ทั้งหมด : 94บทที่ 1 Berpisah
Cuaca cerah seakan kelabu, aku masih berdiri dengan kedua mata yang sembab. Hari ini tepatnya... aku
readmore บทที่ 2 Menepati Janji
Hembusan angin pagi begitu lembut dengan percikan sinar mentari dari balik pohon rindang. Aku baru s
readmore บทที่ 3 Putus Sekolah
Puas sudah aku mengobrol panjang lebar bersama Nenek dan Kakek. Kemudian Tante Diani beranjak kekama
readmore บทที่ 4 Pria Tanpa Nama
Aku terlalu asik mengobrol dengan Dion, tak sadar sudah hampir sore, mataku yang sejak tadi malam be
readmore บทที่ 5 Ocehan Tante Diani
Tante Diani mengocehiku tanpa henti. Rasanya aku ingin menutup telinga di depannya, tapi kalau seper
readmore บทที่ 6 Mel
Suara gending Jawa khas pedesaan terdengar begitu indah, nyanyian merdu khas sinden membuatku merasa
readmore บทที่ 7 Oh Ternyata!
"Mbak Mel, mau kemnana?" tanya Pria itu sambil memegang tanganku. Astaga, jantungku berdegup begitu
readmore บทที่ 8 Sudah Ingat
Cir... cir... cir.... Suara burung bersahut-sahutan, menandakan jika malam sudah berganti pagi. Aku
readmore บทที่ 9 Salah Paham
"Mel, itu kucing jantan, Mbak," jawab Bagas. "Jantan?" Aku syok mendengarnya, "masa jantan namanya,
readmore บทที่ 10 Menjelaskan
Setelah mengobrol bersama dengan Tante Diani, aku pun menerima ajakan Tante untuk pergi ke rumah Dio
readmore บทที่ 11 Pulang
Kehadiran gadis yang yang bermama Nadira ini benar-benar sangat mengusikku, apalagi dengan gaya rama
readmore บทที่ 12 Pelukan
Ya Tuhan, Bagas marah kepadaku, aku jadi tidak enak kepadanya. Dulu waktu kecil aku juga tidak berpa
readmore บทที่ 13 Memancing Keributan
"Duh, Mbak Mel, jangan peluk-peluk saya, Mbak!" teriak Bagas. Aku pun sampai, tersentak. "Kenapa?" t
readmore บทที่ 14 Sampai Di Jakarta
Tak terasa kami sudah sampai di Jakarta. Mobil travel yang kami tumpang berhenti tepat di depan ruma
readmore บทที่ 15 Bukan Orang Yang Diharapkan
Yah ternyata Bagas, yang mengirim pesan untukku. Aku mendengus lemas. Aku pikir yang mengirim pesan
readmore บทที่ 16 Merasa Terabaikan
Bising suara kendaraan dipinggir jalan ditambah ribuan partikel debu yang berterbangan dimusim kema
readmore บทที่ 17 Bukan Cinta Monyet!
Satu minggu telah berlalu, akhirnya aku mendapatkan kabar bahagia ... Dion mengirim pesan kepadaku.
readmore บทที่ 18 Hubungan Terpaksa
Semua orang terdekatku mulai mengkhawatirkan keadaanku. Aku lebih sering melamun dan menangis sendir
readmore บทที่ 19 Pria Menyebalkan
Aku langsung terdiam saat Dino merebut ponselku. Aku tak marah ataupun menangis walaupun dia sudah m
readmore บทที่ 20 Cowok Saiko
"Din, elu mau bawa gue kemana sih?!" tanyaku dengan wajah yang panik. "Elu, diam aja!" bentaknya. Di
readmore บทที่ 21 Lebih Baik Pingsan
"Ayo, Mel, keluar! Sebelum penghuni kamar itu datang!" ucapnya. Sebenarnya aku merinding juga sih, t
readmore บทที่ 22 Bukan Kekuatan Super
Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Sepertinya do'aku dikabulkan. Dan aku benar-benar pingsan. H
readmore บทที่ 23 Jangan Emosi!
Ciri-ciri yang dijelaskan oleh seorang Ibu-ibu di depanku ini sangat mirip dengan Dino. Aku pun memp
readmore บทที่ 24 Belum Bisa Melupakan
Esok harinya aku berangkat sekolah seperti biasa, Jeni dan Elis berdiri menghampiriku dengan teriak
readmore บทที่ 25 Demi Sahabat
Aku dan Bagas masih duduk di bangku taman sambil mengobrol santai. Kami bergurau seraya memandangi
readmore บทที่ 26 Sudah Dewasa
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini tiba saatnya libur kenaikan kelas. Aku tak mau menyia-n
readmore บทที่ 27 Kekanak-kanakan
Tak di pungkiri Bagas itu memang aneh, menyebalkan, dan kadang membuat emosiku melonjak karna tingka
readmore บทที่ 28 Bukan Cemburu
Esok harinya, seperti biasa aku selalu bangun pagi dan dilanjutkan berolahraga. Di bawah pohon talok
readmore บทที่ 29 Laras Dan Bagas
Namamya Larasati Cristina, gadis berdarah Tionghoa blasteran Jawa. Berkulit putih, bermata sipit dan
readmore บทที่ 30 The Jamet
Insiden kaca kamar mandi yang pecah tidak mengurungkan niatku untuk datang ke studio musik milik tem
readmore บทที่ 31 Memalukan!
Ucapan Laras membuatku merasa malu-semalu-malunya. Ternyata benar kata Bagas, jika dandananku ini be
readmore บทที่ 32 Sebuah Alasan
Aku keluar dari dalam studio milik Rio. Sesekali aku menyeka air mataku, yang turun membasahi pipi.
readmore บทที่ 33 Bertemu Dion
"Sekarang, Mbak Mel, sudah paham, 'kan? Kenapa aku melarang, Mbak Mel, bernyanyi?" tanya Bagas. Lalu
readmore บทที่ 34 Pikirkan Perasaan Orang Lain!
Setelah kejadian kemarin sore, hatiku kembali galau, walau aku sudah berusaha untuk melupakannya, ta
readmore บทที่ 35 Cinta Pertama
Laras dan yang lainnya meminta maaf kepadaku dengan tulus. Aku tak bisa menolak permintaan maaf mere
readmore บทที่ 36 Cinta Pertama Part2
Cinta pertama bisa datang kapan saja, dan bisa menghampiri siapa saja. Bahkan bisa dirasakan sejak m
readmore บทที่ 37 Pertemuan
Aku tidak tahu apa alasan Dion, sampai harus menginap di rumah Nadira, yang jelas ini benar-benar me
readmore บทที่ 38 PUTUS!
Meski dalam dadaku terasa sesak, dan ingin mengeluarkan segala beban yang ada di dalamnya, tapi aku
readmore บทที่ 39 Nembak Bagas
"Tapi apa sih, Ndok? Nenek bakal setuju banget kalau kamu pacaran sama Bagas, apalagi kalau sampai n
readmore บทที่ 40 Ditolak
Aku terpaksa meninggalkan Nenek sendirian dan ikut Laras keluar rumah. Kami duduk di teras, dan sete
readmore บทที่ 41 Minta Maaf
Esok paginya, aku mendatangi rumah Laras, berharap sebelum aku pulang ke Jakarta, Laras sudah memaaf
readmore บทที่ 42 Memberikan Kesempatan
"Mbak Mel, ngapain ke rumahnya, Laras?" tanya Bagas. "Ya aku mau minta maaf, Gas," jawabku. "Memangn
readmore บทที่ 43 Setatus Baru
Hiruk-pikuk Jakarta menyapaku, sudah saatnya aku kembali dalam kesibukanku. Sepulang dari Semarang,
readmore บทที่ 44 Elis Yang Ugal-ugalan
Satu minggu telah berlalu, aku menyandang siswi kelas 2 SMA. Aku menjalani hari-hariku yang tak jauh
readmore บทที่ 45 Ide Jeni
Setelah kejadian kemarin aku tidak mau lagi berangkat ke sekolah bersama dengan Elis. Aku trauma! Da
readmore บทที่ 46 Mengerjai Dino
Sabtu siang sepulang dari sekolah telah kami habiskan untuk berdiskusi di kos-kosan Elis. Tentunya u
readmore บทที่ 47 Bunga Kantil
Dino seakan kenyang sendiri saat melihatku makan seperti orang yang sedang kesetanan. "Mel, kamu mak
readmore บทที่ 48 Aroma Bunga Melati
Sampai di hari berikutnya aku masih bersikap manis terhadap Dino. Seolah-olah aku benar-benar bersung
readmore บทที่ 49 Elis Yang Sedang Jatuh Cinta
Ah ... akhirnya aku bisa bernafas dengan lega, aku bisa menjalani hari-hariku di sekolah dengan tena
readmore บทที่ 50 Pria Tampan
"Tapi apa, Jen?" tanya Elis. "Tapi cowok itu gak cocok buat Elis," jawab Jeni. "Lah kenapa gak coco
readmore บทที่ 51 Kencan
Malam telah tiba-tiba, aku menepati janji bersama Bagas. Yah jalan-jalan, Bagas bilang dia ingin meni
readmore บทที่ 52 Makan Malam
Aku dan Bagas mulai memasuki restoran. Dan aku juga melihat Elis yang sudah duduk di kursi mengobrol
readmore บทที่ 53 Berdoa Saat Hujan
Aku mulai panik saat melihat Elis dan Julian sudah meninggalkan meja mereka. "Mbak Mel, nyariin apaa
readmore บทที่ 54 Bagas Dalam Bayanganku
Menunggu sampai hujan reda cukup lama juga, aku dan Bagas duduk jongkok di pinggir ruko. "Mbak Mel,
readmore บทที่ 55 Pria Yang Bertanggung Jawab
Rintik hujan masih jatuh meski ukurannya sangat kecil dan sangat lembut. Bagas membantuku menuruni m
readmore บทที่ 56 Calon Menantu Idaman
Setelah meneleponku, Bagas benar-benar datang ke rumah. Dia memksaku untuk berobat tapi lagi-lagi ak
readmore บทที่ 57 Akan Hilang Dengan Sendirinya
Bagas masih duduk di sampingku, dan aku juga masih berpura-pura tidur. Padahal mata ini terasa pegal
readmore บทที่ 58 Kesepian Tanpa Bagas
Satu minggu berada di Rumah Sakit, aku sudah mulai merasa penat, aku rindu kamarku, dan aku juga bos
readmore บทที่ 59 Klub Malam
Elis masih terdiam, dan kedua sudut netranya mengeluarkan cairan bening. "Elis, kenapa?" tanyaku lag
readmore บทที่ 60 Dijual Sama Om-om
"Udah gak usah ditutupin," kata Julian pada Elis Hal itu membuat Elis syok mendengarnya. Bisa-bisanya
readmore บทที่ 61 Serangan Elis
Elis benar-benar syok mendengar Julian berkata dengan nada tinggi kepadanya. Sebelumnya Julian selalu
readmore บทที่ 62 Waspada Dengan Pria Tampan
Elis berlari sambil meraih kembali tongkat besinya. Dan ketiga pria bertubuh besar itu masih mengejar
readmore บทที่ 63 Sikap Posesif Jeni
Masalah Elis sudah kami anggap selesai, dan kini Elis juga sudah mulai melupakan Julian. Mungkin awal
readmore บทที่ 64 Penyamaran
Aku dan Elis langsung terdiam saat Jeni berkata, 'kata siapa kita, lemah?' Tentu saja kalimat itu ada
readmore บทที่ 65 Kerja Sama
"Maaf, dengan siapa saya berbicara?" tanya Jeni pada Sarah. "Nama saya, Sarah," jawab Sarah seraya me
readmore บทที่ 66 Tante Genit
Julian menceritakan dengan detail bagaiamana cara dia mendapatkan para gadis yang akan ia jual kepad
readmore บทที่ 67 Bangun Kesiangan
Sudah berulang kali aku menyuruh Bagas untuk menutup teleponnya, tapi dia selalu menolak. Setiap aku
readmore บทที่ 68 Kematian Mellow
Akhirnya rasa ketakutanku hilang, setelah sampai di depan gerbang. Kulirik jam tangan, masih menunjuk
readmore บทที่ 69 Tidak Enak Hati
Aku yakin jika saat ini Bagas tengah bersedih karena baru saja kehilangan kucingnya. Aku juga turut b
readmore บทที่ 70 Telepon Terakhir
Sudah lama aku tidak berpapasan langsung seperti ini dengan Dino. Walaupun kami masih satu sekolahan
readmore บทที่ 71 Bertemu Dengan Dino lagi
Kali ini aku sedang duduk di restoran milik teman Tante Diani. Masakan di sini lumayan enak, dan tent
readmore บทที่ 72 Liburan Kenaikan Kelas
Tak terasa satu tahun telah berlalu, hari ini adalah hari terakhir berada di sekolah. Besok akan tiba
readmore บทที่ 73 Belum Siap Cemburu
"Mel! Buruan, Sayang!" teriak Mama yang sudah bersiap di depan mobil, dan Papa sudah berada di depan
readmore บทที่ 74 Mengobrol Bersama Bagas
Aku malu saat Mama mengatakan aku hanya makan nasi saja, dan aku belum makan sayur atau lauk apapun.
readmore บทที่ 75 Hari Ulang Tahun Bagas
"Mbak, saya akan merasa senang kalau Mbak Mel, berkata 'iya' atas pertanyaan saya," ujar Bagas. "Kena
readmore บทที่ 76 Bertemu Teman Lama
Aku sudah berpakaian rapi. Dari balik jendela rumah Nenek aku melihat Bagas sedang berjalan menghamp
readmore บทที่ 77 Tembok Pembatas
"Hai, Ras, apa kabar?" sapaku seraya mengulurkan tangan. "Baik, Mbak," sahut Laras. Kami berdiri salin
readmore บทที่ 78 Beda Keyakinan
Sepulangnya dari kafe semalam, pikiranku semakin tidak tenang. Jarak pembentang antara aku, dan, Lara
readmore บทที่ 79 Ditabrak Motor
Sekarang aku sudah tahu apa alasan mereka putus. Ternyata bukan karena aku, tapi karena keluarga mere
readmore บทที่ 80 Pria Yang Kemarin
Aku dan Laras sampai terperangai saat si pria membuka masker. Wajah pria itu sangat tampan, hidungny
readmore บทที่ 81 Betapa Besarnya Cinta Bagas
Sepulangnya dari rumah Laras, Bagas mengajakku mampir di sebuah warung bakso langganannya. "Mbak Mel,
readmore บทที่ 82 Deg-degan
Hari ini tepatnya aku dan Bagas resmi berpacaran. Hatiku berbunga-bunga, kini aku tidak lagi tersiksa
readmore บทที่ 83 Malam Perpisahan
Hari-hariku selama di rumah Nenek kian terasa indah. Aku sering menghabiskan waktu bersama dengan Ba
readmore บทที่ 84 Anak Angkat
Pagi hari ini, aku sedang mempersiapkan barang-barangku. Kerena sore nanti kami akan memulai perjala
readmore บทที่ 85 Resmi Berpacaran
Aku sudah membawa koperku keluar rumah. Mama dan Papa sedang menata barang-barangnya ke dalam mobil.
readmore บทที่ 86 Pertunangan Jeni
Akhirnya Mama tahu jika aku dan Bagas berpacaran. Betapa bahagianya Mama sampai jingkrak-jingkrak tak
readmore บทที่ 87 Pertunangan Jeni Part2
Aku dan Elis benar-benar sok saat melihat pria yang dijodohkan dengan Jeni benar-benar diluar ekspek
readmore บทที่ 88 Lelaki Baik
Aku, Jeni, dan Elis, langsung terdiam dengan kedua mata membulat saat mendengar Tante Rini memanggi
readmore บทที่ 89 Dia Datang Lagi
<==7 tahun kemudian==> Senja keemasan itu mengiringi langkahku, yang baru saja keluar dari sebuah kan
readmore บทที่ 90 Dion Melamarku?
Di kafe itu Dion terus mengajakku mengobrol, namun responku tidak begitu baik terhadapnya. Sejak tadi
readmore บทที่ 91 Cintaku Yang Terlanjur Hilang
Dengan sedikit keberatan, Dion mulai menceritakan hubungannya dengan Nadira. Tentu saja aku sangat b
readmore บทที่ 92 Kejutan Dari Bagas
Setelah bertemu dengan Dion, sempainya di rumah aku langsung menelepon Bagas. Rasanya aku sudah tidak
readmore บทที่ 93 Menjelang Pernikahan
Malam ini aku tak bisa tidur lagi. Namun bedanya aku tidak menangis, justru mataku malah berbinar-b
readmore บทที่ 94 Tamat
Hari yang sangat bersejarah bagiku. Aku mencium tangan Bagas setelah ijab qobul selesai diucapakan ol
readmore
sangat puas atau apa yang saya baca
03/12
0seru
17/08
0bagus bgt
14/08
0bagus sekali
25/07
0👍bagus
19/06
0candu bngt
15/06
0bagus bangettt
12/06
0suka bangett keren bangett
12/05/2025
0Suka, bikin nostalgia masa remaja
04/05/2025
0BAGUSSS SUKAAA
03/05/2025
0