ratus juta?" Gayatri sangat kaget mendengar nilai nominal sebesar itu. Kembali pikiran Gayatri campur aduk tidak karuan. Ke mana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu? Bermimpi pun tidak pernah, apalagi ini nyata dan harus segera mendapatkannya. Bersambung ...
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 27 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (93)
Shazarina
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya...
Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
Keren sekali ceritanya! Bisa diambil pengajarannya... Semoga sukses terus yah berkarya! ☆o☆ง
28/01/2022
0enk untuk di baca terimakasih:))
26/02/2025
0saya sangat antusias membaca novel terbaik
27/01/2025
0Tingnan Lahat