logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

Eh, kuwalat?

"Hah, percuma saja habis melahirkan tetep aja dicuekin, gak dianggap lagi! Kukira bakal dikasih surprise atau berlian, minimal mobil gitu. Dasar keluarga gak tau diri, kok ya gak punya rasa terima kasih gitu lho!" Rutuk Luna kesal dalam hati.
Luna merebahkan tubuhnya ke atas kasur, bersantai memejamkan mata. Ia tak menghiraukan gedoran Fathir di depan pintu kamar. 
********        ********        ********
"Oek …. Oekk …." Suara tangisan baby Zhue terdengar nyaring.
Luna menggeliat, menoleh sekilas ke arah samping dan menatap kesal bayi di sampingnya. Ia menutup telinganya menggunakan bantal.
Karena tangisan yang semakin kuat, Fathir mengetuk pintu kamar Luna henti.
"Buka, Lun! Kamu ngapain sih sampai baby Zhue menangis sekencang itu?" Fathir berteriak dari luar kamar. Tangannya tak henti mengetuk pintu kamar Luna, kali ini semakin intens dan nyaring.
Ceklek … drrttt …
Terdengar suara pintu dibuka dari dalam.
"Apa sih, Mas? Aku ngantuk, butuh istirahat. Ganggu banget sih!" Dengus Luna sambil mengucek mata.
Fathir bergegas masuk ke dalam kamar, diraihnya bayi mungil yang masih berusia beberapa hari itu dalam pelukannya, tak menghiraukan tatapan Luna yang seakan tak suka.
"Mau dibawa kemana, Mas?" Ujar Luna panik.
"Mending baby Zhue tidur sama ibu aja. Kasihan, ibunya stres," sahut Fathir asal.
Luna mendadak geram dengan ucapan Fathir baru saja.
"Maksud kamu? Aku stres?" 
"Terus apa namanya kalau bukan ibu stres? Membiarkan anaknya menangis hingga meraung-raung. Sadar dong, Lun! Kamu ini sudah menjadi ibu, lho. Kelakuan tetep aja minus," keluh Fathir sambil menenangkan baby Zhue yang masih menangis.
"Ada apa, Le? Baby Zhue kenapa? Kok sampai gitu nangisnya," celetuk ibu yang tiba-tiba sudah berada diantara mereka.
"Fathir gak tau, Bu. Dari tadi nangis terus, udah Fathir kasih susu tetep nangis," timpal Fathir terlihat frustasi. 
"Sini biar ibu cek diapersnya, mungkin baby Zhue risih." Ibu mengambil alih baby Zhue dalam dekapan Fathir, membawanya ke kamar dan menidurkannya.
"Pantes aja nangis terus. Nih, liat coba," ucap ibu menunjukkan diapers baby Zhue di hadapan Fathir dan Luna.
"Ish, jijik ah. Mana bentuknya lengket gitu, baunya kecut," kata Luna bergidik ngeri, ia menutup hidungnya dengan jari tangan, memandang jijik ke arah baby Zhue.
Fathir menatap Luna tajam, "Kenapa kamu? Sama pup anakmu aja jijik. Ibu macam apa kamu ini? Aku bener-bener nyesel udah nikahin kamu, Lun" 
Sontak, wajah Luna memerah karena ucapan Fathir. Luna menampakkan senyum terbaiknya untuk memikat kembali hati Fathir.
"Ya, maaf, deh, Mas. Luna kan baru pertama punya baby, wajar dong. Maklumin, ya?" 
Fathir hanya melengos mendengar suara Luna yang sengaja dilembutkan.
"Gak usah banyak drama deh. Dramamu tuh seperti nasi dua hari yang lalu, alias BASI!" Fathir melotot ke arah Luna.
"Uh, berubah banget sih kamu, Mas. Emang kamu gak kangen sama aku?" Luna mengedipkan sebelah matanya.
"Yang ada aku mual" Fathir bergaya seolah ingin muntah.
"Sudah, ah. Kalian ini suami istri tapi berantemnya seperti bocah. Apa ndak malu?" Sahut ibu sambil menggelengkan kepala.
***
Pagi ini terlihat cerah, matahari menyinari bumi dengan lembut. Suara ayam berkokok ikut menentramkan suasana.
Luna duduk di halaman seraya menggendong baby Zhue untuk berjemur.
Umik Dona yang melihat hal itu di samping rumahnya, bergegas menghampiri. Beliau membawa aneka buah dan segala pernak-pernik sabun bayi.
"Assalamualaikum …," salam Umik Dona.
"Waalaikumsalam …. Oh, Umik. Masuk aja, Mik. Pagarnya gak dikunci, kok," sahut Luna.
"Alhamdulillah akhirnya sudah lahiran. Aduh, gemes, ya. Cah ganteng ini, siapa namanya, Mbak?"
"Baby Zhuema. Panggil aja baby Zhue" Luna memasukkan dot ke mulut baby Zhue yang sedang terpejam.
"Wah, gantengnya! Lho, gak nyusu langsung, ya, Mbak?" Tanya Umik Dona.
"Nggak. Pakai botol aja lahap," jawan Luna sembari mengayunkan baby Zhue.
"Kenapa? Asinya seret ya? Memang wajar, Mbak. Dulu menantu saya juga begitu, tapi setelah rajin disusui ke bayinya, alhamdulillah langsung deres" Umik Dona terlihat antusias.
"Bukan gitu, Mik. Sayanya aja yang malas. Takut kendor, nanti suami saya gak cinta lagi, dong. Gimana?" Luna tersenyum lebar, memamerkan sederet giginya yang putih dan rapi.
"Astagfirullahaladzim …. " Umik Dona mengelus dada beristighfar.
"Memang bener, Mik. Sekarang kan jaman udah canggih, semakin maju. Dikasih susu formula juga nggak kalah bagus, Mik. Malah lebih banyak kandungan vitaminnya, gak repot buka susu kalau bepergian," celetuk Luna tanpa dosa.
"Tapi, ya, Nduk. Saran saya, kasih ASI aja biar anaknya sehat, imunnya kuat. Mending ASI kemana-mana. Susu formula semahal apapun gak ada yang gizinya selengkap ASI," jelas Umik Dona.
"Itu akal-akalan orang jaman dulu, Mik. Biar hidup hemat, pengiritan. Gak boros karena harus beli susu kaleng," sanggah Luna.
"Nah, itu juga kelebihannya ASI, gak perlu repot beli mahal-mahal. Tapi, ya, terserah. Balik ke pribadi masing-masing, ya. Saya hanya menyarankan saja. Karena hanya ASI yang gizinya paling lengkap" 
"Sama aja, ah, Mik. Susu formula juga gak kalah lengkap gizinya. Udah semakin modern ini jaman. Gak perlu susah-susah, kalau yang instan aja sudah gampang didapat."
"Iya …. Eh, ini baby Zhue lahir normal atau sc, ya?" 
"Alhamdulillah sc, dong Mik," sahut Luna bangga.
Umik Dona mengernyitkan kening.
"Kenapa? Sc itu sakitnya dobel, lho, Nduk. Butuh waktu lama buat pemulihan, kerasanya bisa seumur hidup. Banyak pantangannya kalau punya jahitan sc" 
"Iya lebih mudah sc dong, Mik. Kita tinggal tidur, bayi udah keluar. Gak perlu susah-susah ngeden, gak perlu capek nungguin pembukaan, gak perlu nahan sakitnya. Kalau sc mah gampil, dikasih obat ntar juga sembuh, apalagi obat china yang mahal, sebutir bisa jutaan. Dijamin top, jahitan langsung kering luar dalam. Kemarin aja Mas Fathir belikan aku obat mahal satu paket sampai puluhan juta. Terbukti kan? Sekarang aja badanku sudah pulih, gak sakit. Seperti orang yang belum lahiran," ucap Luna sedikit sombong.
"Iya, tapi kata menantu saya itu sakit sengkring-sengkring nya masih terasa meskipun sudah beberapa tahun. Kecapekan sedikit, sakit. Angkat beban berat sedikit, njarem." 
