logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

04. Loh Tante..

Cahaya membelai lembut pipinya, tapi mata masih aja enggan menyapa. Kebisingan kota telah menjadi rutinitasnya.
"Aturan kakak izin aja tadi."
"Gue udah mendingan dek, gak usah bawel."
"Pas lah, kakaknya batu, adeknya bawel."
"Bawel lu."
"Lu juga."
Sedang Pak Anton hanya bisa tersenyum gemas. Padahal ini sudah makanan sehari-harinya, tetapi tetap saja ia tak bisa menahan gemasnya saat dua bersaudara ini sedang berdebat kecil.
Suasana sunyi dipagi hari membuatnya merasa tenang, tapi tiba-tiba Via mematung saat melihat sosok yang berdiri tak jauh didepannya dalam kegelapan. Imajinasinya pun mulai membuatnya berhalusinasi. Perlahan Via memundurkan langkahnya, tetaapi ternyata sosok itu sadar dan memanggilnya.
"Via?" Ujarnya.
Untuk sesaat Via seperti mengenali betul suara ini, tetapi disatu sisi ia juga takut ini hanya halusinasinya saja.
"Kenapa mundur vi?" Ujarnya lagi membuat Via mematung, badannya seketika seperti terkunci dan tak dapat digerakkan.
Sesaat ia menyempatkan untuk mengkutuk adiknya yang tak pernah menemaninya disaat-saat seperti ini.
"Siapa lo?!" Tanya Via memberanikan diri, tapi justru yang ditanya tak mengindahkan dan terus melangkahkan kakinya lurus kearah Via.
"Maju selangkah lagi, gue lempar sepatu." Ujar Via lagi berusaha mengancam sosok itu.
"Hahaha! Ini gue vi." Ujar Noel.
"Sini sepatunya coba lempar."
"Aish, malu banget shit," umpatnya pelan.
"Lo udah mendingan?" Tanya Noel yang kini sudah berdiri didepan Via.
Tapi Via justru menunduk dan mengigit bibirnya, lagi dan lagi dipagi hari ia harus menahan rasa malu dengan orang yang sama.
"Gue gak tau lo udah dikasih tau, atau belum sama varo."
Mendengar nama Varo disebut, Via pun langsung mendongak untuk menyimak dengan seksama.
"Kayaknya belum ya? Okey, simplenya kita bakal ada pemotretan."
"Buat?"
"Sabtu besok ada tanding antar sekolah gue dan lo, ini babak final setelah sekolah lo ngelawan beberapa sekolah."
"Oh gitu, okey makasih infonya." Ujar Via, ia pun langsung pergi menuju kelasnya.
"Lah kok pergi.."
"Lo sulit, gue makin tertantang," batin Noel sembari memperhatikan Via yang semakin jauh. Tanpa ia sadari, ia lagi-lagi menyunggingkan senyum itu.


Jam demi jam tak terasa telah berlalu, untuk sedetik yang lalu Via sempat lupa bahwa hari ini ia harus kerja kelompok dirumah Niel, dan itu berarti ia juga akan berkunjung kerumah Noel.
"Via! Buku kamu kenapa tidak ada ditumpukan ini?! Apa kamu tidak mengumpulkan? Apa kamu sudah tidak peduli dengan materi Ibu? Apa kamu sudah merasa paling jago?" Cerocos Bu Wati menggelegar membuat seisi kelas tak ada yang berani berkutik.
Bahkan sedari tadi Via hanya menunduk. Mungkin omongan Rey tadi pagi ada benarnya.
Satu menit... dua... tiga...
"Maaf Bu,"
"Wah.. wah.. wah, ada pengacaranya nih ceritanya? Hah? Iya Varo?!"
Varo pun berdiri dari bangkunya, membuat seisi kelas takjub akan keberaniannya, "Maaf bu sebelumnya jika menyelak, tetapi.. kemarin Via sakit bu, Saya saksinya, dan hari ini seharusnya Via tidak masuk, bahkan surat dokternya ada diatas meja itu." Ujarnya sembari menunjuk meja guru.
"Maaf jika Saya jadi terkesan menceramahi, tetapi menurut Saya, seharusnya Ibu memaklumi karena setidaknya Via memilih untuk masuk sekolah dan mendengarkan materi Ibu, Saya harap keberanian Saya dapat membuahkan hasil, mohon maaf sekali lagi atas kelancangan saya dan terimakasih." Varo pun membungkukkan badannya memberi hormat lalu kembali duduk.
Sedetik.. dua.. PROK! PROK! PROK!
Bukan dari para murid tentunya bunyi tepuk tangan itu, tetapi justru...
"Via, kamu seharusnya pacarin aja Varo, dia keren loh." Ujar Bu Wati tiba-tiba.
Tidak hanya Via, bahkan seisi kelas pun ikut heran. Tak biasanya Bu Wati seperti itu.


"Loh dek, kok belum pulang?" Heran Via saat melihat Rey yang tengah terduduk di kursi tunggu parkiran sekolahnya.
"Euhm... iya kak tadi Pak Anton bilang bannya bocor, ini dia lagi otw kesini kok."
"Oh gitu..." jawab Via ber oh ria sembari duduk disamping adiknya.
"Kakak... gak marah kan?" Tanya Rey tiba-tiba dengan suara pelan, karena sebenarnya ia ragu untuk mengangkat topik ini sekarang.
"Marah kenapa?"
"Waktu ultah Rey... abang Varo, kakak Nanda sama Eliya..." Tanya Rey lavi ragu-ragu, takut membuat kakaknya tersinggung.
"Hahaha, engga dek, gue malah bersyukur lo bahagia saat itu, euhm... kemarin gue tiba-tiba pms, jadi... ya sebenernya gue gak mau ngekambing hitamin pms sih but... ya you know what i mean?" jawab Via sembari mengacak-acak rambut adiknya, dan membuat tanda kutip dengan tangannya saat kata pms.
"Jangan gitu lagi ya kak, Rey takut tau liat kakak berubah jadi monster," jawab Rey sembari mengerjapkan matanya.
Via yang sudah siap ingin melayangkan satu tabokan indah untuk adiknya itu pun tiba-tiba ditahan oleh seseorang.
"Cantik-cantik gak boleh pake kekerasan" ujarnya.
Karena sudah sering di ganggu oleh orang itu, Via pun langsung dapat menebak siapa yang menahannya kali ini.
"Lepas," ujar Via penuh penekanan tanpa menoleh kebelakang.
"Pulang bareng gue," jawab Noel lembut.
"Gak," tolak Via mentah-mentah.
"Loh lo gak ikut kerja kelompok Vi?" Tanya Niel diikuti Nanda dibelakangnya.
"Lah emang jadi?" Tanya Via bingung.
"Sorry Vi, tadi gue mau ngasih tau kalo jadwalnya dirubah lagi, tapi guenya takut-takut, lu serem banget sih tadi seharian ngebisu," cicit Nanda takut-takut jika Via marah padanya.
"Lah sekalinya dirumah lo.." ujar Via sembari menunjuk wajah Niel, "Kenapa gue harus banget bareng Noel sih?" Tanya Via kekeuh tak ingin semotor bersama Noel
"Euhm sorry Vi, gue harus anter eliya dulu.." jawab Varo yang entah sedari kapan ada disana, di ekori oleh Eliya yang cengar-cengir kearah Via.
"Gue bareng nanda fiks," jawab Via lagi masih tetap pada pendiriannya.
"Sahabat lo sama gue via..." jelas Niel mulai jengkel karena keras kepalanya Via.
"Sejak kapan lo deket sama dia Nan?" Tanya Via penuh selidik ke sahabatnya itu.
"Udah ih... gemes deh gue, ayo Via sayang" ajak Noel sembari menggandeng tangan Via dan sedikit menariknya, untuk segera menuju motornya.
Seketika Nanda membulatkan matanya memastikan apa yang baru saja ia dengar tidak salah.
Via yang mendengarnya dan tau sahabatnya itu sedang memerhatikannya penuh tanya pun langsung memutar matanya malas
"Dek lo gimana?" Tanya Via memastikan bagaimana nasib adiknya.
"Pak Anton udah di depan gang sana kok kak, kakak duluan aja gih," jawab Rey yakin sambil menunjuk kearah gang depan sekolahnya yang memang sudah tak begitu jauh jaraknya.
HUFTTT
Via menghela nafas pasrah, dengan terpaksa ia harus semotor dengan Noel. Orang yang susah payah ia jauhi, dan sama sekali tak ingin berurusan dengannya ataupun kembarannya.
"Sini," ujar Via menyerobot mengambil helm yang ada di tangan Noel.
Seperti bisa membaca pikiran, Noel memang memiliki niatan untuk mengulang kejadian itu dengan suasana berbeda. Tapi sayangnya rencananya gagal.
"Buru-buru amat, gak sabar ketemu mama ya?" Goda Noel.
"Bacot" jawab Via sembari naik keatas motor.
Untung saja hari ini seragamnya mengharuskannya memakai almameter sekolah, jadi adegan tempo hari tak harus terulang. Namun nanda yang sedari tadi memperhatikan Via dan Noel itu jadi dibuat bingung, karena sahabatnya itu seperti sudah pernah...


Hening sepanjang jalan membuat Via merasa bosan, sesekali ia menarik jari tangannya hingga tak menimbulkan suara lagi.
Sesekali pula ia menulis-nulis huruf asal di punggung Noel, entah kesambet apa tapi Nanda yang sedari tadi memperhatikan Via pun jadi senyum-senyum sendiri.
"Kenapa Nan?" Tanya Niel yang melihat Nanda dari pantulan spionnya. Takut-takut yang ia bonceng ternyata bukanlah...
"Liat deh ke Via, dia emang kalo bosen tuh gitu, tapi ini first time gue liat dia kaya gitu sama cowok selain Varo, jadi ya... u know lah kenapa gue tadi."
"Menurut lo Via suka gak sama Noel" tanya Niel ragu-ragu.
Gue juga suka sama lo El" jawab Nanda asal.
Niel spontan membulatkan matanya, bahkan semburat merah muncul di pipinya. Untung saja keseimbangan motornya masih terkendali.
"Takol nih, gue nanya Via budek," jawab Niel sedikit meninggikan suara berusaha menyembunyikan gugupnya.
PLAKKK
Sedikit bodoh memang, kenapa juga Nanda memilih memberikan cap telapak tangannya di helm Niel yang keras bagai batu. Kini tangannya pun menjadi panas campur nyeri.
"B aja dong bang," ketus Nanda, "Kalo kata gue ya, untuk sekarang sih mungkin engga, tapi gak tau nanti," sambungnya.
"Apanya?" Tanya Niel yang kini gantian meledek.
"Auah," ujar Nanda malas.
"Hahaha gemes banget jadi pengen banting" goda Niel.
"Banting dimana? Kasur? Sabi nih om," ujar Nanda sembari mengedipkan matanya menggoda ke arah spion.
"Buset dah, lebih serem dari Via ini mah namanya."
"Ape lo bilang?! Gue geprek tuh helm."
"Et dah jangan atuh neng, gue lebih sayang nih helm dari pada nyawa gue."
"Ya udah coba lu terjun sekarang dah" tantang Nanda.
"Gue turunin juga nih lama-lama," gerutu Niel yang masih bisa didengar Nanda.
PLAKKK
Okey, ini kedua kalinya, menyesal memang tapi syaraf refleknya lah yang mengarahkan tangannya.
"Musnah lo!"
"Nanti kangen,"
"Iya."
Niel memilih untuk tak memperpanjang dan kembali fokus ke jalan. Ia akui Nanda berbeda dari jajaran perempuan yang mendekatinya. Dan ia akui pula, ia sudah sedikit menaruh hati, tapi di satu sisi ia juga ragu untuk menyatakan.
Bayangan akan ada masalah yang membuatnya pasti berjauhan dengan Nanda pun menghantui, hingga membuatnya mengurungkan niat dan berusaha mengubur perasaannya.


Setelah perjalanan yang bagi Via sangatlah panjang, akhirnya mereka memasuki area perkomplekan. Terlihat bentuk rumah yang sama rata, tidak mewah tapi terlihat nyaman dihuni.
"Dah turun Vi," titah Noel setelah memberhentikan motornya di carport rumahnya.
Via pun menurut dan segera turun dari motor, agak canggung sebenarnya apalagi ini pertama kalinya ia kerumah orang lain. Karena biasanya kerja kelompok itu pasti di adakan di rumahnya.
Baru saja Noel mencabut kunci motor, Via sudah menyodorkan helm membuat Noel sedikit tersentak kaget.
"Sini ikut gue," perintah Niel yang kini memimpin jalan.
Seperti bebek yang berbaris rapih, Via dan Nanda kompak mengekori Niel. Bahkan Noel hampir tak bisa menahan tawanya, melihat kedua gadis itu melangkah malu-malu memasuki rumahnya.
"Ma, aa' pulang," ujar Niel sedikit teriak agar mamanya yang pasti kini berada di ruang kerja mendengarnya.
"gak usah teriak-teriak juminten, copot nih kuping bapak." Ucap tuan Saputra yang ternyata sedang bersantai memakan buah diruang tamu.
Hangat, hal pertama yang Via rasakan saat memasuki rumah si kembar itu. Tidak seperti rumahnya, banyak yang mereview nyaman, tapi ia sendiri saja tak pernah nyaman berada dirumah.
"Lah bapak kapan pulang?" Tanya Noel heran kenapa papanya sudah dirumah. Padahal seingatnya, flightnya seharusnya masih esok siang.
"Salam dulu ke," cecer tuan Saputra sembari menyodorkan tangannya.
Noel dan Niel pun segera menghampiri lelaki itu dan bersalaman layaknya orang anak kepada orang tua.
"Onoh pacar lu pada bray?" Tanya tuan Saputra sembari melihat ke arah Via dan Nanda yang kini masih terpaku di depan pintu karena tak tau harus apa.
"Heh neng, kenape di depan pintu terus? Sini marih masuk neng," ajak Saputra.
"Belum untuk sekarang, gak tau nanti, kalo lu pilih yang mana pa?" Jawab Noel sedikit memelankan suaranya dan meminta pendapat pada Saputra.
"Senyaman lo, asal jan di rusak tuh anak orang," jawab tuan Saputra setengah berbisik juga.
"Ya elah pa.."
"Eh iya Nan, Vi ini bokap gue, emang lagaknya kek masih bujang," jelas Niel yang di sambut oh ria Nanda dan Via.
Spontan Via berjalan perlahan kearah lelaki itu dan juga bersalaman.
"Maaf om atas kurang sopannya Saya tadi, karena tidak tau ternyata om itu papanya Noel dan Niel" jelas Via.
"Maafin Saya juga ya om, tadi malah matung depan pintu," jelas Nanda yang kini terduduk disamping Via.
"Astaga gapapa kali say, duduk dulu ya, biar noh dua tuyul yang siap-siapin." Ujarnya sembari membawa mangkuk buahnya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Via dan Nanda pun sedikit menundukkan kepalanya. Tapi baru saja Noel ingin naik menuju kamarnya, tiba-tiba ia merasa ada yang menarik almameternya dari belakang
"Mak lu mana?" cicit Via pelan
Seketika Noel tersenyum meledek, "Mau minta restu ya?"
Via pun langsung tersenyum masam, berbeda dengan Nanda dan juga Niel yang justru terlihat sekali sedang menahan tawa.
"Gak gitu ish... gue cuman mau nyapa," jelas Via dengan mimik wajahnya yang tercetak jelas menahan kesal, tetapi Noel justru semakin gemas karenanya.
Baru saja Noel ingin menjahili Via, Niel sudah terlebih dahulu menyelak.
"Ikut gue sini," ajak Niel memimpin jalan menuju salah satu ruangan yang diekori langsung oleh Via dan Nanda.
Jujur saja, Nanda memang tidak mudah beradaptasi di lingkungan baru. Itu sebabnya sedari tadi ia hanya mengikuti Via.
TTOKKK.. TTOKKK.. TTOKKK..
"Masuk sayang," sahut seorang wanita dari dalam ruangan.
Begitu pintu terbuka,
"Loh via?" Panggil wanita itu saat melihat Via yang tengah berdiri didepan pintu.
Via yang dipanggil justru masih terpaku menganga, tak menyangka akan seseorang yang kini tengah terduduk dihadapannya.
"Lah tante Glo?" Panggil Via balik untuk meyakinkan.
"Loh Vi, lo kenal sama nyokap gue?" Tanya Noel dan Niel kompak, tak tertinggal juga wajah meminta penjelasan dari Nanda.
Tak mengindahkan pertanyaan, Via justru berlari kearah wanita yang kini merentangkan tangan untuknya.
Jelas sekali Via kenal siapa wanita ini. Karena Gloria lah yang menjaganya sebelum Varo beranjak. Bahkan bagi Via, Gloria seperti mami keduanya.
Tapi seingatnya pada saat itu, Gloria tidak sedang mengandung. Bagaimana bisa menjadi ibu dari anak kembar menjengkelkan ini?
"Tante.. Via kangen banget," ujar Via masih setia memeluk Gloria.
"Maaf ya sayang, tante ngilang gak ada kabar, karena tante harus bed rest di luar negeri."
Jelas Gloria saat mengenang masa dimana ia hampir saja kehilangan kandungannya dan mengharuskannya untuk bed rest.
"Loh tante sakit?" Tanya Via kini khawatir.
"Euhm... kapan-kapan aja ya tante jelasinnya, kamu siapa namanya cantik?" Tanya Gloria pada Nanda yang kini sedang berjalan perlahan kearahnya.
"Sa..sa..saya Nanda tante, saya sahabatnya Via," jelas Nanda gugup.
"Kalian mau kerja kelompok ya? Sebentar tante siapin cemilan dulu ya," ujar Gloria sembari bangkit dari kursi kerjanya.
Gloria menyempatkan untuk mengacak rambut Via gemas sebelum beranjak. Tapi baru saja ingin berjalan keluar ruangan, Via tiba-tiba memanggilnya.
"Tante utang cerita sama via huh," ujar Via sembari melipat tangannya didepan dada dan mengerucutkan bibirnya.
Noel yang sedari tadi berada disana pun hampir tak bisa menahan gemasnya, bahkan dirinya hampir saja terhantuk dinding. Ia merasa ada yang aneh pada dirinya, tetapi ia tak mengerti rasa apakah itu.
"Hahaha, astaga, kamu gak berubah ya ternyata, masih tetep gemesin dari dulu," ujar Gloria sembari mengusak rambut Via lembut.
"Nanti pasti tante ceritain kok, sekarang kalian ke depan dulu gih."
Gloria yang sadar anak laki-lakinya sedang mengintip pun justru ia panggil, membuat Noel tersentak kaget dan keningnya mencium tembok.
"Noel? Kamu ngapain disana? Kok gak ke kamar? Siap-siapin apa yang perlu disiapin gitu loh, kok malah disana."
DDUKKK
Via merasa puas sekali melihat Noel yang kini meringis kesakitan, bahkan ia bermonolog "sukurin," kearah Noel, membuat Noel tersenyum masam.


"El colokin nih" titah Noel sembari memberikan kepala charger laptopnya.
Bukannya membantu, Via dan Nanda justru sibuk memakan cemilan yang disiapkan Gloria. Mulai dari cookies, waffer, kacang-kacangan, sampai kue khas lebaran tersedia. Lengkap dengan beberapa minuman soda kaleng, sirup dan juga air bening:)
Keahlian membuat kue Gloria memang tidak usah diragukan lagi, bahkan dulu setiap maminya mengadakan event, pasti Gloria lah koki nomor utamanya.
Tapi jangan salah, Via juga sempat berbasa-basi ingin membantu menyiap-nyiapkan. Tetapi dilarang oleh Niel.
"Gak, udah cewek-cewek duduk aja sonoh, makan biar gemukan tuh badan."
Baru saja laptop menyala, tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang Via yakin pasti berasal dari Varo. Karena Varo memiliki ciri khas dalam mengetuk pintu. Ia akan membuat nada-nada tertentu sebanyak tiga kali.
TTUKK.. TURUTUKK.. TTUKK.. TTUKK..
"Munten..." ujar Varo sembari memasuki rumah.
"Nah kan bener tebakan gue," jawab Via saat suasana hening, membuat suaranya menggema sendiri.
"Apal banget ya," ejek Noel campur sensi.
"Baunya kecium," jawab Via asal.
"Gue bela-belain mandi loh vi_-" jawab Varo.
Setelah Varo menyapa Gloria yang kebetulan sedang melihat-lihat mereka, ia pun segera masuk formasi duduk yang lainnya.
Jangan tanyakan bagaimana Nanda sekarang, jelas sedari tadi ia menjadi pengamat interaksi Via, Noel ditambah juga Varo. Memang Nanda itu lambe turah, apapun gosipnya pasti ia tau seluk beluknya. Jika tak ada gosipnya? Ia ahlinya membuat :)
"Dah ayo buru kerjain," seru Nanda mengingat malam ini ada episode terbaru dari drakor favoritnya.
Hening, diam, dan fokus membuat tugas ini cepat selesai. Bahkan Via sempat-sempatnya mengerjakan tugas MTK dan Bahasa Indonesia. Padahal ia mengambil bagian yang paling panjang dan sulit.
Niel yang bagiannya tidak sebanding saja, bahkan dibantu Noel.
"Dah selesai," ujarnya sembari menutup buku tugasnya.
Baru saja ingin memasukkan buku itu kedalam tas, tiba-tiba Nanda terbatuk-batuk membuat Via menengok kearahnya.
"Nanda kenapa?" Tanya Via khawatir. Tetapi Nanda justru menggelengkan kepalanya, dan terus terbatuk.
"Via ambilin minum ya?" Tanya Via lagi, tetapi lagi-lagi Nanda menggeleng.
"Terus Nanda maunya apa?" Tanya Via bingung, dan kali ini Nanda menunjuk kearah buku tugas yang sedang Via pegang.
"Hahaha, yaudah nih," ujar Via sembari menyodorkan buku tugasnya.
Seketika buku Via menjadi artis dadakan, jepret demi jepretan dari Nanda bahkan Niel dan Varo pun ikut-ikutan memotret isi buku tugas Via.
"Udah pinter, cantik, baik, ramah, mudah berbaur lagi, pantes aja nih cewek dijadiin duta sekolah," batin Noel sembari curi-curi pandang kearah Via.
Noel? Hahaha, dia gengsi untuk ikut memotret isi buku Via. Lagipun ada Niel yang sudah memotretnya:)
Via memang tidak sadar sedari tadi Noel curi-curi pandang terhadapnya, tetapi Varo sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan mengintimidasi.
"Dah selesai kan fotonya?" Tanya Via lembut ke Niel, karena ia mendapat giliran yang terakhir untuk memotret jawaban Via.
"Dah kok, makasih Vi," jawab Niel ramah.
Mereka pun kembali mengerjakan tugas kelompok itu yang sedikit lagi selesai. Hingga akhirnya tugas itu selesai tepat pukul 17.28
"Ekhem, udah mau jam 6 nih, lo mau pulang bareng siapa Vi?" Tanya Varo memecah keheningan.
"Sama lo aja boleh kan? Soalnya Pak Anton gue chat dari tadi masih ceklis satu," jawab Via.
"Sama gue aja Vi, Varo biar anter Nanda," tawar Noel.

Komentar Buku (70)

  • avatar
    Sela Solihawati

    seruuu

    06/08

      0
  • avatar
    FredrinnUmar

    bagus lahh

    06/12/2024

      0
  • avatar
    FitriaAnnisa

    bagus banget ceritanya

    29/11/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru