logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 36 Pentingnya Komunikasi

"Komunikasi adalah kunci membuka hubungan. Kepercayaan adalah kunci penggenapnya agar hubungan dapat berjalan awet dan langgeng. Memiliki dia kunci ini maka hubungan pertemanan, bisnis, keluarga, dll, akan berhasil.
Tere Liye ~ DR. ANDRO
***
Author POV:
Meisya dan Andromeda duduk saling berhadapan di atas karpet merah tebal hadiah ulang tahun dari Arifin, paman kesayangan Meisya.
"Sempolnya jangan di habiskan semua, ini punyaku" Teriak Meisya, mulutnya masih penuh dengan rujak buah yang terasa manis, pedas bercampur asam.
"Nggak Sya, dikit doang pelit amat sih" Kata Andromeda, tangan kanannya kembali menyomot salah satu gorengan yang ada di hadapan Meisya.
"Jadi kesini mau ngapain? minta makan doang?" Cibir Meisya, hatinya masih bergemurt jika mengingat kejadian malam itu namun bukan Meisya namanya jika tak mampu menyembunyikan gejolak hati yang tak nyaman untuk dilampiaskan.
"Kenapa diam? " Tanya Meisya lagi, suaranya sedikit terdengar cuek dan judes.
Andromeda menelan dengan susah payah potongan halus gorengan yang telah giginya kunyah, hatinya berdebar menunggu saat-saat kemarahan Meisya keluar.
"Sya.. makan dulu, nanti baru berantem lagi" Jawab Andromeda.
"Aku akan tetap makan, meskipun duniaku berantakan Andromeda" Jawab Meisya, dengan cepat di kunyah dan digigitnya potongan buah mangga yang baru saja Meisya lahap.
Rasa asam bercampur pedas membuat mata Meisya sedikit memejam "Sssstttttt... huhahhhhh penas tapi enak" Desia Meisya. Tindakan itu tak luput dari pengamat mata Andromeda. Bibir kananya tertarik membentukan seulas senyum bulan sabit.
"Ngeliatinnya biasa aja! nanti nafsu! " Delik Meisya, bibirnya berbalik tajam mungkin hal ini disebabkan oleh asalnya buah mangga dan pedasnya cabai tetangga.
"Kalau mau marah, marah aja! Kalau mau kesal, kesal aja dulu. Jangan ditahan Sya, kami berhak buat marah"
"Aku memang berhak buat marah, wanita mana yang tak marah melihat kekasihnya berada dibawah kukungan seorang wanita dalam keadaan nekad dan nyaris tak berbusana." Kata Meisya, di singkirkannya semua makanan yang ada di hadapannya bahkan sepotong semangka kesukaanya kini menjadi tak terlihat menarik.
"Positif thinking aku seharusnya, barangkali kekasihku sedang kepanasan dan tak sengaja terpeleset menimpa seorang wanita yang kebetulan juga tak berbusana. Ya, seharusnya aku berfikir demikian. Waw.. Inikah yang ingin kamu dengar?" Kata Meisya tajam, matanya menatap redup sosok laki-laki yang kini diam mendengarkan segala amarah yang sedang berusaha Meisya Tahan.
"Andromeda, seharusnya aku tetap berpegang teguh pada prinsipki dahulu. Menolakmu, menolak dan tak ambil hati laki-laki yang memiliki banyak penggemar seperti mu." Meisya tersenyum sinis, suaranya terdengar pelan dan tenang. Hal ini justru sekaligus telah menjadi sinyal bagi Andromeda jika Meisya tidak baik-baik saja.
"Aku salah, terlalu cepat menerimamu hingga aku menyampingkan resiko yang ada. Kamu membawaku kedepan api unggun yang hangat, membangunkaku tenda yang nyaman dan mengajakku bernyanyi, kupikir hanya aku namun ternyata aku salah, di saat aku tertawa didapan hangatnya api unggun. Kamu, dengan mudah memasukan wanita lain kedalam tenda kita Andromeda!" Meisya menatap tajam kekasihnya itu, sementara Andromeda masih diam mendengarkan bait-bait kata yang seolah tak ada habisnya.
"Apa maksudnya Andromeda? katakan"
"Sya, aku salah"
"Bagus kalau kamu sadar___"
"Sya tunggu dulu, denger__in aku"
"Kamu menyuruhku untuk apa tadi? marah? kesal? ini, aku sedang berusaha untuk melakukannya. Tutup mulutmu sebentar"
"Sya.. tapi! "
"Sebentar!! Tadi katamu aku boleh marah, tapi ini apa"
"Okay.. kamu boleh marah, tapi memasukan wanita lain kedalam tenda itu tidak benar.
Kejadianya tidak seperti itu"
"Lalu seperti apa? aku harus seperti apa bereaksi?
Mataku melihat dengan jelas, kamu dan wanita itu hampir menyatu atau mungkin sudah? sekarang kamu datang bakal orang tolol yang tak berdosa. Kamu lucu Andromeda"
"Aku dijebak! Anita memasukan obat perangsang kedalam kopiku. Dia datang ke ruanganku malam itu, dia menyerahkan tubuhnya___"
"Dan Kamu menerimanya"
"Aku berkata yang sebenarnya__"
"Aku juga melihat yang sebenarnya" Perdebatan tak mampu dihindarkan, Andromeda yang tadinya telah mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak tersulut emosi nyatanya tetap terbakar dengan kalimat menusuk Meisya. Sementara Meisya yang tadinya tak ingin ambil pusing dengan sesuatu hal apapun nyatanya tetap terpancing dalam kemarahan yang tak berujung.
Komunikasi yang tadinya mereka rencanakan mampu memberikan penyelesaian yang baik nyatanya berakhir di luar praduga mereka.
"Okay.. Percuma aku menjelaskan jika akhirnya kamu tetap pada pendirian mu, kamu tetap bersikeras dan tak mau mendengarkan ku. Terserah kamu sya" Kata Andromeda akhirnya.
"Ya, terserah aku.. Jadi, bagaimana jika kita putus saja" Gumam Meisya, Mata Andromeda membulat hatinya kecewa mendengar keputusan wanita dihadapanya.
"Sya, semua ini kita bicarakan. Putus bukan solusi masalah sya, Sya kamu ingatkan kalimat ini" Andromeda berusaha menggapai pundak Meisya "Tutur kata yang menyenangkan dan komunikasi yang baik membantu kita membentuk dan memelihara hubungan damai" Gumam Andromeda frustasi.
"Persetan dengan tutur kata, yang namanya pengkhianatan sudah sepantasnya di tinggalkan. Selingkuh itu mutlak salah, dan kamu tahu itu" Ucap Meisya.
"Kenapa jadi rancau gini sih, aku nggak selingkuh Sya, kita cuma salah paham. Okay.. okay.. aku salah, tapi aku nggak selingkuh sya. Aku dijebak Meisya, DI JEBAK!! " Kata Andromeda Frustasi.
Meisya diam, disilangkanya kedua tangan didada. Kepalanya seketika pening, ia dilema haruskah mempercayai otak nya atau mengikuti hati nuraninya.
Jika di tanya apakah Meisya masih menyayangi Andromeda jawabanya adalah tentu saja, tentu saja ia sangat menyayangi laki-laki yang tengah berdiri frustasi dihadapannya.
"Sudah selesai kan, keputusanku masih sama. Aku mau kita putus, pintu ada disebelah sana, silahkan keluar" Gumam Meisya.
"Sya.. Tunggu! Please sya. Kita mulai lagi sya, beri aku kesempatan buat dapatin kembali kepercayaan mu. Aku nggak selingkuh sya, meisya" Kata Andromeda, Asoka muak melihat drama pasangan yang menurutnya terasa seperti dejavu.
Tak ingin melihat meisya semakin patah hati dan terluka, ia mendorong keluar tubuh Andromedae.
"Selesai" Kata Asoka setelah kembali menutup pintu rumah meisya.
Tak lama, sebuah isak tangis terdengar dari arah kamar mandi, Asoka tahu itu pasti suara Meisya.
"Hah.. Pasangan manusia dan pertengkaran pertama mereka, ah.. ini bukan yang pertama sepertinya" Kata Asoka ia menggelengkan kepalanya tak habis fikir.
***
Keesokan harinya, Meisya terbangun dengan suara asing dan gaduh dari dapur rumahnya. Saat ia berjalan untuk melihatnya disana terlihat beberapa koki tengah sibuk memasak dan menyiapkan sebuah hidangan lezat untuk nya.
Tak jauh dari sana, seorang lelaki dan wanita paruh baya nampak tengah berbincang-bincang serius.
"Mamah? Ayah? kok kalian bisa disini? " Gumam Meisya, matanya membola tak percaya.
Bagaimana mungkin, kedua orang yang sangat ia butuhkan kehadiranya berada didapan matanya?
"Sudah bangun? " Kata Xyn sembari tersenyum hangat.
***
Bersambung...

Comentário do Livro (48)

  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • avatar
    PutriRisma

    baguss

    09/06

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes