Total : 50PROLOG: GARIS YANG TAK TERLIHAT
"Kau tahu apa yang lebih menyakitkan daripada sebuah pengkhianatan, Humaira?" Suara itu rendah, dalam
readmore BAB 1: HARGA SEBUAH TANDA TANGAN
"Dua puluh miliar. Tunai. Atau malam ini juga kalian tidur di jalanan." Kalimat itu meluncur datar, t
readmore BAB 2: GAUN PENGANTIN BEKAS
"Berhenti menangis. Suara isakmu membuat interior mobil saya terkontaminasi." Kalimat itu tajam dan d
readmore BAB 3: IJAB KABUL SATU TARIKAN NAPAS
"Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Az-Zahra binti Bramantyo Adiguna dengan mas kawin tersebut d
readmore BAB 4: SANGKAR EMAS DI LANGIT JAKARTA
Penthouse yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit itu lebih mirip sebuah museum y
readmore BAB 5: SARAPAN ARANG
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah gorden sutra yang mahal, menghujam langsung ke kelopak
readmore BAB 6: HINAAN DI KASIR VIP
Suara pemindai harga di meja kasir itu terdengar seperti detak bom waktu di telinga Humaira. Setiap
readmore BAB 7: TANGAN KANAN SANG TUAN
Mobil Alphard hitam itu melaju dengan keheningan yang sangat pekat, hanya suara desis pendingin udar
readmore BAB 8: TIDUR DI SOFA
Angka pada jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan pukul 02.15 pagi. Cahaya biru tipis dari
readmore BAB 9: GENDONGAN SANG SINGA
Angka pada jam dinding digital di ruang tengah menunjukkan pukul 02.15 pagi. Cahaya biru tipis dari
readmore BAB 10: SUBUH YANG DINGIN
Cesss! Rasa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menghantam wajah Humaira, memutus paksa mimpi buruk
readmore BAB 11: KOPI SIANIDA?
Malam itu, ruang kerja pribadi Fatih yang terletak di sudut paling sunyi di penthouse itu berubah me
readmore BAB 12: PENANDATANGANAN DI ATAS LUKA
"Tanda tangan di sini. Jangan biarkan satu tetes air mata pun jatuh dan membasahi kertas ini, atau s
readmore BAB 13: RUANG TERLARANG DAN BAYANGAN SARAH
Langkah kaki Humaira terasa sangat berat saat memasuki ruang kerja Fatih. Aroma ruangan itu masih sa
readmore BAB 14: GAUN HITAM DAN CEMBURU BUTA
Suasana di dalam jet pribadi milik Al-Habsyi Group itu terasa sangat canggung. Humaira duduk di kurs
readmore BAB 15: BADAI DI ULUWATU
Udara pantai di Uluwatu yang seharusnya terasa segar dan menenangkan, kini terasa sangat menyesakkan
readmore BAB 16: ARSITEK DI BALIK CADAR
Ruang rapat di ballroom hotel mewah itu terasa sangat mencekam. Suhu AC yang diatur rendah seolah me
readmore BAB 17: ANTARA MASA LALU DAN MASA DEPAN
Suasana di ballroom hotel yang tadinya penuh dengan aura kemenangan, kini berubah drastis menjadi pa
readmore BAB 18: ASAP DAN RASA TAKUT
Suara ledakan itu tidak besar, namun cukup untuk menghancurkan kaca jendela di ruang tengah villa da
readmore BAB 19: SKANDAL DUA PULUH MILIAR
"Tuan Fatih! Benarkah istri Anda adalah jaminan hutang judi ayahnya?" Pertanyaan itu menghujam sepert
readmore BAB 20: PERMAINAN SARAH
Malam di penthouse lantai 55 itu terasa sangat sunyi, namun kesunyian itu justru terasa lebih mengan
readmore BAB 21: MENCARI SEPARUH NYAWA
"BAJINGAN! BAGAIMANA BISA KALIAN KEHILANGAN DIA DI DEPAN MATA SAYA?!" Suara Fatih Al-Habsyi menggeleg
readmore BAB 22: STRATEGI SANG SINGA
"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari pintu itu jika kamu masih ingin melihat matahari
readmore BAB 23: JEBAKAN DI KAFE MAUT
Lampu remang-remang di Cafe Le Ciel memberikan suasana yang sangat mencekam bagi Humaira. Kafe itu t
readmore BAB 24: TEBUSAN NYAWA DI PELABUHAN
Kesadaran Humaira kembali secara perlahan, namun rasa pening yang luar biasa masih menghantam kepala
readmore BAB 25: KORIDOR PUTIH DAN AIR MATA PENYESALAN
Bau karbol yang menyengat seolah-olah menjadi pukulan telak yang menyadarkan Humaira bahwa dunianya
readmore BAB 26: SUMPAH SANG IBLIS
Asap hitam pekat yang membubung tinggi dari gedung pusat Al-Habsyi Group seolah menjadi simbol bahwa
readmore BAB 27: HANCURNYA TEMBOK ES
Hawa sejuk Bogor yang biasanya menenangkan, malam ini terasa menusuk hingga ke tulang bagi Humaira.
readmore BAB 28: SERIGALA DALAM SELIMUT
"Api di Jakarta tidak akan pernah bisa memadamkan apa yang baru saja saya mulai di sini, Humaira." Ka
readmore BAB 29: KEPINGAN PUZZLE YANG HILANG
"Dua triliun rupiah atau kehancuran total. Pilihannya ada di tanganmu, Fatih." Suara itu muncul dari
readmore BAB 30: RUNTUHNYA KERAJAAN ES
Suara baling-baling helikopter yang membelah udara malam yang pekat seolah menjadi musik latar yang
readmore BAB 31: RAHASIA DI BALIK ABU
Sisa asap yang masih mengepul dari lantai tiga puluh dua gedung Al-Habsyi Group tampak seperti hantu
readmore BAB 32: PERJAMUAN BERDARAH DI RUANG ICU
Helikopter mendarat dengan guncangan yang cukup keras di atas helipad Rumah Sakit Militer Bogor. Ang
readmore BAB 33: BATAS YANG SESUNGGUHNYA
Bau antiseptik yang tajam seolah menjadi teman setia Humaira selama enam jam terakhir di depan pintu
readmore BAB 34: DI AMBANG KEMATIAN
"Satu... dua... tiga... SHOCK!" Suara benturan keras tubuh Fatih yang terlonjak di atas ranjang ICU b
readmore BAB 35: WARISAN BERDARAH
"Masuk ke mobil, Nona! Sekarang!" Wijaya mendorong Humaira masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam ya
readmore BAB 36: TAHTA YANG TERGUNCANG
Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari jendela kamar ICU terasa sangat menyakitkan bagi mata Fati
readmore BAB 37: MAHKOTA DI TANGAN YANG BENAR
Lampu ruang rapat itu terasa jauh lebih silau daripada biasanya saat Humaira duduk di kursi yang seh
readmore BAB 38: PENGAKUAN DI UJUNG NAPAS
Deru baling-baling helikopter yang membelah udara Bogor menuju sebuah pemakaman eksklusif di pinggir
readmore BAB 39: BATAS YANG TAK BERBEKAS
Matahari sore yang berwarna jingga keemasan mulai tenggelam di balik cakrawala Jakarta saat Fatih da
readmore BAB 40: DI BALIK TOPENG KEBAJIKAN
Mobil Rolls Royce hitam itu melaju dengan keheningan yang menyesakkan menyusuri jalanan menuju kawas
readmore BAB 41: PERJAMUAN TERAKHIR DI PENTHOUSE
Lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap tampak seperti hamparan permata dari jendela kaca raksasa pen
readmore BAB 42: BAYANGAN DI BALIK PINTU
Detik itu juga, seluruh aliran darah di tubuh Fatih Al-Habsyi seolah membeku. Ia baru saja hendak me
readmore BAB 43: PERJAMUAN SINGA DAN SERIGALA
Mobil Rolls Royce hitam itu melaju membelah rintik hujan Jakarta menuju kawasan Menteng yang asri na
readmore BAB 44: CAHAYA DI UJUNG BADAI
Pagi hari di Jakarta setelah "malam berdarah" di Menteng terasa sangat berbeda. Berita tentang penan
readmore BAB 45: KUNCI EMAS DI PEGUNUNGAN ALPEN
Udara dingin Zurich yang menusuk tulang terasa sangat kontras dengan hangatnya jemari Fatih yang ter
readmore BAB 46: GEMA MASA LALU
Suasana di lobi rumah sakit penjara Cipinang terasa sangat mencekam pagi itu. Aroma disinfektan yang
readmore BAB 47: AWAL KEBERANGKATAN SUCI
Pagi itu, penthouse mewah di lantai paling atas Jakarta tampak lebih sibuk dari biasanya. Namun kesi
readmore BAB 48: SUJUD DI KOTA CAHAYA
Angin sejuk Madinah berhembus lembut, membawa aroma gaharu dan mawar yang khas, menyapu wajah Humair
readmore BATAS SUCI: KEABADIAN CINTA
"Humaira! Ada apa? Apa yang sakit?!" Suara panik Fatih menggelegar di tengah riuhnya suara talbiyah j
readmore
walla weiii, mantap nihhh ceritanya.. 🤩🤩
20d
4i think i like this story, a little bit same like mine☺
20d
1nice... bangetttt
28d
4