logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Part 4 Ipar toxic

Part4 -
Kukembalikan suamiku pada saudaranya
Jika tidak ada pesanan nastar seperti sekarang ini, kegiatan Mela sehari-hari hanya mengurus rumah dan anak-anak. Kadang ia merasa bosan. Dalam hati ingin bekerja, akan tetapi tidak tega meninggalkan buah hatinya.
Apalagi sejak mereka menikah, Herman sudah melarangnya bekerja. Mela boleh melakukan apa saja yang menghasilkan uang asal tidak meninggalkan rumah dan anak-anak, begitu kata Herman. Dan sebagai seorang istri tentu saja Mela patuh untuk menjadi Ibu Rumah Tangga seutuhnya sesuai keinginan suaminya.
Terkadang Mela merasa suaminya terlalu posesif, karena untuk hal-hal sepele pun Herman tidak memberi ijin. Ingin bergabung dalam kegiatan ibu-ibu PKK, tidak diperbolehkan. Lalu ketika ustadzah Fatimah meminta Mela untuk bergabung di grup hadrah, suaminya itu juga tidak mengijinkan. Bahkan datang ke pengajian pun, seandainya meminta ijin terlebih dahulu pasti tidak diperbolehkan.
Adakalanya Mela tidak peduli. Dia merasa bahwa ia adalah mahluk sosial yang butuh untuk bersosialisasi dengan sesama. Selama kegiatannya itu bermanfaat dan tempatnya juga tidak terlalu jauh dari rumah, maka ia akan tetap berangkat. Hanya saja, untuk kegiatan di sore dan malam hari Mela sengaja membatasi. Karena ia sadar, sore dan malam adalah waktu untuk suaminya.
Herman juga tidak suka jika istrinya itu berhias. Pernah dia cemberut selama berhari-hari saat mendapati Mela memakai baju baru atau setelah memotong rambut. Padahal anggaran untuk berhias atau membeli baju didapatkan perempuan itu dari hasil menerima pesanan nastar.
Selama 13 tahun pernikahan, Hermanlah yang memegang kendali keuangan. Mela hanya diberi uang untuk biaya makan sehari-hari, untuk membeli beras sekaligus lauk. Sedangkan kebutuhan lain seperti air, listrik, biaya sekolah anak, dan kebutuhan lain-lain Herman yang mengaturnya.
Sebenarnya, dulu pernah keuangan dipegang oleh Mela. Karena Herman sangat perhitungan dalam mengeluarkan uang, perempuan berwajah manis itu meminta pada suaminya agar ia yang mengatur keuangan. Setelah perdebatan yang cukup alot akhirnya Herman menyetujui.
Akan tetapi, hampir setiap hari suaminya itu menanyakan jumlah tabungan mereka. Untuk apa saja uang dikeluarkan, juga sering menyindir-nyindir Mela yang katanya enak-enakan tiduran di rumah sementara Herman bekerja keras. Akhirnya hanya dalam waktu beberapa bulan Mela menyerah. Diserahkannya kembali pengendalian keuangan ke tangan imamnya itu.
"Hidup jangan boros-boros, lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan," begitu kata Herman berulang kali. Namun, terkadang untuk pengeluaran penting seperti membayar iuran sekolah atau membeli peralatan sekolah yang sudah rusak, Herman sangat sulit dimintai uang. Itulah yang membuat Mela bertekat ingin bekerja. Dia sudah lelah bertengkar mengenai masalah uang dengan suaminya itu.
Dengan uang hasil orderan nastar dari Bu RT kemarin, Mela berencana membeli krayon untuk Seruni, tas sekolah untuk Reno juga beberapa perawatan wajah untuk dirinya sendiri. Jika meminta semua itu pada suaminya, pasti hanya akan menimbulkan pertengkaran. Iuran sekolah Reno saja sudah dua bulan belum dibayarkan, padahal bukan karena sedang tidak punya uang, akan tetapi memang Herman sengaja menunda-nundanya. Kadangkala, Mela tak habis pikir dengan ulah suaminya itu.
Yang paling membuat Mela sedih adalah perlakuan Herman terhadap Reno. Jarang sekali Herman memperlakukan anak lelakinya itu dengan penuh kasih sayang. Padahal Reno adalah anak yang pintar, tidak neko-neko, tidak pernah menuntut dibelikan ini itu. Juga tidak pernah membantah jika dimarahi. Reno juga anak yang patuh dan penyayang.
Seharusnya sebagai ayah, Herman bersyukur memiliki anak sebaik Reno. Bukan malah mengintimidasinya dengan kata-kata kasar dan kemarahan yang kadang-kadang tidak beralasan. Beruntung Reno bukan anak pendendam. Kadangkala Mela heran, terbuat dari apa hati Reno. Seringkali setelah dimarahi Ayahnya sedemikian rupa, ia sudah bersikap biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Seperti siang tadi saat pulang sekolah, anak lelakinya itu masuk ke rumah sambil bersenandung. Lalu dengan penuh keceriaan ia menyapa Mela juga menyapa adiknya kemudian menceritakan teman-teman sekolahnya. Tidak ada kesedihan yang menggambarkan ia habis dimarahi Ayahnya pagi tadi. Hanya saja, Mela memperhatikan akhir-akhir ini Reno sedikit pendiam jika malam tiba, jika ayahnya ada di rumah.
Dering ponsel membuat Mela menghentikan aktivitasnya menyetrika pakaian. Diraihnya benda persegi itu, begitu melihat nama Muti terpampang di sana segera ia menggeser layar untuk menjawab.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikum salam. Mbak Mela ... aku mau ngomong," jawab Muti, terdengar agak ketus.
"Ya, ada apa, Mut?"
"Mbak ... Mbak ngapain, sih, ngelarang-ngelarang Mas Herman buat ketemu adik-adiknya?"
Terkesiap Mela mendengar kata-kata Muti, dahinya mengernyit. Ia teringat pesan Muti di gawai Herman tadi malam. Berusaha bersikap tenang, perempuan dengan rambut digelung ke atas itu hanya diam, menunggu kelanjutan adik iparnya berbicara.
"Itu namanya memutus tali silaturahmi antar saudara, Mbak ... dosa! Mbak ini katanya ngerti agama, sering ikut pengajian. Masa nggak ngerti, sih?! Lagian Mbak ini aneh, orang kok nggak seneng kumpul-kumpul sama saudara. Sejelek-jeleknya saudara ... saudara tetap saudara, Mbak. Kalau ada apa-apa sama kita, tetep saudara yang bakalan paling direpotin!" pungkas Muti.
Baru saja Mela akan membuka mulut untuk berbicara, suara Muti terdengar lagi.
"Jangankan satu minggu, tiap hari ketemu saudara nggak akan bosen kalau aku, Mbak. Akan selalu ada rasa kangen untuk ketemu lagi dan lagi. Akan selalu ada hal-hal seru yang diomongin kalau lagi ngumpul sama saudara, Mbak! Dan asal Mbak tau, ya, Mas Herman itu seneng banget kalau ketemu saudaranya. Mungkin karena dia sudah nggak punya orangtua, jadi keluarganya, ya, kami ini," cerocos Muti panjang lebar.
Begitu adik iparnya itui diam, Mela menghela napas panjang. "Bismillah." Sebelum berbicara disebutnya nama Tuhan.
"Mas Herman ngadu sama kamu? Perlu kamu tahu, ya ... Mbak marah karena Mas Herman berbohong. Tidak ada istri yang tidak marah dibohongi suaminya. Dan kalau kamu bilang Mbak nggak suka kumpul-kumpul, kamu telat, Mut. Apa pernah Mbak nggak hadir dalam perkumpulan kalian? Baru tadi malam, kan? Dan Mbak sudah bilang kalau lagi tidak enak badan. Tolong hargai Mbak, Mut. Coba kamu pikirkan, kamu sudah WA Mbak dan sudah tau nggak bisa datang, kenapa kamu masih WA mas Herman menyuruhnya datang. Apa itu etis? Pikirkan! Kita ini sama-sama menantu perempuan, kalau ada apa-apa seharusnya kamu WA ke mbak bukan ke mas Herman." tandas Mela.
"Maksud Mbak, apa?! Aku sudah menganggap Mas Herman kakakku sendiri, Mbak. Lagian Mas Herman bohong itu ada sebabnya. Karena kalau dia jujur pasti nggak akan Mbak ijinin. Mas Herman bilang urusan sama Mbak itu repot, jujur salah, bohong juga salah!"
"Tolong ya, Mbak, jangan ngekang-ngekang Mas Herman buat ketemu saudaranya. Besok liburan tujuh belasan kami berencana ke kebun binatang. Mbak kalau mau ikut monggo, nggak juga nggak pa-pa. Asalkan jangan larang-larang Mas Herman buat pergi! Sudah gitu aja, Mbak. Assalamualaikum,"
Klik. Telepon dimatikan.
"Allah ...." Mela menghela napas panjang, dadanya seperti mau meledak.
*To be continued

หนังสือแสดงความคิดเห็น (308)

  • avatar
    Rahmat ginanjar

    bagus alur ceritanya

    28/02

      0
  • avatar
    WahyuniYuni

    nangis banget ceritanya sampai menghayati banget🤭🤭 ... semoga ada kelanjutan ny..

    17/02

      0
  • avatar
    Annaznissa

    bagus lanjut lagi cerita nya

    07/02

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด