logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 40 Rida Dan Rido

Sri menatap Bayu dengan penuh tanya tanda, sedangkan Bayu hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya seolah paham apa yang dipikirkan oleh Mbaknya tersebut.
"Rido, Rida ayo kita masuk," ajak Sri.
Mereka semua masuk ke dalam rumah. 
"Wah … rumahnya besar sekali. Sofanya juga empuk ya Ma." Rida langsung duduk di sofa tanpa di suruh sang empunya rumah.
"Kalian berdua pasti capek, istirahatlah dulu," ucap Sri sambil ikut duduk di sofa. 
"Iya Bude, capek banget, baru sekali ini Rida naik bus dengan jarak yang jauh. Badan rasanya pegal semua Bude. Apalagi di bus tadi banyak pedagang asongan yang baru pulang dari berdagang, bau keringatnya itu lho Bude, asem banget. Setelah itu mereka turun sih, tapi diganti sama pedagang ikan, mual banget perut Rida, Bude. Sampai mabuk berkali-kali aku tuh, untung dari rumah sudah bawa plastik hitam tadi, sedia payung sebelum hujan gitu deh." Rida berceloteh riang seolah-olah sudah kenal lama dengan keluarga Sri.
"Memangnya untuk apa plastik hitam itu?" tanya Ani penasaran.
"Ya untuk tempat muntah dong Mbak."
"Pffttt … Kamu muntah? Lalu kamu buang kemana plastik itu?" 
"Eh, ini masih saya bawa mbak." Rida mengambil plastik tersebut dari dalam tasnya.
"Hahaha…." Ani dan Ali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah adik barunya tersebut. Sri juga terlihat menahan ketawa.
"Heh, Rida, kamu kok jorok sekali sih? Kenapa tadi tidak dibuang ke tempat sampah? Kaya gitu kok di taruh tas dan di bawa kemana-mana." Sekar terlihat marah mengetahui kelakuan anaknya.
"Tadi tuh mau aku buang Mah, tapi lupa. Lagian ini juga sebagai bukti biar Mama percaya kalau aku tuh tidak bisa naik kendaraan umum. Bisanya naik mobil pribadi yang ada AC nya," ucap Rida polos.
"Hahaha…." Ali dan Ani benar-benar di buat sakit perut oleh pernyataan Rida.
"Rida, Mama tuh tahu kalau kamu suka mabuk kendaraan, tapi tidak harus dibawa kesini juga kan? Sekarang kamu buang tuh plastik. Mama tidak mau melihatnya lagi."
"Rida capek Ma, tolong buangkan ya."
"Wuek, ogah, Mama jijik tau."
"Sudah, sudah, sini Papa buangkan," ucap Bayu menengahi.
"Terimakasih Papaku sayang."
Rida terlihat cerewet dan mudah bergaul. Berbanding terbalik dengan adiknya, Rido, yang dari tadi hanya diam saja melihat tingkah Rida.
"Sekarang kalian makan dulu ya." Sri menyuruh kedua ponakannya makan.
"Wah, kebetulan Bude, Rida sudah lapar banget dari tadi cuma makan roti saja. Perut sampai melilit karena menahan lapar."
"Iya, kamu makan yang banyak ya, Bude sudah masak makanan spesial untuk kalian."
"Siap Bude."
Mereka semua menuju ke meja makan. Rida dengan kalap mengambil semua makanan yang ada.
"Mak, ternyata sebelas dua belas dengan Mamanya ya," bisik Ani ditelinga Sri.
"Sssttt, biarin saja."
"Rida, jangan makan sebanyak itu dong. Seperti tidak pernah dikasih makan kamu ini. Malu-maluin Mama saja." Sekar merasa risih melihat cara anaknya makan. 
"Pfftt … Mak, Tante Sekar ini tidak sadar ya kalau kelakuannya sama persis dengan Rida," bisik Ani.
"Iya, kamu benar." Sri membalas dengan berbisik juga.
Sedangkan Bayu hanya tersenyum melihat anaknya yang memiliki watak persis dengan ibunya.
Setelah makan mereka istirahat di kamar yang sudah di siapkan Bik Jum. Rumah Sri memiliki banyak kamar tidur,  sepuluh kamar di lantai dua dan sepuluh kamar di lantai satu. 
Lima kamar di peruntukkan untuk pekerja atau asisten rumah tangga. Sri memiliki sepuluh pekerja, enam pekerja wanita dan empat pria. Masing-masing kamar di huni oleh dua orang pekerja.
Saat semua orang sudah tertidur, bayu masih duduk termenung di meja makan.
"Kamu kenapa Bay?" tanya Sri yang merasa heran melihat adiknya.
"Bayu malu Mbak, anak istri Bayu harus ikut numpang disini."
"Mbak tidak keberatan Bay, apa kamu mau Mbak belikan rumah agar bisa tinggal dengan keluargamu?"
"Wah, jangan Mbak, malah Bayu  lebih tidak enak hati sama Mbak Sri."
"Terus maumu gimana nih?"
"Sebenarnya Bayu pengen pinjam uang saja Mbak, buat cari kontrakan kecil-kecilan."
"Beneran? Memangnya istri dan anakmu bakal setuju dengan rencanamu itu?"
"Bayu belum bicara dengan mereka Mbak."
"Sudahlah, Bay, kamu tidak perlu risau memikirkan tentang tempat tinggal. Kamu di sini dulu saja sampai punya rumah yang layak untuk keluargamu. Kamar di sini juga banyak kok, daripada gak kepake kan mendingan kalian tempati."
"Iya Mbak."
"Bay, masih ada yang mengganjal di pikiran Mbak."
"Apa itu Mbak?"
"Tentang anak-anakmu…."
"Oh, mereka anak sambungku Mbak."
"Maksud kamu, mereka…."
"Ya, aku menikahi janda beranak dua Mbak. Awalnya Bapak dan Emak tidak setuju dengan rencana Bayu itu."
"Terus, bagaimana akhirnya kok sampai mereka bisa setuju."
"Sekar dan anak-anak datang ke rumah dengan membawa banyak buah tangan, makanan, baju dan yang lainnya. Sejak saat itulah mereka jadi setuju. Tetapi sampai saat ini Sekar dan orang tua kita tidak pernah bertegur sapa. Hubungan mereka sangat buruk Mbak."
"Semoga dengan berjalannya waktu mereka bisa akur ya Bay."
"Iya Mbak."
"Tidurlah Bay, besok kita harus bangun pagi. Ada yang mau buat acara di restoran, jadi bakalan sibuk besok."
"Ok Mbak."

"Rido, Rida, apakah kalian mau kuliah di tempat Ali?" tanya Sri saat mereka sarapan.
"Mau banget Bude. Rida mau ambil jurusan yang sama dengan mas Ali, biar nanti bisa cari kerja bareng."
"Kalau kamu bagaimana Rido?"
"Rido mau ambil keguruan Bude."
"Wah, sama seperti Ani dong. Kalau begitu nanti kalian daftar kuliah biar diantar Mang Udin ya. Ali, Ani, kalian bantu adek-adek kalian ya."
"Iya Mak." Ali dan Ani menjawab serentak.
"Ayo Bay, kita harus segera sampai di restoran pagi-pagi."
"Iya Mbak."
"Mas Bay, aku ikut." Sekar keluar dari kamar dengan dandanan menornya.
"Tidak usah Dek, hari ini Mas bakalan sibuk."
"Ya tidak apa-apa biar nanti aku bantu Mas."
"Lain kali saja pasti Mas ajak."
"Kenapa sih Mas nolak permintaanku?"
"Bukannya nolak, tapi memang hari ini restoran bakalan sibuk banget."
"Ya sudah lah, lain kali saja."
"Nah, begitu dong."
Sri dan Bayu sudah berangkat ke restoran, sementara Rida dan Rido juga sudah bersiap untuk mendaftar kuliah.
"Ma, kami berangkat dulu ya, doakan kami berdua diterima."
"Iya Nak, doa Mama menyertai kalian."
Rido dan Rida pun sudah berangkat, tinggallah Sekar sendirian di rumah.
'Bosan banget nih, mending aku nyusul Mas Bayu saja'
"Mang Ujang mau kemana?"
"Mau jemput anak-anak pulang sekolah Neng."
"Bisa minta tolong antar saya ke restoran Mbak Sri dulu?"
"Restoran yang mana ya Neng?"
"Memangnya restorannya ada berapa kok pakai nanya yang mana sih."
"Ada sepuluh Neng," jawab Mang Ujang.
"Hah?" 

Komentar Buku (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    11/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    03/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru