logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Test DNA

Halo, Assalamualaikum.
Mohon maaf, ya. Mamak baru nongol setelah hampir sebulan.
Yuk, dilanjut. Jangan bosen² ya!
"Sesuai perintah Bapak, saya sudah serahkan semua sampel kepada pihak rumah sakit, Pak. Untuk proses mungkin memerlukan waktu cukup lama untuk mendapatkan hasil yang akurat," ujar Pak Yatno, rekan Fathir yang dimintai tolong melakukan tes DNA.
"Nggak papa, saya paham. Terima kasih banyak untuk bantuannya. Jangan sungkan hubungi saya kapan pun jika memang itu diperlukan," kata Fathir mantap.
"Siap, Pak. Laksanakan!" Pak Yatno pamit undur diri setelah melaporkan hasil pekerjaannya.
Fathir memijit keningnya perlahan, rasa lelah karena memikirkan tes DNA hampir menguras seluruh tenaganya.
Setelah mengemasi berkas dan laporan, Fathir bergegas pulang ke rumah. Ia rindu dengan baby Zhue, entah kenapa, secapek dan selelah apapun dia, akan mereda setelah melihat teduhnya tatapan baby Zhue. Bayi yang belum genap berusia 2 bulan itu sanggup mengambil separuh jiwa Fathir.
Sesampainya di rumah, Fathir bersiap mandi dan berganti pakaian, baru menggendong baby Zhue.
Luna sedang asyik memoles kukunya sambil bersenandung kecil.
"Loh, Mas, kapan pulang?" tanyanya santai.
Fathir tak menjawab pertanyaan Luna, ia memilih menimang baby Zhue sambil bercanda.
Luna melirik sekilas ke arah Fathir, lalu melanjutkan meniup kukunya yang dicat berwarna maroon.
"Besok ada giat. Tolong datang dengan sopan, jangan malu-maluin aku," kata Fathir seraya menidurkan baby Zhue.
"Siap, Sayangku, malu-maluin kenapa? Katamu aku cantik 'kan? Aku akan berdandan cetar untuk hari esok, pasti rekanmu akan memujiku," ujar Luna dengan bangga.
Fathir bergeming, ia sama sekali tak mengindahkan celoteh istrinya.
***
Pukul 05.00 tepat, Luna sudah selesai mandi. Ia mengenakan seragam khas istri abdi negara, memoles wajahnya dengan riasan natural, rambutnya yang indah ia tata ala pramugari, tak lupa menyemprotkan sedikit hair spray untuk merapikan tatanan rambutnya.
Luna tampil sempurna, aura kecantikannya tampak tegas dan berwibawa dengan balutan seragam berwarna merah jambu.
"Gimana? cantik 'kan, Mas?" tanya Luna memutarkan badannya dengan centil ke arah Fathir.
Fathir menatap Luna cukup dalam, hingga tersadar akan sesuatu.
'Andai saja pertanyaan itu kau lontarkan sebelum melakukan kesalahan fatal, tentu dengan bangga aku akan memujimu, karena kamu memang cantik dan indah, selalu membuatku terpesona,' batin Fathir.
"Kok ngelamun? Hayo mbayangin enak² sama aku, ya?" ujar Luna mengerlingkan mata.
Fathir melotot tak terima, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sudah pasti ia mengakuinya.
"Ayo berangkat, nggak usah GR!" Fathir bergegas menaiki mobil, disusul oleh Luna.
Sesampainya di kantor, acara belum dimulai. Banyak orang berlalu-lalang menikmati acara, Luna memilih duduk di kursi bagian tengah sembari memainkan ponsel.
"Kamu diem di sini dulu, ya. Aku maj laporan bentar. Inget, jangan malu-maluin!" perintah Fathir sebelum beranjak meninggalkan Luna.
Luna hanya tersenyum mengiyakan.
"Duh bosen banget, mending aku bikin konten, deh!" lirih Luna.
Semenjak melahirkan, Luna memang senang membuat konten menyanyi atau menari di beberapa aplikasi yang sedang naik daun.
Seperti kali ini, Luna membuka aplikasi tik-tok di ponselnya, mencari pose yang pas. Setelah memilih efek dan lagu, Luna bergerak dengan lincah tanpa memperhatikan sekitar.
'Pak cepak cepak jeder! Pak cepak cepak jeder!' 
Luna terus saja berjoget mengikuti gerakan yang ada di ponselnya, dengan luwes ia menari meskipun dalam balutan seragam.
Luna sudah berhasil meng-upload beberapa konten, namun tak kunjung membuatnya berhenti malah semakin menjadi-jadi.
'Coba yang ini, deh. Terakhir lagu ini,' selalu seperti itu ucapannya ketika ingin mengakhiri sesi menari.
'Awak dewe tau nduwe kenangan besok, yen wes omah-omahan ....'
Pluk!
Satu tepukan di bahunya membuat Luna menoleh, Fathir menatapnya tajam, matanya mengisyaratkan agar ia segera mengakhiri kontennya dan duduk manis di tempat semula.
Luna mengambil ponsel yang ia sandarkan di kursi lain. Bibirnya mengerucut sebal, karena Fathir mengganggu aktifitasnya.
Tanpa Luna sadari, banyak pasang mata memperhatikan aksi Luna barusan, mereka sibuk berkasak-kusuk sambil sesekali tertawa, menyayangkan sikap Luna barusan.
Hampir semua mata memandang aneh ke arah Luna, mereka menatap Luna tersenyum sambil berbisik-bisik.
"Apa, sih? Gitu aja diomongin, dasar kampung#n!" Luna geram karena tiba-tiba menjadi bahan gunjingan.
Acara giat dimulai, mereka semua berbaris rapi dengan pasangan masing-masing.
Untuk susunan acara yang pertama ada apel sejenak, Luna berdiri di samping Fathir sembari mendengarkan amanat dari Pembina.
Tidak ada semilir angin yang berhembus membuat Luna sedikit gerah. Keringat mulai bermunculan di dahi Luna, ia mengipas-ngipaskan tangan ke arah wajah, membuat siapapun yang dekat dengannya merasa tak nyaman.
Fathir geram akan tingkah Luna yang menurut Fathir sudah kelewatan. Bagaimana mungkin di acara sepenting ini Luna malah bertingkah dengan absurdnya diiringi mimik wajah tanpa dosa.
Setelah apel selesai, acara dilanjutkan dengan seminar, penyampaian beberapa materi yang terlihat agak santai.
Hal itu membuat Luna senang, ia sibuk memainkan ponsel tanpa mempedulikan sekitar.
"Mas, panas, ya!" ujar Luna menatap manja ke arah Fathir, sedangkan Fathir hanya diam, sibuk memperhatikan pemateri.
"Duh, aku nggak kuat. Aku tunggu di mobil aja boleh, nggak, sih, Mas?" kata Luna sedikit keras.
Hal itu membuat Fathir naik pitam, ia meraih tangan Luna dan meremasnya dengan kuat.
Luna hanya meringis, tangannya sedikit sakit. Namun, senyum manis tiba-tiba mengembang dari bibir ranumnya.
"Mas bisa aja, deh. Modus, ya, mau pegang tanganku, gitu aja malu. Kita 'kan suami istri, Mas? Mas Fathir mau pegang apa aja halal, kok, Mas. Boleh!" perkataan Luna benar-benar membuat Fathir muak.
Fathir menahan sekuat mungkin agar tak terpancing emosi di saat seperti ini.
Setelah acara selesai, Luna bergegas masuk ke dalam mobil. Ia tak ingin berkenalan atau berkumpul dulu dengan ibu-ibu lainnya.
Beberapa orang memandang sinis ke arah Luna, mereka menganggap Luna tipe wanita yang sombong.
"Udah aku bilang 'kan, Lun. Jangan malu-maluin," kata Fathir sembari memakai seat belt.
"Lah? Malu apa, aku cuma ngonten dan itu biasa aja, kali, Mas. Mereka aja yang norak, mana tahu kalo sekarang musimnya ngonten di tik-tok. Siapa tahu setelah ini aku jadi viral, terus terkenal. Kamu juga seneng 'kan pastinya?" ujar Luna sembari merapikan rambutnya yang mulai berantakan.
Fathir tak merespon ucapan Luna, ia sedang malas berdebat dengan wanita bebal di sampingnya.
Di tengah perjalanan, kembali Luna beraksi. Dengan memakai kacamata hitam dan masih berseragam, Luna menggerakkan tangan dan kepalanya ke kanan dan ke kiri, sesekali badannya ikut meliuk-liuk dengan posisi duduk. Fathir hanya menghela napas kesal.
Sesampainya di rumah, Fathir bergegas mandi untuk menjernihkan pikiran. Emosinya berhasil memuncak drastis hari ini karena ulah Luna.
Selesai mengenakan pakaian, Fathir membuka ponselnya. Ada satu panggilan tak terjawab dari Pak Yatno.
Fathir segera menghubungi Pak Yatno kembali, takut ada suatu hal yang penting.
 Hingga deringan kesekian kali, Pak Yatno tak kunjung menjawab panggilan Fathir.
Seketika Fathir merasa resah, gundah dan gulana. Ia penasaran untuk apa Pak Yatno menghubunginya, tentu saja untuk membicarakan perkembangan tes DNA yang dilakukannya. Fathir berjalan mondar-mandir hingga cukup lama.
Luna yang sedang berjalan menuju kamar mandi, melihat Fathir yang tampak bingung di ruang tamu.
"Kenapa, Mas? Kok resah gitu?" tanya Luna.
Fathir hanya menggelengkan kepala, malas menyahut pertanyaan Luna.
"Oh aku tau!" seru Luna tiba-tiba.
Fathir menatap Luna bingung, isyarat matanya mengatakan 'apa?'
Luna mengerlingkan mata manja, berjalan pelan ke arah Fathir.
Cup!
Satu kecupan singkat di pipi Fathir membuat pria itu memanas.
Wajah Fathir merah seketika, ia tak siap mendapat perlakuan seperti itu dari Luna.
"Aku tau kamu butuh kehangatan, mau nyalurin? Yuk, dengan senang hati!" Luna menaik-turunkan alisnya menggoda Fathir.
Wajah Fathir kembali memerah, merasa kesal.
"Nggak waras kamu!" Fathir beranjak pergi meninggalkan Luna yang tersenyum menggoda.
Fathir tidak ingin tergoda, bagaimana pun ia seorang lelaki normal. Apalagi memang sudah lama ia tak menyalurkan hasrat lelakinya, semua itu gara-gara tingkah laku Luna. Sehingga membuat Fathir enggan untuk menyentuhnya.
Andai saja Luna tak mengkhianatinya, tentu saja saat ini mereka pasti hidup bahagia, dengan kehadiran baby Zhue tentunya.
Ponsel Fathir bergetar, Pak Yatno kembali menghubunginya.
"Gimana Pak? Ada perkembangan?" tanya Fathir antusias.
...
"Oh, gitu. Oke saya tunggu secepatnya kabar baiknya. Minggu depan, ya?" Fathir terlihat agak tenang.
...
"Baik, terima kasih banyak. Waalaikumsalam," ujar Fathir mengakhiri panggilan.
Luna mengintip dari balik jendela, wajahnya terlihat penasaran.
'Apa Mas Fathir jadi, ya, melakukan tes DNA? Tapi dimana?' Luna bertanya-tanya dalam hati.
Sebelum Fathir masuk ke dalam rumah, Luna segera beranjak, menuju ke kamar. Berpura-pura rebahan di samping baby Zhue.
Sejak melahirkan, Luna jarang sekali mau memperhatikan atau merawat baby Zhue, padahal bayi mungil itu murni putri kandung yang terlahir dari rahimnya. Tapi, Luna sepertinya tak suka.
Luna bahkan tak peduli dan tetap melanjutkan tidurnya tatkala baby Zhue menangis meminta susu atau digantikan diapersnya.
Luna memang sekejam itu, ia sama sekali tak mempunyai jiwa keibuan.
Ibu lah yang sering kali merawat baby Zhue, dengan telaten dan cekatan ibu selalu mencurahkan semua kasih sayang untuk cucu laki-laki satu-satunya di keluarga.
Ditunggu next nya, ya!
Ini kisah masih panjang, di bab selanjutnya akan terbongkar hasil tes DNA. Anak siapa kira² ?
Yang jawabannya bener, berkesempatan dapat give away, ya!
Yuk dikomen!

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด