Setelah kejadian yang menimpa Dirga, dia terus berusaha menjauhi Sekar. Dirga merasa tidak nyaman jika harus terus bertemu dengan Sekar. Kehadirannya membuatnya sangat risih. Berbeda dengan Dirga, Sekar terus berusaha mendekati Dirga. Dia juga merasa kalau Dirga berusaha menghindarinya. Tidak mau ambil resiko buruannya kabur, maka Sekar segera melancarkan aksinya agar segera mendapatkan kekayaan Dirga. "Mas, kenapa kamu menghindariku? Kamu mau lari dari tanggung jawab ya?" tanya Sekar. "Aku tidak menghindarimu Sekar, belakangan ini aku memang sibuk sekali," ucap Dirga berbohong. "Awas saja ya kalau Mas sampai menjauhiku, aku bakalan ngadu sama Mbak Sri." "Jangan lakukan itu Sekar!" "Kalau begitu Mas harus menuruti semua keinginanku." "Memangnya apa yang kamu inginkan?" "Aku mau mengelola salah satu restoran." "Tapi…." "Aku tidak main-main dengan ancamanku Mas." "Masalah ini harus aku bicarakan dengan Sri dulu." "Kenapa begitu?" "Semua restoran itu punya Sri, bukan punyaku." "Halah, punya Mbak Sri berarti punyamu juga kan." "Tidak begitu konsepnya…." "Pokoknya aku tidak mau tahu, besok aku harus sudah memegang salah satu restoran, kalau tidak, aku bakal ngomong semuanya sama Mbak Sri." "Tapi…." "Aku tunggu kabar darimu," ucap Sekar seraya meninggalkan Dirga. … "Tumben jam segini kesini Mas?" tanya Sri yang merasa heran melihat kedatangan Dirga ke restoran. "Kangen kamu," ucap Dirga sambil memeluk Sri. "Mas apa-apaan sih, malu dilihatin orang." "Tidak perlu malu, biarkan mereka iri melihat kemesraan kita." "Ish, ayo masuk." Sri mengajak Dirga masuk ke ruang kerjanya. "Sri, bagaimana kalau restoran kita yang ada di dekat sekolah anak-anak biar di pegang Sekar." "Maksud Mas?" "Sekar pasti bosan kalau hanya di rumah saja, biarkan dia menyibukkan diri dengan mengurus salah satu restoran kita." "Kenapa tiba-tiba?" "Sebenarnya Mas sudah memikirkan ini jauh hari kok. Adik dan Iparmu kan kesini niatnya mau cari kerja. Apa gunanya kalau Sekar hanya di rumah saja." "Kalau begitu terserah Mas saja, Sri ngikut." "Baiklah, kalau begitu aku akan bilang Sekar nanti." … 'S*al, benar-benar kesalahan aku menawarinya belanja. Apes Mak' gumam Ani yang merasa menyesal telah menawari Rida belanja. Selama perjalanan pulang, Ani terus merutuki kes*alannya. Dia merasa dikerjai oleh Rida. Sedangkan Rida terus saja tersenyum bahagia karena berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Sesampainya di rumah, Ani langsung melempar tasnya dengan kasar ke sofa ruang tamu. "Kamu kenapa sih? Dari tadi ngedumel mulu," tanya Rida pura-pura tidak paham kekesalan Ani. "Tidak apa-apa, capek saja," jawab Ani berbohong. "Ani, lain kali kita belanja lagi ya," ucap Rida tanpa beban. "Boleh, tapi nanti gantian kamu yang traktir." "Hah? Aku mana ada uang." "Nah, itu tahu. Kalau tidak punya uang kenapa mengajakku belanja?" "Kamu kan bisa bayari belanjaanku." "Idih, ogah ya. Kalau di bawah seratus ribu okelah, lha ini sampai sejuta. Benar-benar perampokan." "Jangan terlalu perhitungan sama keponakan. Seharusnya kamu memberikanku lebih dari ini, kamu kan kaya." "Aku bisa saja memberimu lebih jika kamu itu tahu diri," ucap Ani seraya meninggalkan Rida. "Dasar orang kaya pelit." Rida terus saja menggerutu. Sekar yang merasa heran melihat Ani pergi dengan wajah masam segera menghampiri Rida. "Ani kenapa Rida?" "Ini Mah, tadi Rida belanja dibayari Ani, tapi sepertinya Ani tidak ikhlas gitu." "Memang habisnya berapa?" "Satu juta." "Halah, habis satu juta saja kok sampai ngedumel gitu, dia kan kaya." "Makanya itu Ma, tadi Rida juga bilang begitu." "Rida, Mama ada kabar bagus." "Apa tuh Ma?" "Ayo kita masuk dulu ke kamar." "Kabar apa sih Ma?" tanya Rida setelah mereka sampai di kamar. "Coba lihat ini," ucap Sekar menyerahkan gawainya. "I-ini?" Rida menutup mulut karena kaget melihat gambar yang ada di depannya. "Dengan ini Mama bisa mendapatkan apa yang Mama inginkan." "Cerdas sekali Mama ini." "Mama sudah meminta Mas Dirga supaya Mama diperbolehkan untuk mengelola salah satu restoran." "Wow, Mama hebat, apakah Om Dirga sudah menyetujuinya?" "Kalau dia tidak setuju maka Mama akan mengancamnya dengan foto ini." "Mama memang selalu bisa diandalkan." "Tentu saja." Ting…. Gawai Sekar berbunyi menandakan ada pesan masuk. "Rida, ada pesan dari Mas Dirga nih." Sekar buru-buru membuka pesan tersebut. "Apa isinya Ma?" "Dia setuju kalau Mama mengelola salah satu restoran. Besok Mama disuruh ke sana untuk melihat-lihat." "Memangnya Mama bisa mengelola restoran? Yang ada nanti malah bangkrut lagi." "Kamu tidak ingat kalau di kampung dulu Mama punya warung makan? laris manis kan tuh warung?" "Laris karena ada pelayanan plus-plus Ma. Memangnya metode Mama mau di terapkan juga di restoran itu? Mama sudah tua loh, tidak seperti dulu lagi." "Sembarangan bilang Mama tua, meskipun sudah umur segini tetapi Mama tetap cantik kan?" "Itu kan karena susuk yang Mama pakai, coba kalau…." "Hush, jangan keras-keras, semua rahasia Mama cuma kamu yang tahu. Rido pun tidak tahu apa-apa masalah susuk ini." "Iya Ma, lain kali ajak Rida buat masang susuk juga ya." "Hah? Buat apa?" "Rida mau buat Mas Ali bertekuk lutut sama Rida." "Hah? Kenapa Ali? Seperti tidak ada yang lain saja." "Rida sudah jatuh cinta pada pandangan pertama Ma, selain ganteng dia juga baik hati loh. Satu lagi poin yang paling penting Ma, dia anak orang kaya." "Yasudah deh, terserah kamu, toh dia juga tidak ada hubungan saudara denganmu." "Makasih ya Ma, dukung Rida selalu. Eh, sebentar lagi Mama bakal jadi manajer restoran dong." "Kamu betul sayang, setelah Mama mendapatakan restoran, Mama akan minta yang lainnya. Kamu mau apa? tinggal bilang saja, nanti Mama belikan." "Bagus Ma, Rida dukung. Aduh, aku sudah tidak sabar ingin membeli semua yang aku inginkan." "Tinggal tunjuk saja, barang segera ada di depan mata, hahaha…." "Berkhayal tuh asyik banget ya Ma, Hahaha … terus bagaimana dengan Papa, apakah dia akan setuju kalau Mama mengelola restoran?" "Dengan atau tanpa persetujuannya, Mama akan tetap menjadi manajer kok, siapa suruh nolak jabatan tinggi hanya untuk jadi tukang bersih-bersih." "Iya Ma, Papa memang aneh dan tidak bisa diandalkan." "Maka dari itu Mama usaha sendiri, biar kita bisa cepat kaya." Tok … tok…. Pintu kamar Sekar diketuk dari luar. "Siapa?" tanya Sekar. "Ucup Neng." "Aduh, masalah tuh Ma." "Ada urusan apa Cup?" "Ucup mau mengajak Neng Sekar ngedate." "Ngedate? Hahaha…." Rida tertawa mendengar jawaban Ucup. "Saya sedang sibuk Cup." "Sibuk apa? Biar saya bantu, biar cepat selesai, biar kita bisa segera ngedate." "Tidak usah, saya bisa menyelesaikannya sendiri." "Ucup serius mau bantu Eneng." "Nanti kalau saya butuh bantuan saya bilang kamu." "Beneran ya Neng." "Iya, sudah, pergi sana." "Daa … daa … Eneng sayang, muach…." "Eneng sayang? Hahaha…." "Diam! garing tuh gigi ketawa terus," bentak Sekar. "Habisnya, bucin sekali si Ucup ini." "Nanti kalau peletnya habis juga normal lagi." … "Pokoknya aku tidak setuju kamu jadi manajer."
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 24 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Ver Todos