logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Part 22

Malam 22
Malam telah datang dan Malam sedang berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka lebar, menatap bulan yang sebentar lagi akan ambil posisi tepat di atas kepala.
Malam tersenyum dingin. Sesaat lagi dia akan menikmati lezatnya hati dan jantung Adan. Lalu menunggu tontonan yang akan menjadikan Sani pemeran utamanya.
"Sebentar lagi dan tenagaku akan semakin kuat," desis Malam.
*
Warung kopi Nus sudah tutup sejak setengah jam lalu. Tepat jam sebelas malam. Seharusnya dia sudah berada di dalam kontrakan, menemani Yanti yang tidur memeluk Anita.
Nus tidak bisa tinggalkan Awan dan Ibay yang berkunjung datang dan sedang asyik main catur. Apalagi kedua tamunya itu merupakan orang yang pernah memberikan budi baik padanya.
"Wan, kapan kamu mau temani aku ke Ciparuk?" tanya Ibay setelah seruput kopi keduanya.
"Abang yakin? Nanti kalau Malam kecantol aku gimana? Ya, selain diriku lebih muda dari Bang Ibay, aku juga lebih ganteng," goda Awan.
"Tapi kurang pengalaman, hehehe." Ibay tak mau kalah.
"Percuma, anak gadis itu butuhnya kata sakti ijab kabul yang diakhir teriakan sah. Kalau cuma janji palsu, mana bagus," sindir Nus.
"Eh, betul juga kata Kang Nus. Ya, udah. Besok mau ajak Babeh sama Nyak ke Ciparuk, deh!" Awan turunkan bidak raja nya ke bawah. Tanda dia sudah lelah bermain catur.
"Yakin? Mau kasih makan apa anak orang?" Ibay juga lakukan gerakan yang sama dengan Awan. Berhenti bermain catur yang ketiga kalinya malam ini.
"Makan daging matang lah, Bang. Masa iya daging mentah." Awan tertawa pendek.
"Gaya, kamu. Kerja juga nggak ada, usaha nggak punya," komentar Nus yang disambung tawa Ibay.
"Tenang, aku lagi usaha dekat sama Sang Pencipta, Kang. Semoga saja ada jalan buat jadi baik lagi. Memang sih belum ada hitungan bulan, tapi aku yakin usaha doa ku bakal sukses," jawab Awan percaya diri.
"Wah, kamu sudah berubah ya, Wan!" Ibay kasih dua jempol.
"Berubah jadi superhero ya, Bang? Tapi enaknya punya kekuatan apa, ya?" Awan usap dagunya.
Belum lagi tiba jawaban, datang lebih dulu tangis keras Anita.
Nus bangkit dengan wajah gelisah, dia takut ada apa-apa pada Anita. Dulu enggan merawat, kini sayang meraja dalam hatinya.
Awan dan Ibay tetap duduk diam di tempatnya. Jika Ibay terlihat biasa saja, beda dengan Awan yang menengok ke arah pintu rumah. Sorot mata Awan berkilat tajam.
*
Pos ronda kampung Ciparuk hanya memilik penghuni dua orang malam ini. Yana dan Cecep memanfaatkan terangnya lampu pos ronda untuk main catur, sambil menunggu Surna, Jaya dan Mul yang lagi keliling kampung.
"Kang ngerasa aneh nggak?" tanya Cecep yang menjalankan bidak kuda hitam miliknya dalam posisi memperkuat benteng pertahanan.
Cecep berhati-hati sekali, karena ini pertandingan ketiga dan dia sudah kalah dua kali dari Yana.
"Aneh apanya?" Yana belum lagi jalankan bidaknya. Masih berpikir mencari celah pertahanan yang bisa diterobos olehnya.
"Lebih dingin dari biasanya dan ada bau-bau bangkai. Jam berapa ya sekarang?"
"Noh, ada jam dinding, kenapa masih nanya?" Yana tunjuk jam dinding.
Cecep menengok ke samping kiri dan jam sudah berada di pukul dua belas malam lewat lima belas menit.
"Kang, bau bangkainya semakin kuat!" Cecep turun dari bale pos ronda dan berjalan sedikit menjauh dari pos.
"Eh, iya. Bangkai apa ya?" Yana yang mengendus-endus merasakan bau busuk mampir ke hidungnya.
"Hihihi!"
"Setan!" Cecep menunjuk ke arah genteng pos ronda, lalu jatuh pingsan dengan celana sedikit basah.
Yana tidak sempat melihat setan yang ditunjuk Cecep. Karena setan itu terbang melarikan diri.
Setan itu Malam yang terbang pulang setelah melakukan aksinya. Dia sengaja mampir ke atas pos ronda untuk sekedar menggoda.
Kasihan Cecep yang harus melihat Malam berdiri melayang dengan rambut kasar tergerai, mata besar dan wajah pucat Malam yang dipenuhi noda darah di bagian mulut, membuat penampilan Malam semakin seram.
Mata Cecep tak kuat menatap lama-lama Malam, hatinya terlalu takut hingga menyuruh otaknya untuk hilangkan tenaga di kedua lututnya. Belum berhenti di situ, otaknya pun menyuruh air seninya untuk keluar membasahi celananya.
*
Tepat jam dua belas malam, Malam telah berubah wujud menjadi setan sesuai syarat yang diberikan Sabda.
Malam terbang keluar melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Tubuhnya yang tertutup jubah putih dengan rambut lebih panjang, terbang melintasi langit menuju satu arah, rumah Adan.
Tidak butuh waktu lama bagi Malam untuk terbang turun dan berdiri melayang di depan sebuah jendela kayu. Jendela kamar Adan.
Bau tubuh Adan yang membawa Malam bisa menemukan letak kamar Adan.
Sementara itu di dalam kamar, Adan terlihat gelisah. Matanya terpejam, lalu terbuka. Begitu saja sejak sepuluh menit yang lalu. Keringat membanjiri tubuhnya. Padahal udara yang masuk melalui lubang udara kamarnya cukup dingin. Hanya saja, dia merasa kegerahan.
Adan dilanda badai rindu itu lebih tepatnya. Dia merindu Malam yang sebelumnya sangat diharapkannya malam ini. Dari pagi tadi, dia bayangkan bisa bersama Malam duduk di bawah sinar purnama. Berkata mesra, berbisik menggoda. Dia berandai-andai Malam duduk menopang dadanya dan rambut wangi Malam bisa sepuasnya dia hirup.
Tapi ada Sani yang menjadi penghalang, ini yang bikin kesal Adan.
Lalu juga masalah tadi sore, di mana Adan hampir kehilangan jari kelingking. Jika saja waktu itu Malam biarkan dirinya memberi bukti, dia tidak akan merasa sedih. Setidaknya dia bisa bersama Malam.
Terkadang cinta memang aneh. Ada saja pengorbanan tak masuk akal yang diberikan dengan alasan cinta. Padahal tak jarang bukti cinta yang diminta itu bukti yang merusak masa depan.
Seperti Adan yang bersiap kehilangan jari kelingking, menjadi orang cacat hanya demi membuktikan dia lelaki yang pantas bagi Malam. Bukti cinta yang diminta Malam.
"Huh! Ini semua karena Sani ikut campur!" Adan mendadak menyalahkan Sani.
Adan terus meloncat berdiri tidurnya. Dia tinggalkan ranjang dan menuju ke arah cermin yang menempel di lemari pakaian.
"Masa iya, wajahku yang tampan ini digagalkan sama Sani? Dasar dia, tidak tahu diri mau bersaing denganku. Harusnya dia mundur dan biarkan aku berbahagia bersama Malam!" umpat Adan kesal.
Adan tampak belum puas, dia buka mulutnya lagi untuk keluarkan semua unek-uneknya, menumpahkan rasa kesalnya, karena malam ini bisa dibilang hari liburnya bertemu Malam. Hampir selama sebulan ini, dia selalu bertamu ke rumah Sabda bertemu Malam dan lagi-lagi Sani ikut serta.
Hingga mendadak Adan terdiam. Dia pasang telinganya lebar-lebar.
"Kang Adan."
Adan korek lubang telinganya yang tak percaya, ada suara Malam di dekatnya. Tepatnya di depan jendela kamar.
"Kang Adan, ini aku Malam. Aku rindu padamu, Kang!"
"Malam? Apa benar kamu di dekat sini?" tanya Adan belum mau percaya.
"Buka saja jendela kamarmu, Kang!"
Adan tersenyum lebar, selebar langkahnya yang bergerak ke arah jendela kamar.
Dengan gerakan cepat yang menandakan dirinya tak sabaran, Adan buka kunci jendela kamarnya.
"Malam," panggil Adan mesra, tapi berikutnya.
Suara jatuhnya Adan ke lantai kamar terdengar cukup ramai. Seiring wajah pucat dan matanya yang melotot melihat sosok setan perempuan di depannya.
Malam yang telah berubah wujud ke bentuk aslinya itu telah berada di dalam kamar. Dia sengaja menyuruh Adan membuka jendela kamar, agar menjadi kejutan istimewa bagi si pemuda yang telah menjadi teman bicaranya beberapa waktu ini.
"Se... seram....."
"Hihihi, kenapa tidak berkata setan?" goda Malam pada Adan yang baru saja mengucap lirih kata 'seram'.
Adan tidak menjawab untuk beberapa waktu, karena matanya terpaku pada kuku tajam Malam yang telah berada di depan matanya.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (63)

  • avatar
    Darl Ki

    Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌

    21/05/2025

      1
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    20/02/2025

      0
  • avatar
    kaylaaa

    sukaaa bgtttt😋🔥

    25/11/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด