"Baru pulang Mas?" tanya Sekar saat melihat Bayu yang baru saja masuk kamar. "Iya." "Kerja jadi tukang bersih-bersih saja kok sok sibuk gitu, berangkat paling pagi dan pulang paling akhir. Kalau gajinya banyak sih tidak apa-apa, lha ini, sudah gaji sedikit, jam kerja paling banyak. Coba dulu mau nerima tawaran untuk jadi manajer, pasti bakalan enak kan?" "Ini sudah menjadi keputusan Mas, mau tidak mau kamu harus menerimanya, yang penting Mas selalu memberi kamu uang tepat waktu kan?" "Tepat waktu, tapi jumlahnya sedikit, huft." "Banyak ataupun sedikit harus selalu kita syukuri, yang penting Mas mendapatkannya dengan cara yang halal." "Cara halalmu membuat kita awet jadi orang miskin Mas." "Astaghfirullah, kenapa kamu bicara seperti itu Sekar? Ingatlah bahwa roda kehidupan selalu berputar, kamu tahu bagaimana ceritanya dulu Mbak Sri harus berjuang mencari nafkah sebagai buruh cuci dan setrika kan? Dengan kesabarannya akhirnya dia bisa menjadi seperti sekarang." "Jangan samakan aku dengan Mbak Sri, Mas. Aku bukan dia dan aku bukan tipe orang yang penyabar. Pokoknya aku bakal lakuin apapun agar kita bisa cepat kaya. Dengan mengandalkan kamu saja entah kapan kita bisa hidup enak." "Memangnya apa yang mau kamu lakukan Sekar?" "Aku sudah meminta Mas Dirga untuk mengijinkanku mengelola salah satu restorannya." "Apa maksudmu dengan mengelola?" "Tentu saja aku akan menjadi manajer di sana." "Memangnya kamu bisa apa Sekar?" "Kamu tidak ingat kalau aku dulu pernah punya warung makan?" "Jangan samakan restoran ini dengan warung makanmu itu Sekar. Kamu belum punya pengalaman dalam mengelola restoran, bukannya membuat restoran semakin maju tapi bisa-bisa kamu membuatnya bangkrut." "Kamu tidak percaya padaku Mas?" "Tentu saja tidak, pokoknya aku tidak setuju kamu jadi manajer." "Masa b*d*h, dengan atau tanpa persetujuanmu aku akan tetap menjalankannya." "Tapi Sekar…." "Sudahlah Mas, siapa suruh kamu nolak jadi manajer, kalau aku tidak nekat seperti ini, kapan lagi kita bisa kaya." "Kamu memang keras kepala Sekar, yang ada dipikiranmu hanya uang dan uang saja." "Aku berusaha bersikap realistis Mas, jaman sekarang semua harga mahal. Kalau hanya mengandalkan gajimu saja tidak akan cukup, apalagi anak-anak sudah mulai kuliah, mereka butuh biaya yang lebih banyak." "Terserah kamu sajalah, Mas tidak pernah bisa menang berdebat denganmu." "Doakan saja semoga aku bisa mengelola restoran itu dengan baik." "Iya Sekar." Batu hanya bisa pasrah menerima keputusan Sekar. … "Pagi teman-teman, perkenalkan, ini adalah bu Sekar, manajer baru kalian." "Hah? manajer baru? terus Pak Dirga mau kemana kok diganti bu Sekar sih?" tanya Dita, kasir di restoran tersebut. "Saya akan fokus mengelola restoran yang lainnya, untuk restoran ini akan dikelola oleh bu Sekar." "Oh ya, ya." "Silakan beri sambutan Sekar," perintah Dirga kepada Sekar. "Halo teman-teman, nama saya Sekar. Mulai hari ini saya akan menjadi manajer baru kalian jadi mohon kerjasamanya." "Baik bu," jawab semua karyawan serentak. "Baiklah, sekarang saya tinggal dulu, kalau ada apa-apa kabari saya." "Iya Mas." Dirga segera pergi meninggalkan restoran. "Teman-teman, silakan mulai bekerja, untuk hari ini saya akan mengawasi kinerja kalian semua, jika ada sesuatu yang kurang sesuai maka saya akan menegur kalian." "Baik Bu." "Heh, siapa nama kamu?" "Saya Dita bu." "Tolong antar saya ke ruangan saya." "Baik Bu." Sekar mulai meninggalkan para pegawai restoran untuk menuju ke ruangannya dengan di antar Dita. "Disini ruangannya Bu." "Apa jabatanmu di sini?" "Saya kasir." "Bagus, saya akan berinteraksi denganmu lebih intens untuk menghitung laba restoran, jadi kerjakan semua dengan teliti, saya tidak mau ada kesalahan." "Iya Bu." "Pergilah, saya mau istirahat dulu." "Baik Bu." Sekar masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi yang biasa dipakai oleh Dirga atau Sri. 'Ternyata enak sekali jadi pimpinan, tinggal duduk sambil ongkang-ongkang kaki, empuk juga nih kursi, memang beda rasanya kursi pimpinan sama kursi kacung, baru sekali ini aku merasakannya. Aku harus mulai menyusun rencana untuk mendapatkan restoran ini' gumam Sekar. Sementara itu di ruang rapat para karyawan sedang mengadakan rapat dadakan, mereka kurang yakin dengan kinerja Sekar. "Teman-teman, kira-kira manajer baru kita itu bisa apa ya?" tanya Pardi, koki di sana. "Aku juga ragu dengan kemampuannya, lihat saja pakaiannya itu benar-benar norak," ucap Silvy, asisten koki. "Kamu benar, dia kelihatan ketinggalan jaman sekali, aku tidak yakin restoran ini akan maju kalau dia yang mengelola, bahkan kemungkinan besar restoran bisa bangkrut," kata Dita. "Jangan berburuk sangka dulu, kita kan belum tahu bagaimana kinerja bos baru kita itu," Darmo menimpali. Pembicaraan mereka tidak sengaja didengar oleh Sekar. Dia marah karena merasa diremehkan. "Pada ngapain kalian ini? cepat selesaikan kerjaan kalian! malah ngegosip. Waktunya kerja ya kerja, kalian saya beri waktu untuk mengobrol saat istirahat, kalau tidak mau mengikuti aturan silahkan angkat kaki dari sini." "Baik bu," jawab mereka semua serempak. Sekar meninggalkan ruangan untuk mengecek di tempat lain. "Waduh, ternyata si bos itu galak juga ya, kita harus berhati-hati, bisa dipecat kalau membuat dia marah." "Kamu benar, aku juga tidak menyangka kalau dia segalak itu, beda sekali dengan bos Dirga dan bos Sri." "Sudah sudah, ayo kerja, nanti ketahuan bos baru lagi malah repot jadinya." Setelah dari ruang rapat, Sekar menuju ke dapur untuk melihat bahan makanan yang ada. "Apa ini? kenapa sayur busuk masih disimpan di sini?" "Itu belum busuk Bu, hanya layu saja, saya baru beli kemarin," jawab Parti yang bertugas mengurus bahan makanan mentah. "Lain kali simpan yang benar, jangan sampai seperti ini, bisa rugi dong restoran kalau caramu seperti." "Iya Bu." "Terus ini lagi, kenapa buah-buahannya dikupasnya tebal-tebal begini, yang lebih tipis saja biar daging buahnya tidak banyak yang terbuang." "Iya Bu." "Nanti saya periksa lagi, kerjakan yang benar." "Baik Bu." Setelah itu Sekar menuju ke bagian depan restauran. "Heh, kamu, sini." "Saya Bu?" "Iya, kamu, memangnya siapa lagi? " Ada apa Bu?" "Ini kenapa masih kotor sekali lantainya? Terus mejanya kok masih banyak debu, kamu bisa kerja tidak sih?" "Maaf Bu, sebelah sana memang belum saya bersihkan." "Kalau begitu cepat bersihkan dong." "Iya bu." "Lain kali kerja yang benar." "I-iya bu." "Bagus." Sekar memastikan semua meja dan kursi di bersihkan dengan benar, setelah selesai dia menuju ke kamar mandi. Di sana ada seorang pria tua yang sedang mengepel lantai. Melihat pria tersebut sedang bersih-bersih dia langsung teringat Bayu. 'Mas bayu, apakah kamu akan terus menjadi tukang bersih-bersih sampai tua nanti? Dasar b*d*h' gumam Sekar. ... Sekar dan Rida terlihat berbelanja banyak sekali barang di mall. Tidak sengaja aktifitas mereka di ketahui oleh Sri. "M-mbak Sri?" Sekar kaget melihat Sri mendatanginya saat memilih-milih baju. "Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli barang-barang mahal ini?"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 23 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Ver Todos