Suasana menjadi sedikit hening ketika gua tidak tahu harus berbuat apalagi. "Oh iya Jun, nih buat kamu." Ita yang memberikan gua wafer yang mereknya belum pernah gua lihat tetapi gua yakin ini wafer mahal. "Makasih Ta." Dikarenakan perut gua lapar karena gua lebih memilih ke belakang sekolah daripada pergi untuk membeli makanan, alhasil wafer yang diberikan Ita langsung gua lahap. Lagipula rasanya memang enak beda sekali dengan wafer yang di jual di warung mpok Kokom. "Enak banget ya Jun, wafernya?" tanya Ita yang melihat gua tengah lahap menyantap wafer pemberiannya. "Ammm ...kras ...Iya enak Ta. Elu mau ga Ta?" Ita hanya mengagukan kepalanya saat gua tanya lalu dia membuka mulutnya. Gua yang keheranan pun bertanya ke dia yang sedang mangap, "Lu ngapa Ta?" "Suapin Enjun!" jawab ita sambil menunjuk mulutnya yang sedang mangap. Gua menuruti perkataan Ita lalu gua suapi dia, jari-jari tangan gua bersentuhan dengan bibir tipisnya, gua yang merasakan lembutnya bibirnya sontak menarik jari-jari tangan gua dari mulutnya. Jantung gua langsung berdetak kencang seperti detak jantung maling yang sedang di kejar-kejar warga yang membuat tubuh gua kembali menjadi bergemetaran, tetapi gua melihat Ita dia tampak biasa saja walau pipinya kelihatan memerah si. "Jun, kok kamu gemetaran si, kamu sakit?" tanya Ita, yang melihat tangan gua yang sedang memegang wafer gemetaran. "Engga Ta gua enggak sakit kok, gua cuma nahan berak doang ini," kilah gua. "Ih ...kenapa engga bilang! Yaudah ayo kita pergih dari sini." Kami pun pergih dari belakang sekolah dan kami berpisah ketika di tengah jalan gua pergih menuju kamar mandi sedangkan Ita pergih untuk masuk ke dalam kelas. Ketika di dalam kamar mandi gua hanya berdiam diri keheranan tentang apa yang baru saja gua alami gua mencoba menenangkan diri gua. Setelah cukup lama detak jantung gua pun kembali normal lagi dan tubuh gua juga sudah tidak gemetaran. Lalu gua keluar dari dalam kamar mandi menuju ke kelas gua kembali, saat gua baru saja masuk ke dalam kelas, gua sudah di suguhi pemandangan dari senyum manis Ita yang sengaja dia lemparkan ke gua. Melihat senyum manis itu membuat jantung gua kembali berdetak cepat, di tambah tubuh gua pun bergemetaran lagi. "Yang ngajak berantem elu serem banget apa Jun, sampe badan elu gemetaran begitu?" tanya Jayadi yang melihat tangan gua gemetaran. "Kagak ini mah gua kedinginan Jay. Lagian kaga nongol bocahnya yang ngajakin gua berantem," kilah gua. Saat pulang sekolah sebenarnya gua ingin bercerita tentang apa yang baru saja gua alami hari ini kepada Jayadi. Tetapi gua urungkan niat gua itu, karena gua tahu sifat Jayadi gua yakin saat gua ceritakan tentang kejadian tadi ke dia, pasti gua akan habis di ledeki oleh dia. Perasaan itu terus menghantui gua sampai di rumah, gua sudah mencoba untuk melupakannya dengan bermain Ultramen-ultramenan tapi perasaan itu masih tidak mau menghilang juga. Gua pun mencoba bermain ke rumah Jayadi berharap perasaan aneh ini bisa menghilang. "Elu mau ke mana Jun?" tanya emak yang melihat gua mau keluar rumah. "Mau main kerumah Jayadi," jawab gua. "Lah ...tumben elu mau keluar rumah." Emak yang keheranan. Gua tidak memperdulikan ucapan emak, gua terus berjalan ke rumah Jayadi yang tidak jauh dari rumah gua karena Jayadi masih satu rt dengan gua. "Assalamualaikum, Jayadi," salam gua. "Waalaikumsalam!" jawab Jayadi dan dia keluar dari dalam rumahnya. "Lah tumben elu nyamper gua, Jun?" kata Jayadi yang keheranan. "Iya bosan gua di rumah. Ke golep yuk, nyari biji karet," ajak gua, untuk pergih ke lapangan golf yang tidak jauh dari sini. "Yaudah nyok," balas Jayadi. Kami biasa masuk ke lapangan golf ini lewat jalur rahasia jadi kami tidak di marahi oleh satpam yang menjaga portal masuk lapangan golf. Di lapangan golf ini juga banyak pohon karet, yang biji karetnya yang jatuh ke tanah biasa kami ambil untuk bermain adu biji karet. "Hi little boy come here!" Ketika kami sedang asyik mencari biji karet tiba-tiba ada mr bule yang meneriaki kami. "Tuh bule ngapa si Jun?" tanya Jayadi yang melihat mr bule melambaikan tangannya ke arah kami. "Manggil kita kalih tuh bule. Nyok kita samperin." Kami menyamperi mr bule itu yang berada di pinggir lapangan golf dan gua juga melihat terdapat cewek bule yang berada di samping mr bule itu, mungkin dia istrinya atau pacarnya entahlah. "Hay kids apha yang kahlian chari?" tanya mr bule dengan bahasa Indonesianya yang alakadarnya. "Biji karet mister," jawab gua yang mengerti apa yang ingin di ucapkan mr bule. "Hu for apha,,,?" tanya kembali mr bule, sambil menunjuk biji karet yang baru saja gua tunjukan ke dia. Gua yang masih mengerti dia mau bilang, Buat apa biji karet yang gua pegang ini. Lantas langsung gua praktekan permainan adu biji karet di hadapan dia. Mr bule pun memperhatikan gua yang sedang mempraktekan, Crakk Saat biji karet yang gua adu ini pecah dia histeris, "Owhh great." Selesai memperaktekan mata gua langsung teralihkan dengan gumpalan daging panjang yang di hiasi kulit seputih susu ultra yaitu paha cewek bule yang hanya memakai celana kurang bahan. Ketika gua melihat paha cewek bule, gua sempat membayangkan jika Ita besar nanti pasti pahanya akan seperti paha cewek bule ini. "Mister hem ...hem ...hem..." kata Jayadi ke mr bule sambil meragain dia yang sedang bermain golf. "Owh, khalian mau try?" balas mr bule yang mengerti apa yang di inginkan Jayadi. Gua sama Jayadi pun untuk pertama kalinya bermain golf, ternyata bermain golf tidak semudah yang gua bayangkan. Tetapi untuk Jayadi bermain golf sepertinya mudah untuk di mainkan olehnya. "Owhh nice shoot," ucap terkagum mr bule yang melihat pukulan Jayadi. Hari sudah menjelang sore gua bersama Jayadi pun pergih meninggalkan mr bule untuk kembali pulang ke rumah, saat gua ingin pergih mr bule sempat memberi kami uang dolar. "Bisa di jajanin ga ya nih duit Lih?" tanya Jayadi sambil memperhatikan uang dolarnya. "Coba aja lu jajanin di warung mpok Kokom, Jay," usul gua. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Hay You! Don't forget to like and comment," titah mr bule kepada para pembaca pubertas
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 22 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (95)
SujanaAgus
bagus
14/04
0
Hari Purwoto
seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma
bagus
14/04
0seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma
18/08
0bagus
17/07
0Tingnan Lahat