"Ada apa ini?" Saat itu juga Bayu pulang dari tempat kerja dan melihat Sekar bersama Ucup. "M-mas Bayu, aku…." "Halo Den, bolehkah saya…." "Ucup, kamu tadi dipanggil Bude Sri, cepat temui dia, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan sama kamu." Rida segera memotong omongan Ucup. "Yang benar Non?" tanya Ucup tidak percaya. "Beneran, cepetan deh kamu temui Bude." "Iya deh, Ucup pergi dulu ya Neng…." "Sudah, buruan sana." "Iya, iya." Ucup segera berlalu untuk menemui Sri. "Ada apa dengan Ucup, ma?" tanya Bayu kepada Sekar. "Tidak ada apa-apa." "Tadi sepertinya Mama terlihat akrab dengan Ucup, apa…." "Maksudnya apa Papa bicara seperti itu?" jawab Sekar dengan nada tinggi. "Mama kok jadi marah-marah gini sih?" "Mama masih kesel sama Papa yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih." "Maaf Ma, Papa tidak bermaksud berbohong sama Mama, tapi...." "Sudahlah, tidak perlu dijelaskan lagi. Terserah Papa mau melakukan apa, Mama tidak peduli." Sekar segera masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Bayu. "Ma, tunggu...." "Pa, biarkan Mama tenang dulu, dia pasti merasa sangat kecewa karena Papa menyembunyikan kenyataan kalau Papa hanya seorang tukang bersih-bersih. Sebenarnya Rida juga kecewa sama Papa. Besar harapan kami agar Papa bisa menjadi seorang manajer. Bahkan Rida sudah memberitahu semua teman Rida kalau Papa ini sekarang menjabat sebagai seorang manajer. Tapi kenyataannya malah kaya gini, jujur saja Rida tidak paham dengan jalan pikiran Papa." "Maafkan Papa, Nak. Papa hanya ingin meraih semuanya dari bawah tanpa bantuan siapapun. Papa tidak menyangka kalau sikap mamamu bisa seperti ini." "Papa pikirkan lagi keputusan Papa, jangan kecewakan kami Pa." Rida meninggalkan Bayu yang masih termenung. Sementara itu, Rido yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan bergegas mendekati Bayu. "Pa, apakah benar kalau Papa tidak jadi manajer?" "Rido, Papa...." "Tidak masalah apapun jabatan Papa, yang penting Papa mendapatkan uang dengan cara yang halal. Lagipula sesuatu yang didapatkan dengan cara instan belum tentu bagus." "Terimakasih Nak, sepertinya hanya kamu yang mengerti tentang keputusan Papa." "Bersabarlah Pa, semoga Mama dan Rida bisa segera paham mengenai keputusan yang Papa ambil." "Iya Nak." Rido bisa memahami tentang keputusan Papanya, tetapi tidak dengan Rida. Meskipun usianya lebih muda dari Rida tetapi jalan pikiran Rido lebih dewasa. Rida selalu dimanjakan oleh Sekar, semua yang dia inginkan pasti dituruti. Hasil didikan yang seperti itulah yang membuat Rida memiliki watak yang sama persis dengan ibunya. Matre, manja, dan semua keinginannya harus dituruti. ... Sementara itu Sri sedang memasak di dapur dan di temani oleh Dirga. "Sri, bagaimana kerjaan Bayu di restoran?" tanya Dirga. "Bagus kok Mas. Dia mengerjakan semuanya dengan baik." "Tapi Mas tidak habis pikir kenapa dia memilih untuk menjadi cleaning servis dari pada jadi manajer?" "Seperti itulah adikku, dia istimewa kan Mas?" jawab Sri sambil tersenyum. "Iya, aku salut dengan didikan orang tuamu sehingga kalian menjadi anak-anak yang hebat." "Meskipun kami hidup dalam keterbatasan ekonomi tetapi Emak selalu mengajarkan untuk menjadi orang yang jujur dan berusaha mendapatkan apa yang kami mau dengan bekerja keras bukan dengan cara instan, pengalaman hiduplah yang membuat kami bisa jadi seperti sekarang." "Kamu adalah seorang wanita hebat yang mau menerimaku meski dengan segala kekuranganku." Dirga berbicara sambil memeluk Sri dari belakang. Tanpa mereka berdua ketahui ada sepasang mata yang melihat ke arah mereka dengan rasa cemburu. "Mas, jangan gini dong, malu kalau dilihat orang." "Kenapa harus malu? Kamu milikku kok." Dirga malah mengeratkan pelukannya. "Mass...." Sekar yang sudah tidak tahan lagi dengan adegan mesra mereka langsung masuk ke dapur. "Ehem...." "Eh, Sekar...." Dirga buru-buru melepas pelukannya. "Ada apa Sekar," tanya Sri. "Mau ambil minum, haus," jawab Sekar ketus. Setelah mengambil air minum dia segera kembali ke kamarnya. "Dia kenapa sih?" tanya Dirga. "Tidak tahu, PMS kali." "Sepertinya dia ada maksud tertentu mendekati kita." "Maksud Mas apa?" "Perasaanku saja, dia bukan orang baik." "Jangan berburuk sangka dulu Mas." "Sri, aku sudah sering ketemu dengan orang seperti dia, Mas paham betul bagaiman karakter dan sifat seseorang. Orang bermuka dua." "Jangan begitulah Mas. Bersihkan hati dan pikiran dengan selalu berprasangka baik." "Kamu memang selalu seperti itu, entah terbuat dari apa hatimu itu." Dirga merasa gemas dan mencium pipi Sri. "Mas, jangan nakal deh," protes Sri. "Biarin, halal kok." "Hahaha...." ... Keesokan paginya semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Selain ruang keluarga, di tempat inilah mereka bisa berkumpul bersama. "Bagaimana pendaftaran kuliahnya Rida, Rido?" tanya Sri. "Beres Bude, hari ini aku sudah bisa langsung masuk kuliah," jawab Rida. "Kalau aku masih besok masuknya Bude, masih ada beberapa hal yang harus diurus," Rido menimpali. "Bagus, belajarlah yang rajin agar nanti bisa menjadi kaya." Sekar menasehati anak-anaknya. Sri dan Dirga hanya geleng-geleng kepala. "Kaya saja tidak cukup, jika kamu tidak punya hati dan empati maka semua kekayaanmu hanya bersifat semu," ucap Bayu. Sri tersenyum mendengar perkataan adiknya. Dirga sepertinya mulai paham bagaimana jalan pikiran adik iparnya tersebut. "Yang penting itu kaya Mas, kalau kita kaya pasti hidup kita bahagia." "Tidak Sekar, uang tidak bisa membeli kebahagian. Seharusnya...." "Sepertinya prinsip kita memang berbeda Mas, malas aku berdebat pagi-pagi." Sekar segera meninggalkan meja makan. "Maaf atas kelakuan istri saya ya," ucap Bayu sungkan. "Jangan minta maaf Bayu, kamu tidak salah apa-apa kok." Selesai sarapan mereka mulai melakukan aktifitas masing-masing. Sri dan Bayu pergi bekerja, Anak-anak Sri sekolah dan kuliah. Menyisakan Dirga dan Sekar saja. Saat Sekar keluar dari kamarnya tidak sengaja dia melihat Dirga menuruni tangga. 'Mau kemana tuh Mas ganteng, aku ikuti sajalah' Sekar mengikuti Dirga secara diam-diam. Ternyata Dirga menuju ke sebuah ruangan yang terdapat banyak peralatan olahraganya. 'Wah, aku tidak tahu kalau ada ruangan seperti ini disini' Dirga segera berolahraga, cukup lama Sekar mengamati Dirga. Tubuhnya basah karena keringat memperlihatkan roti sobek yang terpampang jelas karena dia hanya memakai kaos tipis. Sekar menelan ludah melihat pemandangan yang ada di depannya. 'Tuhan, semoga aku bisa mendapatkan makhluk seindah itu. Eh, habis olahraga biasanya kan pasti kehausan. Sebaiknya aku membuatkannya minuman dengan ramuan ajaib.' Sekar bergegas menuju ke dapur dan membuatkannya minuman dingin, tidak lupa diberi tambahan ramuan ajaibnya. Benar saja, tidak lama kemudian Dirga datang menghampiri Sekar yang ada si dapur. "Apa yang sedang kamu lakukan Sekar?" "Eh, Mas Dirga, ini Sekar buatkan minum." "Oh ya, terimakasih." Dirga segera mengambil minuman tersebut dan berniat meminumnya. 'Yes, yes, sebentar lagi si roti sobek akan bertekuk lutut kepadaku' Sekar terlihat sangat gembira. Belum sempat Dirga meminumnya, datang Mang Ujang sambil terbatuk-batuk. "Kenapa Mang?" tanya Dirga. "Tenggorokan saya kering Den." "Ini minum dulu," ucap Dirga sambil menyodorkan minuman buatan Sekar. Mang ujang menerima minuman tersebut dan segera menghabiskannya. "Eh, eh, alamak, salah alamat lagi?" Sekar merasa lemas mengetahui minumannya di habiskan Mang Ujang.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 24 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Ver Todos