logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 38 Feeling

Riri tertegun saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Gadis itu mengusap dada karena tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.
'Hari Minggu nanti Mama sama Papa aku aku mau datang ke sini. Apa boleh kami ke rumah kamu?'
Radit mengirim pesan itu satu jam lalu dan Riri belum sempat membalas. Gadis itu masih mengajar hingga siang hingga tak sempat menyentuh ponsel. Ketika jam istirahat tiba, dia langsung membaca kotak masuk dan terkejut membacanya.
'Oke.'
Hanya itu yang Riri ketikkan saat membalas. Dia kelaparan karena tadi pagi hanya sarapan sedikit. Gadis itu bergegas ke kantin dan memesan semangkuk bakso sebagai pengganjal perut.
"Sendirian, Neng?"
Sebuah suara mengejutkan Riri. Gadis itu menoleh dan mendapati Dara sedang menghampirinya.
"Loh, kamu kok ke sini?"
"Kangen sekolah. Kangen mie ayamnya."
Riri menggeser posisi dan membiarkan Dara duduk di sebelahnya. Gadis itu melambaikan tangan ke arah penjual mie ayam dan memberikan kode dengan jari telunjuk, tanda dia memesan satu porsi untuk Dara.
"Sarah mana?"
"Anak-anak dibawa mamanya Dewa. Katanya kangen, terus pengen ngasuh. Jadinya aku free hari ini."
"Mas Dewa gak nyariin?"
"Aku udah izin. Nanti dia ngambek kalau gak dikabari."
"Syukurlah. Cemburuan gitu," goda Riri.
Dara tergelak, lalu meraih mangkuknya ketika itu tersaji di meja. Mie ayam dengan kuah panas memang menggugah selera. Apalagi ditambah sambal dan saus tomat. Wanita itu mengipas mulutnya karena kepedasan.
"Udah punya anak dua tapi tingkah kayak remaja," sindir Riri sembari bercanda.
Dara mengulum senyum, lalu meneguk es jeruk dengan pelan. Rasa pedasnya sudah mulai berkurang, tetapi dia malah ketagihan. Wanita itu kembali melahap mie dan menyendok kuah pedas dengan lahap.
"Kenapa gak ngabarin kalau mau makan di sini. Tau gitu, kan kita ngobrol dulu. Aku bentar lagi masuk, loh," keluh Riri kecewa.
Mereka cukup lama tak bersua karena sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi semenjak Dara melahirkan anak kedua. Tentu saja waktunya semakin terbatas.
"Aku juga gak nyangka anak-anak mau dibawa mertua. Jadinya aku buru-buru ke sini. Mana tau ketemu kamu. Tadi juga rencanya mau mampir ke ruangan. Cuma keburu lapar, jadinya langsung ke sini," jelas Dara.
Kini semangkuk mie ayam sudah lenyap dan berpindah ke perutnya. Dara menghabiskan minuman dan membersihkan mulut dengan tissue. Riri juga sama, sudah menyelesaikan makanannya.
Mereka asyik mengobrol hingga tak terasa bunyi bel terdengar. Riri berpamitan setelah memeluk Dara dengan erat.
"Kayaknya bentar lagi ada yang bakal nyebar undangan," bisik Dara.
Riri tersentak, lalu menunduk dengan wajah merona. Gadis itu mengabaikan ucapan sahabatnya, lalu melambaikan tangan saat berpamitan.
Dara menarik napas dalam, lalu mengucap syukur dalam hati. Setelah pertemuannya dengan Radit, lelaki itu sempat menelepon satu kali dan mengucapkan terima kasih.
Radit merasa lega karena telah mengetahui perasaan Dara, sehingga dia yakin untuk menikahi Riri. Lelaki itu memilih untuk berbesar hati menerima bahwa cinta masa lalunya telah lenyap.
Dara membalikkan badan dan menuju parkiran. Sekalipun ekonomi mereka sudah mulai membaik, dia masih menggunakan motor lama yang dipakainya dulu saat bekerja.
Dara merasa rindu dengan suasana di sekolah ini. Teriakan murid-murid saat olahraga atau ketika bel masuk berbunyi. Juga rapat guru dan kegiatan amal sekolah mereka. Wanita itu kembali menarik napas dalam, lalu mengusap dada. Dia mencoba berlapang dada untuk mengikhlaskan semua.
***
Dara membuka pintu ketika bunyi bel terdengar. Wanita mengambil tas yang disodorkan Dewa saat masuk ke ruang tamu. Dia juga membantu suaminya memasukkan sepatu dan menyimpannya di rak bagian sudut ruangan. Matanya melirik ke arah jam di dinsing. Pukul sepuluh malam.
"Mas mau makan?" tanya Dara.
"Tadi udah makan di kantor, Ra. Maaf, ya."
"Kalau gitu nanti lauknya aku simpan di kulkas buat sarapan besok."
"Anak-anak gimana? Rewel, gak?" tanya Dewa sembari membuka kaus kaki.
"Tadi mereka dibawa Oma jalan. Ciara sih seneng banget. Cuma Sarah sempat nangis nyariin aku," jelas Dara.
"Kamu gimana sama Riri?" tanya Dewa lagi.
Dara menarik lengan Dewa dan mengajaknya duduk di sofa lalu berkata, "Nanti aku ceritain. Mas istirahat aja dulu sekarang."
Dewa memijat kakinya yang terasa pegal. Seharian duduk di kantor mebuat tubuhnya penat.
"Kok jutek. Ada apa, Mas?" tanya Dara ketika melihat wajah suaminya yang lesu. Biasanya Dewa tetap akan bersemangat saat akan pulang.
"Capek."
Dewa menjawab pertanyaan istrinya sembari menyandarkan tubuh di sofa. Lelaki itu memijat kepala yang terasa berdenyut. Sejak kedatangan Keysa, pekerjaannya menjadi bertambah. Dengan alasan kehamilan, wanita itu sering meminta ditemani makan siang di saat jam istirahat. William yang begitu sayang pada calon istrinya, akan selalu menurutinya.
Dewa tak bisa mengelak, walaupun ada beberapa temannya yang menasihati. Jangan sampai kedekatannya dengan Keysa justeru menjadi bumerang. William sangat mencintai wanita itu. Jika dia cemburu dan menduga mereka memiliki hubungan khusus, maka pekerjaan akan menjadi taruhan.
"Mas kok sekarang pulangnya telat terus. Apa lembur?" tanya Dara hati-hati. Segelas teh hangat dia sajikan di meja untuk menyambut Dewa pulang. Tak lupa lumpia goreng kesukaan suaminya.
"Gak lembur. Tapi kerjaan emang lagi banyak. Kantor mau buka cabang di kota lain."
Dewa mengambil cangkir dan mulai menikmati teh itu. Ada rasa hangat yang menjalari lehernya. Dia kembali meletakkannya di meja ketika merasakan sebuah pijatan lembut di bahu. Lengan kokohnya malah merengkuh pinggang Dara sebagai tanda sayang.
"Wow keren, dong."
Dara mengencangkan pijatannya. Dia tahu Dewa sedang butuh perhatian. Suaminya adalah sosok yang tangguh dan jarang mengeluh soal pekerjaan. Namun, jika sampai itu terjadi, berarti dia butuh teman bicara. Untunglah anak-anak sudah tertidur sejak tadi. Seharian diajak bermain oleh neneknya, membuat mereka kelalahan.
"Tapi aku yang dikasih tanggung jawab buat ngelolanya. Jadi, aku gak boleh sembarangan. William itu orangnya perfeksionis."
Dewa mengubah posisi hingga kini mereka saling berhadapan. Lelaki itu meraih dagu sang istri dan menatapnya dengan lekat. Ada kehangatan yang perlahan menyusup di relung hatinya. Wanita di hadapannya ini telah banyak memberikan kebahagiaan untuk mereka. Kesabarannya dalam menjalani hidup membuatnya kagum.
Dara tersipu malu karena ditatap seperti itu. Wanita itu tahu apa yang diinginkan oleh Dewa sekalipun dia tak mengucapkannya. Mata lelaki itu menjawab semua hasrat yang ada.
"Kalau Mas dipercaya, berarti harus pegang komitmen. Gak semua orang beruntung bisa dapetin itu, loh," ucap Dara menanggapi.
"Mas tau itu. Tapi kok rasanya males, ya. Lebih enak kayak dulu aja," lanjut Dewa.
Dara mengusap pelipis suaminya. Lalu menyandarkan tubuh. Hal itu membuat DEwa semakin mengeratkan rengkuhan.
"Ra--"
"Apa?"
"Kamu kok wangi. Mas jadi--"
"Mas mandi dulu, ya. Bau asem. Aku masakin air panas," ucapnya mengelak.
Dara menegakkan posisi duduknya, lalu mengusap rambut karena gugup. Setelah melahirkan Sarah, dia memang tak punya banyak waktu untuk memanjakan Dewa seperti dulu. Hanya saja, setiap lelaki itu menuntut hak, dia akan selalu memberikan pelayanan yang terbaik.
"Kalau gitu aku ganti baju dulu."
Dewa melepaskan rengkuhannya dan berjalan ke kamar. Lelaki itu menutup pintu dengan pelan karena tak mau membangunkan Sarah. Tadinya dia ingin merahasiakan soal Keysa kepada Dara. Namun, perasaan istrinya begitu kuat. Jadi, dia memilih untuk jujur. Hanya saja dia akan memilih waktu yang tepat untuk membicarakannya.

หนังสือแสดงความคิดเห็น (849)

  • avatar
    saputraIndri

    baguusss..baguuusss..baaguusss bgt ceritanya, aku sudah hampir baca semua novelnya 👍👍 semangat terus yaa Thor 💪💪

    27/06/2022

      3
  • avatar
    Heddwyn72Adika

    masih pemula, penyesuaian dengan aplikasi

    02/03

      0
  • avatar
    Floraginting

    bagus

    22/11

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด