Gua beruntung emak gua tidak mengusir gua dari rumah karena sabun bolong kemarin . Ketika gua hendak duduk di bangku, gua melihat secuil kertas di kolong meja, lantas gua ambil kertas itu ternyata itu bukan kertas kosong terdapat pesan di dalamnya. [Enjun nanti pas istirahat ke belakang sekolah ya] "Jun! apaan tuh?" tanya Jayadi, yang melihat gua yang sedang membaca tulisan di kertas. "Engga tahu gua juga. Elu liat dah," jawab gua, sambil menunjukkan isi tulisan yang ada di kertas. "Wah! ini mah elu mao di ajakin berantem, Jun," kata Jayadi. Gua bergeming ketika Jayadi bilang seperti itu, gua ini orangnya pendiam di tambah gua juga tidak punya masalah sama murid-murid lain. "Yaudah, gua temenin elu nanti kebelakang sekolah, Jun. Biar gua aja yang berantem ama nih bocah yang nantangin elu," usul Jayadi. "Kagak usah Jay! biar gua aja sendiri yang kesana," balas gua menolak Jayadi. Gua hanya tidak mau melibatkan Jayadi ke dalam masalah gua. "Serius elu?" tanya kembali Jayadi. "Iya!" tegas gua. Tet, tet... "Baik anak-anak, sekarang kumpulkan kerajinan sabun kalian," kami pun menyerahkan kerajinan kami ke bu Yati. "Jayadi ini kamu kok buat pocong-pocongan?" tanya bu Yati. "Iya Bu maaf ...soalnya cuma gambar pocong doang yang ada di kepala saya pas saya bikin," jawab Jayadi, dengan muka polosnya. Tetapi bu Yati memajang pocong-pocongan Jayadi di lemari kaca yang ada di dekat mejanya. Nampaknya bu Yati diam-diam suka juga dengan kerajinan yang Jayadi buat. Selama pelajaran gua masih memikirkan siapa yang menulis pesan kertas itu. Gua terus menelaah pikiran gua, apa gua pernah punya salah dengan orang lain tetapi tetap saja gua masih tidak bisa menerka siapa orang yang nantangin gua berantem ini. Tet, tet... Bel istirahat sekolah berbunyi gua pun bersiap untuk ke belakang sekolah untuk memastikan siapa orang yang mengajak gua berantem ini. "Elu beneran mau ke belakang sekolah sendirian, Jun?" tanya Jayadi yang melihat gua ingin pergi. "Iya Jay, daripada gua kepikiran terus mending gua samperin ke sana," jawab gua. "Yaudah kalau tuh bocah badannya lebih gede dari elu. Elu lari aja ya Jun," kata Jayadi memberi gua saran. "Iya Jay," Gua yang mengiyakan saran Jayadi. Sebenernya gua takut karena kalau sampai berantem pasti gua bakal kalah karena gua belum pernah berantem sama sekali. Gua pun sampai di belakang sekolah ternyata orang yang mengirim gua pesan kertas itu belum muncul. Belakang sekolah jarang sekali ada murid-murid yang dateng ke sini saat jam istirahat, jadi tempat ini tepat sekali untuk murid-murid yang ingin berantem agar tidak ketahuan oleh guru. Semakin lama gua menunggu semakin gemetar juga badan gua karena membayangkan apa yang bakal terjadi kepada gua, ketika orang yang mengajak gua berantem ini memukul wajah melas gua. Cukup lama gua menunggu sambil menahan rasa takut gua tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi bagi gua yang memanggil nama gua dari belakang. "Jun!" Gua pun menoleh ke arah suara itu, ternyata memang benar itu suara dari Ita, gua sontak terkejut karena Ita datang ke belakang sekolah. "Ta! elu ngapain di sini? Sana Ta elu balik ke kelas!" perintah gua. Gua tidak mau kehilangan muka di hadapan Ita ketika bocah yang nantangin gua berantem menghajar gua di depan Ita makannya gua menyuruh Ita untuk pergi. "Aku kan yang minta kamu ke belakang Jun. Masa aku balik lagi ke kelas si." gua yang kembali terkejut mendengar jawaban dari Ita. "Ehh! jadi elu Ta yang nulis pesan di kertas?" tanya Gua. Gua merasa bersyukur karena pesan kertas itu bukan dari bocah yang ngajak gua berantem, perlahan-lahan diri gua kembali tenang. "Iya ...emangnya kenapa, Jun?" tanya balik Ita sambil berjalan mendekat ke samping gua. "Iya engga apa-apa Ta, hehe," jawab gua, dengan gugup karena mencium aroma rambut Ita yang wangi shampoo orang kaya. Ita hanya tersenyum dan gua melihat gigi putihnya yang tampak terlihat saat dia sedang tersenyum dan kedua lesung pipinya yang tercipta dari senyumannya. Melihat semua itu membuat tubuh gua kembali bergemetaran di buatnya. Gua tidak tahu mengapa badan gua bisa segemetar ini hanya karena melihat wajah Ita yang berada di samping gua, tetapi gua coba paksakan tubuh gua ini untuk tetap tenang. "Hmm ...elu mau ngapain emangnya Ta nyuruh gua kemari?" tanya kembali Gua. "Aku cuma mau ngobrol sama kamu doang Jun, soalnya kalau di kelas pasti di gangguin sama yang lain," jawab Ita, sambil mengarahkan gua untuk duduk di bangku yang ada di sini. Kami pun duduk bersama sambil memandangi bambu-bambu ajir yang kemarin kami buat ketika pelajaran menanam. "Jun, kamu kalau di rumah ngapain aja?" tanya Ita yang membuka obrolan. "Hmm ...biasanya gua main ultramen-ultramenan Ta," jawab gua. Wajah Ita seperti keheranan mendengar jawaban gua, mungkin dia tidak tahu apa itu Ultramen-ultramenan. "Owh ... seru memangnya, Jun?" tanya kembali Ita. "Uhh seru kok Ta! coba aja kapan-kapan kita main ultramen-ultramenan bareng," jawab gua. "Kalau elu ngapain Ta kalau di rumah?" sambung gua. "kalau aku si biasanya nonton film di Dvd," jawab Ita. Gua pun tidak bisa berkata apa-apalagi soal jawaban Ita, karena di rumah gua tidak ada yang namanya Dvd, jadi gua enggak tahu apa itu Dvd.
bagus
14/04
0seperti kisah saya waktu jatuh cinta pertama di sma
18/08
0bagus
17/07
0ดูทั้งหมด