logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 48 Judi

"Pelayan, apakah saya bisa bertemu dengan pemilik restoran ini?" tanya seorang pelanggan.
"Ada perlu apa kalau saya boleh tahu?" tanya Ida.
"Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih karena makanan disini sangat lezat."
"Baiklah Pak, akan saya panggilkan," ucap Ida.
Ida lalu mencari Sekar di ruangannya.
"Bu, ada pelanggan yang ingin bertemu."
"Ada perlu apa?"
"Katanya mau mengucapkan terimakasih karena telah menyajikan masakan yang lezat."
"Ayo, antar kan saya menemui orang tersebut."
Ida mengantar Sekar untuk menemui orang tersebut.
"Itu orangnya."
"Saya akan menemuinya sendiri, kamu bisa kembali bekerja."
"Baik bu."
"Selamat siang, saya Sekar, manajer di restoran ini."
"Halo, saya Judi, masakan di tempat anda sangat lezat, saya akan merekomendasikan restoran ini kepada teman-teman saya. Apakah anda pemilik restoran ini?"
"Iya, saya pemiliknya." jawab Sekar berbohong.
"Luar biasa, sudah cantik, hebat pula. Bolehkan saya minta nomor anda?"
"Boleh, ini." Tanpa curiga sedikitpun Sekar memberikan nomor teleponnya.
"Terimakasih untuk makan siangnya, lain kali saya akan datang kemari lagi."
"Tentu, saya tunggu."
Hari demi hari hubungan Sekar dan Judi semakin dekat. Bahkan mereka terlihat seperti orang pacaran. Sekar yang mengetahui kalau Judi adalah pemilik perusahaan besar semakin gencar mendekatinya. Awalnya Judi tidak merespon Sekar, tetapi karena Sekar menggunakan pesonanya akhirnya Judi luluh juga. Bagaimana dengan Dirga? tentu saja dia tetap menjadi target utama Sekar.
"Mas Judi, bagi duit dong, mau belanja nih," rengek Sekar dengan manja.
"Memangnya uang yang saya kirim kemarin sudah habis?"
"Sudah, aku habis beli tas." 
"Baiklah, nanti akan saya transfer."
"Terimakasih sayang."
Sekar selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, apakah dia mendapatkan dengan percuma? tentu saja tidak, Judi sering mengajak Sekar ke hotel dan setelahnya dia akan mendapatkan uang. Sekar tak lebih dari seorang wanita yang menjajakan dirinya untuk uang.

Sudah hampir sebulan sekar bekerja di restoran. Ditangan Sekar memang terbukti restoran itu bisa maju. Dia sangat disiplin menerapkan aturan untuk karyawannya. Sudah banyak karyawan yang mengeluhkan cara kerja Sekar namun dia tidak menanggapinya. 
Aturan baru yang dibuat sekar sangatlah memberatkan mereka. Sedangkan untuk sekedar curhat kepada Dirga atau Sri mereka tidak pernah bisa karena selalu diancam akan dipecat jika mengadu.
"Teman-teman, rasanya aku sudah tidak betah kerja disini. Berangkat pagi, pulang malam, jam istirahat hanya sebentar, terus kalau kita melakukan kesalahan harus membayar denda. Disini kan kita mencari uang, masak harus ngeluarin uang untuk bayar denda sih? Mana kesalahan yang menurutmu tidak masuk akal lagi," celoteh Silvi.
"Kamu benar Sil, waktu itu aku pakai kemeja yang kancing paling atasnya tidak aku kancingkan, masak suruh bayar lima puluh ribu sih buat denda." Dita menimpali. 
"Aku juga pernah, waktu itu makan ambil ayam sepotong dan ketahuan sama bos Sekar, terus aku juga di suruh bayar lima puluh ribu. Katanya jatah karyawan cuma tahu dan tempe saja, selebihnya harus bayar." Pardi juga mengeluarkan unek-uneknya.
"Sama, aku ambil buah apel juga harus bayar lima puluh ribu. Katanya buah yang gratis untuk karyawan cuma pisang." Darmo tidak mau ketinggalan.
"Apa kalian tahu kemana larinya uang denda tersebut?" tanya Silvi.
"Katanya sih buat kas restoran, nanti kalau sudah terkumpul banyak mau buat piknik bareng-bareng," jawab Darmo.
"Salah, uang tersebut masuk ke kantong pribadi bos Sekar," ucap Ida.
"Iya, aku juga perhatikan pakaiannya dan tas nya terlihat mahal, beda sekali waktu dia pertama kali kesini." Pardi ikut berpendapat.
"Betul, dia menggunakan uang tersebut untuk berbelanja kebutuhan pribadi."
"Menurut kalian bagaimana dengan gaji kita besok? Apakah akan sama atau berkurang?" tanya Darmo.
"Jika berkurang, aku akan keluar dari sini."
"Aku juga."
Tibalah waktunya gajian, semua karyawan harap-harap cemas membuka amplop mereka.
"Loh, naik? Dua ratus ribu?" pekik Silvi kegirangan.
"Benarkah?" tanya Darmo tidak percaya. Dia buru-buru merobek amplop gajinya.
"Punyaku juga naik," ucap Dita.
"Wah, ternyata aku juga." 
"Punyaku juga," ucap Pardi kegirangan.
"Kalau begini aku tidak jadi mengundurkan diri."
"Aku juga."
"Semangat kerja teman-teman, jangan sampai kita kena denda lagi ya."
"Semangat."
Sebenarnya Sekar pernah mendengar percakapan mereka yang ingin mengundurkan diri, makanya dia sengaja menaikkan gajinya agar mereka mengurungkan niatnya.
'Bagus, hanya dengan uang dua ratus ribu saja mereka pasti akan tunduk kepadaku' gumam sekar yang melihat sinar kebahagian terpancar dari wajah karyawan.

"Sayang, anterin aku belanja yuk." Sekar mengajak Judi belanja.
"Jangan sekarang Sekar aku masih ada rapat ini, nanti setelah makan siang aku antar."
"Beneran lho ya, janji lho ya."
"Iya janji."
"Aku sekalian ngajak Rida boleh?"
"Tentu saja, ajak sekalian. Ya sudah aku tutup dulu ya bye."
"Bye."
'Yes, shoping lagi, telpon Rida dulu ah."
"Halo Ma, ada apa?" tanya Rida dari seberang telepon.
"Nanti siang kita shoping ya."
"Tapi aku masih ada kelas Ma."
"Halah, bolos saja, kapan lagi kamu bisa ikut shoping sama Om Judi?"
"Loh, Om Judi juga ikut? asyik, bisa belanja besar-besaran nih."
"Makanya kamu bolos saja, cari alasan sakit atau apalah."
"Siap Mama, apapun akan aku lakukan demi bisa shoping."
"Sip, kamu memang anak Mama."
Setelah makan siang mereka janjian ketemuan di Mall.
Sekar dan Rida terlihat berbelanja banyak sekali barang di mall. Tidak sengaja aktifitas mereka di ketahui oleh Sri.
"M-mbak Sri?" Sekar kaget melihat Sri mendatanginya saat memilih-milih baju.
"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli barang-barang mahal ini?" tanya Sri penasaran.
Sementara itu Judi sedikit menjaga jarak dari mereka, Sekar sudah pernah bercerita kalau Sri itu selalu jahat kepadanya.
"Hari ini kan gajian Mbak, makanya aku berbelanja."
"Memangnya gajimu berapa kok mampu beli barang-barang seperti ini?"
"Em, tanya saja sama Mas Dirga Mbak, dia lebih tahu."
Sekar memang pernah meminta gaji tinggi kepada Dirga, lagi-lagi dengan ancaman kalau dia akan memberitahukan tentang skandal mereka.
"Memangnya Mbak Sri kesini sama siapa?"
"Itu, sama rekan bisnis aku. Aku duluan Sekar."
'Foto dulu ah, bisa jadi bahan buat ngomporin orang nih' gumam Sekar sambil mengarahkan gawainya ke arah Sri dan seorang lelaki yang katanya rekan bisnisnya.
"Sekar, apakah tadi Sri yang sering kamu ceritakan itu?" tanya Judi.
"Iya Mas, sepertinya dia ada main sama orang itu deh? lihat saja, mereka mesra sekali."
"Kamu benar, sepertinya memang begitu."
"Ma, lanjut belanja lagi yuk," rengek Rida.
"Ayo sayang."
"Kalian pilihlah yang kalian suka, nanti aku bayar."
"Terimakasih Om, sudah ganteng baik hati pula Om ini."
Judi hanya tersenyum mendengar pujian Rida.

"Sri, siapa lelaki yang sedang jalan denganmu di Mall itu?"
"Lelaki mana yang Mas maksud?"
"Halah, tidak perlu pura-pura deh, jelas-jelas kamu habis jalan sama lelaki di Mall kan, ngaku saja!"

Komentar Buku (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    11/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    03/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru