Aku memberikan catatan tambahan pada Lenni, ada beberapa barang yang dibeli Edlyn. Lenni memakai kacamata, fokus pada printilan angka. Lalu dia mulai sibuk dengan kalkulator. "Ada dua es krim. Siapa yang makan?" Mata Lenni menatapku tajam, kacamatanya melorot sampai hidung. "Aku," sahut Edlyn, yang juga sibuk dengan adonan tepung. "Satu aku berikan pada Bu Hasna, kalau makan dua es krim takut pipiku melar. Aku merogoh ke dalam kantong celana kulot panjang yang kupakai, mengangsurkan selembar uang sepuluh ribu ke Lenni. "Ini aku ganti uangnya." "Eh, tidak perlu Bu Hasna," sergah Edlyn. "Papa tidak bakalan marah kok." "Ini adalah bentuk kejujuran kami, Non Edlyn," ujar Lenni. "Lyn, minyaknya sudah panas ...." Aku mengingatkan. Buru-buru Edlyn mematikan kompor, dia nyengir lalu berkata, "Corndog-nya belum siap digoreng." Aku sibuk menaruh dan merapikan makanan kering di lemari kabinet dapur bagian atas. Makanan yang lama yang tersisa aku cek kembali tanggal kedaluwarsa. "Hasna!" teriak Garneta, mukanya yang mulus bak porselen tampak emosi. Persis emoticon yang hidungnya mengeluarkan asap. Dia berjalan mendekatiku. "Kamu aku pecat! Pergi dari sini sekarang juga!" "Lho, kenapa Nyonya?" Lenni bertanya. "Hasna diam-diam ingin merebut Aksara dariku. Berkaca, dong ... tampang kamu itu udik. Mana mungkin lelaki sekelas Aksara melirikmu. Cih!" cerocos Garneta. "Apa ada buktinya Nyonya kalau saya ingin merebut Pak Aksara?" Aku berhenti memasukkan makanan kering. "Edlyn bilang ke Bude Rosie kamu mau menikah dengan Aksara. Mau menendangku dari rumah ini," jawab Garneta. Kalau di film kartun, kepalanya pasti mengeluarkan api. "Bukan Bu Hasna yang mau menendangmu Madam Garneta, tapi aku. Cih, tampang cantik tapi otaknya kayak air kobokan, tidak pantas bersanding dengan papaku, bersiaplah angkat kaki dari rumah ini." Edlyn menuding-nuding dengan Sutil yang dipegangnya. "Lyn!" geram Garneta. "Aku akan mengadukan hal ini pada Papamu. Hasna, kenapa masih diam di situ!? Cepat pergi!" "Maaf, Nyonya, yang berhak memecat adalah Nona Edlyn, karena dia yang menerima saya waktu itu." Kusunggingkan satu senyum paling menawan. "Itu betul Madam, aku yang berhak memecat Bu Hasna. Oh, ya, cepat keluar dari dapur nanti tubuhmu yang wangi bau bawang dan minyak goreng," ucap Edlyn. "Tunggu saja sampai Papamu pulang!" Garneta berjalan keluar dari dapur. "Hasna, apa benar kamu akan menikah dengan Pak Aksara?" Lenni penasaran. "Itu hanya candaan Edlyn." Aku menyanggah. "Kalau benar, aku malah senang," tukas Lenni. Aku tidak menyahut. Jatuh cinta? Menikah? Memercayai lelaki? Hal terakhir dalam daftar harapan hidup. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bersiap-siap mencari pekerjaan baru, jika nanti aku dipecat. *** Aku melihat jam di layar ponsel. Hampir pukul dua belas malam. Rongga mulut terasa kering. Aku lupa tidak mengisi gelas di atas nakas dengan air putih. Dengan malas aku turun dari tempat tidur, melangkah keluar kamar. Gelap sekali rumah ini. Deg. Ada sosok melintasi ruang keluarga. Jangan-jangan hantu. Aku ingin lari balik ke kamar, tetapi sosok itu berjalan mengendap-endap, kalau hantu melayang-layang tidak menginjak lantai. Sosok itu menuju kamar belakang khusus pekerja laki-laki. Aku mengikuti perlahan. Kalau pencuri, harusnya menuju lantai dua. Langkahnya berhenti tepat di depan kamar Roni. Begitu pintu terbuka--sinar lampu kamar yang membias keluar--memperjelas siapa sosok itu. Garneta. Apa yang dia lakukan di kamar Roni tengah malam begini? Ah, tidak mungkin. Garneta punya hubungan gelap dengan Roni? Sopirnya sendiri? Ya, Tuhan .... Roni masih muda, umurnya sekitar 25 tahun. Lumayanlah tampangnya. Tapi, tetap lebih ganteng Pak Aksara. Kuputuskan ke kamar Roni. Menempelkan telinga di pintu. Aku mendengar suara tertawa pelan. "Bagaimana kalau Pak Aksara tahu, Nyonya?" "Dia belum pulang, sedang bertemu klien dari Hong Kong ... ahhh ... sini peluk aku ...." Selanjutnya tidak terdengar apa pun. Aku mengetuk pintu. "Ron!" Jika Roni membuka pintu, alasan apa yang tepat kuutarakan? "Roni!" Aku mengetuk pintu lagi, rasanya ingin kudobrak. "Bu Hasna ...." Rambut Roni acak-acakan, dia memakai kaus terbalik. Wajahnya panik. "Ng." Aku menggaruk kepalaku. "Punya balsem? Kakiku pegal sekali." "Sebentar, tung ...." Aku berjalan masuk ke kamar Roni, mengamati tiap sudut kamar. Roni buru-buru mengambil balsem dari laci lemari. "Ini balsemnya." "Kenapa jendelanya terbuka, Ron?" tanyaku sambil melongok keluar jendela. "Oh, itu ... tadi ... aku merokok." Dengan gagap Roni menjawab. Aku menerima uluran balsem dari tangan Roni. Mataku melihat pakaian dalam wanita, yang terselip di bawah bantal. Roni sepertinya tahu apa yang kulihat, dia segera bergerak ke arah tempat tidur, tapi dengan cepat aku menjegal kakinya. Dia terjatuh dengan wajah mencium lantai. "Kamu pakai kutang, Ron?" Aku mengambil pakaian dalam wanita berwarna merah. "Duh, jangan-jangan kamu lelaki yang suka belok kiri belok kanan, ya?" Roni yang sudah berdiri, menyambar cepat pakaian dalam dari tanganku. "Itu bukan urusanmu, Bu Hasna." "Oh, baiklah. Aku kembalikan besok balsemnya," sahutku, keluar kamar Roni. Di mana Garneta? Apa dia berada di luar atau masih di kamar Roni? Aku menyalakan lampu dapur, menuangkan air putih ke dalam gelas. Lebih baik aku di sini--duduk di meja makan, jika Garneta kembali ke kamar, aku bisa melihatnya. Detik jarum jam berputar, Garneta tidak tampak juga. Akan kutunggu sebentar lagi, karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Mengantuk berat. "Hasna." Seseorang memanggil namaku. "Hasna." Sekarang ada yang menepuk bahuku. "Hasna, kenapa tidur di dapur?!" Suara itu aku kenal, sangat kukenal. Suara Pak bos. Spontan aku terbangun, mengerjapkan mata. Aku ketiduran padahal sedang mengintai hewan buruan. Ada air liur di pipi, segera kuusap dengan ujung lengan kaus. "Saya juga tidak tahu kenapa bisa ketiduran di meja makan," jawabku. "Pak Aksara baru pulang?" Pertanyaan konyol. "Iya. Kembali ke kamarmu, dini hari masih nongkrong di dapur." "Hehe, iya Pak." Aku memandangi lelaki itu sampai menghilang dari pandangan. Kasihan dia, Garneta mengkhianatinya. Sayang sekali aku belum punya bukti. Bodohnya aku membiarkan lampu dapur menyala. Benar-benar detektif amatiran, tentu saja Garneta menyadari keberadaanku. *** Pagi. Saat sarapan, Garneta tampak sedikit gugup. Dia tidak seheboh seperti biasanya. Lalu rencana ingin memecatku apa sudah hilang? "Bu Hasna ...." Edlyn menyusulku yang sedang menjemur pakaian. "Mama tadi menelepon, dia ingin bertemu denganku." Rona kebahagiaan tercipta di wajah manisnya. "Kamu ingin menemuinya?" Edlyn mengangguk. "Izin dulu sama Papamu, Lyn," saranku. "Papa pasti tidak mengizinkan," sahut Edlyn. "Tapi, akan kucoba dulu, kalau tidak diizinkan aku akan tetap menemui Mama. Ini pertama kali Mama yang menelepon lebih dulu." Edlyn berlari masuk ke dalam, namun hanya selang sebentar dia sudah kembali dengan wajah yang mendung. Air mata hampir menitik di pipinya. "Papa tidak mengizinkan aku bertemu Mama, Papa bilang dia tidak akan menganggapku sebagai anak jika aku nekat bertemu Mama." "Papamu sekarang di mana?" tanyaku. "Di ruang gym." "Aku akan bicara dengan Papamu." Kulangkahkan kaki lebar-lebar ke ruang gym. Pak Aksara sedang berlari di atas treadmill. "Pak Aksara, bisa bicara sebentar?" "Apa Edlyn mengadu padamu?" "Tolong izinkan Edlyn bertemu Mamanya," kataku. Pak Aksara berhenti berlari, turun dari treadmill. Dia mengusap peluh di wajah lalu di leher. "Kamu hanya pekerja di rumah ini, tolong jangan ikut campur urusanku." "Saya tahu, tetapi Edlyn sangat ingin bertemu dengan Soraya. Bagaimanapun mereka ibu dan anak. Hak Edlyn bisa bertemu dengan Soraya," paparku. "Yang terjadi di antara kalian berdua seharusnya tidak membuat Pak Aksara egois" "Egois?" "Iya, itu sering terjadi pada pasangan yang bercerai. Salah satu pihak merasa paling baik dalam mengasuh anak." "Aku tidak egois, Hasna," ucap Pak Aksara. "Pak Aksara egois dan kejam," tandasku. "Pecat saja Hasna." Sang Madam terhormat muncul begitu saja, menggelendot manja di lengan Pak Aksara. "Suka ikut campur urusan majikan," lanjut Garneta. "Setidaknya saya tidak pernah mengkhianati suami sendiri, Nyo-nya," ujarku. "Apa kamu menuduhku selingkuh!?" pekik Garneta. "Pecat dia, Aksara!" "Baiklah, aku izinkan Edlyn menemui Soraya," putus Pak Aksara tidak menghiraukan teriakan Garneta. "Terima kasih, Pak. Terima kasih ...." ucapku. "Hasna, tolong temani Edlyn." "Baik, Pak." *** "Apa aku terlihat cantik, Bu Hasna?" tanya Edlyn. "Sangat cantik," jawabku. Kami datang lebih awal karena Edlyn sangat antusias. Soraya mengajak bertemu Edlyn di sebuah restoran. "Ah, itu Mama sudah datang!" seru Edlyn, membuat beberapa pengunjung restoran melihat ke arahnya. Soraya tampak memesona memakai atasan putih dengan bordiran bunga di bagian bahu hingga lengan, yang di padankan dengan midi-skirt nuansa biru tua. Rambutnya dibiarkan tergerai. Kacamata hitam melengkapi penampilannya. Edlyn langsung berdiri, memeluk Soraya dengan erat. Namun, gestur Soraya tidak hangat menanggapi pelukan Edlyn. "Kamu ikut, Hasna?" Soraya melepas kacamatanya. "Iya. Aku akan menunggu di luar biar kalian leluasa mengobrol," ujarku. "Kamu boleh tetap di sini, Hasna. Aku hanya sebentar saja," sahut Soraya sembari duduk di kursi. Hanya sebentar? Apa dia tidak kangen dengan putrinya? "Edlyn, apa kabarmu? Maaf baru ada waktu untuk menemuimu," ucap Soraya, lembut. "Tidak apa-apa, Ma ... Aku ngerti Mama sibuk." Soraya membuat alasan sedangkan Edlyn memaklumi. "Apa benar kamu mengatakan pada Oma Rosie, Mama adalah mamamu?" "Karena memang benar Mama adalah mamaku ...." bela Edlyn. Soraya menghela nafas. "Edlyn, perkawinan Mama sekarang bermasalah karena itu. Seharusnya kamu tidak mengatakan hubungan kita yang sebenarnya pada Oma Rosie." Aku menahan diri untuk tidak ikut bicara. Jadi, itu alasan Soraya ingin bertemu Edlyn. "Maksud Mama apa?" "Mama berniat akan memberitahu pada suami Mama, bahwa Mama punya anak dari pernikahan sebelumnya, tapi kamu sudah mendahului karena emosi pada Amanda. Semalam Mama bertengkar hebat dengan suami Mama ... Mama dituduh berbohong." "Tapi, aku ... tidak bermaksud demikian," kata Edlyn, kecewa. "Edlyn, Mama kecewa denganmu." "Soraya!" bentakku. Edlyn berlari keluar restoran. Dia pasti sakit hati dengan ucapan Soraya. "Kamu tega dengan anak sendiri. Yang menghancurkan pernikahanmu bukan Edlyn, tapi kamu sendiri yang telah berbohong," cecarku. "Jangan-jangan kamu yang menyuruh Edlyn, supaya bisa kembali bersama dengan Mandala," tuduh Soraya, picik. Aku menyiram wajah Soraya dengan segelas air. "Hatimu ternyata menyerupai iblis. Akui saja masa lalumu pada Mandala, pada wartawan, pada dunia. Lelaki miskin yang kautinggalkan, sekarang telah berubah menjadi lelaki tajir, kamu tidak perlu malu mengakuinya." "Seandainya Aksara dari dulu kaya, aku pasti masih menjadi istrinya." Soraya mengusap wajahnya yang basah dengan tisu. Aku tidak menanggapi Soraya, berjalan cepat keluar restoran, mencari Edlyn. Dia aku temukan tengah berjongkok di dekat mobil. Menangis. "Lyn ...." Aku merengkuhnya. "Aku benci Mama," ungkap Edlyn. "Aku pikir kami akan makan siang bersama, bercanda dan saling bercerita. Ternyata Mama malah menyalahkan aku." Kata benci itu bukan kali pertama keluar dari mulut Edlyn. "Aku tidak akan berharap lagi pada Mama." Isakan Edlyn semakin menjadi. Jika tahu kejadiannya akan seperti ini, aku tidak akan membujuk Pak Aksara memberi izin Edlyn bertemu Soraya. Aku juga menuduh Pak Aksara kejam, ternyata yang kejam Soraya. Hanya sakit dan sakit yang diterima Edlyn. Dia terus menerus kecewa, tetapi masih saja menyimpan harapan. Sama sepertiku yang tetap berharap suatu hari nanti, Amanda akan memelukku. Kami berdua bertahan di antara luka, kecewa, benci, cinta, harapan dan rindu. Entah sampai kapan.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 0 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (445)
MaryanaNini
bagus banget novel nya
15/04
0
HanifAchmad
CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
bagus banget novel nya
15/04
0CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
15/12
0bagus banget
21/11
0Lihat Semua