"Edlyn, bisa jelaskan kenapa kamu berkelahi dengan temanmu?" tanya Pak Aksara sembari membuka pintu mobil. "Karena dia merebut kasih sayang mamaku!" teriak Edlyn. Dahiku berkerut. Mama? Sorayakah Mamanya Edlyn? Soraya mantan istri Pak Aksara? "Bukan temanmu yang merebut kasih sayang Mamamu! Tapi Mamamu yang tidak mau memberikan kasih sayangnya padamu, Lyn!" Pak Aksara mengusap wajahnya dengan kasar. "Masuk ke mobil," perintahnya kemudian. "Aku tidak mau, aku pulang naik motor dengan Bu Hasna," tolak Edlyn, tangannya menggamit lenganku. "Lyn, kamu harus menuruti Papamu," bujukku. Edlyn tetap menolak, akhirnya Pak Aksara menyuruhku ikut naik mobil, sementara motorku dikendarai Ridwan--sopir pribadi Pak Aksara. "Papa berencana akan memindahkanmu ke sekolah lain," kata Pak Aksara. "Aku tidak mau pindah sekolah. Papa jangan khawatir, aku tidak akan menyerang Amanda lagi. Aku janji," sahut Edlyn. Mobil yang kami tumpangi perlahan keluar dari pelataran parkir--melewati Soraya dan Amanda yang masih berdiri di sisi mobil mereka. Tangan Soraya membelai pipi Amanda, pemandangan yang menyakiti Edlyn. "Kenapa kamu juga berbohong kalau Bu Hasna calon istri Papa?" "Memang Bu Hasna calon istri masa depan Papa." Edlyn tersenyum lebar, dia memandangiku. "Dah, Papa pisah saja dengan Garnetong." "Lyn ...." desis Pak Aksara, jengkel. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Edlyn, mataku sempat beradu dengan Pak Aksara lewat kaca spion bagian dalam mobil. "Cie, pada merona pipinya ...." goda Edlyn. Aku memandangi jalanan, tidak menghiraukan Edlyn yang konyol. Tidak ada tempat untuk rasa indah di hati. Karena pasti hanya menyemai rasa sakit. *** Malam. "Hasna, tolong antar susu ke kamar Non Edlyn, sekalian kopi untuk Pak Aksara." Lenni menaruh nampan di meja. "Di ruang kerjanya?" tanyaku. "Bukan, tapi di ruang cuci," canda Lenni. "Oh, ya, Nyonya Garneta belum pulang?" Aku beranjak dari kursi meja makan. "Belum," sahut Lenni. "Aku tidur duluan, ya." Aku melangkahkan kedua kaki menuju kamar Edlyn. Aku menguak pintu kamar, tampak Edlyn tengah mengompres bibirnya yang bengkak. "Susunya jangan lupa di minum," ujarku seraya menaruh segelas susu di atas nakas. "Bu Hasna, kenapa tidak bilang dari awal kalau Amanda anaknya Ibu?" "Kenapa kamu juga tidak bilang kalau supermodel terkenal itu Mamamu?" Aku balik bertanya. Kami berdua tertawa. Mentertawakan nasib kami yang diabaikan orang terkasih. "Selamat malam, Lyn. Tidur yang nyenyak, mimpi yang indah," ucapku sebelum melangkah keluar kamar. Ternyata Pak Aksara tidak berada di ruang kerja, dia berdiri di balkon. Entah apa yang dipandanginya. Langit yang gelap atau pada pendar kuning lampu jalan. "Pak Aksara, kopinya ...." Dia menoleh, tangannya mengambil cangkir kopi. "Terima kasih." Sudah malam minum kopi, mungkin suasana hatinya sedang tidak baik. "Hasna, apa Mandala mantan suamimu?" "Iya, kami berpisah sudah lama sekali," jawabku. "Pak Aksara mengenal Mandala?" "Tidak secara pribadi. Kami pernah bertemu sekali, urusan pekerjaan." Pak Aksara menyesap kopinya lalu bertanya lagi, "Kenapa berpisah?" "Karena saya hanya perempuan ... miskin. Ibunya berusaha memisahkan kami, dan dia berhasil." "Dan aku lelaki miskin yang ditinggalkan istri. Soraya yang cantik tidak bisa hidup dalam kekurangan. Dia tidak bisa bertahan lebih lama," ungkap Pak Aksara. "Aku pikir cintanya tidak akan mati, harapanku terlalu tinggi." Pak Aksara tertunduk, seperti ada kesedihan yang begitu mendalam. Bertemu dengan Soraya tadi siang--di kantor kepala sekolah, seolah membangkitkan rasa patah hati bertahun-tahun lalu. Kenangan yang terus menggerogoti pikiran. Untaian memori masa lampau, marasuk kembali, mengingatkan pada peristiwa pahit. Tidak hilang, tidak tergerus sedikit pun oleh waktu. Aku pun terjebak lama di dalamnya. "Bagiku perempuan dengan cinta yang tulus tidak ada di dunia ini, hanya ada perempuan matre. Ada uang Abang kusayang, tidak ada uang Abang kutinggal," kata Pak Aksara diikuti derai tawa. Mungkin, hatinya sudah terlalu sakit dan terluka oleh Soraya, sehingga ritme jantungnya tidak dibiarkan berdegup kembali untuk rasa yang bernama cinta. "Ada harta maka perkawinan akan berlangsung lebih lama," lanjutnya. "Tidak juga, Pak. Tergantung individunya, kebetulan Pak Aksara menikahi perempuan yang tidak bisa hidup miskin," paparku. "Aku tetap tidak bisa mempercayai cinta dari makhluk yang bernama perempuan," ucap Pak Aksara, apatis terhadap cinta. "Oh, ya, Pak ... apa Pak Aksara tahu Mandala saudara sepupu Nyonya Garneta?" Wajah Pak Aksara jelas terlihat kaget. "Tapi, sebenarnya aku tidak peduli Garneta punya saudara atau tidak, punya keluarga atau tidak. Hubungan kami hanya saling memanfaatkan. Aku tidak pernah serius menjalin hubungan dengan perempuan. Karena pada waktunya kami akan berpisah." Aku pikir, lelaki di depanku benar-benar sudah patah. Dan dia tersesat cukup jauh. "Saya permisi dulu, Pak." "Hasna ...." "Iya, Pak?" "Terima kasih sudah mendengarkan ocehanku." Selarik senyum tercetak di bibir Pak Aksara. "Sama-sama, Pak." *** "Lenni, mungkin aku terlambat sampai di rumah. Motorku mogok." Aku memberitahu Lenni lewat sambungan telepon. "Makanya tidak aneh-aneh, ingin gado-gado bisa pesan ojek online," seloroh Lenni. Aku menanggapinya dengan tawa garing, kemudian menutup telepon. Kalau pesan lewat jasa ojol ada tambahan ongkir, sementara aku dalam masa pengiritan, tapi seperti orang ngidam aku ingin sekali makan gado-gado. Pada akhirnya aku terdampar di depan toko elektronik yang tutup, berteduh dari hujan deras. Kalau tahu begini, mending tidak keluar rumah. Motorku ngambek, karena sudah lama tidak dibawa ke bengkel. Sebuah mobil warna hitam jenis SUV berhenti. Eh, jangan-jangan yang punya toko. Sebuah payung berkembang, begitu sudah melewati bagian sisi mobil, si pengendara mobil ternyata Mandala. "Motormu mogok?" tebaknya. "Begitulah," jawabku, malas. Kenapa dari ribuan populasi di kota ini mesti Mandala yang muncul? Mandala meletakkan payung, dia berjongkok di dekat motor. "Mungkin karburator atau knalpotnyan ... aku akan cek." "Eh, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu," cegahku. "Jika hujan sudah reda, aku akan ke bengkel terdekat." "Bengkel terdekat? Kamu yakin ada bengkel terdekat?" Mandala berpindah, melihat knalpot. Dia memposisikan motor bagian belakang lebih rendah dibandingkan dengan bagian depan. "Dan aku tidak merasa direpotkan." Setelah itu Mandala mencoba menyalakan motor dengan kick starter. Beberapa kali dia baru berhasil. "Biar panas dulu motornya, jika sudah stabil kamu bisa menggunakannya." "Terima kasih," ucapku, pelan. "Bagaimana kabar Amanda?" "Baik." Sejak pesta ulang tahun Amanda, aku tidak menelepon mau pun mengirim pesan. Hubungan kami berada di titik terendah. Ketika dua hari yang lalu dia terlibat pertikaian dengan Edlyn, aku ingin sekali mengusap pipinya yang tergores. "Apa benar kamu akan menikah dengan pengusaha perhiasan bernama Aksara Winata?" Aku menggelengkan kepala. "Tidak." Sebenarnya aku ingin mengatakan kalau Garneta istri sirinya Pak Aksara. Juga ingin mengatakan kalau Soraya dan Pak Aksara pernah menikah dan mempunyai anak, namun urung. Bukan urusanku. "Apa masih ada kesempatan untuk kita?" Di antara deru mesin motor dan hujan, mungkin telingaku salah mendengar. Mataku menatap Mandala. "Kesempatan?" "Iya." "Konyol," ujarku. "Aku serius." "Dan aku tidak ingin memberimu kesempatan kedua, Mandala," tegasku. "Aku masih mencintaimu ...." tutur Mandala, mata itu tersirat permohonan. "Lalu Soraya? Kau akan membuangnya begitu saja? Tidak, Mandala. Kita tidak bisa bersatu kembali." Aku berharap hujan segera reda. "Kali ini aku tidak akan melepaskanmu." "Kenapa baru sekarang?! Aku tidak akan pernah kembali!" teriakku. "Kamu sinting!" "Kamu masih mencintaiku, Hasna. Aku tahu itu." Tidak peduli masih hujan, tidak peduli nanti motor mogok lagi--aku mengendarai motor, meninggalkan Mandala. Dia sudah gila. Benar-benar gila. *** Aku menaruh dua bungkus gado-gado begitu saja di meja dapur. "Buat Pak Wirjo saja," ucapku pada lelaki tua yang duduk di kursi meja makan, beliau tukang kebun merangkap tukang apa saja di rumah ini. "Kamu sudah makan?" tanya Lenni. "Sudah," jawabku. "Aku mau mandi dulu kena air hujan." "Memang tidak bawa mantel hujan?" "Oh, tadi ada orang gila, jadi buru-buru, tidak sempat memakai mantel hujan," sahutku sembari berjalan. "Tunggu, Hasna. Kapan kamu ke supermarket? Belanja bulanan kebutuhan rumah besar ini?" "Ya, ya, setelah mandi aku berangkat!" Aku tidak menoleh ke belakang. Kenapa bukan Nyonya rumah yang belanja? Selesai mandi dan berganti pakaian, aku kembali ke dapur. Lenni memberikan catatan belanja dan uang tunai lima juta. "Biasanya aku yang belanja, hehehe. Mumpung ada kamu, aku manfaatkan." Lenni tertawa lebar. "Jangan korupsi, Pak Aksara orangnya teliti." Aku mengesah. "Memang tampangku ada tampang korup? Siapa yang mengantarku? Jangan bilang naik motorku." "Tuh, si Roni. Nyonya Garneta lagi mengeram di rumah," bisik Lenni, "jadi tidak pergi ke mana-mana." "Aku boleh ikut tidak?" Aku dan Lenni sama-sama terkejut. Aku pikir yang muncul Garneta. "Bosan di rumah. Boleh kan?" Edlyn merajuk. Edlyn kena skors, seharian hanya mendekam di dalam kamar. "Boleh, yuk," sahutku. Perjalanan ke supermarket tidak membutuhkan waktu lama. Aku dan Edlyn sama-sama membawa troli. Tujuan pertama rak sabun cuci dan pelembut pakaian. "Di dalam catatan belanja ada sosis?" tanya Edlyn. Aku membaca catatan belanja, menelisik dari ujung ke ujung kertas. "Ada," jawabku kemudian. "Aku ingin buat corndog," ujar Edlyn. "Corn-dog?" Kedua alisku bertautan. "Makanan apa itu?" "Bu Hasna Googling saja." Karena penasaran aku pun mencari informasi di Google, memasukkan kata kunci corndog. Oh, ternyata makanan dari sosis yang ditusuk yang dilapisi dengan adonan tepung, dibalur tepung panir dan digoreng. "Wah, kita bertemu lagi." Aku mendongak, melihat yang berbicara--Bu Rosie, disebelahnya Amanda dengan troli yang sudah penuh. Aku tidak menyahut, lebih memilih berjalan lagi, mendorong troli. Aku tidak ingin ada pertengkaran. "Kamu menghindari putrimu sendiri!?" seru Bu Rosie. Ini tempat umum, apa dia ingin bertengkar? "Hei, Oma Rosie. Lama tidak bertemu." Edlyn muncul. "Mama, aku sudah ambil keju mozzarella." "Kamu manggil dia Mama?" tanya Bu Rosie, heran, terkejut. Edlyn mencium pipiku lalu merangkul pundakku. "Sebentar lagi Papa akan menendang Madam Garneta." Bu Rosie semakin terkesiap. "Kenapa lu diem aja, Manda?" "Bodo amat sama kalian berdua. Gue nggak peduli," sahut Amanda. "Eh, lu udah bilang belum sama Oma Rosie, kalau Soraya Andini adalah Mama kandung gue?" "Kamu anaknya Soraya?" Wajah dengan kerut sempurna itu tambah pucat. "Tapi, Soraya mengaku belum pernah menikah," ucap Bu Rosie. "Ternyata keluarga kalian sekumpulan orang-orang yang tidak mengakui keluarga sendiri," cetus Edlyn. "Eh, jaga bicara elu!" Amanda merangsek ke arah Edlyn, tangannya siap meraih tubuh Edlyn. Refleks aku berpindah ke depan tubuh Edlyn. "Cukup, Manda ...." "Mama? Mama membela Edlyn?" Amanda memandangku tidak percaya. "Iya. Karena yang dikatakan Edlyn benar, kamu dan Mama Soraya orang yang tidak mengakui keluarga sendiri," jawabku. "Ayo, Lyn ... udara di sini sangat pengap." "Bye, Oma Rosie. Awas jangan jantungan, ya." Edlyn tersenyum tipis. Aku harap jantung Bu Rosie baik-baik saja. Menantu idamannya telah berbohong.
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 0 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (445)
MaryanaNini
bagus banget novel nya
15/04
0
HanifAchmad
CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
bagus banget novel nya
15/04
0CERITA NYA BAGUS, MENARIK , DAN BUAT AKU BETAH BACA BERDUA SAMA ADEK
15/12
0bagus banget
21/11
0Lihat Semua