Bruuk … tubuh Dirga jatuh ke tempat tidur Sekar. "Yes, akhirnya, selangkah lagi aku akan mendapatkan buruanku," pekik Sekar kegirangan. Sekar segera melucuti semua pakaian yang dikenakan Dirga, menyisakan C* nya saja, dia juga membuka bajunya sendiri menyisakan lingeri saja. Setelah memastikan kalau Dirga berada pada posisi yang tepat, dia tidur disampingnya, menutupi sebagian tubuh mereka dengan selimut. Dan mulai mengambil gambar mereka berdua dengan posisi Dirga yang bertelanjang dada. "Nah, ini sepertinya sudah cukup untuk mengancam Mas Dirga." Setelah mendapatkan banyak gambar, sekar menyudahi foto selfinya. Sekar menggoyang-goyangkan tubuh Dirga agar segera terbangun. "Ah, dimana aku? Kenapa kepalaku pusing sekali?" Sekar berpura-pura tidur setelah melihat Dirga mulai sadar. "Astaga, Sekar? Kenapa kamu ada di sini?" Dirga kaget melihat sekar berbaring di sampingnya. "M-mas, apa yang telah Mas lakukan? Ini kan kamarku," ucap Sekar pura-pura terkejut. "Kamarmu? Bagaimana bisa? Maksud kamu apa? Aku tidak melakukan apa-apa." "Jangan bohong, kalau tidak melakukan apa-apa kenapa kita bisa telanjang seperti ini?" "Astaga…." Dirga kaget mendapati dirinya tanpa pakaian. "Pokoknya Mas harus bertanggung jawab." "Tanggung jawab bagaimana, sedangkan saya tidak ingat apa yang baru saja terjadi." "Jangan pura-pura b*d*h Mas, habis manis sepah dibuang. Pokonya aku tidak terima di perlakukan seperti ini." "Sumpah, saya tidak ingat apapun Sekar." "Apa yang akan dipikirkan Mas bayu jika dia tahu kalau istrinya…." "Bayu tidak boleh tahu mengenai masalah ini." "Lalu, Mbak Sri?" "Pokoknya semua ini akan tetap menjadi rahasia kita berdua." "Tapi Mas…." "Aku pergi dulu." Dirga segera memakai bajunya dan meninggalkan kamar Sekar. "Yes, berhasil," ucap Sekar. Dirga bergegas menuju ruang kerja nya dan merutuki apa yang baru saja terjadi. 'Ada apa denganku? Kenapa bisa hal menjijikan ini terjadi kepadaku dan di rumahku sendiri? Arrggghttttt … sial, pokonya tidak boleh ada yang tahu tentang masalah ini, aku harus tetap merahasiakannya' … "Mas Ali, bantuin aku belajar dong. Aku ada tugas nih," rengek Rida dengan manja. "Aku lagi sibuk Rida, kamu cari buku di perpustakaan saja buat referensi." Ali berusaha menolak Rida, dia merasa risih karena Rida terus saja mendekatinya. "Ah, Mas Ali pelit. Nanti aku bilangin bude Sri loh kalau Mas tidak mau bantu aku," ancam Rida. "Silakan kamu ngadu, kenyataannya aku memang sedang sibuk kok." 'Ish, nyebelin. Gagal deh PDKT ku sama Mas Ali' Sebenarnya Rida telah jatuh cinta kepada Ali pada pandangan pertama. Dia mulai mencoba mendekati Ali dengan segala cara. Sampai dia mendapati kenyataan yang sangat menyakiti hatinya. "Mas Ali, Rida," sapa Ani yang baru selesai kuliah. "Hay Ani, sudah selesai kuliahnya?" "Sudah, ada yang mau ketemu nih." "Siapa?" "Ini loh," ucap Ani sambil membawa Mustika ke hadapan Ali. "M-mustika?" 'Siapa dia? Cantik sekali' "Halo Mas, apa kabar?" "Kamu kapan pulang dari Amerika?" "Kemarin, aku main ke sini karena kangen sama Ani…." "Halah, kangen sama aku apa sama Mas Ali," goda Ani. Mustika tersipu malu karena di goda Ani. Ali juga menjadi salah tingkah karena perkataan adiknya. Sementara itu Rida menatap tidak suka ke arah Mustika. "Teman-teman, kita nonton yuk, ada film bagus loh," ucap Mustika. "Ayuk," jawab Ali. 'Katanya lagi sibuk, dia menolakku tetapi menerima ajakan nonton orang lain? Menyebalkan, tidak bisa dibiarkan, aku juga harus ikut' gumam Rida. "Aku juga mau ikut," ucap Rida menimpali. "Eh, siapa dia?" tanya Mustika. "Ini keponakanku dari kampung, namanya Rida." "Oh, halo Rida, salam kenal, aku Mustika. Ayo ikut nonton, pasti seru kalau rame-rame." "Kalian berdua saja, aku dan Rida masih ada urusan." Ani segera menolak ajakan Mustika. "Tapi aku tidak…." "Ayo Rida, kita pergi." Ani menyeret Rida agar menjauhi Ali dan Mustika. "Ani, kamu apa-apa sih, aku kan mau ikut nonton." "Biarkan mereka berdua, sebenarnya mereka saling mencintai tetapi sama-sama malu untuk mengungkapkan perasaannya." "A-apa?" Rida kaget mendengar perkataan Ani. "Kami sudah saling kenal sejak kecil dan sering bermain bersama. Perasaan itu mulai tumbuh di hati mereka berdua." "Kenapa harus Mustika?" "Maksud kamu?" "Ah tidak ada. Apa Mas Ali tidak ada rencana untuk menyatakan perasaannya?" "Ada, bahkan dia sudah menyiapkan makan malam romantis untuk menunjang acara nembaknya." "Oh ya, kapan itu?" "Rencananya saat Mas Ali ulang tahun nanti, satu minggu lagi. Kamu mau kan membantu kami agar sukses acara nembaknya?" "T-tentu, aku mau." 'Enak saja minta bantuanku, yang ada aku bakal hancurin rencana itu. Mas Ali harus jadi pacarku' gumam Rida. "Ayo kita pulang Rida." "Apa kita tidak menunggu Mas Ali dulu?" "Tidak usah, biarkan mereka bersenang-senang." "Ya." Rida berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki merasa kesal membayangkan yang sedang dilakukan Ali. "Kamu kenapa?" "Eh, tidak, kakiku kesemutan." "Oalah, yuk. Aku mau mampir dulu ke toko aksesoris, kamu mau ikut tidak?" "Mau." Ani dan Rida segera memesan taksi online untuk pergi ke toko aksesoris. "Wah, ini kenapa lucu-lucu sekali bentuknya, ada gelang, kalung, anting, jepit rambut. Aduh, jadi kepengen semua aku tuh." Rida merasa takjub melihat semua barang yang dijual di toko. "Kalau mau kamu bisa ambil, nanti aku yang bayar." "Benarkah? Makasih ya Ani." Rida segera mengambil keranjang untuk menaruh barang bawaannya. 'Yang ini bagus, yang ini juga bagus, bagus semua deh sampai bingung mau milihnya. Dari pada bingung mending aku ambil semua, mumpung dibayari, hehehe' Tidak butuh waktu lama untuk mengisi penuh keranjang dengan barang-barang kesukaan Rida. "Ani, aku sudah selesai," ucap Rida sambil menghampiri Ani yang sedang memilih jepit rambut. "Oh, ya. Hah? Ini semua barang belanjaan kamu? Mau jualan atau apa kok banyak sekali?" Ani kaget melihat keranjang Rida. "Habisnya barangnya bagus-bagus sih, daripada bingung milih mending aku ambil semuanya. Tidak apa-apakan? Sesekali traktir adik sendiri tidak masalah dong, kamu kan punya banyak uang," ucap Rida tanpa merasa bersalah. "I-iya." Ani tidak dapat menolak karena dia sendiri yang terlanjur menawarkan untuk membayar belanjaan Rida. Berbanding terbalik dengan Rida yang berbelanja banyak sekali, Ani hanya membeli sebuah bros untuk pelengkap jilbab yang sedang dia pakai. Mereka berdua segera menuju ke kasir. Mbak kasir mulai menghitung barang belanjaan mereka, betapa kagetnya Ani setelah tahu nominal yang harus dibayarkan. "Berapa Mbak?" tanya Ani. "Satu juta Mbak." "Hah?" Ani kaget melihat harga belanjaannya. Sementara itu Rida hanya tersenyum karena barang segini banyak akan dibayari Ani. Ani segera membayar dan berlalu meninggalkan Rida yang kerepotan membawa belanjaan. 'Asyik, dapat rejeki nomplok, barang ini akan aku jual lagi ke kampung dengan harga dua kali lipat, lain kali ngajak Ani belanja lagi biar dibayarain' gumam Rida. 'S*al, benar-benar kesalahan aku menawarinya belanja. Apes Mak' gumam Ani yang merasa menyesal telah menawari Rida belanja.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 23 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Ver Todos