Kata orang, hidup itu tidak berjalan seperti apa yang selalu kita harapkan. Pengibaratan roda sebagai perumpamaan kehidupan memberitahu bahwa hidup tak selalu berada di atas. Ada kalanya terinjak, kesakitan, kemudian kembali naik dengan kebahagiaan lain. Selama hidupnya, Evrilia tidak betulan merasakan bagaimana rasanya berada di bawah. Mungkin, di bawah yang Evrilia rasakan adalah kala menjadi intern di hotel semasa kuliah. Atau awal-awal bekerja yang hanya ada kata lelah, keluh kemudian tangis. Atau masa perkenalan dengan kedua orang tua Tanjung yang sedikit di beri bumbu dramatis karena kedua orang tua Tanjung sempat tidak setuju karena status sosial Evrilia yang tergolong rendah. Namun dari banyak hal itu, Evrilia tak pernah tahu bagaimana rasanya kesakitan. Seperti titik terendah dalam hidupnya. Dan ketika Evrilia memikirkan itu, justru bahagia lain yang datang padanya. Tanjung. Lelaki yang sembilan tahun menggenggam erat tangannya tanpa melepas. Kesibukan yang tidak memberi mereka kesempatan bermesraan bukan satu hal yang membuat terpancingnya pertengkaran. Justru rasa rindu yang dia rasa mempererat perasaan itu. "Hari ini libur, Mas?" tanya Evrilia mendapati Tanjung justru mengeluarkan beberapa kotak sepatu yang berdebu. "Enggak. Aku mau ngeluarin beberapa sepatu buat di lelang." "Ada acara lelang di kantor?" tanya Evrilia ikutan membuka beberapa kotak sepatu suaminya. "Acara tahunan, nanti hasil penjualan bakal di sumbangin ke beberapa panti asuhan." Evrilia berhenti membuka satu sepatu berwarna putih, "Aku juga punya banyak baju. Mau di lelang sekalian, Mas? Daripada dibuang." Tanjung terlihat sejenak berpikir. Kemudian mengangguk. Minggu yang indah, berbeda dari hari lainnya. Sepasang suami istri itu selalu berebut rindu. Saling mencuri kecup kala lengah kemudian tawa riang keduanya menggelegar indah. "Baju kamu banyak juga," kata Tanjung menilik lipatan baju Evrilia yang menggunung. "Iya juga, ya." Selama bekerja, tak ada kegiatan lain yang membahagiakan kecuali belanja. Online atau offline, Evrilia suka belanja. Juga karena kesibukan Evrilia dan Tanjung yang sangat jarang menemukan titik temu libur yang bebarengan. Hanya singkat saling peluk, kecup atau sapa. "Healing kamu pasti belanja," tebak Tanjung dan Evrilia menjawab dengan angguk dan cengiran lebar. "Sama, sih." Keduanya tertawa bebarengan. Tanjung mengeluarkan kotak besar untuk menyimpan lipatan baju Evrilia dan kotak lainnya untuk beberapa barang seperti sepatu, baju dan beberapa buku. Evrilia jadi terpaku. Diingat lagi, jarang dirinya mengamati lekat suaminya dan memujinya. Tanjung cukup tampan. Garis rahang yang tegas, manik mata coklat gelap dengan bulu matanya yang lentik. Kulitan Tanjung juga putih oleh keturunan Bandung yang dia dapat dati sang ibu. Perawakan tinggi kurus dengan lengan berisi yang kekar. Tanjung sangat tampan. "Jangan diliatin terus, Yang. Malu aku," kata Tanjung berusaha menghentikan kegiatan Evrilia mengamati lekat suaminya. Ditegur begitu, Evrilia jadi tersipu. "Hahha, kamu ganteng," kata Evrilia diselingi tawa. "Kalo enggak ganteng, mana bisa dapetin most wanted di kampus kamu." "Hah, aku?" Most wanted memang pernah menjadi gelar Evrilia dulu. Perkara pintar, cantik dan cerdik. Wakil ketua BEM pula, menjadi salah satu perempuan yang paling diinginkan untuk dijadikan kekasih. Beruntungnya, Tanjung Pratama pemenangnya. "Iya, kamu. Sampe harus saingan sama anak FK. Kamu kira kuat aku saingan sama dia?" Tanjung mengungkit jaman SMA. Ketika Evrilia masih jadi kejar-kejaran para lelaki. "Lesmana?" "Kamu masih inget?" Tanjung bertanya. Badannya yang tadinya membukuk karena merapikan beberapa barang di kotak jadi menegap. "Masih, lah. Dia ganteng, pinter, anak FK lagi." Tanjung manyun. "Hahahaa, kamu juga ganteng, Tanjung. Buktinya aku nikahnya sama kamu bukan sama Lesmana." Tanjung bukan hanya ganteng, namun nyaman dan cocok serta pas. Seorang yang membuat Evrilia mantap menempatkan hati. Dan pacaran selama tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk bermain-main. "Kalo aku enggak ganteng, kamu nggak akan nikah sama aku? Kamu bakal pacaran sama Lesaman?" Tanjung sempurna menghentikan seluruh kegiatannya. Lap kotor di tangannya dia lipat dan simpan. Lelaki itu kini bersender pada meja, dekat dengan kursi yang Evrilia pakai untuk duduk. "Enggak," jawab Evrilia. "Kalo kamu enggak ganteng, enggak berusaha, enggak membuktikan kalo kamu sayang aku, baru aku nggak mau nikah sama kamu." Kerja keras Tanjung untuk mendapatkan hati Evrilia yang patut dapat pujian. Bukan perkara tampan atau pintar. Cara Tanjung memperlakukan Evrilia menjadi kekasihnya juga sangat patut dihargai. "Harusnya Lesmana iri sama aku," kata Tanjung mulai menyombongkan dirinya sendiri. "Eh, enggak. Seluruh laki-laki di dunia iri sama aku." Evrilia tertawa ringan. Namun tawa itu sepertinya terlalu lama karena perutnya tiba-tiba keram. Nyeri bukan main. Hingga Evrilia harus menekannya agar rasa sakit itu sedikit berkurang. Perubahan ekspresi wajah Evrilia disadari Tanjung dengan cepat. Wajah cerahnya yang baru saja berkelakar tiba-tiba ikutan memucat. "Aaw," rintih Evrilia terus memegang perut. Bahkan duduk tegaknya kini membungkuk. "Sayang, kamu sakit?" tanyanya memastika dengan menyentuh pundak. "Kamu kok tiba-tiba pucet?" Dan rasanya benar-benar mual. Perutnya seperti di mainkan dari dalam. Seperti dibolak-balik isinya. "Hueek ... " Kilat, Evrilia bangkit dari duduk. Lari menuju kamar mandi dan berusaha memuntahkan segala isi perutnya. Sayangnya sia-sia. Bukan lega, perutnya justru semakin mual. "Huek ... " Tanjung sudah berdiri di belakangnya. Mengusap tengkuk, berusaha menenangkan Evrilia dari kesakitan. "Ke rumah sakit, yuk?" tawar Tanjung dengan nada takut. "Sayang? Yuk?" Evrilia mengangkat tangannya. Berusaha meraih genggam Tanjung yang membantunya berdiri. Lemas. Padahal tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya kala dia berusaha memuntahkan. "Mas, nggak kuat." Evrilia hampir jatuh jika Tanjung tidak berusaha menopang. Lalu entah apa yang terjadi, tak ada suara apapun. Tubuh Evrilia melemas dan tidak merasakan apapun lagi. ~🍁~ Bukan hanya panik. Tanjung kalut sampai tidak tahu harus apa. Tujuannya hanya rumah sakit. Dia gendong Evrilia kemudian cepat meraih kunci mobil di meja ruang tengah. Sampai lupa berpakaian dengan layak. Masih kolor kuning motif spongebob dan kaus putih. Di pelataran rumah sakit, Tanjung tak lagi menunggu, langsung menggendong istrinya kemudian menuju salah satu bangsal UGD yang kosong. Dua perawat bersama satu dokter hadir bersamaan. Mengecek sana-sini dan bertanya. "Istri saya pingsan. Tapi sebelum pingsan dia mual-mual dulu," kata Tanjung dengan terengah. "Tolong dibangunin ya, dok." Tanjung memang tidak terusir dari bangsal UGD. Dia hanya disuruh mundur dan sedikit menjauh. Tapi rasanya dia tidak tega. Melihat Evrilia terbaring lemas dengan selang infus yang menancap di lengannya. Tanjung duduk di ruang tunggu, sembari memainkan kunci mobilnya dengan gusar. Dia takut Evrilia kenapa-napa. Beberapa saat berselang, dokter yang menangani Evrilia menemui Tanjung. "Wali nyonya Evrilia?" tanyanya memastikan. Tanjung mengangguk mantap. "Saya, dok. Saya suaminya." "Pasien hanya letih. Setelah infusnya habis, pasien bisa langsung pulang." Singkat sang dokter kemudian berlalu. Namun dokter bilang agar Evrilia diperiksa bagian kandungan. Memastikan tidak terjadi apa-apa terkait siklus menstruasi atau yang lainnya. Evrilia sudah sadar, Tanjung segera menuju bangsal dan menggenggam tangan sang istri yang masih lemas. "Mas," kata Evrilia. "Panik, ya?" Tanjung menghela napas, "kamu tahu kalo aku panik, kan?" "Kata dokter ada kemungkinan aku hamil." "Oh, ya?" Tanjung sungguhan terkejut. "Udah diperiksa?" "Baru usg. Katanya nunggu pemeriksaan darah dulu terus disuruh pindah ke bagian kandungan." Evrilia menjelaskan dengan lemah. "Kamu belum di kasih tahu?" "Udah, sih." Evrilia melepas paksa genggam Tanjung, "Ishh." "Ahahaha, iya-iya maaf." Tanjung kembali meraih tangan sang istri. "Setelah infus kamu habis, kita langsung ke dokter kandungan." "Selagi nunggu infusku habis, kamu balik aja dulu." "Loh, kenapa? Aku mau nemenin kamu." "Ganti baju yang ganteng. Kamu tuh dari tadi dilirik sama perawat karena pake kolor spongebob." Tanjung baru sadar. Bajunya dan celananya masih sama persis seperti ketika dia bangun tidur. Agak memalukan, sih. Seperti intruksi sang istri, Tanjung pulang berganti pakaian. Kini bercelana panjang dengan kaus lengan pendek warna navy. Sudah wangi dan tidak lagi ditertawakan para perawat yang berlalu-lalang. Tanjung dan Evrilia tiba di dokter kandungan. Kembali di periksa dengan USG dan runtutan pemeriksaan lainnya. Tanjung bahkan sangat tidak sabar. "Sehat ya, dok? Istri saya sehat, kan?" tanya Tanjung tiba-tiba. Sampai membuat sang dokter perempuan tertawa renyah. Evrilia menarik lengan Tanjung memintanya untuk diam. "Nyonya Evrilia positif hamil," kata dokter yang diberi respon teriak senang oleh Tanjung. "Tapi riwayat darah rendah ibu membuat kehamilannya sedikit melemah." Tanjung kehilangan senyum. Sepertinya Evrilia juga. "Kita bisa jaga kehamilan sampai beberapa bulan kedepan," kata dokter menjelaskan. "Semua akan baik-baik saja jika ibu dan ayah memenuhi prosedur pemeriksaan. Dan ibu tidak boleh terlalu stres." Tanjung melirik Evrilia. Ada segaris senyum di bibirnya membuat Tanjung ikutan menarik senyum pula. "Terima Kasih, dokter." Tanjung berdiri hendak berpamitan ketika semua telah selesai. Ada beberapa vitamin yang diresepkan juga kiat-kiat untuk konsumsi ibu. Tanjung dan Evrilia keluar dari rumah sakit dengan tangan saling terpaut. Menunjukan rasa kasih sayang satu sama lain. "Aku hamil, mas," lirih Evrilia. "Kamu bakal punya anak." Tanjung menatap sang istri dari samping. Berhenti di depan mobil untuk saling terdiam dan menikmati kebahagiaan. Lama saling tatap, mata Tanjung terasa panas. Hendak ada air yang keluar dari setiap sudut karena bahagia. Kemudian untuk menyembunyikan air mata itu, Tanjung meraih Evrilia dalam rengkuhan. "Makasih ya, sayang." Keduanya diam. Saling menikmati semilir angin yang berhembus. "Mas," panggil Evrilia setelah lama keduanya berpelukan. Evrilia mendorong rengkuhan Tanjung agar terlepas. "Kamu nggak mandi, ya?" Tanjung menggigit bibir. Memang belum. Tadi hanya bergantu baju dan kembali setelah menyemprotkan parfum. "Kok kamu tau?" "Bau," katanya lalu meninggalkan Tanjung untuk masuk mobil. Tanjung terkekeh sejenak. Dia bahagia. ~🍁~
sangat bagus
19/06
0kerenn bgt pliss
22/05/2025
0ceritanya bagusss bgtt
17/03/2025
0ดูทั้งหมด