logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 35 Di Prank Setan

"Kamu tidak membenci siapapun, kamu hanya kesal terhadap dunia yang tak bersikap ramah pada orang miskin"
Asoka ~ DR. ANDRO
***
Meisya POV:
Pada akhirnya aku lelah berpura-pura baik-baik saja, aku lelah bersikap jahat terhadap Ayah yang selama ini selalu baik padaku.
Sedari tadi, Asoka tak henti-hentinya mengomel ia mencibir bahkan sesekali mengataiku tolol.
"Bela aja terus, mentang-mentang cinta sejatinya" Cibirku sembari menuang susu cair kedalam gelas.
"Yee... " Desis Asoka sembari mengikutiku kesana kemari "Bukan gitu Mei, coba deh bayangin apa sebenarnya alasan kuat dan terbesarkamu benci Ayah mu? " Katanya, suaranya terdengar sangat membuaikan.
"Coba bilang ke aku, kamu bicara gini karena Ayah mantan kamu kan Ka? makanya dari tadi di belaaaaa muluu!! " Cibirku, tanganku masih sibuk mondar mandir didapur untuk membuat sarapan sekaligus makan soreku.
Omelet dan acara timun sepertinya akan menjadi menu makan soreku.
"Mana ada! toh kalaupun aku mau, udah dari dulu aku ajak Xyn mati bareng. Biar cinta kita abadi. Meisya aku serius, tunggu sebentar" Asoka berdiri tepat didepanku sontak saja aku terkejut.
"Dengarkan aku, Meisya aku tahu sebenarnya kamu tuh nggak benci Xyn ya cuma kesel aja, dan aku yakin jauh di dasar lubuk hati sana kamu sebenarnya sangat merindukan ayahmu tapi kamu gengsi. Iya kan? " Tuding hantu sialan bernama Asoka, namun sayangnya itu benar.
"Alasanmu jauh-jauh ke Jogja sebenarnya juga buat nyari Xyn kan? Lagi-lagi kamu gengsi soalnya pas waktu kamu datang kerumah Xyn kamu di usir sama penjaga rumahnya. Kamu kesel, Iyakan?" Kata Asoka, tubuhnya kembali melayang melewati tembok dan dapur ku.
"Meisya, kamu juga sebenarnya rindu dan happy banget pas tahu kalau ternyata Xyn sepeduli itu sama kamu, tapi kamu kesel karena banyaknya pemberitaan media yang seolah menyudutkan kamu dan menghakimi Ibumu. Ya, kamu kesal sebab kamu merasa dunia ini tak bersikap ramah dan adil pada orang susah seperti kamu? Betul?" Kata Asoka entah mengapa telingaku merasa sangat panas dibuatnya.
"Bisa di sensor dulu nggak tu mulut, ini hati lagi galau tau" Kataku sembari mengocok kuning telur beserta kawan-kawannya.
"Sensor, anda kita KPI sensor-sensoran segala. Aelah Bapak lu kaya raya, anaknya kelaperan kek gelandangan" Cibir Asoka.
"Dah ah, mau pergi dulu pusing gue nasehatin kepala baru yang lembek kaya Meisya" Asoka berdecih, tubuhnya melayang kian kemari.
"Ingat dan fikirkan baik-baik sebenarnya apa mau hatimu? dan bagaimana keadaan hatimu saat ini? bahagia kah? atau apa? dan satu lagi, Gengsi dan ego kalau bisa jangan di budidaya deh soalnya nggak bikin kamu kaya. Tambah miskin iya" Gumamnya lalu menghilang bersamaan dengan kepulan asap putih.
Aku menghela nafas, biar bagaimanapun semua yang Asoka katakan banyak benernya.
Tidak bisa dipungkiri bahwasanya aku bahagia ketika melihat Ayah begitu peduli dan menuruti semua keinginanku.
Tidak bisa dipungkiri bahwasanya aku bahagia melihat Ayah tetap gigih memperhatikan ku meskipun aku bersikap kasar dan masa bodoh terhadapnya.
Dan tak bisa kupungkiri bahwasanya aku sungguh merindukan sosok kedua orang tuaku, di saat seperti ini yang kuinginkan cuma pelukan hangat dari Mamah dan Ayah, namun kenyataanya aku sendirian di sini.
"Aduhh... " Tanpa sadar, jariku teriris pisau hingga membuat jari ini berdarah. Tak ingin terganggu dengan rasa perih ku putuskan untuk mengobatinya terlebih dahulu.
"Mana ya.. " Gumamku mencari hansaplast dan obat merah.
"Habis kali ya, ahhh apotiknya lumayan jauh" Rengekku pada angin yang berhembus.
"Ahh ya udah deh, aku ke apotik aka bentar" Gumamku, sebelum keluar kupastikan makananku didapur dalam keadaan baik-baik saja.
"Aman" Gumamku, kulangkahkan kaki dengan hati yang jauh lebih lega. Rasa sakit tentu masih sangat ada, namun mau bagaimana lagi nasi telah menjadi bubur tinggal ditambahkan saja bubu dan saus pelengkap.
"Ada yang bisa kami bantu kak? " Tanya salah satu petugas apotik dengan ramah.
"Beli Hansaplast sama obat buat luka kena pisau ada nggak mbak? " Tanyaku, petugas Apotek mengangguk memahami obat apa kiranya yang tepat untuk lukaku.
Setelah membeli obat, aku kembali melanjutkan perjalanan pulang. Dijalan mataku tertuju pada stand penjual aneka cemilan dan gorengan.
"Enak kayaknya" Gumamku, kakiku terasa melangkah begitu ringan menuju si penjual gorengan.
"Gorengan campur 20Ribu ya bu" Gumamku, setelah selesai aku kembali melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi mataku tertuju pada gerobak penjual sempol, dengan ringan kaki ini seolah terasa cepat melangkah, apakah ini yang dinamakan sindrom patah hati?
Apakah semua wanita merasakan apa yang aku rasakan?
Porsi makan seolah bertambah, dan rasanya makan adalah pelampiasan terenak sedunia, ataukah hanya aku yang merasakannya?
Ahh.. Setelah ini aku benar-benar harus tutup mata.
"Tuhh kan, baru juga bilang tutup mata ehhh didepan ada gerobal penjual rujak icecream" Gumamku, aku menghela nafas namun tetap saja kaki ini melangkah menuju stand rujak icecream.
Jadilah, rencana yang awalnya hanya ingin ke apotek berubah menjadi cuci mata. Tangan kananku penuh dengan aneka jajanan dan cemilan sementara mulutku sibuk mengunyah sempol yang tadi ku beli.
"Enak... "
Terlalu sibuk dengan makanan-makanan ini membuatku tersadar jika seseorang yang kukenal tengah terduduk lemas di depan pintu rumahku.
"Andromeda.. " Gumamaku, mataku awas melihat gerak-gerik andromeda.
"Dia nangis? " Gumamku lagi.
"Kamu ngapain di sini? " Kataku pada akhir, Andromeda mendongak menatap ku dengan tatapan penuh arti,
"Sya.. " Katanya, ia berdiri dan berhambur memeluk tubuhku.
"Sya, maafin aku" Katanya tergugu. Tubuhku mendadak kaku melihat reaksinya hari ini.
"Kamu nangis? " Kataku, pelukannya semakin erat kurasakan. Isak tangis terdengar lirih ditelingaku.
"Sya, jangan tinggalin aku" Gumamnya, di sela-sela kebingungan ku Asoka datang dengan wujud aslinya.
"Dia ngira aku bunuh kamu, Hahahahah... " Kata Asoka tertawa terbahak-bahak..
Alisku mengernyit, Andromeda mengurai pelukan yang ia menatap mataku begitupun denganku, namun gelak tawa tak dapat lagi ku tahan.
"Buahahahahah..
Andromeda kamu di kerjain Asoka, di Prank setan kamu tuh" Kataku masih dengan sisa-sisa tawa yang menggema.
"Ehm.. " Bukanya menjawab, Andromeda justru membungkam taw aku dengan ciuman.
"Jangan aneh-aneh please" Katanya, diurainya pelukan itu.
"Huffff" Andromeda meniup mataku, ahh tidak mendapat ciuman mendadak seperti itu ternyata sangat tidak baik untuk kesehatan mentalku.
"ANDROMEDA!!" Teriaku setelah kewarasan berhasil kudapatkan.
"Ahahaha.. " Gelak tawa berhasil keluar dari bibirnya.
"Rasa sempol" Gumamnya berpendapat, sontak mataku melotot tajam.
"Mulutnya!! "
"Sya.. " Katanya kembali berubah serius, "Aku salah, aku tau aku salah. Aku minta maaf sama kamu. Aku minta maaf udah bikin mata kamu bengkak kaya gini" Katanya sembari menyentuh kedua kantung mataku yang bengkak.
"Aku minta maaf udah bikin senyum ini hilang" tanganya gini berpindah menuju kedia sudut bibirku, di tariknya sudut bibir itu ke atas dan kembali di kecupnya sebentar.
"Kalau kamu mau marah, kesal dan kecewa pukul aku sekarang sya.. Tapi tolong, jangan pernah melakukan hal apapun yang berbahaya" Katanya,
"Kamu di prank Aso... "
"Ssssttttt... "
"Kamu hany__a"
Cup!
Lagi-lagi Andromeda mengecup cepat bibirku, "Aku tahu, tapi aku harap kamu nggak akan melakukan hal aneh apapun. Aku takut kehilangan kamu Sya" Katanya kembali memeluk tubuhku erat.
"Andromeda sesek ih" Gumamku..
"Kamu cuma dikerjai sama Asoka, aku juga bukan perempuan tolol yang bakalan bunuh diri cuma karena di selingkuhi, kamu nggak sepenting itu" Kesalku, bukanya marah ia justru tertawa..
"Heran!!! Malah ketawa" Gumamku..
***
Bersambung...

Comentário do Livro (48)

  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • avatar
    PutriRisma

    baguss

    09/06

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes