logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 34 Surat Peringatan

"Manusia sering memperhatikan akhir dari pada awal. Jika dahulu engkau seseorang yang baik di awal perjumpaan namun melakukan kejahatan di akhir, kebaikanmu seolah terlupakan"
Anonim ~ DR. ANDRO
***
Author POV:
Andromeda mendapat sanksi tegas dari rumah sakit tempatnya bekerja, komite tertinggi rumah sakit bahkan tak mau mentolerir perbuatan tidak terpuji yang kedua dokter kompetennya lakukan.
Sanksi tegas sudah sewajarnya mereka terapkan tanpa pandang bulu.
"Elu tolol Dro! Kalo sange, ngwenya di hotel kek bukan di rumah sakit" Maki Alif, sebejat-bejatnya dia Alif tetap ingat dan menjunjung tinggi sumpah setia dokter.
"Loe nggak tau apa-apa nggak usah bacot!" Desis Andromeda, otak dan HATInya terasa panas dan rancau.
Semalam, mereka berdua di sidang habis-habisan oleh Komite rumah sakit. CCTV lorong menangkap tindakan asusila yang telah Andromeda dan Anita lakukan. Tak cukup sampai disini, Andromeda dan Anita terancam di copot diskualifikasi dari semua rumah sakit atas tindakan taknterpuji dan terancam di keluarkan secara tidak hormat.
"Inilah alasan gua kenapa berjuang sangat keras buat masuk Tommorow House, satu-satunya rumah sakit yang berlandaskan pada dasar Pancasila, tak peduli dengan nepotisme dan adil dalam menerapkan hukum. Seorang Andromeda, salah satu dokter yang digadang-gadang kelak akan menjadi pewaris rumah sakit ini begitu mendapatkan kesalahan ia ditindak tegas tanpa tapi. Apalagi kita? para dokter biasa yang mengandalkan beasiswa?" Gumam salah satu dokter umum yang ada di lobi Tommorow House.
"Iya, gua juga gitu. Tommorow House emang keren banget sih, minim banget perselisihan. Low penjilat atau bahkan buat urusan seperti ini, bah di tempat dulu gua kerja ngewe sama satu instansi atau beda instansi mah udah bukan hal tabu lagi, rahasia umum udah mah." Timpal yang lain.
"Ahhh, padahal di novel adegan yang di lakukan dokter Andro dan Dokter Anita bisa famous banget loh, bisa jadi adegan paling Hot yang pastinya uwu banget. Iya nggak sih?" Salah seorang suster ikut berkomentar, sontak ia mendapat sorak sorai dari teman-teman disekitarnya.
"Wuuuu... "
"Halu mulu, kerja jangan baca novel terus makanya" Gumam satu rekan sejawatnya.
"Ye... kenapa mulu perasaan"
"Yuk balik kerja, makan gaji buta kalian yah" Kata salah satu dokter.
"Yuk.. "
***
Plaks..
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Andromeda, seorang wanita yang tak lain adalah orang tua Andromeda menahan gejolak emosi didada.
"Mammy nggak pernah ngajarin kamu buat bersikap sering ini, Mammy nggak pernah ngajarin kamu buat bersikap serendah ini Andromeda!" Gumam Margarete ibunda Andromeda.
Andromeda diam menerima kemarahan dari kedua orang tuanya, "Salah mammy apa nak? kenapa kamu bisa berbuat setega ini? Mammy sudah berusaha berbuat Adil! dan sekarang ini balasan kamu untuk Mammy?" Kata Margarete.
Air mata yang telah ia tahan sejak pertama kali mendengar anaknya berbuat asusila kini tak dapat lagi dibendungnya.
"Mammy nggak salah, ini salahnya Andromeda mi" Kata Andromeda, ia menjatuhkan kaki dan lututnya sembari bersimpuh dihadapan seorang wanita yang sangat ia kasihi.
"Maafkan Andromeda Mi" Kata Andromeda lagi,
"Andromeda anak mammy yang baik, mammy percaya kamu tentu tidak akan melakukan hal senista ini. Katakan kepada mammy nak, mengapa kamu melakukan hal ini? Apa masalah kamu sebenarnya?" Margarete ikut bersimpuh, dipeluknya dengan sayang tubuh putra satu-satunya.
"Mammy sudah kehilangan kakakmu, sekarang mammy tidak mau lagi kehilangan kamu. Kamu anak Mammy yang baik, cerita sama mammy Nak cerita" Katanya sembari menatap dan mengusap air mata Andromeda.
Andromeda sangat ingin mengatakan jika ia melakukan semua ini sebab dijebak oleh wanita yang menyukainya, namun Andromeda adalah laki-laki yang sudah sepantasnya menjaga dan menghormati wanita.
Anita telah mendapatkan ganjaranya, Andromeda rasa itu sudah cukup. Saat ini yang sangat diperlukan adalah maaf dari kedua krang tua baru setelah itu ia akan bertolak menuju rumah Meisya.
"Daddy, kenapa Daddy sama Oma menangis? Lili jadi ikut sedih" Lili, gadis manis yang tak mampu mengerti situasi yang tengah terjadi hanya mampu diam menatap kedua orang dewasa ini.
"Daddy okay nak, come here" Kata Andromeda berusaha terlihat tegar, ia tak ingin melihat keponakannya ini bingung.
"Oma okay?" Tanya Lili pada Margarete yang terlihat tengah menghapus sisa-sisa air mata.
"Iya sayang, Oma baik-baik saja. Ayuk kita makan siang dulu, Lili nungguin lunch bareng daddy kan tadi?" Jawab Margarete.
"Lili nungguin daddy?" Tanya Andromeda, Lili mengangguk "Iya, Lili rindu sama Daddy, tadi pagi kita udah nggak breakfast bareng masa lunch juga nggak bareng" Katanya, Andromeda tersenyum hatinya menghangat.
Andromeda berterimakasih kepada Tuhan telah mengirimkan malaikat sebaik Lili, malaikat pengganti cinta pertamanya.
"Thanks God, meskipun aku tidak mendapatkan cintanya secara utuh tapi engkau menggantikan Cinta dari yang lain secara utuh dan penuh" Gumam Andromeda sembari menatap punggung Lili.
"Bahagia disana ya kak, aku rindu kakak" Gumam Andromeda, ia menghela nafas ternyata ia benar-benar belum mampu melupakan secara menyeluruh sosok wanita itu.
"Padahal udah ada Meisya" Bisiknya, ia menggelengkan kepalanya menghapus kembali segala ingatan yang bersarang dihati.
***
Andromeda mengendarai mobil SUV, Toyota Fortuner TRD jenis mobil keluarga dengan body gagah dan besar, mobil yang sering ia gunakan untuk mengantar jemput Mammy dan Lili jika jam kerjanya sedang longgar. Namun hari ini ia menggunakan mobil ini untuk kerumah Meisya, entah bagaimana reaksi wanitanya nanti.
Seharusnya ia mendatangi kediaman Meisya semalam namun jadwal kerja dan interogasi komite terlalu lama dan bertele-tele menurutnya.
"Ya Tuhan, bagaimana kondisinya saat ini" Gumam Andromeda, hatinya resah membayangkan bagaimana keadaan Meisya kekasihnya.
Sesampainya di tepian jalan rumah Meisya, Andromeda segera memarkirkan mobilnya dan bergegas membuka gerbang pagar yang tak pernah Meisya Kunci.
Di ketuknya pintu rumah Meisya beberapa kali, namun tak kunjung ia mendapatkan jawaban.
"Apa?" Asoka, hantu wanita itu keluar menembus pintu. Wajahnya judes dan menakutkan, tubuhnya yang biasanya bersih kini bersimpah darah.
"Meisya dimana?" Tanya Andromeda panik, ia khawatir melihat tubuh Asoka yang berubah semenyeramkan ini.
"Meisya dimana???! " Teriaknya panik, alih-alih takut melihat Asoka yang berlumur darah Andromeda justru panik, otaknya melayang jauh membayangkan bagaikan keadaan Meisya saat ini.
"Apa yang kamu lakukan sama Meisya? " Tuduhnha pada Asoka.
"Apa pedulimu? " Tantangan Asoka berpura-pura tak mengerti.
"Apa yang kamu lakukan terhadap Meisya? mengapa kami berlumuran darah? mengapa bajumu bisa seperti ini? Kamu membunuh Meisya?" Tuduh Andromeda, wajahnya pucat pasi. Andromeda terduduk lemas membayangkan keadaan kekasih yang sangat ia cintai.
"Sya.. " Gumamnya lirih,
"Meisya!! " Andromeda Menggedor pintu rumah meisya keras, ia khawatir jika sesuatu hal yang buruk telah terjadi.
"Ini baru surat peringatan pertama anak muda" Sinis Asoka, ia lalu meninggalkan Andromeda dalam keadaan panik.
"Sya.. "
"Meisya.. " Teriaknya bak kesetanan.
***
Bersambung..

Comentário do Livro (48)

  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • avatar
    PutriRisma

    baguss

    09/06

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes