logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 37 Hari Pertama Putus

"Tidak pernah ada cerita bahagia dari sebuah perpisahan, menangislah jika itu memang perlu. Namun ingatlah kembali bahwa kamu harus bangkit dan bahagia"
Titik ~ DR. ANDRO
***
AUTHOR POV:
Meisya berjalan dengan langkah lunglai, patah hati kali ini rasanya terasa benar-benar berat untuk dirinya hadapi.
"Aku pikir aku akan baik-baik saja tanpa dia, nyatanya enggak.. Kok bisa ya aku sehancur ini, sesedih ini, sekehilangan ini dan sehampa ini tanpa dia? " Kata Meisya, dibelakangnya Asoka berjalan mengawasi.
"Jalan Mei, malah ngelamun" Asoka kembali mengingatkan.
"Ih.. " Decak Meisya.
Asoka dan Meisya kembali melanjutkan perjalanan menuju Happiness Kindergarten, meski langkah kakinya terasa terseok-seok ia tetep gigih untuk mengajar.
Tak ada kata lelah, baginya healing terbaik yang dirinya butuhkan adalah mengajar. Mengajar seolah mampu menjadi obat terampuh Meisya dalam mengatasi gundah bulanan ya hati.
"Miss Mei" Aroon, salah satu murid yang kini tumbuh semakin tinggi dan berisi berlari menghampiri Meisya dengan senyum indah yang merekah.
"Oh, Hai lil boy.. " Meisya tersenyum cerah, segala masalah dan keggundah - gulananya ia tanggalkan begitu saja di depan gerbang Happiness kindergarten.
Meisya tersenyum menyambut Aroon yang berlari kearahnya, Meisya merentangkan tangan dan segera menangkup Aroon membawanya kedalam pelukan. Meisya memejamkan mata, tubuhnya tenang merasakan kedamaian dan cinta yang begitu besar ia dapatkan.
Tanpa Meisya sadari sosok laki-laki yang pernah menjadi rotasinya berdiri tak jauh dari tempatnya, matanya terasa panas namun ia sadar melepaskan wanita yang ternyata sangat ia cintai terasa semenyakitkan ini.
"Miss, you okay?" Tanya Aroon, matanya mincing penuh ingin tahu.
"Ya.. " Meisya tersenyum, di usapnya sayang kepala Aroon.
"Yuk, masuk" Ajak Meisya menggandeng tangan Aroon. Melihat itu Andromeda segera mencari tempat untuk sembunyi.
***
"Miss tolong box alphabets nya nanti di taruh di bawah aja ya, biar nggak susah ngambilnya. Nanti saya mau pakai buat stimulasi baca anak" Kata Miss Titik, Meisya mengangguk sembari berjalan untuk melakukan sesuatu hal yang Titik katakan barusan.
"Aneh.. " Pikir Titik, ia memancingkan mata sembari menelusuri raut wajah Meisya.
"Lagi ada masalah? " Tanya Titik, Meisya menoleh
"Hah? enggak.. enggak ada apa-apa" Jawab Meisya dengan suara bimbang.
"Enggak ada apa-apa, berarti ada apa-apa. Fiuhhhh kenapa sih makhluk Tuhan bernama perempuan itu ribet dan bertele-tele banget" Gumam Titik, tanganya sudah sangat gerap ingin rasanya iya bertanya lebih banyak lagi tentang sesuatu hal yang tengah Meisya hadapi. Namun, Titik tahan.
"Jadi? " Tanya Titik sembari menaikan salah satu alisnya, tangannya ia silangkan didepan dada.
"Apa? nggak ada apa-apa dibilangin" Jawab Meisya, matanya menatap ke kanan dan ke kiri berusaha menghindari tatapan tajam dari teman cenayangnya.
"Mata kamu nggak bisa bohong Miss Mei, dan sadar nggak sih Meisya yang aku kenal tuh nggak gini"
"Nggak gini gimana?"
"Ya nggak gini, Meisya yang kau kenal biasanya ceria. Suka berisik. Dan selalu ada sebuah hal untuk diperdebatkan, jadi aneh rasanya liat kamu hari ini diem binti kalem binti nurut dan iya-iya aja. It's not you Meisya" Kata Titik.
"Aku beneran nggak ada apa-apa kok" Jawabnya keukeuh.
"Okay, nanti aku tanya sendiri aja sama dokter Andro"
"JANGAN MACAM-MACAM YA MISS!!! " Teriak Meisya spontan.
Titik tertawa, ia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sudah kuduga" Gumamnya.
"Sudah berapa lama?" Tambah Titik.
"Apanya? "
"Putuslah!!! masa ya iya hamil"
"Itu mulut minta di jait ya? "
"Ahahaha... " Titik tertawa,
"Jadi sudah berapa lama Meiaya? "
"Baru, fiuh... Sedih banget tau nggak" Gumam Meisya. Tubuhnya serasa merosot, moodnya mendadak hilang.
"Nggak ada cerita bahagia setelah putus Mei, kalau kamu mau nangis dan emang sekiranya butuh nggak papa nangis aja. Tapi, setelah nangisnya selesai hapus air matamu, bangkit. Ingat! setelah ini kamu harus bahagia, benar-benar bahagia Mei" Gumam Titik, ia bangkit mengambil alphabet yang di taruh Meisya kemudian berlalu meninggalkan Meisya. Titik tahu, Meisya sedang butuh waktu untuk menenangkan gejolak hatinya.
***
Waktu terasa begitu cepat berlalu, tak terasa sudah hampir dua minggu mereka putus. Meisya dan Andro terlihat bertahan dengan argumentasinya masing-masing.
Kendati masih saling mencintai, rasa enggak untuk kembali menjalin komunitas masih begitu besar mendominasi.
"Makan Sya, ayah udah masak loh" Wulung terlihat begitu telaten mengurus putri mereka.
"Bentar yah, Meisya masih ngecat biji jagung" Gumam Meisya sembari kembali berkutat dengan ribuan biji jagung yang akan ia buat media pembelajaran.
Wulung melongak dari balik pintu kamar Meisya yang terbuka, ia tersenyum melihat anaknya yang terlihat begitu tekun dan serius dalam menyelesaikan kegiatannya.
"Mirip Asoka banget" Gumam Wulung, ia lalu berbalik untuk kembali ke ruang makan.
Wulung terkekeh menyadari betapa berbeda nya dirinya saat ini dan beberapa puluh tahun yang lalu atau mungkin lebih tepatnya ialah betapa berbeda karakternya saat dirumah bersama Meisya dan di kantor.
"Hemmm... " Wulung menaikan kedua ujung bibirnya dan meringis, Lagi-lagi ia mentertawakan dirinya.
"Gua nggak nyangka bisa liat elo selembut ini sama anak perempuan loe" Cibir Agam, ia menepuk pundak Wulung yang sedang duduk di meja makan menunggu kedatangan Meisya.
"Ahahaha... sejak kapan loe dimari? " Kata Wulung nampak terkejut.
"Baru aja, ya cukuplah buat nyaksiin pakai kedua mata liat betapa elo sangat menyayangi putri lo, selama ini gue nggak percaya dengan yang Arifin katakan. Coba elo bayangin, seorang Wulung atau dunia lebih kenal elo dengan panggilan Xyn atau si tangan iblis pemilik DepWeb yang terkenal dengan kebengisan dan kekejamannya bersikap selembut dan semanis ini kalau di rumah... ahhh maksud gue kalau lagi sama Meisya" Kata Agam tak percaya, ia menggelengkan kepalanya dan bertepuk tangan hiperbolis.
"Bacot loe, mulut lamis amat!! Lagian si Arifin sialan itu laporan apa aja ke elo? "
"Ayah... " Gumam Meisya, ia menatap tajam Ayah nya, seketika Agam dan Wulung saling berpandangan mereka lupa jika putri kesayangan mereka ini sangat menyayangi Arifin.
"Em.. Hai putri ayah, yuk makan" Kata Wulung, ia menggaruk tengkuk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Em.. Hai keponakan uncle, How's your day? " Gumam Agama basa-basi, seperti halnya Wulung dan Arifin, Agam juga sama berubahnya apabila sedang bersama Meisya.
"Baik uncle, as well as you knew.. By the way, uncle sama Ayah tu lucu ya.. Diluar seperti Macan didalam rumah seperti Ibu Kambing yang baik hati dan perhatian terhadap anak nya. Thanks you" Ucap Meisya tulus, tanganya menarik kursi disebrang meja makan Ayahnya. Sementara Agam duduk di samping Meisya.
"So, gimana? udah siap pindah? " Tanya Agam to the point.
"Uhuk..!!! " Seketika Meisya tersedak, mendengar kata pindah ingatanya seketika terlempar jauh pada malam ketika ia putus.
...
Bersambung...

Comentário do Livro (48)

  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • avatar
    PutriRisma

    baguss

    09/06

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes