Akhirnya, setelah melewati malam dengan saling kejar antara pekerjaan, rumah dan Tanjung, malam ini ada waktu di mana Evrilia bermesraan dengan suaminya. Reservasi hotel berbintang tempat kerjanya dulu, menjadi tempat romantis. Finedinning dengan mengusung konsep tradisional bersama angklung berpadu biola juga piano. Konsep epik dari hotel ternama yang sempat membuat karir Evrilia melambung tinggi. Malam ini, Evrilia berbalut off shoulder dress berwarna navy duduk berhadapan dengan seorang lelaki berkemeja putih dengan lengan tergulung. Red wine belum tertuang bersama lilin-lilin kecil disana. Peepaduan cantik dan bahagia. "Selamat datang," ujar seorang bertopi koki. Menunduk lembut dengan senyumnya yang mekar menyapa. "Tuan Tanjung dan Nyonya Evrilia." Evrilia terkekeh anggun. Executive chef-nya datang sendiri menemui Evrilia dan Tanjung untuk menyapa. Mungkin sekalian menawarkan menu untuk melewati malam romantis keduanya. "Special dishes from Chef Antonio, please." Evrilia mendongak anggun. Menutup menu dan asik mengamati sang atasan yang sudah tidak menjadi atasannya. "Anything for you, ms. Tanjung." Evrilia terkekeh lagi. "Tolong beri anggur terbaik kalian malam ini." "Lamb Chop with Olives, Tomato Jam, and Parisian Mash dengan Shiraz terdengar lezat, Ms. Tanjung." Penawaran yang menarik dari sang koki membuat Tanjung bertanya menggunakan tatap. "Daging domba dimasak dengan olive oil, Tanjung. Bersama selai tomat dan olahan kentang khas Perancis. Dipadukan bersama Shiraz, anggur dari Australia." Evrilia melirik Tanjung dan lelaki itu mengangguk paham. Tanjung bukan tidak tahu menu yang baru disebutkan, namun Tanjung cenderung mencari tahu setiap bahan yang masuk ke dalam masakannya. Menghindari makanan tidak sehat katanya. "Yes, please." Evrilia mengulurkan buku menu pada sang koki dan dengan cepat lelaki berbalut chef jacket itu menuju dapur. "Emang cuma kamu yang paham aku, Evrilia." Tanjung memuji. Sembari menerima menu appetizers yang baru disajikan. Makan malam itu berjalan baik, berjalan sangat baik. Evrilia seolah menjadi manusia paling bahagia malam itu. Dan tidak hanya malam itu, hari berikutnya. Hari lainnya, hari-hari Evrilia yang menyenangkan. ~🍁~ Satu bulan selepas hari itu, selepas semua kesibukan pelepasan diri dari hotel, Evrilia sepenuhnya menjadi ratu. Tanjung terus menemaninya dengan keromantisan, terkadang candaan lawas yang masih terdengar lucu, kadang juga gombalan-gombalan menggelikan. Hari yang Evrilia habisnya tampak sangat sempurna. "Siang ini aku ke kantor, ya?" tanya Evrilia ketika suaminya selesai berpakaian. Dasi hitamnya telah terpasang setelah sebelumnya dilepas kala sarapan. "Aku bawain makan siang." "Siang ini?" Tanjung melirik langit-langit sembari berpikir. Mungkin tentang jadwal hariannya. "Boleh, kan? Mau masak soto kayaknya." Tanjung tersenyum lembut lantas mengangguk. "Boleh," katanya. "Dimakan sama ayam goreng kayaknya enak." Satu ruang kosong dalam diri Evrilia sepenuhnya terisi. Kekosongan yang lucu karena kesibukannya. Hanya ada pekerjaan yang memaksa dirinya tidak tidur dengan nyenyak. Siang menjelang dengan cepat, pukul sebelas Evrilia bersama dua kotak bekal makan siangnya menuju gedung kantor Tanjung. Dengan pakaian seadanya dan sendal jepit karena Evrilia benar-benar lupa harus berganti pakaian setelah masak. Tiba di depan meja resepsionis, Evrilia menemui sang resepsionis yang tersenyum dan menyapa ramah. "Selamat siang, kak. Ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan ramah. Evrilia membalas itu dengan senyum riang. "Selamat siang, Pak Tanjungnya ada, mbak?" tanya Evrilia. "Sudah ada janji sebelumnya, Kak?" tanya sang resepsionis membuat Evrilia menanyakan hal lainnya. "Harus ada janji tertulis ya, Mbak?" "Mohon maaf, Kak. Pak Tanjungnya sering sibuk jadi kami harus memastikan jadwal beliau," kata sang resepsionis. "Dan dimohon untuk berpakaian sopan ketika masuk gedung, kak." Evrilia mendelik, mengamati bajunya yang hanya berupa kaos warna putih dan celana pendek hitam selutut. Rambutnya dia sanggul tinggi dengan anakan rambut yang kebanyakan jatuh berantakan. Juga sendal jepit warna biru tua yang dia beli online waktu diskon. Evrilia membuka mulutnya dan mengangguk paham. Dia ingat, Tanjung salah seorang berpengaruh di Pandawa Group dan sepertinya sedikit sulit bertemu tanpa janji. Evrilia melangkah keluar dari lobi resepsionis, menenteng rantang berisi makan siang sembari berusaha mencari ponselnya di saku celana belakang. Perempuan itu nenekan angka satu yang langsung menyambung dengan nomor telepon Tanjung. Dering pertama dan kedua terlewat, baru dering ketiga ketika Evrilia sudah duduk bersimpuh di lantai depan gedung perkantoran yang dingin. "Halo, Mas?" "Halo, Sayang. Ada apa?" jawab Tanjung dilanjutkan tanya. Evrilia menghela napas lebih dulu kemudian mengamati dirinya sendiri dari pantulan kaca mobil dengan getir. Apa dia seburuk itu? "Kamu sibuk, ya?" tanyanya. "Sedikit. Ada beberapa proposal yang harus di acc hari ini. Kenapa?" Sepertinya Tanjung sangat sibuk. "Aku di depan gedung kantor kamu." "Loh, harusnya langsung naik, dong." Evrilia sekali lagi tertawa getir, "Enggak dibolehin sama resepsionis. Katanya harus ada janji ke kamu dulu." "Kamu udah masuk?" "Udah, terus resepsionisnya bilang buat pake baju yang lebih sopan." Evrilia meratap nasib. Bukan tentang cara berpakaiannya yang buruk, melainkan bagaimana dirinya lupa akan statusnya sebagai seorang istri direktur perusahaan. Seharusnya dia berpakaian lebih layak dan tidak mempermalukan siapapun. "Tunggu. Aku jemput kamu turun," kata Tanjung. Awalnya Evrilia hendak mencegah namun panggilan telepon telah terputus. Evrilia menghela napas sekali lagi. Terik siang yang terpancar menyilaukan mata, belum pantulannya dari beberapa mobil yang terparkir di depannya. Menjelaskan betapa dunia memang menyakitkan. Sekitar lima belas menit menunggu, seseorang ikutan duduk di samping Evrilia yang murung. Bersama rantang bekal siang yang terletak di sampingnya. "Nyonya Tanjung?" ujarnya. Membuat Evrilia kaget dan menatap lelaki yang duduk disampingnya. Evrilia tertawa cerah, dia Tanjung. "Kenapa ngesot di depan kantor?" tanyanya. "Mobilku parkirnya jauh banget disana." Evrilia menunjuk parkir paling ujung. Di bawah pohon beringin yang rindang. "Yuk masuk," katanya. Meraih rantang di kanan kanan dan meraih jemari Evrilia di tangan kiri. Kemudian dengan tegas berjalan menyusur lobi hingga berhenti di depan meja resepsionis. Lelaki itu mengangkat tinggi pautan tangan keduanya. Seperti mencoba menjelaskan sesuatu hanya dengan gerak. "Anggita?" tanya Tanjung pada seorang resepsionis. "Kamu yang tadi ngusir dia?" Evrilia jadi tidak enak hati pada resepsionis yang kini meliriknya takut. Evrilia menurunkan pautan tangan, mencoba menjelaskan dengan menggeleng agar sang resepsionis tidak ketakutan. "Dia istri saya. Kalo dia datang, langsung disuruh naik," kata Tanjung membuat pipi Evrilia menghangat. Dia diperkenalkan sebagai istri dengan begitu lembut. "Dan kalo dia kesini cuma pake kolor atau daster doang, terserah dia." "Tanjung, jangan gitu. Kasihan." Evrilia mencoba menarik lengan Tanjung untuk berhenti. Kasihan sang resepsionis yang kini diberi tatap tajam oleh Tanjung. "Dia harus sopan ke kamu," kata Tanjung sekali lagi. Evrilia semakin tidak enak hati. Ketika Tanjung akhirnya menarik Evrilia untuk menjauh, matanya masih tertuju pada dang resepsionis yang beringsut takut. Di dalam lift menuju lantai sebelas, Tanjung merangkul sang istri dengan hangat. "Harusnya nggak usah kali, Mas. Kasihan, kan dia nggak tau." Evrilia sejak menikah dengan Tanjung memang jarang mengunjungi kantornya. Hubungan mereka juga menjadi rahasia pribadi, tidak ada yang tahu menahu tentang itu. Hanya simpang siur dan karena pekerjaan Evrilia yang melelahkan, kabar simpang siur itu tak pernah dijelaskan dengan detail. "Privilege istri direktur, gimana? Enak, 'kan?" Evrilia tersenyum singkat. Menuju ruang kantor Tanjung tangan keduanya terus terpaut. Namun tiba-tiba pautan tangan Tanjung terlepas ketika dia tepat membuka pintu ruangan. Seorang perempuan tengah duduk dengan anggun di sofa Tanjung. Dengan tangannya yang terus mengolak-alik beberapa lembar berkas. Awalnya si perempuan tersenyum dengan kehadiran Tanjung. Namun kala tatapnya tanpa sengaja menemukan Evrilia, sorot itu berubah gusar. Tanjung juga mebjadi kikuk, membuat Evrilia hendak menduga banyak hal. Namun dengan cepat si perempuan kembali tersenyum cerah. "Selamat siang, Nyonya Evrilia. Saya Sarah, asisten baru bapak Tanjung," katanya sembari mendekat pada Evrilia dan mengulurkan tangan. Evrilia membalas itu dengan senyum pula. "Selamat siang. Senang bertemu anda." Kesan formal dari Sarah dan Evrilia sepertinya membuat Tanjung semakin kikuk. Entah karena apa, namun itu membuat Evrilia sangat curiga. Sarah menatap Evrilia dengan senyumnya yang tidak pudar, meniliknya dengan telitu hingga tatapnya jatuh pada rantang makanan yang Tanjung bawa. "Sepertinya kalian akan makan siang bersama. Kalo begitu, saya permisi." Evrilia menjawab itu dengan anggun. Dan pintu ruangan Tanjung tertutup setelah Sarah menghilang di baliknya. "Aku kayaknya familiar sama dia," kata Evrilia setelah Tanjung memaksanya duduk. Karena sedari tadi Evrilia memikirkan Sarah. "Aku pernah ketemu dia?" Entah, namun Evrilia justru bertanya pada Tanjung. "Dia dulu resepsionis kantor. Naik jadi asisten pribadiku sebulan lalu." Dari resepsionis naik menjadi sekertaris pribadi terdengar tidak masuk akal. Namun Evrilia enggan menduga banyak hal. Mungkin Sarah memang memiliki bakat yang mumpuni hingga dirinya mampu mengimbangi pekerjaan Tanjung yang melelahkan sebagai kaki tangannya. "Dia sehebat itu?" tanya Evrilia. Tanjung telihat kebingungan dalam menjawab. Dan akhirnya hanya angguk lantas lelaki itu mengalihkan pembicaraan. "Kamu beneran masak soto?" tanya Tanjung memastikan. Setelah membuka isi rantang yang berisi sayur juga saru termos kecil berisi kuah soto yang terjaga panasnya. "Katanya kalo dimakan sama ayam goreng enak." "Masakan kamu nggak ada yang gagal, sih." Tanjung mengambil satu tempat makan yang berisi isian soto lengkap dengan nasi. Lelaki itu menuang kuah dari tremos ke dalam mangkuk dan menikmatinya dengan baik. "Setelah aku nganggur, bingung di rumah mau ngapain." Evrilia ikutan menuang kuah soto. "Boleh nggak sering-sering kesini?" Tanjung diam sebentar, menelan habis bihun yang baru masuk mulut. Kemudian mengangguk samar. "Boleh, dong. Tapi kabari dulu, ya. Takutnya aku enggak di kantor waktu kamu dateng." Evrilia tersenyum lagi. "Nanti aku bawain sekalian buat Sarah. Biar kita bisa makan bareng bertiga." Evrilia menyendok makanannya dan menikmati itu dengan baik pula. ~🍁~
sangat bagus
19/06
0kerenn bgt pliss
22/05/2025
0ceritanya bagusss bgtt
17/03/2025
0ดูทั้งหมด