Ouya 11 Angin sepoi sepoi berhembus menggerakan pepohonan serta rerumputan kian kemari. Angin tersebut terkadang menyapu serta merontokkan dedaunan kering. Tempat yang luas tertanam rerumputan Hias. Sebuah pemakaman sedang dikunjungin hiyun sendirian. Laki laki itu berdiri setelah menyebarkan bunga diatas sebuah makam. Ia membuka botol air mineral lalu menyiramkan keatasnya. Pandangan mata hiyun terlihat teramat sedih, matanya bahkan sampai memerah menahan tangis. Sejenak ia tersenyum lembut. “Hend, aku ketemu dia lagi. Udah lama aku nyari, akhirnya gak sia sia.” Hiyun tertegun, ia menarik nafas panjang “pertama kali aku berusaha nyari terus akhirnya ketemu, aku bahkan belum sempat bilang maaf karena takut kehilangan dia. Yang lebih parah, aku malah terpaksa ninggalin dia waktu itu. Trus aku usahain lagi nyari dan akhirnya sekarang udah ketemu, kamu tahu?” Hiyun tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya “akhirnya aku berhasil nikahi dia, meskipun maksa, tapi aku gak kan pernah ngelepasin dia lagi. hen,......” “Yun, kamu disini ” suara seseorang menghentikan hiyun melanjutkan perkataannya. Laki laki tersebut menolehkan wajah kesumber suara. Ia melihat seorang pria yang ia kenal sedang berjalan menuju makam yang sama. Pria tinggi berambut sedikit ikal, warna kulit putih namun tubuh terlihat kurus. Ia membawa sekantung plastik bunga dan sebotol air mineral. Angin berhembus menggerakan baju kemeja yang ia pakai. Begitu pula dengan dasi dan jas kerja hitam yang menutup kemeja putih milik hiyun. “Zamri, kamu ziarah juga ya” “Hm udah sebulan aku gak datangi makam hendra, oh iya, kudengar kamu udah nikah sama ouya dari nenek” “Hm” hiyun tersenyum ia mengalihkan pandangan ke gundukan tanah didepannya. Langkah kaki Zamri berhenti tepat disamping hiyun, zamri menyebarkan bunga yang ia bawa dan menyiram air dari dalam botol. “Yun, aku ngerasa aneh banget liat kamu” “Apa maksudmu?” “Aku yakin, bahkan kenal siapa kamu, aku gak habis pikir, kamu sampai maksa ouya untuk menikah. Selama ini kamu bahkan benci kali sama yang namanya cewek” “Aku menikahinya karena dia orang yang kucari sejak dulu” “Kamu otakku gamer kan yun” “Hm” “Kenapa gak ngaku aja sama ouya, kasian kan dia terus terusan ngangeni kamu” “Kamu gak tahu apa apa jadi diem aja” “Kamu kelewatan yun, bahkan dimakam hendra pun kamu gak mau jujur sama aku” “Kalau aku jujur, aku bakalan kehilangan dia, puas” “Mana mungkin, aku yakin dia itu beneran cinta sama mu yun” “Iya, dia cinta sama otaku gamer yang miskin bukan kaya, kalau tahu aku kaya. Dia gak akan pernah lagi cinta sama aku. Mungkin iya kami bisa deket, tapi udah pasti dihatinya otaku gamer bakalan hilang. Kamu itu gak tau apa apa. Jadi diam aja, tolong zam, jangan campurin urusan ku” bentak Hiyun marah. Dia lalu melangkahkan kaki pergi. “Jangan bilang dia cewek itu,?” hiyun menghentikan langkah kakinya. “Bukan” “Hiyun, kalau sempat aku tahu dia beneran cewek itu, gak akan pernah kubiarin kamu bersamanya” “Kubilang bukan ya bukan” bentak hiyun lagi. Dengan penuh emosi, dia berjalan cepat meninggalkan zamri yang masih berdiri disamping makam teman lamanya. ****** Ouya menggigit kuku jari jempol tangan yang pendek. Sedari tadi dia menunggu Hiyun kembali dari makam temannya didalam mobil. Dia tidak seperti biasa, membaca komik, novel dan lainnya karena sedang memikir kan cara agar bisa selamat dari marabahaya. Karena tidak memiliki uang sepeserpen, ouya terpaksa mengikuti hiyun pergi. Hiyun menjanjikan akan memberikan Makan malam jika ouya menemaninya sore itu. Suara kendaraan berlalu lalang sili berganti dijalanan . Pemakaman umum yang luas memang terletak dipinggir jalan potong menghindari kemancetan. “Krek” pintu mobil terbuka, ouya melihat Hiyun telah masuk kedalam mobil. Wajah hiyun masih terlihat marah, ia bahkan sampai mampu membuat ouya merasa khawatir. Ouya memang selalu merasa khawatir jika dekat dengan orang lain, siapapun itu, bahkan saudara dan orang tuanya sendiri. Dia mungkin masih merasa tidak bisa mempercayai orang lain lagi dalam hidupnya, pikiran negatif selalu saja muncul dalam benaknya terlebih lagi ketika melihat wajah orang mulai marah. “Haaah” nafasnya mulai tidak teratur. Rasa khawatir sakit hati masih muncul. Mengingat banyaknya kesakitan dimasa lalu yang pernah ia alami. Sakit mendengar ucapan orang, melihat mimik wajah marah orang bahkan sakit ketika orang bersikap acuh kepadanya. Ini serasa, mungkinkah orang tersebut membencinya lagi, mungkinkah dia akan dibuang lagi, mungkinkah ia akan ditinggal lagi. Itulah beberapa sifat jelek yang ouya punya. Penderitaan dimasa kecil memang tidak mudah lepas begitu saja meskipun telah berusaha berubah. Kenangan tersebut akan merubah kepribadian orang ketika mereka mulai beranjak dewasa. “Bos, tunggu bentar” “Mau kemana?” Hiyun memang selalu keberatan jika ouya tidak terlihat dipandangannya. Dia merasa takut akan kehilangan wanita lagi. “Bentar aja, mau ngomong sama abang pabrik sepatu” “Abang pabrik sepatu?" Hiyun memandang ke kaca jendela tempat ouya berada. Terlihat zamri sedang berjalan keluar makam menuju mobil ferrari miliknya. Zamri memang berbeda dari hiyun meskipun mereka sepupuhan. Pria itu lebih suka berfoya foya menghabiskan uang dibandingkan dengan hiyun yang sangat irit karena terbiasa hidup sulit dimasa lalu. Karena hal tersebutlah, zamri sering sekali menerima hukuman berat dari neneknya bahkan terkadang hingga diasingkan kepelosok desa. Meskipun sementara, Zamri memang ditugaskan neneknya untuk mengawasi Pabrik sepatu milik keluarga besar Ong untuk mempertanggung jawabkan banyaknya kerusuhan yang telah ia perbuat dikota batam. Tempat kantor pusat perusahaan Warisan Ayahnya berada. “Abang pabrik sepatu” “Cih panggilan itu lagi” Zamri berhenti, ia yang tadinya telah membuka pintu mobil, menutup kembali setelah melihat ouya berjalan cepat menghampiri. “Abang pabrik sepatu” “Namaku zamri, dari kemaren asyik dipanggil abang pabrik sepatu terus. Kesel kali ni” “Abang pabrik sepatu” “Dengar gak sih woi” “Abang pabrik sepatu..” “udahlah cepet aja ngomong, kenapa?” zamri tampak sangat kesal melihat wajah ouya yang merasa tidak bersalah mendekat. “Abang pabrik sepatu, boleh pinjam uang gak?” “Astaga, hutang kemaren belum dibayar sekarang mau hutang lagi” “Aku gadaikan Hpku sama abang” Ouya mengeluarkan ponsel dari dalam celana jeans hitam panjang yang ia kenakan. “Ya udah sini” “Gak jadilah bang” “Kamu mau niat hutang gak sih?” zamri menarik hape Ouya, namun berhasil ditarik kembali oleh wanita itu. “Gak jadi, soalnya aku gak bisa hidup tanpa hp ini” “Jadi ngapain manggil manggil?” “Gak hutang gak apa apa deh, lagian masih bisa makan dirumah bos yun” “Kamu beneran gak punya uang lagi ya?” “Hm” angguk ouya merasa sedih. Bahkan mampu membuat zamrie merasa iba. “Gajian masih lama,terus, ntah kenapa, saudaraku udah gk ngirimin uang lagi. Aneh padahal harusnya bulan ini aku udah dapet uang, kalau tahu gak bakalan dikirimin uang, aturannya kemaren gak usah beli pakaian kerja baru” “Terus?” “Beli yang bekas aja” “Ya ampun kamu ini, gak ada malu malunya ya kerja pake pakaian bekas” “Gak pernah pake sih, Cuma kan aturannya lho bang aturannya” “Terus” “Abang, tolong bantuin aku sekali lagi, ini menyangkut hidup dan matiku didunia ini” “Kok bisa sampai kayak gitu” “Hm itu makanya” “Ya udah ceritain deh masalahmu, biar kudengerin” Ouya segera menceritakan rencananya kepada Zamri. Ia tidak lagi menyia nyikan kesempatan, karena sore itu sangat kebetulan bertemu dengannya sehingga mampu melepaskan kesulitan yang akan terjadi dimasa depan. OUya memang selalu memikirkan hal negatif yang belum tentu terjadi dimasa yang akan datang, maka dari itu dia menyiapkan rencana untuk berjaga jaga.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 28 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (111)
RosmawatiDewi
baca novel ini, kaya lagi baca komik aja aq tuh.. seruuu, lucu, .unik beda sama yg lain...
baca novel ini, kaya lagi baca komik aja aq tuh.. seruuu, lucu, .unik beda sama yg lain...
24/07/2022
0mantap ceritanya
01/05
0terima kasih atas bantuin aku
05/02
0Lihat Semua