'M*ti aku, peletku salah sasaran' 'Aduh, apa yang bakal terjadi selanjutnya nih?' Ucup terlihat sempoyongan dan menjatuhkan badannya di sofa. Dia memejamkan mata sesaat dan terdiam seperti orang tidur. Matanya terbuka dan tatapannya fokus ke arah Sekar yang masih kebingungan. "Neng Sekar," Ucup memanggil Sekar dengan manja. "Apa Cup?" jawab Sekar ketus. "Ucup baru sadar ternyata Neng Sekar cantik sekali bak bidadari turun dari kahyangan. Maukah Eneng menjadi kekasih Abang?" "Jangan g*la kamu Cup! Kamu tuh masih muda, carilah yang seumuran denganmu." "Umur tidak jadi masalah Neng, yang paling penting Ucup cintanya cuma sama Eneng." Usia Ucup masih terbilang muda, dia seumuran dengan Ali, bahkan dulu teman sekelas Ali waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena keterbatasan biayalah dia tidak melanjutkan sekolah dan memilih untuk bekerja. Sebelumnya Ucup bekerja di pasar sebagai tukang angkut barang. Suatu hari dia bertemu dengan Ali, Ali menawarinya bekerja sebagai tukang kebun di rumahnya. Tentu saja Ucup sangat senang dengan tawaran tersebut. "Aku sudah punya Mas Bayu." "Tidak apa-apa Neng, Ucup rela dijadikan yang kedua atau simpanan Neng." "Aku yang tidak mau sama kamu." "Ayolah Neng, beri kesempatan Ucup membuktikan kesungguhan Ucup." Ucup berkata sambil mendekati Sekar, tangannya berniat memegang Sekar tetapi ditepis dengan kasar. "Jangan kurang ajar ya." "Ucup cinta sama Eneng." Sekar yang merasa risih berusaha lari menjauh, tetapi dikejar oleh Ucup. Akhirnya terjadi kejar-kejaran ala film India. "Jangan mendekat," ucap Sekar sambil terus berlari. "Sini dulu Neng, Ucup mau minta sun." Ucup mendekat ke arah Sekar sambil memonyongkan bibirnya. "Hush … hush … jauh-jauh sana, jijik tau." Sekar mengusir Ucup seperti orang mengusir ayam. "Sini Neng…." Ucup terus mengejar sampai akhirnya Sekar masuk ke dalam kamar dan menguncinya. "Neng, buka Neng, Ucup mau bicara." Ucup berbicara sambil terus menggedor pintu kamar. "Pergi kamu!" "Tidak mau." Cukup lama Ucup menunggu di depan kamar sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi. "Neng, Ucup pergi dulu ya, nanti kita lanjutkan lagi, mmuuach…." Sekar begidik ngeri mendengar ucapan Ucup. "Hiii … bisa-bisanya salah sasaran. Sekarang bagaimana ini? Oh, ya, telepon Simbah." Sekar bergegas menelepon simbah. "Halo Mbah…." "Halo sekar, bagaimana ramuannya, manjurkan?" "Manjur apanya, salah sasaran kok." "Kok bisa?" "Panjang ceritanya, sekarang bagaimana cara mengatasinya, Mbah?" "Tidak ada caranya." "Hah? Terus bagaimana dengan nasibku, Mbah? Aku tidak mau dikejar-kejar Ucup terus." "Siapa Ucup?" "Pembantu di rumah ini." "Hahaha … targetnya kakap tapi malah dapat teri, hahaha…." "Mbah, ini masalah serius, sekarang bagaimana?" "Tunggu saja selama sebulan." "Maksudnya?" "Ramuan itu harus di upgrade sebulan sekali, kalau tidak efeknya akan hilang." "Hah? Jadi sebulan saya harus berurusan dengan Ucup?" "Ya iya tho." "Aduh Mbah, baru sebentar saja rasanya sudah gil* dikejar-kejar Ucup." "Salahmu sendirikan, siapa suruh ngasih ke Ucup." "Namanya juga kecelakaan Mbah, saya juga tidak mau seperti ini." "Yang sabar ya." "Mbah ini, mana bisa saya makan sabar selama sebulan?" "Kesalahan ada padamu, jadi kamu yang harus menanggung konsekuensinya sendiri. Sudah dulu, Mbah banyak kerjaaan…." Tut…tut…tut "Halo, mbah, halo, s*alan, ditutup. Sebulan dia bilang? Apa aku kuat menjalaninya?" Sekar melempar gawainya dengan kasar ke ranjang. Dia tidak berani keluar kamar, alhasil seharian cuma berdiam diri di kamar. Rida yang baru pulang dari kampus berniat masuk ke kamar Sekar. "Ma, bukain pintunya, kenapa di kunci segala sih?" "Iya, bentar." Rida melihat muka mamanya yang kusut saat dia membuka pintu. "Kenapa Ma?" "Gawat Rida…." "Gawat kenapa?" "Peletnya salah sasaran." "Lho, salah bagaimana maksud Mama?" "Mama tadi buatin minuman untuk Mas Dirga dan mama kasih ramuan ajaib ke dalam minuman itu, tetapi Mas Dirga malah tidak sempat meminumnya karena ada telepon mendadak terus dia pergi begitu saja…." "Terus, terus." "Terus malah si Ucup yang minum minuman tersebut." "Hahaha … beneran Ma? pantesan tadi Rida lihat si Ucup rada aneh gitu." "Beneran, dia tadi ngejar-ngejar Mama terus." "Hahaha…." Rida tidak bisa berhenti tertawa mendengar penuturan Sekar. "Rida,diam! Kepala mama tambah pusing mendengar tertawamu yang seperti kuntilanak." "Maaf Ma, habisnya lucu banget sih. Mama sudah telepon Simbah belum?" "Sudah, tapi katanya harus menunggu satu bulan baru bisa di upgrade. "Upgrade?" "Iya, setelah satu bulan efeknya hilang." "Hahaha … istilah di dunia perpeletan kok gaul sekali ya Ma." "Bodo amat sama istilahnya, yang Mama pikirkan sekarang bagaimana nasib Mama selama sebulan ke depan." "Sebisa mungkin Mama harus menghindarinya." "Iya, tapi bagaimana? Kita kan hidup dalam satu rumah?" "Mama ikut Papa kerja saja biar tidak di rumah terus." "Ikut Papamu kerja? Tidak sudi Mama." "Loh, kenapa? Istri manajer kok tidak mau mendampingi suaminya kerja sih?" "Manajer g*nd*lmu itu!" "Loh, kenapa Ma? bukannya Papa memang manajer di sana?" "Dia itu bekerja sebagai cleaning servis tau!" "Hah? Kok bisa? Malu-maluin saja sih." "Mama tuh sudah ilfeel sama Papamu, bisa-bisanya dia nolak jabatan tinggi hanya untuk jadi tukang bersih-bersih." "Papa itu b*d*h atau memang ot*knya konslet sih Ma?" "Entahlah Rida, setelah Mama tahu kalau pekerjaan Papamu seperti itu, Mama semakin yakin kalau harus mendapatkan Mas Dirga." "Rida setuju Ma." Tok ... tok ... tok .... Terdengar pintu kamar diketuk dari luar. "Siapa?" tanya Sekar. "Ucup Neng." "U-ucup? Mau apa kamu kemari?" Sekar terlihat gugup sementara Rida sebisa mungkin menahan tawanya. "Ucup bawain bunga mawar yang baru saja Ucup petik dari kebun belakang rumah, ini sebagai bukti tanda cinta Ucup kepada Eneng." "Hahaha...." Rida tidak bisa menahan tawanya lagi. "Saya tidak suka dengan bunga mawar, yang saya suka bunga bank, apa kamu sanggup memberikannya untuk saya?" "Wah, kalau bunga bank saya tidak sanggup Neng, yang saya punya hanya cinta yang tulus dan hati yang setia untuk Eneng seorang." "Saya tidak bisa hidup hanya dengan cinta Ucup." "Tolong Neng, jangan patahkan hati saya seperti ini, saya akan melakukan apa saja untuk Eneng." "Ucup, sebaiknya kamu segera pergi...." "Ma, jangan suruh pergi dulu dong," ucap Rida. "Memangnya kamu mau kalau Mama digodain terus sama si Ucup?" "Bukan begitu Ma, tadi dia kan bilang mau melakukan apa saja untuk Mama, mungkin kita bisa memanfaatkannya untuk rencana kita." "Wah, kamu benar juga Rida. Ucup, apakah kamu benar-benar mau melakukan apa saja yang saya suruh?" "Tentu saja Neng." Ceklek.... Sekar membuka pintu dan mendapati ucup berlutut sambil membawa bunga mawar. "Akhirnya, Neng keluar juga. Ucup kangen Neng." Ucup segera berdiri berniat ingin merangkul Sekar. "Heh! apa-apaan kamu, cepat sana pergi!" ucap Sekar menepis Ucup, tetapi Ucup terus saja nyosor. "Ada apa ini?" Saat itu juga Bayu pulang dari tempat kerja dan melihat Sekar bersama Ucup.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 23 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Ver Todos