Umik Dona mengedikkan bahunya seperti orang ketakutan saat menceritakan menantunya selepas menjalani operasi sc.
"Halah, menantu Umik aja tuh yang lebay. Sc gak se serem itu kok. Juga, gak seperti yang diceritakan menantu Umik. Ini lho lihat, Mik. Saya buktinya," ujar Luna sembari menunjuk badannya dari pinggang hingga kaki.
"Ya allahu a'lam, kondisi orang memang berbeda. Alhamdulillah kalau kamu merasa baik-baik saja. Berarti kondisi tubuhmu kuat dan bagus. Eh, keasyikan ngobus nih. Yasudah saya pulang dulu, ya. Mau ke pasar, takut kesiangan. Saya permisi, ya. Semoga cepat pulih, Mbak. Assalamualaikum," pamit Umik Dona meninggalkan Luna.
Luna menggendong baby Zhue yang tertidur pulas, ia hendak membawanya masuk ke dalam rumah.
Baru saja beberapa langkah, ada rasa nyeri di perut Luna. Seperti ngilu, perih dan langkahnya terasa semakin berat.
Luna memaksakan kakinya untuk melangkah lebih lebar, agar cepat sampai masuk ke dalam kamar.
Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Kali ini rasanya seperti luka yang teriris pisau, terasa perih.
Gendongan baby Zhue di tangannya semakin mengendur, Luna mencoba melangkahkan kakinya secara perlahan. 
Tetap saja, hal itu tidak mengurangi rasa ngilu di dalam perutnya.
"Ah, sial! Kenapa sih nih perut? Sakitnya beneran nih, bukan kaleng-kaleng. Kenapa, ya?" Luna menggeram dalam hati.
Perutnya seperti akan lepas, tak menyatu dengan pahanya.
Luna memutuskan untuk duduk bersandar di depan pintu. Ia tak peduli lagi, perutnya terasa sengkring-sengkring. Luna meringis menahan sakit.
"Duh, sial!" Jeritnya tertahan.
*****          ********          *****
Kapokmu kapan, ya, Lun😅
Eh, terlepas ibu melahirkan normal atau  sesar. Anak asi atau anak sapi. Semua ibu tetaplah malaikat tanpa sayap yang akan mencintai anaknya hingga masa. Semua ibu akan rela berkorban demi anaknya hidup bahagia. Dan pastinya semua ibu selalu berjuang menahan rasa sakit saat proses melahirkan.
Betul gak nih para ibu?
Komen dong hihii!
******           ******             ******
Mamak sarankan bacanya berurutan ya Shayyyy, jangan dilompat-lompat atau dipilih-pilih. Biar makin greget dan paham banget isi ceritanya. Hehe❤️
Maaf kalo ada salah kata dalam penulisan, maklum masih belajar hehe.
Terimakasih banyak yang sudah merelakan koin untuk membaca cerita recehku ini, semoga Allah SWT melancarkan rezeki kalian semua & dimudahkan segala urusannya. Semoga Allah SWT menggantinya dengan rezeki yang berlipat-lipat dan semoga kalian semua diberikan kesehatan selalu. Aamiin yarobbal aalaamiin.
Buat para pembaca , tinggalin jejak donggg , jangan lupa di subscribes yaaa karena gratis. Biar ada notif kalo update bab baru.
Jangan lupa baca cerita2 ku lainnya ya, kasih bintang lima nya. Dan ditunggu krisan nya. Biar aku makin semangat gitu ngarang ceritanya. Hehehe
Salam senja manise dari mamak othor ini😘😘😘😘😘

หนังสือแสดงความคิดเห็น (628)

  • avatar
    Jidan wokasJidan wokas

    nowelnya bagus

    16/08

      0
  • avatar
    otsnbd

    seruuuu

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AprilianiTasya

    keren ceritanya lanjut kan

    18/03/2025

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด