logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 12 Membakar Mulut Mereka

Edlyn berteriak keras, sepertinya dia ingin mengeluarkan penat jiwa yang sudah lama terendap. Lirih isakannya berubah raungan yang mencabik telinga. Dia memelukku kuat.
Setiap orang yang melintas, melihat kami dengan kerut yang dalam seolah berkata, mereka berdua gila. Duduk di pelataran parkiran mobil, berpelukan dan yang satunya histeris.
Gila. Mungkin kadar gila sudah tinggi, sehingga menangis dan berteriak adalah pilihan terbaik. Setelah reda gejolak hati, Edlyn mulai tenang.
Kedua tanganku menangkup pipi Edlyn yang basah. "Lyn, kita pulang. Apa kamu kuat berdiri? Kalau tidak kuat, aku bisa menggendongmu."
Edlyn tertawa kecil. "Apa Bu Hasna kuat?"
"Jujur, aku tidak kuat menggendongmu. Ayo." Aku membimbing Edlyn berdiri, kami berdua masuk ke dalam mobil.
"Sudah dulu, aku harus kerja lagi ...." Roni buru-buru mematikan sambungan telepon.
Siapa yang ditelepon Roni? Garnetakah? Wajahnya sedikit tegang. Apalagi ketika ponselnya berdering kembali. Aku sedikit mencondongkan badan ke depan, pura-pura mengambil tisu. Di layar ponsel tertera nama 'G cintaku'. Sudah jelas G adalah Garneta.
"Diangkat dulu, Ron. Siapa tahu penting," ucapku sembari mengulurkan tisu pada Edlyn yang masih sesenggukan.
"Tidak penting." Roni mematikan ponsel. Dia menyalakan mesin mobil dan mulai bergerak, melindas jalan raya.
Tatapan Edlyn hampa, wajah cerianya seketika pudar. Dia hanya diam. Sesekali masih mengusap matanya yang terus basah.
Aku menepuk-nepuk punggung Edlyn. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Tangan Edlyn mengambil dompet dari dalam sling bag-nya. Dia mengeluarkan foto yang sudak lecek dan disambung pada bagian tengah menggunakan selotip, saking lamanya disimpan.
"Tolong bakar foto ini, Bu Hasna," pintanya, lirih.
Foto Soraya menggendong Edlyn yang masih bayi merah, di sampingnya Pak Aksara yang tersenyum bahagia. Kontras dengan wajah Soraya yang tidak memendarkan rasa bahagia sedikit pun.
"Aku mengambilnya dari tempat sampah, ketika aku berusia lima tahun, waktu itu Papa membuang semua barang Mama." Edlyn menghela nafas panjang. "Foto itu sangat berharga bagiku, karena kami bertiga masih menjadi satu keluarga. Bahkan, aku berharap jika suatu hari nanti, Papa dan Mama bisa bersatu kembali," lanjut Edlyn.
"Kamu yakin ingin membuang foto ini, Lyn?"
"Iya. Foto itu sudah tidak berguna, biasanya bisa meredam rindu. Namun, mulai sekarang tidak ada lagi rindu untuk Mama. Dia sudah lenyap," ucap Edlyn, menahan tangis. "Yang ada hanya kebencian."
Aku mengamati foto itu kembali, di dunia ini banyak sekali keluarga yang hancur--dengan permasalahan yang berbeda.
Tiba di rumah, Edlyn langsung menuju kamar. Bantingan pintu kamar menunjukkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Sehingga Pak Aksara yang berada di dalam ruang kerja keluar.
"Ada apa dengan Edlyn?" tanya Pak Aksara.
"Apa yang diharapkan Edlyn tidak sesuai harapan," sahutku, kemudian menceritakan perihal ucapan Soraya pada Edlyn.
"Perempuan itu tidak pernah berubah," ujar Pak Aksara jengkel. "Aku akan ...."
Spontan aku meraih lengan Pak Aksara yang hendak menuju kamar Edlyn, lantas berkata, "Biarkan Edlyn sendiri dulu, Pak. Hanya itu yang ia butuhkan."
"Kamu benar, Hasna. Ngomong-ngomong tanganmu terlalu kuat mencengkeram lenganku."
"Oh, maaf, Pak." Aku segera mengurai jemariku dari lengang Pak Aksara, lalu berjalan menuju kamarku sendiri.
Hari Sabtu yang pilu bagi Edlyn. Semoga hari esok ada penawar untuk hatinya sakit.
***
Edlyn sudah mulai masuk sekolah setelah menerima skorsing selama satu minggu. Ada kekhawatiran dia akan bertengkar dengan Amanda. Tapi, dia pernah berjanji pada Papanya tidak akan membuat masalah.
Aku harap baik Amanda maupun Edlyn tidak membuat keributan.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Garneta, riang. "Eh, tunggu Hasna, mau ke mana?"
"Saya mau ke dapur ...." sahutku.
"Aku ingin kamu tetap berdiri di situ karena aku akan menyampaikan kabar baik." Garneta mendekati Pak Aksara yang sedang menikmati roti gandum. "Sayang, aku hamil. Edlyn, kamu akan punya adik."
"Sudah periksa ke dokter?" tanya Pak Aksara.
"Belum. Tapi ...."
"Kalau belum jangan yakin dulu," sela Pak Aksara.
"Tapi, aku sudah telat empat hari, terus sudah testpack, hasilnya positif," jelas Garneta.
"Pergi ke dokter, setelah itu beritahu aku hasilnya. Aku harus berangkat ke kantor," ucap Pak Aksara, beranjak dari kursinya. Tidak mempedulikan Garneta yang ingin menunjukkan testpack. Lelaki yang mengenakan kemeja warna biru langit itu, melangkah--meninggalkan ruang makan.
"Benar itu anak Papa?" Giliran Edlyn yang bertanya.
"Ya, anak Papamu! Memang anak siapa lagi!?" Garneta jengkel.
"Hanya saja, aku tidak yakin itu anak Papa." Setelah menghabiskan susunya, Edlyn berdiri. "Aku berangkat sekolah dulu. Bye, Madam Garneta."
"Hasna, kenapa masih berdiri di situ!?"
"Tadi saya disuruh mendengarkan kabar baik."
Persis seperti anak kecil, sebelum melangkah, Garneta menghentakkan satu kakinya ke lantai. Bibirnya mecucu.
Aku menahan tawa. Kabar baik yang tidak berhasil dengan baik.
Akhir-akhir ini sikap Pak Aksara pada Garneta berubah. Dia tidak seperti dulu, yang terlihat mesra terhadap istri sirinya.
"Hasna, jangan bengong saja, masih banyak kerjaan," tegur Lenni.
"Cuma bengong sebentar, kok."
"Bersihkan ruangan keluarga," perintah Lenni.
"Siap. Ada lagi?"
"Bersihkan hati Pak Aksara, biar bisa jatuh cinta padamu," goda Lenni, tergelak.
"Tidak lucu," sahutku.
"Tapi wajahmu bersemu merah jambu. Ada hati yang mulai kesetrum, nih ...." Lenni menarik turunkan kedua alisnya.
"Tidak lucu!"
***
Sore.
Sudah selesai semua pekerjaan. Aku duduk di tepi ranjang, memandangi foto Amanda. Sedang apa dia sekarang? Bagaimana kabarnya hari ini? Sepulang sekolah dia selalu bercerita tentang teman-temannya, guru yang galak atau kakak kelas yang ganteng. Aku rindu masa itu.
Netraku melihat balsem milik Roni yang belum aku kembalikan. Aku meraih balsem, melangkahkan kedua kaki menuju kamar Roni.
"Kita bertemu di hotel Diamond? Kamar 32? Kita bisa membicarakan ini di rumah ... ya, aku tahu tidak aman, karena di rumah banyak mata. Oke, oke aku segera menemuimu."
Aku yang berdiri di depan pintu kamar Roni, berlari cepat--bersembunyi di dekat jam besar. Roni pasti menemui Garneta. Aku akan ke hotel Diamond, untuk mendapatkan bukti.
'Tunggu Hasna, kenapa kau peduli dengan masalah mereka?' bisik hatiku.
Aku tidak peduli, aku hanya tidak bisa melihat ketidakadilan terjadi di depan mataku. Siapa yang peduli?
Aku pun pergi ke hotel dengan naik ojek online. Aku bertanya pada resepsionis hotel, di lantai berapa kamar 32. Alasanku ingin menemui teman lama.
"Terima kasih," ucapku, setelah mendapat informasi. Lantai dua.
Setelah keluar dari lift, aku merunuti nomor kamar. Salah. Aku berbalik, menuju arah berlawanan.
Dan, sekarang aku berdiri di depan kamar 32. Aku menempelkan daun telingaku di pintu. Tentu aku tidak bisa mendengar apa-apa. Apakah aku harus menekan bel pintu?
Satu tepukan di bahu membuatku melonjak kaget.
"Hasna, sedang apa kamu di sini?"
"Pak ... Pak Aksara? Aku ... kamar ini ...." Aku gagap harus menjawab. "Di dalam ada ...."
Haruskah aku memberitahu Pak Aksara, kalau di dalam kamar 32 ada Garneta dan Roni?
"Ada Garneta dan Roni, aku tahu itu," ujar Pak Aksara.
Aku menutup mulutku dengan satu telapak tangan.
"Jangan ganggu mereka. Ayo, pergi dari sini."
"Ta ... tapi kenapa Pak Aksara tidak menggerebek mereka?" tanyaku bingung.
"Kamu berisik. Nanti mereka mendengar kita." Pak Aksara menarik lenganku. Dengan tersuruk-suruk aku mengikutinya.
"Pak Aksara, kenapa tidak ...?"
"Aku sudah mengumpulkan bukti, biarkan mereka bersenang-senang dulu," potong Pak Aksara, jari telunjuknya menekan tombol lift turun.
"Jadi Pak Aksara sudah tahu?" Rasa penasaranku meningkat. "Sejak kapan?"
"Sejak kamu molor di dapur, dengan air liur yang menetes."
Ck, yang dia ingat air liurku.
"Tapi sebelumya aku sudah curiga, karena ada tagihan di kartu kredit Garneta, dua kali menyewa kamar hotel. Bodohnya dia ...." lanjut Pak Aksara. "Di rumah aku juga memasang CCTV yang tidak diketahui kalian."
"Oh, begitu." Aku masuk ke pintu lift yang sudah terbuka. "Ngomong-ngomong, Pak Aksara ...."
"Apalagi, Hasna? Kamu kayak wartawan saja," sela Pak Aksara.
"Bisa lepaskan tangan saya." Aku meringis. "Saya tidak akan lari, kok."
"Oh, maaf." Pak Aksara langsung melepaskan tangannya. "Kamu ke sini naik apa?"
"Ojek online."
Pak Aksara mengajakku ikut sekalian numpang di mobilnya, karena dia juga akan pulang. Tumben pulang cepat, biasanya seperti kelelawar.
"Hasna, tolong jangan ceritakan pada siapa pun. Sampai aku membongkarnya dan memberi pelajaran pada mereka. Paham?"
"Paham, Pak." Aku membuka pintu mobil bagian depan. Tersenyum pada Pak Wirjo yang kaget melihatku.
"Kamu juga kelayapan di hotel, Hasna?" tanya Pak Wirjo.
"Ya, begitulah Pak ...." Aku nyengir.
Dari kaca spion mobil, aku melihat Pak Aksara yang tercenung. Perempuan yang hadir di dalam hidup lelaki itu hanya mempermainkan perasaannya. Dia akan bertambah benci pada kaum perempuan.
***
"Hasna!" panggil Lenni.
Aku membiarkan teriakan Lenni, pukul delapan malam mataku sudah mengantuk berat.
"Hasna, di televisi ada fotomu. Seorang model terkenal menuduhmu pelakor."
"Apa!?"
"Ayo, buruan!"
Aku berlari keluar kamar mengikuti Lenni, menuju dapur kotor. Benar kata Lenni, ada Soraya di temani Bu Rosie sedang di wawancarai puluhan wartawan infotainment.
'Isu yang berkembang kalau aku akan diceraikan suamiku, itu benar. Suamiku ingin kembali dengan mantan istrinya.'
Soraya terisak.
'Hasna telah merusak rumah tanggaku dengan Mandala.'
"Apa-apaan dia ...." desisku, muntab.
'Kasihan menantu saya,' lanjut Bu Rosie, 'Hasna juga merusak hubungan keponakan saya, Garneta, yang telah menikah dengan pengusaha bernama Aksara Winata.'
Lho, kenapa Pak Aksara dibawa-bawa? Bu Rosie ingin merencanakan sesuatu.
'Hasna perempuan murahan yang ingin menggaet lelaki kaya,' tuduh Bu Rosie.
Astaga. Benar-benar ... mereka berdua sakit jiwa.
"Aku mau keluar dulu," pamitku pada Lenni.
"Mau ke mana, Hasna?"
"Membakar mulut mereka!"

Komentar Buku (445)

  • avatar
    MaryanaNini

    bagus banget novel nya

    15/04

      0
  • avatar
    HanifAchmad

    CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK

    15/12

      0
  • avatar
    SyahArdian

    bagus banget

    21/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru