logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

05 Lift

Evrilia jadi bayi besar Tanjung. Sebetulnya, Evrilia sendiri tidak perlu terlalu dimanja di kehamilan awalnya. Kata dokter hanya perlu banyak istirahat, makan sehat, dan vitamin. Namun Tanjung sepertinya sangat berhati-hati akan hal itu.
"Kamu lebih suka yang plain atau rasa srowbery?" tanya Tanjung kala lelaki itu memegang dua box susu kehamilan dengan merek yang sama namun rasa yang berbeda.
Evrilia menggeleng, "nggak tahu."
"Kok nggak tau, yang?"
"Kan belum aku coba, Mas. Mana bisa tahu enak yang mana."
"Oh, iya. Kalo gitu ambil dua-duanya," katanya lantas melempar dua box susu kehamilan ke keranjang belanja.
"Heh, kok dua?"
"Di coba dulu, nanti kalo nggak enak tinggal buang, beli baru."
Evrilia mengerucutkan bibir. Mencegah sang suami mendorong troli dengan menarik lengan kemejanya.
"Enggak usah. Aku mau ambil yang rasa strobery, yang plain balikin aja."
Tanjung terlihat berpikir sejenak, namun tetap mengembalikan susu rasa plain ke tempat semula.
Troli di dorong dengan perlahan. Jadwal belanja bulanan yang Evrilia lakukan pertama kali dengan Tanjung. Betulan pertama kali setelah keduanya menikah dan memilih tinggal bersama. Biasanya Evrilia sendiri atau jika terlalu sibuk Evrilia minta tolong Tanjung. Jika keduanya tidak bisa, pilihan lain hanya online.
Jalan berdua dengan Tanjung mendorong troli dan Evrilia memegang list belanja sangat terlihat romantis. Terkadang Tanjung sengaja memasukkan barang tidak perlu agar Evrilia marah. Menyubitnya dan terjadi candaan kecil.
"Kamu hari ini mau masak apa, sayang?"
"Mmmm, apa, ya?" gumam Evrilia sambil berhenti di kotak chiller seafood.
"Mau seafood?"
"Pengen cumi, Mas." Evrilia membuka chiller, memilah cumi segar yang tertata rapi di chiller. Kemudian memutuskan mengambil satu yang kecil.
"Hari ini aku aja yang masak," kata Tanjung tiba-tiba. Evrilia yang baru menegakkan punggung setelah memilah seafood lain mengerutkan dahi.
"Sejak kapan kamu bisa masak?" tanya Evrilia dengan kening masing mengerut.
"Nanti belajar dulu di Youtube." Tanjung mendorong troli dengan satu tangannya merangkul Evrilia yang masih terpaku. "Atau kamu jadi pengarahku nanti."
Evrilia terkekeh kecil. Lucu.
Dan siang menjelang. Evrilia tidak tahu menahu tentang pekerjaan Tanjung. Namun akhir-akhir ini terutama setelah kehamilan Evrilia, Tanjung semakin sering di rumah. Libur katanya atau kadang pura-pura sakit agar bisa cuti.
"Kamu jadi makin jarang kerja, ya?" tanya Evrilia.
Keduanya sudah mendarat di rumah. Dengan kantong belanja yang cukup banyak. Persediaan katanya.
"Kerjaanku nggak banyak," jawab Tanjung. Mengeluarkan beberapa barang dan menatanya di meja. Untuk selanjutnya dia pilah masuh ke kulkas atau lemari biasa. Evrilia sendiri duduk dengan apel dan pisau di tangan.
Jika pekerjaannya tidak banyak, seharusnya sejak dulu keduanya punya banyak waktu bersama. Bukan justru saling kejar jadwal hingga lupa apa itu quality time.
"Kamu direktur loh, Mas."
"Justru itu." Tanjung melepas genggam bawang dari tangan kemudian menunjuk ruang hampa di depan. "Tinggal tunjuk, kamu, kamu, kamu."
Tanjung memperagakan dengan konyol. Lantas kembali pada kegiatannya.
"Kalo nggak banyak harusnya dari dulu punya banyak waktu buat aku."
Potongan apel yang Evrilia makan terasa manis. Namun entah kenapa raut wajah Tanjung berubah masam. Karena ucapannya? Evrilia hanya menebak, namun rasanya jadi tidak enak.
"Mm, maksudnya, harusnya kita punya banyak waktu gitu. Kamu kan sibuk banget."
Tanjung diam. Entah apa yang dia pikirkan namun atmosfernya menggelap.
"Mungkin karena aku punya asisten baru," kata Tanjung. Tidak dengan kelakar. Hanya senyum kecil yang dia loloskan. Kemudian menunduk dan kembali tersenyum.
Evrilia mengangguk menyiyakan. Itu lebih aman daripada memperkeruh dan membuat atmosfer menjadi lebih gelap.
"Kamu? Nggak mau cari asisten rumah tangga?" tanya Tanjung dengan maniknya yang berubah antusias. Evrilia lega karena Tanjung tidak lagi menunjukkan wajah masam. "Kerja rumah 'kan banyak, yang. Takutnya kamu kecapean."
Evrilia meliahat sekeliling rumah.
Rumah yang mereka huni adalah rumah lantai dua dengan dominan warna biru menghiasi. Tidak besar, namun berisi empat kamar dengan satu kamar utama di lantai dua. Dapur di lantai satu memang cukup besar. Dibuat karena hobi Evrilia memasak. Kemudian ruang belakang seperti teras, yang terdapat taman kecil dan kolam ikan. Sama seperti teras depan yang terdapat kolam yang sama.
Lantai dua yang jadi dominan tempat favorit Evrilia tidak besar. Hanya ada dua kamar, satu ruang santai dengan balkon menghadap belakang.
Tidak terlalu besar namun tetap melelahkan jika dibersihkam seorang diri. Apalagi keadaan kehamilan Evrilia yang sedikit manja.
"Iya, sih." Evrilia memakan potongan apel lagi. "Tapi aku masih bisa nyuci baju kita tiap hari. Atau nyuci piring dan masak. Kalo bersih-bersih kayak ngepel sama bersihin taman, kita panggil orang aja seminggu sekali."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Bakal lebih baik begitu," jawab Evrilia. "Aku nggak suka ada orang lain di rumah kita selain kita atau anak kita."
Evrilia bukan anti sosial. Dia hanya terlalu lelah berhubungan dengan banyak orang seperti pekerjaannya sebagai chef dulu. Terlalu berisik dan ribut. Evrilia tidak suka demikian. Kini waktunya menikmati kesendirian yang menyenangkan.
Tanjung tersenyum cerah. Kemudian menyingkirkan segala macam barang belanjaan untuk dia simpan. Dengan senyumnya, mata itu cantik. Terkadang Evrilia juga tidak menyangka jika pemilik mata itu juga adalah miliknya. Hidupnya terlalu sempurna.
~🍁~
Tanjung terdiam. Bukan karena kalimat Evrilia tentang waktu liburnya atau waktu bekerjanya. Tentang waktu yang tidak bisa dia habiskan bersama Evrilia.
Evrilia wanita karir yang sibuk. Mengejar pekerjaan yang memaksanya lembur kadang kala. Ketika Tanjung bertanya apakah dia ada waktu, jawabnya selalu tidak. Ada acara di hotel, ada tamu vvip, ada pesanan wedding cake yang sibuk. Selalu, Evrilia selalu sesibuk itu.
Menjelang siang itu berjalan kaku. Tanjung melangkah menuju kamar. Perasaannya jadi gundah hanya karena kalimat Evrilia tadi.
Dering ponselnya berdering lama. Sarah menelfon. Tanjung mengunci pintu kamar.
"Halo?"
"Kamu ke kantor hari ini?" tanya suara di ujung sana.
"Ada masalah?" tanya Tanjung.
"Ada," jawabnya. Yang jujur membuat Tanjung semakin kalut. "Masalahnya ada di aku. Aku kangen."
Tanjung menghela napas lega. Bukan kabar buruk.
"Aku juga kangen," jawabnya setelah meloloskan senyum pasca kekalutan. "Aku ke kantor sekarang."
Panggilan terputus.
Tanjung, dengan gesit meraih apa yang dia butuhkan. Kemeja putih tanpa dasi dan celana bahan yang formal. Cukup meyakinkan untuk jadi alasan bahwa dirinya hendak ke kantor. Kunci mobil, dompet dan gawai. Seluruhnya ada di genggaman. Dan dengan cepat lelaki itu melangkah keluar.
Kala turun menapak tangga, Evrilia masih duduk di dekat pantry. Tangannya berganti dari apel menjadi pisang, dan sorot matanya fokus pada luar jendela yang memajang pemandangan taman belakang.
"Loh, katanya libur, Mas?" tanya Evrilia mendapati Tanjung yang sudah rapi. Ada jaket di lengan kirinya dan kunci mobil di tangan kanan.
"Tiba-tiba ada masalah di kantor," jawab Tanjung cepat. "Sampai jumpa nanti malem ya, sayang."
Sebelum sepenuhnya keluar dari rumah, Tanjung menghampiri sang istri. Mengecup perempuan itu pada dahi dan mengelus perut guna berpamitan.
"Makan siangnya?"
Tanjung tak sanggup menjawab. Lelaki itu keburu keluar rumah dan menutup pintu, lantas berjalan menuju garasi mobil.
Setelah resign dan Evrilia dinyatakan hamil, kesempatan Tanjung bertemu dengan Sarah jadi berkurang. Sarah bukan perempuan penuntut, meski sesekali mengeluh karena Evrilia menjadi prioritas Tanjung, perempuan cantik itu tetap pada perasannya. Sarah sabar dengan pembagian kegiatan Tanjung antara Sarah juga Evrilia.
Sarah Hanifah. Empat tahun menjali hubungan di belakang, Tanjung tak pernah merasakan serindu ini dengannya.
Sampai kantor, cepat lelaki itu memarkir mobil di parkiran basement. Naik lift menuju kantor di mana Sarah telah menunggu.
Dan peluk Tanjung akhirnya dia jatuhkan pada Sarah yang berdiri anggun di depan meja kerjanya. Parasnya yang ayu, senyumnya yang menawan, jadi obat rindu paling ampuh.
Rengkuhan Tanjung pada Sarah begitu erat sampai gemuruh dadanya sepertinya bisa Sarah rasakan.
"Kamu sekangen itu?" tanya Sarah dalam rengkuhan.
Tanjung melepas peluk, "Kangen banget."
Duduk. Tanjung masih merangkulkan tangan di bahu Sarah. Terus merapatkan jarak pada Tanjung.
"Kapan kita Netflix and Chill lagi?" tanya Sarah.
"Nonton Netflix apa kita yang ditonton Netflix?"
"Ih, Tanjung." Sarah menyubit perlan pipi Tanjung dengan gemas.
Sarah adalah pendengar terbaik. Setiap keluh yang Tanjung lontarkan, entah kenapa berhasil diterima Sarah dengan baik. Saran yang Sarah berikan juga selalu membangun. Sesuatu yang jarang dia dapat dari sang istri.
Keduanya saling ngobrol dan sesekali melemparkan kecup guna melepas rindu. Tanpa sadar bahwa sore telah beranjak. Perut Tanjung yang hanya terisi roti selai pagi tadi bergemuruh lapar. Terdengar hingga telinga Sarah sepertinya.
"Laper banget ya?" Sarah bertanya dengan senyumnya yang jahil.
"Makan siang, yuk?" tawar Tanjung. "Nasi padang atau apa gitu?"
Sarah hanya tertawa namun cepat bangkit dan mengulurkan tangan pada Tanjung.
Makan di pinggir jalan bersama Sarah tidak kalah menyenangkan dari Netflix and Chill. Sama-sama akan ada keromantisan yang samar. Walau samar itu akan menjadi kuat seiring detik. Sarah pandai merayu, dan rayunya selalu tepat sasaran.
Di dalam lift, beruntung tak ada orang kantor di sana. Jadi Tanjung masih bisa leluasa mengecup Sarah untuk menyalurkan rindu.
Dari lantai tiga belas, kecup bibir Tanjung jatuh pada Sarah. Perempuan itu terlihat menikmati. Dengan merengkuh tengkuk dan membalas lumatan Tanjung dengan lembut. Rindu yang mengalir terasa hangat, dan kecup itu menjadi pengisi daya yang paling ampuh.
Dering ponsel Tanjung berbunyi selama lift meluncur ke bawah dan selama itu pula kecupnya pada Sarah tak berhenti. Peduli apa soal dering gawainya. Justru jadi melodi pengganti biola.
Jatuh pada lantai dasar, pintu terbuka perlahan. Parkiran basement sepi seingat Tanjung. Dan tidak akan ada siapapun yang hadir dari sana. Maka kecupnya terus menghujani bibir Sarah. Namun Sarah mendorong Tanjung menjauh. Kecup itu terlepas dan tatap Sarah berubah nyalang. Menarik Tanjung untuk melihat kearah pintu.
Evrilia berdiri disana. Dengan kotak makan yang kini terjatuh. Ponsel di telinga kirinya terlepas dari tangan dan mata itu ... mata yang sangat marah.
Ada air mengalir dari sudut matanya. Ada gurat kecewa samar yang terlukis di sana, meski kebanyakan yang Tanjung tahu, gurat itu adalah kecewa.
Tanjung rasa waktu sengaja terhenti. Menghujani Tanjung dengan fakta pahit raut wajah Evrilia yang menyakitkan. Ngilu dada Evrilia seolah menular dan detak jantung Tanjung ikut merasakan bagaimana sakitnya.
Evrilia bergerak. Tangannya menyentuh tombol dan dengan perlahan pintu tertutup. Sayangnya daripada menahan, Tanjung membiarkan tatap itu terhalang pintu lift tanpa bisa dia bergerak. Bodohnya, mata Tanjung hanya menatap Evrilia nyalang daripada bekerja untuk mencegah segalanya semakin panjang.
~🍁~

Comentário do Livro (85)

  • avatar
    Jumali Bae Lah

    sangat bagus

    19/06

      0
  • avatar
    Ni kadek Wulan restyani

    kerenn bgt pliss

    22/05/2025

      0
  • avatar
    NisaIzzatin

    ceritanya bagusss bgtt

    17/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes