logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Part 21

"Siapa?" tanya Adan dan Sani berbarengan.
"Kalau aku bertanya, aku butuh bukti pengorbanan kalian, apa kalian mau tunjukkan itu?" Malam tersenyum penuh misteri.
"Aku siap!" jawab Adan cepat.
"Hahaha, aku juga!" Sani tak mau kalah.
Tangan Malam bergerak ke belakang, saat tangan itu kembali ke depan, tergenggam pisau tertutup sarung.
Malam telah siapkan pisau sebelumnya, saat kedua pemuda di depannya datang tepat waktu, sesuai perjanjian kemarin malam.
Pisau dicabut Malam, berkilat sinar tajam begitu badan pisau terlihat mata Adan dan Sani.
"Potong salah satu jari kalian!"
Malam dengan tenang menaruh pisau yang telah terlepas dari sarungnya ke atas meja. Senyumnya dingin, matanya menyorot aneh.
Adan dan Sani kaget dan ngeri mendengar permintaan Malam. Mereka saling menatap, seakan bertanya siapa yang mau korbankan jari untuk Malam.
"Hihihi, semua laki-laki sama saja, hanya berkata siap di mulut, tapi saat diberikan tantangan, ketakutan dan ragu. Buat apa aku bersama pria pengecut!" sindir Malam.
"Aku berani!" Sani terkena jerat sindir Malam.
Tetapi Sani kalah langkah sama Adan.
Tangan Adan telah lebih dulu terulur mengambil pisau. Dia berdiri dengan sorot menantang Malam, lalu tanpa banyak bicara dia ayunkan pisau ke arah kelingking kiri.
Sani menutup mata, tak siap melihat darah muncrat dan potongan jari Adan.
Ketika terdengar bunyi jatuhnya benda ke lantai, Sani baru membuka mata. Dilihatnya Adan dan Malam berdiri dengan kedua mata saling bertukar pandang. Tangan Malam memegang tangan Adan.
"Kenapa ditepis?" tanya Adan.
Sani pun mengerti apa yang sedang terjadi.
Ketika Adan mulai ayunkan pisau dan Sani menutup mata, Malam bergerak menepis pisau hingga jauh terpental dan menangkap tangan kanan Adan.
Adan tidak menyangka, Malam mempunyai tenaga yang besar dan kuat.
"Cukup, aku tidak butuh jarimu lagi!" Malam lalu lepaskan tangan Adan.
"Kalau begitu, apa aku yang terpilih?" tanya Adan penuh harap.
Malam tidak berkata apa-apa, karena dia sedang berjalan untuk mengambil pisau yang terbaring di lantai teras. Sarung pisau tidak lupa dibawanya.
"Malam, apa aku yang terpilih?" desak Adan dengan suara sedikit lebih keras.
"Hahaha, belum tentu. Bisa saja aku yang terpilih!" ejek Sani tanpa tahu malu. Dirinya terus saja berdiri dari duduknya.
Adan menengok ke belakang dengan sorot tak suka, lalu telunjuknya mengarah hidung Sani.
"Jangan mimpi! Kamu kan hanya bicara siap, beda denganku yang hampir saja kehilangan jari kelingking!" Adan tunjukkan jari kelingking kirinya.
"Hampir bukan hilang, kan?" Sani tertawa kecil.
"Kamu...."
"Aku tidak akan pilih salah satu dari kalian. Pulang saja sana!" ucap Malam memotong ucapan Adan.
Malam telah mengambil pisau dan memasukan ke dalam sarungnya lagi.
"Kenapa?" tanya Adan tidak percaya.
"Karena kalian terlihat ragu. Kalau benar mau berkorban untukku, seharusnya kalian cepat bergerak, tidak perlu saling menatap lebih dulu. Pergi kalian dan jangan temui aku lagi!" bentak Malam.
Adan dan Sani terdiam. Mereka bergeming dan hanya bisa melihat Malam masuk ke dalam rumah.
Begitu suara pintu terbanting, barulah kedua pemuda itu sadar dari sikap patung mereka.
"Kamu biang kerok!" umpat Adan, lalu berjalan pergi.
"Hei, apa kamu bilang?" Sani mengejar Adan.
*
Di balik pintu rumah, Malam tersenyum dingin. Dia telah berhasil mainkan perannya yaitu membuat Adan dan Sani berpikir, dia tidak memilih satupun dari kedua pemuda itu. Ini untuk menghindari kecurigaan warga pada dirinya.
Meski Sabda bisa menahan pemuda lain untuk tidak berkunjung ke rumah, selain kedua pemuda yang baru saja pergi, bukan berarti warga Ciparuk tidak kenal Malam.
Kabar tentang Sabda punya anak angkat sudah beredar dan sebagian pun sudah melihat Malam, terutama mereka yang datang ke rumah duka Asep, hari di mana Malam bertemu mata dengan Adan dan Sani, hingga berlanjut kedatangan keduanya ke rumah Sabda.
"Adan, Sani... bersiaplah kalian nanti malam, karena aku akan hadir untuk kalian. Hihihi."
*
Warga kampung Ciparuk heboh, karena sore menjelang malam yang tenang pecah. Penyebabnya Adan dan Sani bertengkar mulut dan sempat beradu tangan, sebelum Jaya yang kebetulan berada di dekat mereka memisahkan.
Namun Jaya yang berusaha memisahkan itu hampir saja gagal, kalau bukan Yana dan Surna yang sedang melintas jalan di depan rumah Sabda ikut membantu.
"Kalian berdua kenapa?" bentak Surna pada Adan dan Sani.
Mereka berlima masih berada di pinggir jalan depan rumah Sabda.
"Surna, jangan di sini! Ingat ini dekat dengan rumah Ki Sabda, kalau dia merasa terganggu karena kita, akan bahaya!" ucap Yana.
"Terima kasih Kang Yana, sudah ingatkan aku. Ayo, kita pergi dari sini!" ajak Surna.
Yana dan Jaya pun menggusur Adan dan Sani untuk segera pergi menjauh.
Pos ronda menjadi pilihan untuk mendengar pengakuan Adan dan Sani, alasan apa yang membuat pertengkaran terjadi.
Beberapa warga yang melihat di pos ronda sedang ada keramaian, pun ikut bergabung.
"Kenapa kalian berdua seperti anak kecil rebutan mainan?" tanya Surna sambil menatap Adan dan Sani.
"Bukan itu aja, Kang! Adan kan udah kedua kalinya, nih. Bulan lalu kan sama Bang Ibay." Mul yang baru datang ikut nimbrung.
"Masa itu udah lewat, Mul! Lagian aku udah baikan sama Bang Ibay. Tapi kalau sama Sani, emoh aku!" Adan melirik Sani.
"Hahaha, kalau aku sih bebas aja. Bukan pendendam soalnya," sindir Sani.
"Kamu nuduh aku pendendam?" Adan menengok dan menunjuk ke arah Sani.
Keduanya saat itu duduk di tepi bale pos ronda, sementara yang lain berdiri di depan mereka berdua.
"Tak perlu main tunjuk!" Sani tepis jari Adan.
"Hahaha, mengaku tak pendendam, tapi tak mau ditunjuk. Sama saja kamu seperti aku!" ejek Adan.
"Jaga mulutmu!" Sani berdiri.
Adan ikut berdiri.
"Duduk kalian!" bentak Yana yang didukung sorakan yang lain.
Adan dan Sani pun duduk dengan muka merah.
"Kalian ini punya telinga tidak? Ditanya kenapa kalian ribut, malah jawabannya ngelantur!" ulang Surna.
"Salahkan Mul tuh, Kang! Provokator dia!" umpat Adan.
"Loh, kok aku kamu bawa-bawa?" Mul melotot pada Adan.
"Kamu kan yang mulai ungkit masa lalu, kalau mulutmu tidak lemas, ngapain juga ngomong yang sudah lewat," ungkap Adan.
Mul mau menjawab, tapi Yana menahan dirinya, pun Jaya lakukan hal yang sama.
"Kami ribut karena beda pendapat saja Kang," ucap Sani yang ingin cepat pulang karena awal malam mulai turun.
"Betul, Kang. Kami cuma beda pendapat duluan mana telor apa ayam?" Adan ikuti gaya Sani.
"Pastinya duluan telor, dong!" Sani dengan pintarnya menjawab ucapan Adan.
"Tidak bisa, harus ayam dulu. Kalau tidak ada ayam, mana bisa ada telor," bantah Adan dengan suara keras.
"Ayam itu berasal dari telor. Jadi ya harus telor lebih dulu," ralat Sani.
"Sudah, berhenti!" bentak Surna.
Adan dan Sani menutup mulut, tapi mereka sempat sama-sama melirik, seolah berbicara kalau akting mereka sempurna.
Ya, mereka berdua malu kalau berbicara di depan umum secara terus terang, pertengkaran hanya karena seorang Malam. Karena mereka berdua masih berharap cinta Malam.
"Payah, lah. Cuma gara-gara telor apa ayam bertengkar mulut dan bikin heboh warga. Bubar, bubar azan mau datang!" seru seseorang bapak.
Semua orang bubar, kecuali Surna, Yana, Mul, Jaya dan Adan serta Sani.
"Kalian berdua saling memaafkan dan lupakan masalah tadi. Jangan biarkan tali persaudaraan kita sebagai warga Ciparuk terputus hanya karena masalah ini!" pinta Yana yang paling tua di antara mereka yang belum bubar.
Adan dan Sani mengiyakan, lalu saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Aku sarankan, jauhi Malam. Dia punyaku!" bisik Adan.
"Terima kasih kalau kamu mau pergi jauh dan serahkan Malam untukku," balas Sani lebih tajam

หนังสือแสดงความคิดเห็น (63)

  • avatar
    Darl Ki

    Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌

    21/05/2025

      1
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    20/02/2025

      0
  • avatar
    kaylaaa

    sukaaa bgtttt😋🔥

    25/11/2024

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด