logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 33 Tak Sengaja Terluka

"Jangan pernah berharap pada Manusia jika kau tak ingin terluka pada akhirnya"
Meisya ~ DR. ANDRO
***
Author POV:
Meisya menggiring diri di kamar, ia bahkanemasang bebeberapa patung Dewa pelindung agar Asoka tak dapat menembus dinding kamarnya.
Hatinya benar-benar sakit dan terluka melihat kenyataan pahit yang ia lihat semalam.
"Seharusnya aku nggak datang kesana, seharusnya aku nggak ngikutin perasaanku buat ngehawatirin dokter Andro, lebih baik nggak tau apa-apa daripada harus mengetahui kenyataan yang nyakitin kayak gini" Gumam Meisya, ia memeringkuk memeluk kedua lututnya.
Isak tangis tak dapat lagi ia bendung, disaat seperti ini Meisya merasa benar-benar sendirian.
"Sya" Suara Asoka terdengar dari balik pintu kamar Meisya.
Ia kesal, disaat seperti ini ia terlihat seperti manusia. Tak habis Akal, Asoka pergi menuju kediaman ibunda Meisya.
Disana seorang wanita terlihat tengah terduduk sembari memeluk boneka kesayangan anaknya.
"Mau sampai kapan kamu pergi dari rumah nak? Mau sampai kapan kamu menghukum mamah seperti ini" Gumamnya, Wanita yang tak lain adalah ibunda Meisya terlihat memeluk erat boneka kelinci milik Meisya.
Boneka satu-satunya yang pernah ia belikan untuk Meisya dulu.
"Maafkan mamah sudah setega ini sama kamu nak" Gumamnya menyesali perbuatan kejamnya di waktu lampau.
Sejujurnya selama ini ia sangat sadar dengan semua hal pernah ia lakukan pada putri semata wayangnya.
"Seharusnya mamah tidak melampiaskan kemarahan mamah padamu nak, seharusnya mamah nggak jahat sama kamu" Gumamnya, dadanya terasa sangat sesak manakala ia kembali mengingat malam dimana Wulung mengambil mahkota hidupnya.
(Flashback on :)
"Saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya malam itu" Kata Wulung, sementara Dea Ayu muda membuang muka. Ia tak sudi melihat wajah lelaki yang tak ia sukai.
"Tidak perlu! saya tidak butuh bantuan anda! pergi dan enyahlah dari bumi ini" Desis Dea Ayu, ia lalu keluar dari dalam mobil Wulung atau Xyn dalam hati ia bertekad untuk tidak mau lagi berurusan dengan apapun yang berbau dengan media dan Xyn tentunya.
Waktu berlalu dengan begitu cepat, anak buah Xyn datang memberikan bantuan finansial namun tak ada satupun yang Dea Ayu terima.
"Bilang sama tuan kamu! Saya nggak sudi nerima apapun dari dia termasuk ini" Kata Dea sembari melempar sebuah koper hitam yang berisi nominal rupiah yang cukup banyak.
Tak ingin diteror oleh orang-orang suruhan Xyn, Dea ayu memutuskan untuk pindah menuju pesisir pantai Bali.
"Setidaknya disini kita bisa tinggal bersama kakek dan nenek dengan jauh lebih tenang nak" Gumam Dea ayu sembari mengelus kandungan yang yang kian membesar.
(Flashback off)
"Mamah jangan nangis" Gumama Ara Ayu, adik tiri Meisya. Dea Ayu tersenyum, dipeluknya anak perempuan keduanya itu.
"Mamah mau Ara temenin ke Jogja? nyari kakak? " Tanya Ara, Dea menggelengkan kepalanya.
"Kakak belum mau ketemu Mamah, dia masih marah sama mah Gek" Jawab Dea.
"Mau sampai kapan mamah sama Kakak diem-dieman kayak gini. Papah sama Ara selalu disini dukung mamah, apapun keputusan mamah" Gumamnya.
Segala tindak-tanduk mereka tak lepas dari pengamatan mata Asoka.
"Hufftt... Manusia" Gumam Asoka.
"Saling salah paham, saling merasaha nggak diterima dan memutuskan untuk memupuk kesalahpahaman." Asoka menggelengkan kepalanya tak habis fikir.
Ia lalu kembali terbang menuju tempat selanjutnya, kali ini Asoka memilih menuju kediaman Xyn atau Wulung berada.
Disana, ia berencana untuk menampakan dirinya.
"Hai.. " Gumam Asoka, Xyn yang tengah berkutat dengan begitu banyak dokumen yang harus ia tinjau kembali terkejut mendengar suara yang lebih dari 30 tahun ia rindukan.
"Hai!" Sapa Asoka lagi, ia membulatkan matanya melihat reaksi spontan dari laki-laki yang secara tidak langsung membuat reinkarnasi nya terhambat.
"Biasa aja kali, udah tua juga." Kata Asoka, tubuhnya melayang menembus meja kerja Xyn.
"Kedatanganku kesini hanya ingin mengabari jika putri semata wayangmu sedang tidak baik-baik saja, datang dan jenguklah dia.
Temani dia, dengarkan keluhan kesahnya, untuk saat ini dia sedang membutuhkan kalian. Mulutnya memang setajam pisau namun percayalah dia gadis baik, berhati lembut dan penurut" Gumam Asoka, setelah selesai ia lalu menghilang di balik tembok.
"Asoka Tunggu..! " Teriak Xyn, namun seolah tak ingin berbasa-basi dengan Xyn Asoka lebih memilih cepat-cepat menghilang. Meninggalkan Xyn dan sejuta tanda tanya di otaknya.
Gadis semata wayang? Siapa gadis yang Wanitanya maksud?
Matanya Xyn membola begitu tersadar jika gadis semata wayang yang ia maksud tentu tak lain adalah Meisya, putri kecilnya.
"Siapkan mobil, kita pergi" Kata Xyn pada sekertaris kepercayaannya.
***
Meisya terbangun mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang. Mata bengkaknya terasa menggantung dan berat di bawah kantung matanya. Dengan cepatcepat Meisya mengambil kacamata bulatnya.
"Iya bentar" Teriaknya dengan suara serak.
Meisya berlari menuju pintu depan, hatinya resah ia bahkan berharap jika yang mengetuk pintunya adalah Dokter Andromeda "Ghem... " Meisya mencoba menormalkan suara agar tak terlalu kentara jika ia telah menangis seharian. Setelah suaranya normal ia lalu membuka pintu.
"Suprise!!! " Xyn dan Arifin berdiri dengan heboh didepan pintu Meisya, siapa saja pasti akan mengira mereka adalah dua bapak-bapak badut yang sedang memberi kejutan ulang tahun pada anaknya hal ini terlihat dari betapa noraknya pakaian mereka, Jas dan celana kain berwarna serta topi bucket hut yang nampak kontras dengan raut wajah sangar mereka.
Meisya yang tadinya mengira bahwa pintu diketuk oleh Andromeda tersenyum kecut mendapati Ayah dan Omnya lah berdiri disini.
"Kalian ngapain pakai baju kayak gini? Mei nggak lagi ulang tahun kali yah, om" Gumam Meisya kesal.
"Ehhh... Yah kok cemberut, kan Ayah pengen bahagiain putri Ayah.. Mumpung libur ini" Kata Xyn, bukanya tersenyum Meisya justru semakin merendahkan bahunya.
"Libur atau tidak, sama saja bagi Meisya! Ayah nggak perlu sok baik meluangkan waktu, Mei tahu Ayah sibuk.. Mei nggak butuh belas kasihan ataupun simpati dari Ayah maupun siapapun" Kata Meisya "Ini pasti ulah Asoka? Ayah pasti dikasih tahu Asoka perihal keadaan Mei kan yah? Mei baik-baik saja semisal Ayah pengen tahu" Kata Meisya dengan cepat ia lalu menutup kembali pintu rumahnya.
"Mei, dengerin penjelasan Ayah dulu nak" Teriak Xyn disertai gedoran pintu, Meisya diam tak tertarik untuk merespon.
"Mei sudah biasa sendiri, Mei sudah biasa mengobati semua luka Mei. Mei tahu, berharap pada manusia hanya akan membuat meisya hancur. Meisya sudah lelah menjadikan Manusia sebagai rumah, sebab Meisya pernah menjadi gelandangan karena rumah yang Meisya tuju telah hilang.
Ayah nggak perlu khawatir tentang Mei, Meisya akan Baik-baik saja" Gumamnua sembako mengunci pintu rumahnya ia lalu beranjak meninggalkan Xyn dan Arifin.
"Mau sampai kapan ego kalian di pupuk sedemikian tinggi? nggak capek apa saling membenci padahal kenyataanya sama-sama rindu? Sama-sama suka? Sama-sama sayang? " Terus Asoka, Meisya yang kesal karena hantu kurang ajar ini telah memberi tahu perihal kondisi dirinya pada ayahnya menatap tajam Asoka.
"Enyahlah" Gumam Meisya Tajam.
***
Bersambung...

Comentário do Livro (48)

  • avatar
    Nurul Huda

    mantap

    10/09

      0
  • avatar
    KasihAyuracinta

    suka bangettts

    09/08

      0
  • avatar
    PutriRisma

    baguss

    09/06

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes