logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

05. Keributan?

Jelas setelah mendengar itu, aura Varo berubah menjadi dingin. Bahkan Nanda yang berada disebelahnya pun bergidik ngeri. Tapi jangan tanyakan bagaimana Via, karena ia adalah satu-satunya orang yang tak peka akan hal itu.
"Makin lo cemburu, makin lo mundur, makin mudah juga gue dapetinnya," batin Noel.
"Gak.. gak.. gue mau dijemput ibu, lagi ibu gue emang lagi disekitaran sini," tolak halus Nanda, mengingat bagaimana nyawanya hampir saja melayang saat di bonceng Varo.
"Loh, cantiknya mami udah mau pulang?" Tanya Gloria sembari membawa 3 kotak tupperware yang entah apa isinya.
"Iya tante, lagipun udah sore juga, kasian Rey sendirian dirumah," jawab Via lembut.
"Yah, padahal nantian aja pulangnya, kan kita mau temu kangen, gimana sih," jawab Gloria sembari mengerucutkan bibirnya.
"Terus nanti via pulangnya gimana tante,"
"Loh, mami kan punya dua tuyul, kamu tinggal pilih mau di supirin sama siapa, mobil juga ada tuh, atau mau sama yang rada bangkotan?" Guraunya.
Tanpa Gloria sadari, Suaminya mendengarkan sedari tadi. Ia pun berdehem membuat Gloria tersentak kaget, membuat semua yang ada disana terkekeh.
"Mama gitu ya, bangkotan gini banyak yang mau, tuh ibu-ibu depan komplek aja ngantri gak usah jauh-jauh."
"Tidur diluar!"
"Yah mama mah gitu,"
"Nih, tante bawain cookies yang tadi aja ya, soalnya yang dirumah juga kebanyakan, sayang kalau ditaro doang, papanya jarang dirumah, apalagi noh dua tuyul mainnya gak pernah absen." Jelas Gloria sembari membagikan kotak tupperware masing-masing satu ke Via, Nanda dan juga Varo.
"Terimakasih tante," kompak mereka bertiga
"Euhm.. anu.. maaf.. tapi ini ternyata ibu udah sampai depan komplek, euhm.. nanda pulang duluan ya tante," pamit Nanda sedikit gugup karena masih belum terbiasa.
"Eh, kalau gitu via ikutan pulang juga ya tante," izin Via sembari membereskan isi tasnya.
"Loh kok pulang satu, jadi pulang semua,"


Jangan tanyakan apakah Varo mengebut atau tidak, karena jelas tidak jawabannya. Sekesal-kesalnya ia, jelas tidak berani bercanda maut dengan Via.
MACET! argh hal yang paling Via benci, bosan.. Via pun mulai menulis-nulis asal di punggung Varo untuk meredakan rasa bosannya.
"Varo tau gak?" Tanya Via memecah keheningan.
"Hm?"
"Kenapa Via bisa deket sama Tante Glo,"
"Gak tau," jawab Varo singkat.
"Tau dari mana sih vi gue lagi mikirin itu :)" -Varo
emang bener ya kata orang, kalo jodoh tuh ikatan batinnye kuat -Varo Budak Bijak
"Varo mau tau gak?" Tanya Via lagi sembari mencondongkan badannya lalu menumpukan kepalanya di punggung Varo.
Varo memang sudah terbiasa, tapi kenapa kali ini rasanya sedikit berbeda?
"Kalau Via mau kasih tau, Varo dengerin, dan selagi tidak, ya Varo mau nyari tau," jelas Varo.
Padahal sedari tadi dalam hatinya sudah menggebu-gebu menunggu jawabannya.
"Jadi tuh, tante Glo itu temen dari masa smanya mami, mirip kaya mami sama bunda yang udah temenan lama dari masa kuliah Var, terus pas Via masih tinggal di blok depan, karena rumah Via yang sekarang masih di renovasi tuh, nah tante Glo itu yang jagain Via. Bahkan tante bisa dua sampai tiga kali dalam seminggu kerumah." Jelas Via, panjang kali lebar kali tinggi bagi dua.
"Oh begitu.. pantes tadi deket banget," jawab Varo sembari menyunggingkan senyumnya sampai matanya seperti bulan sabit.
TTINNN.. TTINNN..
Bunyi klakson bahagia dari para pengendara yang mulai emosi karena kemacetan, saat akhirnya lampu hijau giliran mereka menyala.
"Makasih var," ujar Via sembari menyerahkan helm ke Varo.
"Makan malemnya jangan di skip."
Setelah mengucapkan itu, Varo langsung tancap gas membelokkan motornya ke pekarangan rumahnya.
"Heh kayang, kakak lo udah nyampe?" tanya Nanda digrup ghibah mereka.
"Belom kak," jawab Rey.
"Kalau udah kasih tau ya," balas Nanda lagi.
"Ada apaan ni?" tanya Eliya yang baru saja muncul digrup.
"Gak." jawab Rey.
"^2" jawab Nanda ikut meyetujui Rey.
TTOKK.. TTOKK..
"Via pulang, dek.." panggil Via sembari mendorong masuk pintu rumahnya, baru jam tujuh, tidak mungkin adiknya itu sudah tidur bukan?
Tetapi, baru saja 5 langkah ia memasuki rumahnya, tiba-tiba..
"Ddorr.." spontan Via pun memukul orang yang mengejutkannya itu, tapi ternyata orang itu..
BUGHHH..
"Huwaa.. sakit kakak!" Teriak Rey sembari mengusap-usap lengannya yang baru saja dipukul menggunakan tangan sakti kakaknya itu.
"Hehehe lagi pake nganggetin," kekeh Via.
"Nih gue bawa cemilan, mau gak?" Ia lalu memamerkan paper bag berisi cookies itu.
Belum saja sempat dijawab, Via sudah jalan terlebih dulu meninggalkan Rey yang masih berdiri dibalik pintu.
Ia menaruh paper bag itu diatas meja dan beranjak menuju kamarnya.
"Buka duluan aja, gue mau mandi," ujarnya sembari menaiki tangga.
"Anjay cookies," seru Rey setelah membuka tutup tupperware berwarna biru itu. Bahkan Rey sampai tidak sadar ternyata sudah memakan hampir 10 cookies, sembari menunggu kakaknya turun dari kamar.
Entah apa yang dilakukan kakaknya. Tapi sungguh Rey tak bisa membayangkan bila masing-masing kamar tidak diberi kamar mandi, atau dirumah ini hanya ada satu kamar mandi. Karena bisa-bisa 100 tahun yang akan datang ia baru bisa mandi.
Ternyata rumor wanita paling lama dalam berias diri bukan lagi sekedar rumor bagi Rey, karena ia sudah merasakannya sendiri.
"Enak?" Tanya Via yang kini tengah menuruni anak tangga, dengan tangannya yang sibuk menepuk-nepuk lembut rambutnya yang basah menggunakan handuk warna pink kesayangannya.
"Huum," jawab Rey sekedarnya, karena mulutnya masih penuh mengunyah cookies.
"Dari nyokap noel itu dek," jelas Via sembari mengambil satu keping cookies, lalu ia mensandarkan punggungnya di sofa empuk itu.
Baru saja cookies itu ingin memasuki mulut Via, ia terlonjak kaget karena Rey yang tiba-tiba batuk.
"Ampe kaget gitu ya Vi, batuknya Rey kek bapak-bapak kali ya :)" -thor
UHUKK.. HUKK..
Untung saja bi Inah dengan sigap menghampiri sembari membawa minuman.
"Kenapa dek, kok bisa keselek?" tanya bi Inah sembari mengambil kembali gelas bekas Rey minum.
"Nda tau nih buk, tiba-tiba batuk," jawab Via sembari sibuk menepuk-nepuk punggung adiknya.
"Ya sudah, ibuk lanjut beresin dapur dulu ya, adek kalau sakit laporan ya, biar ibuk siapin bubur sama obatnya." Pamit Bi Inah sebelum menuju destinasi favoritnya.
"Nape gak bilang sih kak, klo dari mamanya tuh kakel," sahut Rey.
PLAKKK..
"Sopan dikit, sekalinya dia pernah bikin lo kesel, jangan sampe sopan lu ke dia luntur," ujar Via setelah melayangkan satu tabokan khasnya ke lengan Rey.
"Kecuali dia udah nyenggol lu, itu baru.. ya tapi gak usah dibales kekerasan juga sih, gak guna, percaya deh ama gue."
"Dih ogah amat," sahut Rey sembari memutar bola matanya malas.
Bukan tanpa alasan ia tidak menyukai Noel, mengingat sebenarnya Rey sudah tau sedikit demi sedikit tentang masa lalu si kembar itu. Tapi ia hanya masih ragu untuk menjelaskan detailnya.
"Tau gak dek, ternyata nyokapnya Noel tuh Tante Gloria," jelas Via santai sambil melanjutkan memakan cookies.
"KOK BISA?!" Seru Rey histeris.
"Mana gue tau, gue aja heran, perasaan waktu itu perutnya tante kecil-kecil aja deh," jawab Via sembari mengingat-ingat masa lalunya tentang Gloria.
"Tapi, kok gue gak asing ya sama bokapnya dek," geruru Via lagi sembari berusaha membuka memori lalunya.
Karena ia seperti pernah melihat tuan Saputra di suatu tempat yang sering ia kunjungi dulu.
"Jangan-jangan bokapnya itu temen kerjanya papi, terus ternyata ini udah di setting, terus..terus..lu mau dijodohin ama Noel kak, jangan-jangan.. ini semua konspirasi." Seru Rey kini makin histeris.
PLETAK..
"Akh.. anjin.." baru saja ingin mengumpat, Rey sudah terlebih dulu mendapatkan tatapan maut dari kakaknya.
"Huum, lanjutin aja gapapa," ucap Via sembari tersenyum mengancam.
"I..iya kagak," jawab Rey pasrah, ia pun memilih mengusap keningnya yang hingga kini masih terasa nyeri.
"Eh iya noh lu dicariin kak nanda di grup,"
"Ya udah, sekalian gue mau rebahan di kamar dah, capek," Via pun beranjak menuju kamarnya.
Tetapi baru saja menaiki beberapa anak tangga, atensinya teralih saat tiba-tiba Rey mengucapkan sesuatu yang baginya sangat menyebalkan.
"tapi ya kak, gue pikir-pikir.. kok lu cocok ya sama sama kak Noel," ejek Rey.
Ingin sekali rasanya ia putar balik dan menjambak jambul katulistiwa Rey kayang itu, tapi sayangnya rasa magernya lebih dominan.
Via pun menengok kearah Rey dan memberikan tatapan tajam, "Gue pindahin tuh tangan jadi di kepala," ancam Via.
"Uuu.. ngeri kale.." Rey justru tak merasa terancam sama sekali, dan justru ingin meledek lagi.
Bagi kawan-kawannya, wajah mengancam Via itu memang sangat menggemaskan.
"Ka.." panggil Rey lagi tapi kali ini suaranya lebih serius.
Via yang baru saja menambah tiga langkahnya menaiki tangga pun dengan terpaksa berhenti. Harap-harap adiknya itu kini memiliki tujuan yang jelas.
"Hm.." jawab Via malas.
"Besok.. lu pemotretan kan.."
Argh.. mengapa harus diingatkan sih, padahal Via sudah susah payah sedari tadi melupakan apa yang akan terjadi esok hari.
"Dek.. apa besok gua gak masuk aja kali ya," kini Via terlihat frustasi.
"Ya saran gue sih jangan kak, justru jadi malah nunjukin lo tuh kek.. gimana ya.. lagi ini kan printah sekolah juga," jawab Rey.
Kali ini jawabannya memang ada benarnya. Mungkin ini karena tadi jidatnya disentil.
"Ah elah.."
"Sabar ya kak," ujar Rey sembari menahan tawa melihat kakaknya yang tengah frustasi.
BRUKKK..
Via membanting tubuhnya kasar diatas king sizenya. Lalu ia mengambil ponselnya dan membuka kunci layarnya. Tak langsung membuka grup, Via justru membuka InstaKeram terlebih dulu.
Tetapi betapa terkejutnya ia, saat postingan Noel berada dipaling atas berandanya itu. Ternyata..
Kenapa wajahnya? Apalagi, maksudnya captionnya itu? Kenapa harus dia yang diposting di akun Noel sih. Sebenarnya apa niatan Noel terhadap dirinya. Via bahkan sampai tak habis pikir. Apalagi komentar kasar dari pemuja berat Noel, membuat kepalanya seketika pening.
Kapan pula si Noel sempat memotretnya, bahkan ia sampai tidak menyadari hal itu. Apa memang karena ia terlalu asik ngobrol dengan Gloria?
Tentu pula hal ini menjadi topik utama yang dibahas dalam grup ghibah, apalagi Nanda memang sedari tadi sudah memanggil-manggil dirinya di grup itu. Varo juga berpendapat, bahwa yang mengolok Via sangat kasar itu adalah mantan Noel. Terlebih bukti yang Nanda berikan.
Ini semua berkat keahlian Nanda untuk melacak, terlebih dirinya memang admin dari akun lambe turah sekolahnya. Membuat dirinya mengetahui banyak sekali gosip termasuk gosip tentang Noel dan juga Niel.
Tentu sebelum ia memosting, akan mencari tahu sampai keakarnya. Untuk menghindari berita hoax. begitu-begitu Nanda juga ingin bertanggung jawab akan akun yang di handlenya, ia tidak ingin akun turunan dari kakak-kakak tertua sekolahnya itu menjadi ladang hoax.
Maka dari itu Nanda memang memegang banyak sekali gosip, baik dari sekolahnya maupun sekolah asal Noel. Mengingat sekolahnya dengan sekolah asal Noel memang rival dalam segala bidang.
Sebenarnya Via sudah cukup terbiasa mendapatkan hujatan seperti ini. Tetapi mengapa kali ini.. ia merasakan sedikit sakit pada bagian dadanya.
Membayangkan apa yang akan terjadi diesok hari membuat kepalanya makin nyut-nyutan. Sampai perlahan ia berhasil memejamkan matanya dan mulai masuk kedunia mimpi yang indah.
Setidaknya, mimpi bisa membuatnya lebih baik bukan? Karena ia memang harus mengisi banyak energi, untuk menghadapi esok. Harapannya hanya esok dapat berlalu begitu cepat.


"Kak, ayo bruan, nanti telat!" Teriak Rey dari lantai bawah.
Jujur baru kali ini Via benar-benar tidak ingin pergi sekolah. Membayangkan berbagai tatapan yang akan ia dapatkan membuat peningnya tak kunjung selesai dari semalam. Sayangnya hari ini ada pelajaran yang memang tak bisa di elaknya.
Bisa-bisa bu Wati mengoceh nonstop, apalagi Via memang tidak pernah bolos sekolah. Jadi ia bingung harus beralasan seperti apa. Argh sudahlah.. ia akhirnya mengalah dan segera turun ke bawah menghampiri adiknya dan juga Pak Anton.
"Numpung sekolah masih sepi juga kan?" Tanyanya dalam batin berusaha menenangkan.
Karena makin terlambat ia berangkat, makin ramai pula sekolah, maka makin banyak tatapan yang akan ia dapatkan bukan?
"Iya, sabar!" Balas Via sembari menutup pintu kamarnya.
Sepanjang jalan pun Via banyak melamun menatap jendela. Membuat suasana dalam mobil hening, bahkan Rey saja tidak berani bertegur dengan kakaknya.
Sedang Pak Anton merasakan kejanggalan sedari keluar dari pekarangan rumah. Karena ia merasa mobilnya seperti diikuti oleh pemotor. Ia sedikit khawatir, takut-takut orang itu memiliki niat jahat.
"Kakak kenal motor yang dibelakang gak? Dari tadi mepet belakang terus soalnya," tanya Pak Anton sambil melirik kebelakang lewat kaca spion.
Via pun melihat ke cermin yang berada di atas dasboard, dan.. argh.. dari motor, helm, dan juga gayanya saja ia sudah dapat mengenali itu siapa.
"Gapapa pak, setidaknya dia bukan begal kok," jelas Via lesu.
Pak Anton akhirnya merasa sedikit tenang dan kembali fokus melajukan mobilnya saat lampu hijau akhirnya menyala.
"Terimakasih Pak," kompak Rey dan Via sembari membungkukkan sedikit badannya.
Untung saja sekolah belum begitu ramai, jadi ia bisa sedikit damai menuju kelasnya. Samar-samar ia mendengar beberapa gunjingan dari para wanita pemuja berat Varo.
"Udah nikah sama laki gue, masih aja gatal sama anak baru," ujar Selena si ketua geng pemuja Varo lengkap dengan senyum liciknya.
Via dengar sebenarnya, tapi ia malas berdebat dengan orang bodoh yang mudah termakan hoax, Via hanya menyunggingkan sedikit senyumnya saat mendengar apa yang mereka ucap. Sudah menikah? Dengan Varo? HAHAHA lucu sekali bukan?
Ia hanya tak habis pikir, siapakah para wanita yang komentarnya dibalas Nanda semalam. Karena menurutnya itu pasti bukan ulah dari anak buah Selena.
BRUKK..
Sebenarnya Via tak ada niatan untuk membanting tasnya, tapi entah mengapa kekuatan dalamnya keluar. Untung tadi ia sempat mengambil bantal leher yang ia sembunyikan di loker. Ia pun berniat untuk memejamkan matanya, harap-harap dapat menenangkannya.
Belum ada 5 menit ia memejamkan mata, tapi ia dapat merasakan ada banyak pasang mata menatapnya. Sempat terbesit ingin mengabaikan, tapi takutnya ternyata memang ia sudah terlelap begitu lama, dan yang menatapnya ini... guru?
Perlahan Via membuka matanya bagai putri yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Tapi ternyata..
Ia mengkutuk dirinya sendiri, mengapa ia bisa berpikir yang sedang menatapnya kini adalah guru. Padahal..
Noel tak henti menatapnya, "Nyenyak banget sih," ujar Noel gemas.
"Gue belom gangguin loh, atau lu udah hapal sama gue?" timpal Noel lagi, tapi kini dengan wajah yang sedikit mengejek membuat Via hampir tak bisa menahan jengkelnya.
"Bau neraka," gumam Via pelan, tapi ternyata masih dapat didengar Noel dan juga kawan-kawannya yang sangat setia mengekori si kembar.
Sontak semua yang ada disana sedikit terkejut dengan perkataan Via. Karena ini pertama kalinya bagi mereka mendengar Via mengumpat. Atau mungkin mereka heran karena Via sudah mengetahui seperti apa bau neraka?
Niel yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi itu pun hanya dapat membatin tanpa ekspresi.
"Gue harap lu sama Varo aja Vi..."
Ingin sekali ia memberitahu Nanda, karena dia yakin Nanda pasti 100% bisa melindungi Via, tapi sejujurnya ia juga masih bingung dengan perasaan asli dari kembarannya.
Varo? Oh jelas hanya ada dua kemungkinan jawabnya, antara Varo akan menghajar Noel tanpa ampun, atau tidak mempercayainya sama sekali.
"Minggir.."
Aura dingin tiba-tiba menyeruak saat Nanda mengusir Noel dari bangkunya, terlebih saat suaranya yang direndahkan dan juga tatapan ancaman dari Varo.


Akhirnya jam pelajaran akhir menuju puncaknya, selanjutnya ia hanya harus berfoto sebentar lalu pulang. Via sedari tadi berusaha menormalkan dirinya hingga tak fokus mendengarkan Bu Wati, untung saja beliau tidak menyadari.
KRINGGG..
"Jam pelajaran telah usai, diharap para siswa yang tidak berkepentingan, untuk segera meninggalkan lingkungan sekolah. Terimakasih."
Akhirnya.. kini ia tinggal berfoto saja. Tidak lebih dan tidak kurang, karena Varo sudah menjamin akan mengantarkannya pulang.
Baru saja ia merapihkan buku, tapi Noel sudah seperti beo memanggilnya dari depan kelas. Membuat beberapa siswa yang masih dikelas menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Tapi Via tidak menghiraukannya, karena dirinya sudah disetting sedari tadi untuk fokus berfoto lalu pulang:)
Kini Noel berjalan mengekori Via yang jalannya seperti sedang dikejar rentenir. Sebenarnya Noel tentu dapat mengimbangi, tetapi melihat Via yang berjalan cepat didepannya membuat rasa gemasnya justru makin meningkat.
"Ih itu ngapain jalannya dicepet-cepetin? Sinian kek, buru-buru banget, udah gak sabar ya?" ujar Noel sedikit meninggikan suaranya, membuat beberapa siswa disekitarnya memperhatikan mereka.
Via pun dengan sengaja membelokkan dirinya kedalam kamar mandi wanita, tapi bodohnya Noel hampir saja ikut masuk jika tidak diusir Via.
Via pun menempelkan jari telunjuknya ke kening Noel, "budayakan literasi ya mas," serunya yang di oh riakan Noel.
Jujur, sekarang ia makin gugup. Karena ini pertama kalinya sekolah akan memajang besar-besaran wajahnya di banner dengan laki-laki.
Ia sedikit menaruh bedak di wajahnya dan mengoles tipis-tipis lip tint, agar bibirnya tidak terlalu pucat. Untung saja dia selalu sedia sisir. Selesai berias ia pun menatap pantulan dirinya. Dan sentuhan terakhir yaitu beberapa kali semprotan parfume.
"Widih wanginya," seru Noel.
"Buruan gue mau pulang."
"Kan pulangnya bareng gue,"
"Gak usah mimpi, atau gue bikin lo mimpi selamanya."
"Makin serem, makin gemes ya ternyata."


Untung saja pemotretan tak berlangsung lama, dan juga tak banyak gaya yang mengharuskan mereka berdekatan, walau Noel selalu berusaha curi-curi kesempatan.
"Okey kak selesai," kata ketua osis itu setelah merasa pas dengan hasil foto yang terakhir.
"Makasih ya kak," timpal juru kamera.
Via pun membalasnya dengan senyuman, walau pikirannya sedari tadi hanyalah "PULANG"
Baru saja ingin meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Noel menarik tangannya.
"Tungguin, kan pulangnya bareng gue," ujarnya dengan suara bariton membuat Via seketika mematung. Entahlah, tapi ia merasa tiba-tiba ada yang aneh dalam dirinya.
"Via pulang sama gue," entah dari mana dan sedari kapan Varo ada disana, tapi kali ini ia benar-benar seperti superhero.
Varo pun melepaskan genggaman Noel dari tangan Via, dan gantian menyelipkan jemarinya di sela jari Via. Ia lalu menggenggam erat tangan mungil itu.
Seketika ketegangan menyeruak didepan pintu ruang pemotretan. Untung anak osis sedang sibuk memilah foto, jadi tak begitu memperhatikan mereka. Entah benar-benar sibuk atau tidak, tapi kali ini Via sangat memuji sikap osis sekolahnya.
"Dia dari tadi sama gue, jadi gue berhak nganter dia," ujar Noel hampir meninggikan suaranya.
"Tapi gue yang dikasih kepercayaan sama maminya untuk ngejaga Via, tentu gue lebih berhak kan? Permisi." Ujar Varo tegas.
Setelah itu, Varo langsung meninggalkan Noel yang masih mematung di depan pintu ruang pemotretan.
"Liat aja nanti.." batin Noel sembari memperhatikan kepergian targetnya itu.

Komentar Buku (70)

  • avatar
    Sela Solihawati

    seruuu

    06/08

      0
  • avatar
    FredrinnUmar

    bagus lahh

    06/12/2024

      0
  • avatar
    FitriaAnnisa

    bagus banget ceritanya

    29/11/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru