"Eh, eh, alamak, salah alamat lagi?" Sekar merasa lemas mengetahui minumannya di habiskan Mang Ujang. Sekar segera berlari ke dalam kamar menghindari hal yang tidak diinginkan. Dia takut kalau Mang Ujang akan berperilaku seperti Ucup. "Loh, Sekar, mau kemana?" tanya Dirga. "M-mau kebelet, eh, mau pipis," jawab Sekar seraya meninggalkan dapur. Sepeninggalan Sekar, Mang Ujang masih terlihat kepayahan. Wajahnya pucat dan bibirnya sedikit membiru. "Mang, apa yang terjadi dengan Mang Ujang?" tanya Dirga khawatir. "Tidak tahu Den, astaghfirullah … astaghfirullah…." Mang Ujang terlihat menahan sesuatu yang menghimpit dadanya. "Tarik nafas dalam-dalam mang lalu hembuskan perlahan." Mang Ujang segera melaksanakan perintah Dirga. Dirga lalu menyodorkan segelas air putih untuknya. "Minum dulu, Mang." "Terimakasih Den," jawab Mang Ujang seraya mengambil gelas yang di sodorkan Dirga. "Uhuk … uhuk … Allahuakbar." Mang Ujang batuk mengeluarkan cairan berwarna pink. "Astaghfirullah … Mang Ujang tidak apa-apa?" "Tidak apa-apa Den." "Kenapa bisa seperti ini? Apa Mang Ujang sedang sakit" "Tidak Den, sepertinya ada yang sedang berusaha mengincar Aden." "Maksudnya? Saya tidak paham dengan apa yang Mang Ujang katakan." "Saya tidak bisa berkomentar banyak, sebaiknya Aden lebih berhati-hati terutama jika ada yang menawari Aden makanan atau minuman, jangan lupa berdoa dulu sebelum memakan atau meminum nya. Dan satu lagi saran saya jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu, diimbangi dengan puasa senin kamis juga lebih bagus." "Saya belum begitu paham apa maksud Amang, tapi terimakasih untuk sarannya, saya akan lebih berhati-hati." "Saya permisi dulu den." Sementara itu sedari tadi sekar mengintip apa yang terjadi dengan Mang Ujang, dia merasa kaget karena ramuannya tidak berefek kepadanya. Sekar segera masuk ke kamar dan menghubungi Simbah. "Halo Mbah...." "Ada apa sekar?" "Kenapa peletnya tidak mempan?" "Maksudnya?" "Tadi saya berniat memberikannya kepada target saya tetapi ternyata salah sasaran...." "Hah? Salah sasaran lagi? Kamu ini memang ceroboh Sekar, ramuan itu hanya untuk dua kali pakai, jadi sekarang kamu sudah tidak punya ramuan lagi kan?" "Iya Mbah, saya sudah tidak punya lagi. Mbah, orang yang meminum ramuan ajaib itu malah memuntahkan cairan berwarna pink dan selebihnya dia tidak bersikap seperti Ucup kemarin, kenapa bisa seperti itu Mbah?" "Pelet saya tidak akan manjur bila orang itu taat beribadah dan sering lelaku." "Lelaku bagaiman maksud Mbah?" "Puasa senin kamis, puasa mutih dan sebagainya." "Jadi si Ucup kemaren termasuk orang yang tidak taat beribadah yang Mbah?" "Kemungkinan seperti itu. Sebenarnya saya punya pelet yang lebih canggih lagi dari yang kamu ambil sebelumnya." "Jadi yang saya ambil kemarin termasuk yang kualitasnya rendah?" "Iya, kamu benar." "Kenapa tidak memberi saya yang canggih sekalian sih Mbah?" "Karena saya tahu kamu akan keberatan masalah harga, yang itu saja kamu sudah nawar sangat rendah kok. Bisa bangkrut bisnis perpeletan saya kalau kamu yang beli." "Hehehe ... namanya juga pembeli Mbah, maunya ya dapat harga yang serendah-rendahnya kan?" "Makanya itu saya tidak menawari kamu." "Memang harganya berapa sih Mbah?" "Saya yakin kamu akan kaget bila tahu berapa harganya." "Berapa? Bilang dong Mbah." "Sepuluh juta rupiah." "Hah? Malah sekali? Yang kemarin saja saya bisa dapat dengan harga lima ratus ribu kok yang ini sepuluh juta sih Mbah?" "Dibilangin yang ini kualitas super dan paling canggih kok, yang kamu ambil kemarin kan yang kualitas paling rendah." "Memangnya apa yang membuat harganya bisa semahal itu?" "Mbah harus berkeliling tujuh pulau untuk mendapatkan air sumur yang ada di setiap pulau tersebut dan meraciknya menjadi ramuan ajaib. Karena ongkosnya mahal makanya harganya juga mahal. Sepuluh juta itu hanya dapat satu botol kecil kira-kira lima tetes saja." "Astaga, mahal dan sangat pelit isinya. Lalu ramuan yang saya beli kemarin di dapatnya dari mana Mbah?" "Kalau yang itu cuma dari sungai belakang rumah dan diberi sedikit jampi-jampi." "Saya mau pesan yang harganya sepuluh juta dong Mbah, harganya bisa diturunin sedikit tidak Mbah saya kan pelanggan tetap." "Memangnya kamu mau harga berapa?" "Enam ratus ribu Mbah." "Sontoloyo, ramuan seharga sepuluh juta di tawar enam ratus ribu? Kamu waras tidak sih?" "Ya waras dong Mbah, justru karena saya waras mana mungkin saya mau membayar lima tetes air dengan harga sepuluh juta." "Bocah gemblung, benar-benar bisa bangkrut saya kalau gini, buat ongkos saja belum cukup kok. Yang kemarin saja kamu belum bayar kan?" "Oh, iya Mbah, saya lupa, dirapel saja Mbah, total satu juta seratus ribu, gimana Mbah." "Raurus." Tut.... Panggilan langsung diputus Simbah. "Dasar orang tua matre, pikirannya duit mulu. Aku harus memikirkan cara lain agar Mas Dirga masuk ke dalam jeratku. Sekarang dia dimana ya?" Sekar keluar kamar untuk mencari keberadaan Dirga, ternyata sekarang dia berada di ruang keluarga sedang membaca buku. 'Wah, pucuk di cinta ulam pun tiba, kalau tidak bisa dengan minuman maka aku bakal membiusnya, untung saja aku sudah menyiapkannya jauh hari, kalau pakai sapu tangan seperti di film-film aku tidak mau, sebaiknya aku mencari sesuatu supaya dia mau menciumnya. Hmmm ... aku tahu, bunga mawar. Tapi di kebun ada Ucup, bisa gawat kalau aku ketemu dia lagi. Tidak apa-apa lah, semoga Ucup tidak menggila' gumam Sekar. Sekar segera menuju ke kebun belakang, benar dugaan Sekar, Ucup berada di kebun sedang menyiram bunga. Dengan perlahan dia mendekati Ucup. "Cup...." "Eneng cantik, Ucup kangen," ucap Ucup sambil merentangkan tangannya berniat memeluk Sekar. "Stop, jangan dekat-dekat." "Kenapa Neng?" "Kamu beneran cinta sama saya dan mau melakukan apa saja untuk saya, Cup?" "Tentu saja Neng." "Kalau begitu bisakah kamu memberikan saya bunga mawar yang berwarna-warni itu?" "Siap, semua akan Ucup berikan untuk Eneng." Ucup segera memetik beberapa tangkai mawar dan di berikan kepada Sekar. "Ini Neng, Ucup senang sekarang Eneng sudah mau menerima cinta Ucup, besok kita nikah yuk Neng...." "A-apa Nikah?" 'Bisa gil* kalau aku lama-lama bersama ni anak' "Iya Neng, mau kan Neng?" "Eh, saya masih ada urusan, lain kali kita ngobrol lagi." Sekar bergegas masuk ke dalam rumah. "Eh, tunggu dulu Neng, Ucup masih mau ngomong...." Sekar tidak memperdulikan teriakan Ucup, dia terus masuk rumah dan mengunci pintu. 'Rasain kamu Cup' Sekar mencari vas bunga dan meletakkan mawar tersebut ke dalam vas. Tidak lupa dia menyemprotkan obat bius dan membawanya menemui Dirga. "Mas, ini tadi saya memetik bunga mawar, coba cium deh, harum sekali baunya." "Wah, cantik sekali bunganya." Dirga mencium mawar tersebut. 'Ayo, semaput mas' "Duh, kepala saya kok pusing ya?" "Mungkin Mas kebanyakan baca buku, mari saya papah ke kamar." "Tidak perlu, saya bisa sendiri." Dirga terlihat sempoyongan. "Nanti jatuh lho Mas, biar saya papah saja." Sekar mendekatkan badannya agar bisa menopang tubuh Dirga. Dia membawa Dirga ke kamarnya. "Loh, ini kamar siapa? Ini bukan kamar saya?" Dirga kaget melihat ruangan yang ada di depannya bukanlah kamar tidurnya. "Kamar saya, Mas istirahat dulu saja di sini." "Tapi...." Bruuk ... tubuh Dirga jatuh ke tempat tidur Sekar.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 24 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Ver Todos