logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

HIJRAH

“Aya, kamu ikut taraweh ke mesjid, kan?” Ibu memastikan, karena akhir-akhir ini Gayatri sibuk di depan laptop.
“Ikut dong, Bu.”Gayatri mengacungkan jempolnya.
“ Siap-siap gih, bentar lagi Isya,nih.”ujar Ibu yang segera dituruti Gayatri. Ia berganti baju dan menyiapkan mukenanya untuk dipakai ketika sholat di mesjid. “Ajak Mbul nggak,ya?” pikirnya.
“Males,ah!” Gayatri masih kesal karena ia harus berbagi kembang untuk mandi wangi beberapa hari yang lalu.
Sepuluh menit kemudian ia dan Ibu sudah siap untuk ke mesjid, begitupula Ayahnya. Mereka bertiga berjalan sambil bercanda, ketika Mahesa dari arah berlawanan menghampiri mereka.
“Mbul, salah jalan. Mesjidnya disana,tuh.”Gayatri menunjuk arah ke Mesjid.
“Aku memang sengaja mau barengan sama kalian. Aku kan nggak pernah ke mesjid sama-sama keluarga.”Mahesa menatap dengan sedih, sehingga Ayah trenyuh.
“Mulai besok, kamu barengan kita aja berangkat ke mesjidnya.”Ayah menepuk pundak Mahesa. Mahesa melirik Gayatri membanggakan kemenangannya merebut hati Ayah.
“Iya. Mbul. Kamu kan mualaf, jadi kami sekeluarga sangat senang bisa membantu kamu.” tambah Ibu yang membuat Mahesa semakin merasa menang.
“Mau ikut kek, mau nggak kek, bodo amat!”ujar Gayatri cuek.
“Ibu, Aya masih marah ya, gara-gara kembang kemaren?”tanya Mahesa sok polos.
“Nggak tahu ya, Ibu. Coba tanya sendiri,situ.”canda Ibu.
“Iya! Aku marah gara gara jatah mandi kembang aku berkurang kembanganya! Puas?”cerocos Gayatri.
“Tapi kan, duitnya udah diganti. Full lagi!”kilah Mahesa.
“Duitnya kan,nggak aku terima.”balas Gayatri sewot.
“Aya, ini kan mau bulan Ramadhan. Maafin aja si Mbul.”ujar Ibu membela Mahesa.
Gayatri sebenarnya sudah memaafkan kelakuan absurd sahabatnya itu, namun entah mengapa kalau belum berantem itu ia merasa ada yang kurang.
“Iya, dimaafin.”ujar Gayatri namun masih dengan wajah jutek.
“Bu, Aya nggak ikhlas maafin Mbul.”adu Mahesa ke Ibu.
“Aya, yang ikhlas ya ngasih maafnya.”sahut Ibu lembut, dan Mahesa tersenyum penuh kemenangan lagi.
“Bu, yang anak Ibu sebenarnya Aya atau Mbul sih, Bu? Kayaknya Ibu lebih belain dia,deh!”protes Aya. Sementara bapak hanya tersenyum melihat kelakuan Mahesa dan anak gadisnya.
“Ini tahun ke berapa kamu jadi Mualaf,Mbul?”tanya Ayah.
Mahesa reflek menghitung dengan jarinya. “Satu, dua,tiga, empat,lima,enam. Enam tahun, Yah.”jawabnya.
“Sholat sudah bisa,kan?”tanya Ayah dan Mahesa mengangguk. “Ngaji?”Ayah melanjutkan pertanyaannya.
“Alhamdulilah sudah bisa, Yah. Ini niatnya mau belajar lagi sama Ustadz Ahmad. Belajar tajwidnya, Yah.” Ayah gantian mengangguk-angguk mendengar penuturan Mahesa.
“Kamu dapat hidayah jadi mualaf itu karena apa sih,Mbul?”tanya Ibu penasaran.
“Karena...”Gayatri mau berbicara, namun Mbul mengkodenya agar diam.
“Karena teman-teman banyak yang cerita kalau Islam itu indah, toleransinya tinggi, dan penuh kasih. Mbul tertarik untuk memepelajarinya, eh...jatuh cinta.”kisah Mahesa yang membuat Gayatri mual seketika, karena ia tahu bukan itu alasan awal sahabatnya menjadi mualaf. Lagi-lagi Mahesa memberi isyarat agar Gayatri tidak menceritakan yang sesungguhnya ke Ibu dan Ayah.
Gayatri menuruti mau Mahesa, namun ia tetap tidak lupa kejadian enam tahun yang lalu semasa mereka berada di semester akhir, yang sempat membuat ia dan Mahesa bertengkar hebat gara-gara seorang cewek bernama Anisa dan temannya yang bernama Nayla.
***
“Mbul, kamu naksir cewek lain aja,deh. Berat Mbul, kalau sama tuh cewek. Idola di kampus,lho!” Gayatri tidak habis pikir kenapa selera sahabatanya, Mahesa tiba-tiba berubah 180 derajat.
“Tapi, aku sukanya sama dia. Gimana,dong?” Mahesa terlihat lelah memikirkan langkah selanjutnya.
“Respon dia gimana pas kamu bilang kalau kamu punya hati sama dia?”tanya Gayatri, karena Mahesa sudah elakukan penembakan dua hari yang lalu tanpa sepengetahuan Gayatri.
“Senyum aja,gitu. Terus , dia bilang terima kasih. Udah. Selesai.”jawab Mahesa dengan sedih.
“Terus kamu maunya gimana? Kalau sudah beda keyakinan itu susah, Mbul. Ujungnya nanti sakit dan meninggalkan lobang yang dalam banget.”Gayatri menasehati Mahesa yang sedang di mabuk cinta.
“Hm, aku masuk Islam aja gimana?”ungkap Mahesa tiba-tiba yang membuat Gayatri terlonjak kaget.
“Hei...hei! Kamu ngomong, nggak pakai mikir lagi,ya? Nggak segampang itu meninggalkan keyakinan kamu yang lama terus ujuk ujuk masuk ke keyakinan baru. Ini bukan kayak pindah kampus atau pindah rumah, Mbul.” Gayatri makin pusing dibuatnya.
“Tapi, kata Anisa kalau aku jadi muslim, bisa jadi Nayla mau sama aku.”umbarnya lugu.
“Bisa jadi, kan? Berarti masih ada kemungkinan nggak bisa.”jelas Gayatri.
“Aku nggak masalah kok jadi muslim,Ya.”Mahesa ngotot.
Gayatri menatap sahabtanya antara kesal dan sedih. Sebegitunya ya cinta membuat orang jadi mau melakukan apa saja atas nama cinta.
“Please, Mbul. Aku senang aja kalau kamu jadi mualaf. Tapi, bisa nggak dengan alasan bukan karena kamu lagi naksir seorang muslimah?”ujar Gayatri.
“Pokoknya, aku mau belajar tentang Islam dulu, Ya. Nanti biar aku yang memutuskan, apakah aku akan jadi muslim atau nggak.”Mahesa bersikeras dan gayatri tidak bisa mengahalanginya.
Seminggu setelahnya, Mahesa sering terlihat bersama Anisa. Entah apa yang mereka perbincangkan, namun Gayatri melihat Mahesa mengeluarkan amplop dan memberikannya ke Anisa.
Gayatri bergegas mengahmpiri mereka berdua.
“Assalamualaikum, Anisa. Hai, Mbul!”sapa Gayatri ramah. Anisa seperti ketakutan. Ia lalu buru-buru memasukkan amplop yang ia terima dari Mahesa ke dalam tasnya. Ia lalu berpamitan untuk pergi.
“Itu tadi apaan, Mbul?”Gayatri mencium bau ketidakberesan.
“Oh, itu apa sih namanya, hm, infaq. Infaq kan, ya?”Mahesa mencoba mengingat-ingat.
“Infaq? Infaq ke siapa?” tanya Gayatri heran.
“Jadi, Anisa dan Nayla itu ternyata sukarelawan di sebuah yayasan yang salah satu programnya adalah membiayai anak yatim piatu. Nah, Anisa menawarkan ke aku. Mau nggak donasi ke yayasan mereka. Ya, aku sih mau mau aja.”jelas Mahesa santai.
“Mbul, kamu tuh naif banget apa g-o.b-l-o-k?” Gayatri mulai emosi. “Mana tanda terimanya kalau kamu sudah ikutan nyumbang? Semacam kuitansi pembayaran, gitu. Ada nggak?”tanya Gayatri.
Mahesa menggeleng sambil cengengesan. “Nggak ada.Ya.”
“Terus , kamu percaya aja kalau itu untuk yayasan?” Nada suara Gayatri semakin meninggi.
“Ya, percaya aja,sih.”Mahesa jadi meragukan apa yang telah ia perbuat.
“Astaga, Mbul! Nggak bisa kayak gitu,dong. Ughhh!”Gayatri geregetan.
“Aya, calm down. Kalaupun itu nggak benar, ya sudahlah. Mungkin memang rezekinya dia, Ya.”ujar Mahesa berusaha menenagkan Gayatri yang kepalanya mulai berasap.
“Terserah deh, Mbul!”Gayatri menahan rasa dongkolnya.
Beberapa hari kemudian, Gayatri melihat Mahesa kembali memeberikan amplop ke Anisa. Gayatri langsung mendatangi mereka, dan Anisa seperti sebelumnya segera melarikan diri.’
“Duit apalagi?”Gayatri melipat tanganhya dan memasang wajah jutek ke Mahesa.
“Aku kan mau belajar tentang Islam, Ya. Nah, itu tadi aku ngasih uang untung bayar ustadz yang akan mengajari aku,Ya.”jawab Mahesa polos.
“Ngapain mau belajar Islam sampai nyari ustadz di kampus,Mbul? Dekat rumah kita kan ada Ustadz Fahri,Ustadz Ahmad, dan Ustadz Hasan. Kenal kan.Mbul? Kita kan Cuma beda blok aja sama mereka.”Gayatri mengepalkan tangannya. Mahesa langsung mengajak Gayatri ke kantin kampus terdekat.
“Minum jus pokat atau Es Cappucino?”tawar Mahesa agar marah Gayatri reda.
“Nggak mau apa-apa.”rajuk Gayatri.
Tiba-tiba Gayatri menangkap sosok Nayla, cewek idola kampus yang ditaksir Mahesa. Tanpa basa basi, Gayatri langsung menghampiri Nayla yang sedang mencatat tugas. Mahesa menyusulnya dengan perasaan cemas.
“Nayla,kan?”tanya Gayatri tanpa mukadimah.
Nayla terkejut, namun ia kemudian tersenyum karena melihat dibelakang Gayatri ada Mahesa.
“Iya, aku Nayla. Siapa,ya?”tanya Nayla lembut. Oalah, pantesan si Mahesa klepek-klepek.
“Aku Gayatri, temannya Mahesa. Teman kamu si Anisa itu bilang, kalian sukarelawan di yayasan yang bergerak di bidang sosial. Bener?”Gayatri mulai menginterogasi Nayla.
Nayla mengernyitkan alisnya. “Anisa bilang gitu? Nggak ada,tuh. “jawab Nayla dan Gayatri menatap kesal ke Mahesa yang semakin serba salah.
“Hm, kalau soal ustadz? Anisa punya banyak kenalan ustadz,ya?”lanjut Gayatri dan Nayla bengong.
“Hah? Anisa punya kenalan ustadz? Sejak kapan? Mungkin ada kali,ya? Aduh, kurang tahu aku kalau itu.”jawab Nayla dengan kebingungan.
“oke satu lagi, Nay. Memangnya, kalau Mahesa jadi muslim, kamu mau nerima dia jadi pacar kamu?”Mahesa terperangah mendengar pertanyaan Gayatri ke Nayla.
Nayla terdiam. Ia lalu menghela nafas sebelum menjawab. “Begini ya, Gayatri, Mahesa, aku bukannya mempermasalahkan soal keyakinan,kok. Aku tuh sudah punya tunangan. Nih lihat, aku udah pakai cincin tunangan. Aku tahu Mahesa orangnya baik, dan seandainya aku belum bertunangan, mungkin akan aku pertimbangkan.”beber Nayla yang membuat Mahesa tersenyum. Ya, iya lega karena ternyata Nayla tahu dirinya.
“Well, makasih,Nay. Tolong, bilang ke Anisa jangan pernah ganggu Mahesa lagi, atau dia akan berhadapan sama aku.”tegas Gayatri yang langsung diiyakan oleh Nayla.
Mahesa menatap sahabatnya tersebut, lalu ia kembali mengajak Gayatri memesan minuman.
“Aya, makasih,ya. Tapi aku ikhlas kok soal uangku itu.”ujar Mahesa. “Lalu, aku...aku...tetap mau belajar Islam. Boleh, kan?” tanya Mahesa dan Gayatri mengangguk senang. Setidaknya, kali ini Mahesa mau belajar Islam bukan karena untuk mengejar hati seorang cewek.
***
“Eh, udah azan. Pas banget ya, kita sampainya.”Ibu lalu mengajak Gayatri ke pintu masuk untuk manita.
“Mbul, nanti pulang tunggu,ya! Temani beli kembang api,Mbul.”pinta Gayatri.
“Siap,Ya!”balasnya.
Gayatri menatap punggung Mahesa. Ia bangga akan sahabatnya itu. Ya, sahabatnya yang selalu ia bela dan ia jaga. Ah, indahnya persahabatan.

Komento sa Aklat (683)

  • avatar
    Martince Banoet

    yes

    21/04

      0
  • avatar
    Hantori JRhantori

    akusangat senang

    26/03

      0
  • avatar
    Caleb Moses

    struktur yang bagus dan novel dapat memberikan informasi akurat terhadap hal yang perlu kita pahami

    14/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata