Kabuuan : 78Prolog
Siang begitu terik dan jam kerja Jane nyaris usai saat ponselnya berdering. Meski enggan keluar dari
readmore Jane Sudah Besar, Ma
Jane masih menatapi tumpukan baju di atas kasur. Jane tidak habis pikir kenapa mama masih saja melak
readmore Apa Yang Terjadi?
Tubuh Jane masih menggigil saat satu tangan perempuan itu terulur meraihnya. Jane tak sanggup beront
readmore Menjadi Salah Satu Di Antara Mereka
Jane menarik dan memeluk erat kedua kakinya seraya meletakkan dagu di atasnya. Semua perubahan teras
readmore Berbaur
“Yeah! Selesai!” Mirna menjatuhkan diri di kasur Jane yang baru mereka rapikan berdua. Selagi m
readmore Seperti Deretan Bintang di Langit
Jane duduk termenung menatap deretan bintang yang tampak jelas malam ini. Cuaca cerah rupanya, batin
readmore Namaku, Andra
Jane merasa tubuhnya tak bertenaga dan siap luruh kapanpun. Lututnya sudah bergetar hebat. Ini kali
readmore Mimpi Buruk
“Jangan! Jangan sebut aku gelandangan! Setidaknya aku masih punya rumah, juga masa depan. Aku y
readmore Seperti Warna Gambarnya
Di bawah rindang pohon akasia satu-satunya yang ada di halaman belakang panti, Jane menikmati s
readmore Lagi-lagi Terlambat
Kini Jane bukan lagi Jane yang cengeng dan penakut. Juga bukan lagi anak yang mudah ditindas. Meski
readmore Merasa Bersalah
Jane termangu, hatinya sibuk menimbang. Sadar seharusnya melangkah pulang, namun dia merasa bersalah
readmore Tak Bisa Melihatnya Kecewa
Jane merasa hidupnya kembali lengkap. Tentu tidak ada yang bisa dan berhak menggantikan kedudukan ma
readmore Menghindar
Jane sedikit jengah oleh ulah beberapa pedagang yang menjajakan barang dagangannya dengan memak
readmore Tetap Bersamaku
Luki mundur beberapa langkah dan bersikap hormat, membuat Jane sedikit heran dan kaget. Tapi mu
readmore Apa Yang Terjadi, Luk?
Luki menatap raut Jane yang masih begitu nyenyak. Kasihan, batinnya. Dia pasti sangat lelah dan
readmore Cita-cita
“Apa yang terjadi, Luk?” Jane masih menggumamkan hal sama saat kembali memandangi wajah dan tub
readmore Lebih Dari Serpihan
Ada perasaan ingin sekaligus rasa bersalah yang teramat besar saat Luki menatap wajah polos Jane. It
readmore Resah
Menapaki kembali jalan-jalan yang selama hampir 4 tahun ini Jane lewati setelah lebih dari satu ming
readmore Wajah Lelah Jane
Jane menyerah dalam tatapan tegas lelaki ini. Luki akan menolak apapun alibinya. Namun dia juga tahu
readmore Luki
Langit jingga sore itu. Luki menikmati. Ditemani sruputan kopi pertamanya dan bungkusan rokok keduan
readmore Pasrah?
Luki duduk diam mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Sadar, jika sudah demikian Jane tidak akan bi
readmore Lelah
“Argh!” bahunya teramat nyeri saat Luki mencoba bangun. Bahkan sekujur tubuhnya terasa kaku, sulit d
readmore Berarti Sesuatu
Luki kaget. Sama sekali tak mendengar langkah kaki Jane. Kegiatannya terhenti saat Jane meraba pungg
readmore Anak Kunci
Sekali lagi, dalam jarak sedekat ini. Merasakan hembusan napasnya, bersitatap dengan matanya, jelas
readmore Saksi Cinta
Kusuk menatap wajah damai Jane, Luki merasa desiran aneh di dadanya kian nyata. Mungkinkah kini ada
readmore Tega
Gerah. Jane mengikat tinggi rambutnya, lalu turun dari mobil, dan menikmati sejuk hembusan angin mal
readmore Terjebak
Jane menyerah dalam tatapan tajam pria menyebalkan di hadapannya ini. Akhirnya kembali duduk meski t
readmore Pemandangan Mengerikan
“Bagaimana bisa?” gumam Jane berulang kali. “Jane! Tolong berhenti! Aku makin pusing lihat kamu monda
readmore Jalan Keluar
Luki masih menatap tak percaya. Apalagi gerakan tangan Tiger selanjutnya menepuk pelan pundak Jane y
readmore Nyaris Terbunuh
Jane mengambil udara sebanyak dia bisa. “Kau mau membunuh kami ha?” sarkas Luki yang ternyata merasak
readmore Menyusun Rencana
Angin semilir yang berhembus menyentak Jane dari mimpi. Pelan matanya terbuka, lantas melihat sekeli
readmore Titik Terang
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri jalan setapak menuju gedung atau gudang tua yang dimaksu
readmore Cerita Di Balik Temuan
Luki masih memberi kode Jane untuk tetap diam dan menunggu. Sampai dia yakin mereka, orang-orang yan
readmore Fase Berbeda
Jane masih setia menatap ilalang di padang. Barangkali pemandangan biasa bagi sementara orang, namun
readmore Memberi Kehidupan
Tiger terus menunggui. Seharusnya Jane sudah sadar mengingat peluru hanya menyerempet lewat, bukan b
readmore Rama
Akhirnya, Rama bisa bernafas lega hanya dengan melihat nama kostnya saja. Setelah empat hari berat h
readmore Rencana Besar Dimulai
Sammy memberi perhatian penuh, ketika Lila mulai membuka mulut. Bahkan dalam hatinya sudah mengiyaka
readmore Kepada Siapa Cintaku Berlabuh
Sahabat-sahabat Lila berkumpul di kamar kosnya tanpa komando. Maya dengan daster dan setoples cemila
readmore Kenal Dia?
Dentang jam dua belas kali sudah lama berlalu. Suasana makin sunyi. Sudah tidak terdengar lagi tawa
readmore Batal Datang
Rama melirik arloji sekali lagi, tak mempercayai terik yang menyengat tengkuknya dan membuat peluh m
readmore Heboh
Anton gelisah dalam penantian. Berkali-kali dilirik arlojinya yang sudah barang tentu tidak menunjuk
readmore Kelimpungan
Siang sedikit berangin, membuat udara saat ini terasa begitu sejuk. Mestinya di cuaca seperti sekara
readmore Tidak Sendiri
Rama akhirnya menemukan kamar mayat rumah sakit daerah, tempat Arka dibaringkan setelah dua kali ber
readmore Benar Jane
Rama berlarian sepanjang koridor rumah sakit. Sementara kedua temannya menyusul di belakangnya. Sesu
readmore Jane POV
Duk! “Ah!” Aku benar-benar kaget. Beruntung air bag berfungsi baik, kalau tidak entahlah. Barangkali
readmore Salah Paham
Rama hanya ingin berbaring malas seharian ini. Dia baru bisa pulang semalam, usai memakamkan Arka di
readmore Sebimbang Ini
Teman-teman Lila sedang berbincang ringan, tidak ada keinginan untuk merusuh seperti biasa. Tenaga m
readmore Gadisnya
Rama bangun dengan rasa lelah yang masih melekat di badan, membuatnya malas beranjak meski mata suda
readmore Usaha Pertama
Rama tersenyum mengamati pantulan dirinya di cermin. Kembali mengelus rambutnya yang sudah rapi dan
readmore Kencan Sepihak
Jane tersenyum membalas lambaian Rama. Dan Rama, dadanya berdesir hanya sekedar melihat senyumnya pu
readmore Janji Kedua
Angin sore yang berhembus pelan memainkan rambut panjang gadis yang kini tengah duduk di depannya. R
readmore Lautan Kenangan
Tiger hanya bisa mengamati suasana hati yang bertolak belakang dari pemandangan di depannya. Satu pr
readmore Cewek Gila
Hujan deras yang mengguyur kota sejak sejam yang lalu tak menyurutkan dua pria yang datang dari arah
readmore Resah Yang Salah
Rama duduk menopang dagu. Tak lama beralih meluruskan kaki dan berdiri. Namun sejenak kemudian mereb
readmore Beda Kesenangan
Berbeda dengan Jane yang tengah menikmati hari tenangnya, Lila justru mengumpulkan sahabat-sahabatny
readmore Polos dan Lugu
Tiger masih duduk santai kala Jane kembali keluar kamar, dan melangkah menuju dapur dengan satu tang
readmore Kesempatan
Jane turun dengan enggan. Sementara Rama sontak menoleh ketika didengar dan dilihatnya mobil mendeka
readmore Tidak Baik-baik Saja
“Berpeganglah!” ucap Rama di antara deru suara motornya. Sementara Jane yang merasakan hembusan dingi
readmore Aku Baik Saja
Lila tak bergeming. Tatapnya masih lekat pada keduanya. Cara Rama menatap gadis itu, tawa mereka, ke
readmore Aku Baik Saja (2)
Pertarungan kecil itu kini menarik perhatian hampir semua pengunjung. Dan kebanyakan dari mereka men
readmore Sandiwara Sempurna
Jane terkikik pelan melihat tingkah Max yang berputar-putar sambil menggonggonginya. Itu sangat meng
readmore Kalah
Rama mengecek sekali lagi tumpukan berkasnya. Dia mendesah. Ini hari terakhir pemberkasan untuk pemb
readmore Tidak Lain Kali
Sepanjang perjalanan pulang Jane diam, tak menyadari pula ketika Tiger beberapa kali melirik mengama
readmore Siapa Kamu?
Lila sudah serak karena terlalu banyak berteriak. Dan, masih akan berteriak ketika mengingat kejadia
readmore Diminta Bungkam
"Hei! Ini tempatku kalau kalian lupa!" tukas Lila menghentikan percakapan keduanya. Bagaimana mereka
readmore Teman Setia
"Baiklah, tidak perlu dijawab," putus Jane. Tiger hanya bisa melirik sambil menghela napas. Semestiny
readmore Ucapan Selamat
Jane keluar dari ruang sidang nyaris tanpa masalah. Terhitung sejak pertama pengajuan proposal skrip
readmore Ucapan Selamat (2)
"Sepertinya...dia hamil?" Dina bergumam heran. Kedua alisnya menyatu, membuat tampangnya benar-benar
readmore Meniti Masa Depan
Sebulan berlalu setelah Jane memutuskan untuk tidak mencampuri urusan mereka, Rama dan Lila. Meski k
readmore Rama
Dia masih berdiri di depan jendela kamarnya, menatap jauh ke depan. Meski tak lagi sering mengamuk d
readmore Bukan Keluargaku
Lila menanti dengan cemas. Sudah tak terhitung berapa kali dirinya mondar mandir di ruang kos Rama.
readmore Cukup Tahu
Sementara Rama sibuk menghindari Lila dan Lila sibuk mengikat Rama untuk mempertegas hubungan mereka
readmore Berani
Di sepanjang koridor panjang yang lengang, ketukan sepatu yang beradu dengan ubin menjadi satu-satun
readmore Max Menjadi Korban
"Maaf," ucap Jane lirih, benar-benar menyesali kekonyolannya. Tiger melirik sekilas, lantas menggelen
readmore Langkah Beracun
"Aku harus pulang," gumam Dina, melirik canggung Jane. "Kenapa?" tanya Jane. Meski cukup pelan menyel
readmore Orang yang Sama
Tak disangka semua berjalan dengan lancar. Dina baru saja keluar dari ruang sidang skripsinya. Dia m
readmore Dugaan (1)
Tiger mengamati Jane dari atas ke bawah, mengulanginya dari bawah ke atas, bahkan mengitarinya yang
readmore Tekad Yang Sama
Kali ini Bos tidak melempar foto target seperti biasanya. Setelah membentangkan sebuah peta, dia men
readmore
kerja bagus
06/03
0bagus
28/02
0ini bagus ceritanya
04/11
0keren
23/08
0keren
09/06
0bagus bngett sumpah
22/05
0Bagusss
26/04/2025
0kereeen
25/04/2025
0bagus
16/04/2025
0Bagus banget kakk
20/03/2025
0