"Memangnya restorannya ada berapa kok pakai nanya yang mana sih." "Ada sepuluh Neng," jawab Mang Ujang. "Hah?" Sekar sangat kaget mendengar jawaban Mang Ujang. 'Wah, sepertinya buruanku kali ini kelas kakap, aku akan sangat beruntung jika bisa mendapatkannya. Tidak seperti Mas Bayu yang kere itu, aku sudah bosan hidup miskin dan ingin menjadi nyonya di rumah ini' Sekar bergumam sambil senyum-senyum sendiri. "Neng, kesambet ya?" tanya Mang Ujang penasaran. "Eh, apaan sih Mang? ayo antarkan saya ke tempat Mas Bayu bekerja." "Siap Neng." Mang Ujang melajukan mobilnya menuju ke restoran. Dengan pongah Sekar berjalan masuk ke dalam restoran dan bertanya kepada salah seorang cleaning Servis. "Woy, tukang bersih-bersih, sini kamu." Sekar memanggil orang tersebut. "Saya Bu?" "Iya kamu, sini!" "Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" "Kamu tahu dimana manajer restoran ini berada?" "Maksud anda Bos Sri?" "Bukan, manajer yang baru." "Tidak ada manajer baru di sini Bu." "Ada, mas Bayu katanya jadi manajer di sini." "Pffft ... Bayu cuma cleaning service di sini Bu." "Tidak mungkin, kamu jangan bohong ya, siapa nama kamu? Biar saya laporkan ke bos kamu karena telah berbohong dengan mengatakan dia cleaning service." "Ya ampun Bu, saya beneran tidak bohong, Bayu itu cuma sebagai cleaning service di sini." "Saya tidak percaya, Bayu itu adiknya Bos, masa dia menjabat sebagai cleaning service sih." "Kalau tidak percaya silakan Ibu temui Bayu di dalam." "Dimana dia sekarang, Mas Bayu, cepat keluar!" Yang dipanggil tidak kunjung keluar. Sekar berteriak memanggilnya lagi. "Mas, di mana kamu? jangan ngumpet, ayo temui aku disini." Bayu yang sedang membersihkan toilet merasa terganggu karena suara Sekar, dia pun segera keluar untuk menemui Sekar. "Sekar, apa yang kamu lakukan di sini? mas sudah bilang jangan ikut Mas ke restoran." Sekar yang melihat Bayu keluar dengan mengenakan pakaian cleaning service sangat terkejut. "Baju apa yang Mas kenakan itu? bukankah Mas ini seorang manajer? Kenapa memakai baju cleaning service?" "Sebenarnya Mas...." "Tolong jawab jujur Mas, sebenarnya Mas ini bukan seorang manajer kan?" "Kamu benar Sekar, jabatan mas hanya sebagai cleaning service di sini." "Apa Mas? Kenapa Mbak Sri tega sekali menempatkanmu sebagai cleaning service? Padahal kamu kan adiknya. Keterlaluan, aku akan protes sama Mbak Sri." Sekar berjalan menerobos Bayu berniat hendak menemui Sri di ruangannya. "Sekar, tunggu dulu kamu mau ke mana?" Bayu berusaha menahan Sekar. "Aku mau protes sama Mbak Sri, pokoknya Mas Bayu harus jadi Manager di sini." "Tidak Sekar, jangan lakukan itu." "Kenapa Mas?" "Jabatan ini aku yang memilihnya sendiri, sebenarnya Mbak Sri sudah menawariku untuk menjadi manajer tapi Aku menolaknya." "Kenapa kamu tolak? kamu ini b*d*h atau apa sih? dikasih jabatan tinggi kok malah nolak, benar-benar aneh." "Mas mau memulainya dari nol Sekar, mulai dari bawah." "Hash, kamu benar-benar b*d*h, t*l*l, aku tidak bisa menerima alasanmu Mas. Sudahlah, aku mau pulang, kesal sekali aku sama kamu Mas." Sekar buru-buru pergi meninggalkan Bayu sendirian. "Sekar, tunggu, Mas masih ingin bicara dengan kamu." Bayu berusaha mengikuti Sekar dari belakang tetapi Sekar sudah naik ke mobil. "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Mas, aku sangat kecewa denganmu. Ayo jalan Pak, kita pulang." "Tapi Den Bayu, Neng?" "Jangan hiraukan dia, menyebalkan." Mang Ujang segera melajukan mobilnya kembali ke rumah, selama di dalam mobil Sekar terus mengumpat, merutuki kebodohan Bayu yang menolak rezeki nomplok. Mang Ujang yang mendengar umpatan Sekar hanya diam saja tanpa berkomentar. "Kok ada sih orang di dunia ini yang menolak jabatan tinggi, benar-benar aneh." "Mungkin Den Bayu merasa belum mampu kalau harus menduduki jabatan sebagai Manager, Neng." Mang Ujang yang sedari tadi mendengarkan ocehan Sekar sudah tidak tahan lagi untuk berbicara. "Halah, jadi manajer kan mudah tinggal nyuruh anak buah, tinggal enak-enakan duduk manis di kursi saja tanpa harus capek-capek kerja." "Tetap capek kok Neng, bukan capek badan tapi capek pikiran soalnya harus memikirkan bagaimana kelangsungan restoran itu. Seorang manajer itu bekerja dengan otak bukan dengan otot." "Halah, Mang Ujang ini sok tahu. Coba kalau aku yang disuruh mimpin restoran, pasti restoran itu bakal maju dengan pesat." Mang Ujang diam tidak menanggapi Celoteh Sekar. Sekuat apapun dia memberikan argumen, pasti akan kalah jika berdebat dengan Sekar. Akhirnya mobil sudah sampai di rumah Sri. Sekar bergegas masuk ke dalam rumah. Saat sedang melewati ruang tamu tidak sengaja dia melihat Dirga sedang duduk sambil membaca koran. 'Wah, kesempatan emas nih.' ... Semalam, saat Rida dan Sekar berduaan di kamar. "Rida, kamu jadi ke rumah Mbah kan kemarin?" "Jadi Ma, Ini titipan dari Mbah. Mbah berpesan untuk jangan lupa segera transfer." "Halah, dasar tua b*ngk* mata duitan." "Memangnya itu apa sih Ma?" "Anak kecil tidak boleh tahu." "Itu pelet ya Ma? sama seperti yang Mama berikan kepada papa Bayu dulu? Rida sudah gede lo Ma, sekarang Rida sudah paham." "Jangan kencang-kencang nanti ada yang dengar. Kamu mau tidak hidup enak di rumah sebesar ini? jadi tuan putri di sini?" "Tentu saja mau, Ma" "Kalau begitu jaga rahasia ini, jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kalau berhasil, kamu akan jadi putri di tempat ini, semua yang kamu inginkan akan Mama penuhi." "Wah, asyik tuh Ma. Pokoknya Rida akan selalu mendukung Mama." "Bagus, itu baru putri Mama." ... "Eh, Mas Dirga sudah pulang?" "Iya Sekar, kami darimana?" "Jalan-jalan, mas mau aku buatin minuman?" "Boleh Sekar, es sirup saja ya." "Oke Mas." Sekar segera ke dapur membuatkan es sirup untuk Dirga, setelah selesai tidak lupa dia memasukkan ramuan ajaib nya. 'Sebentar lagi aku akan jadi satu-satunya Ratu di rumah ini.' Sekar segera membawa minuman tersebut untuk Dirga. "Ini Mas minumannya, lekas dihabiskan mumpung segar." "Iya Sekar, terima kasih ya." Dirga segera mengambil gelas tersebut dan berniat untuk meminumnya, saat gelas tersebut sudah sampai di bibir Dirga tiba-tiba gawainya berbunyi. 'Duh, kenapa mesti ada telepon sih.' Dirga segera mengangkat telepon tersebut, mimik wajahnya berubah serius sepertinya ada masalah. Beberapa saat kemudian dia menutup telepon. "Ada apa Mas?" "Aku harus segera ke restoran, Sekar." "Diminum dulu sirupnya Mas." "Tidak Sekar, aku buru-buru, aku pergi dulu." Dirga segera menyambar kunci mobil dan pergi ke restoran, sementara itu Sekar merasa dongkol karena misinya telah gagal. 'Aduh bagaimana ini, mubasir nih minuman, mana sudah aku campur dengan ramuan ajaib lagi' Tiba-tiba dari arah pintu datang Ucup, tukang kebun yang bekerja di rumah Dirga. "Panas banget hari ini ya Neng, mana haus lagi." "Kalau kamu haus ambil minum di dapur sana." "Itu yang ada di meja minuman punya siapa?" "Tidak ada yang punya." "Kalau begitu buat Ucup saja ya." "Eh ... eh...." Sekar kalah cepat, Ucup sudah menyambar gelas yang ada di meja dan menenggak isinya sampai habis. "Ah, segarnya, minum sirup dingin disaat siang hari yang panas kayak gini memang benar-benar nikmat." 'M*ti aku, peletku salah sasaran'
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 24 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Lihat Semua